
Axcel menoleh ke arah pintu masuk ruang rapat, dan melihat seorang gadis yang tadinya berteriak meminta pertanggung jawabannya.
"Maafkan kami derektur Axcel, gadis ini memaksa untuk masuk." Kata keamanan yang memegang tangan gadis itu
Axcel kebingungan dengan apa yang terjadi, lalu meminta sekertarisnya yaitu Anya untuk menggantikannya melanjutkan rapat itu. Lalu meminta maaf kepada semua yang ada di ruangan sebelum dia keluar.
"Ada apa mencariku.?" Tanya Akxcel setelah berada di rungannya bersama gadis berambut pendek itu.
"Aku mau kamu bertanggung jawab."
"Tapi Nona Julia, bukankah anda tidak mau saya untuk bertanggung jawab.? dan kenapa baru datang sekarang.?"
"Itu karna kamu sudah menghalangi mimpi saya.!" Jawab Julia berteriak sambil berdiri dan menghantam meja.
Tiga jam sebelumnya, sebelum audisi untuk pemilihan girl band di mulai, salah satu peserta mengundurkan diri dari kompetisi lantaran syarat untuk mengikuti kompetesi itu harus masih dalam keadaan bersih, tampa pacar dan masih perawan.
"Kenapa kamu mundur.?" Tanya Julia pada salah satu yang mengundurkan diri.
"Aku tidak memenuhi syarat."
"Apa maksudmu.?"
"Julia, aku akui, aku sudah tidak bersih lagi, dan saat ini aku juga sedang menjalin hubungan, jadi sebelum aku dipermalukan karna tidak perawan lagi, sebaiknya saya mundur saja."
Setelah Julia mengetahui syarat untuk mengikuti kompetesi itu, hatinya hancur, sesuatu yang di mimpi-mimpikan selama ini, tidak dapat dia capai hanya karna satu malam.
Julia berpikir jika melanjutkannya, dan para juri mengetahui bahwa dia sudah tidak bersih lagi, bukankah itu akan mencoreng nama baik keluarganya.? Terlebih sudah banyak yang mengenal Julia sebagai salah satu putri dari Ganendra Grup.
Andai saja tidak di lakuakan tes, mungkin saja Julia bisa menyembunyikannya. Tapi kenyataannya tidak, setiap peserta harus melakukan tes kebersihan terlebih dahulu.
'Dasar pria brengsek, aku akan meminta pertanggung jawabanya.' Kata julia dalam hati lalu meninggalkan tempat audisi dan pergi ke perusahaan Atmaja, Dan dia tahu perusahaan itu karna tidak sengaja melihat berita terkini tentang para pengusaha yang ada di kota S.
Dan kebetulan di halaman utama adalah tentang Axcel yang baru saja menduduki kursi panas di Atmaja Grup.
Julia tidak perlu susah-susah untuk mencari siapa dan di mana pria yang telah menodainya itu tinggal.
Julia akhirnya sampai di perusahaan Atmaja, dia masuk dan mencari keberadaan Axcel. Nmun tak mendapat jawaban, sampai dia mendengar salah satu pegawai berkata bahwa Axcel sedang ada rapat.
Julia kemudian bertanya di mana rungan itu, dan dengan berpura-pura ada sesuatu yang akan di berikanoada Axcel dari ayahnya.
Tapi saat Julia hendak masuk ke ruang rapat, gadis itu ditahan oleh keamanan, tapi dia meronta dan akhirnya berhasil masuk dan berteriak meminta pertanggung jawaban pada Axcel.
"Bagai mana apa kamu mau bertanggung jawab.?" Tanya Julia lagi. setelah kembali duduk.
"Tidak.!" Jawab Axcel datar.
"Kenapa.?"
__ADS_1
"Apa kamu hamil.?"
Bukan menjawab, Axcel justru balik bertanya pada Julia.
"Tidak, aku tidak hamil."
"Jadi tidak ada masaahakan.?"
"Kenapa tidak mau bertanggung jawab, dasar laki-laki brengsek." Maki Julia sambil menunjuk tepat di wajah Axcel.
"Hanya tidak ingin"
"Dasar pria brengsek.!"
"Maaf nona Julia, jika tidak ada hal lain, kamu bisa pergi."
'Sialan... tidak mudah ternyata,' Ucap Julai dalam hati, gadis itu kemudian berpikir bagaimana caranya agar Axcel mau bertanggung jawab. ' Tidak ada cara lain selain.'
Julia berlutut di lantai, memohon pada Axcel, tapi tetap saja Axcel mengabaikannya.
"Maaf nona Julia, saat itu saya mau bertanggung jawab, tapi anda sendiri yang tidak mau, maka maafkan saya. Terlebih saat ini saya tidak ada niatan untuk menikah.
"Tuan, tolonglah...!"
Axcel tidak perduli, dia bahkan meminta keamanan untuk membawa Julia pergi dari hadapannya. Meskipun Julia memohon tapi hati Axcel tidak tergerakkan sedikitpun.
***
Axcel masuk ke mobil tampa melihat Julia, begitu pula Julia, tapi saat itu Julia sudah jenuh menunggu dan berjalan menjauh dari perusahaan Atmaja.
Julia melintas tepat di hadapan mobil Axcel, membuat Axcel harus menghindarinya dan akhirnya menabrak pembatas jalan.
"Sialan, orang gila mana yang mengemudi sembrangan. Tidak sopan sekali, pokoknya aku minta ganti rugi." Teriak Julia.
Pintu mobil terbuka, dan Axcel turun dari mobil
"Jelas-jelas kamu yang menyeberang dengan semberono."
Julia yang tadinya di liputi emosi, meredam emosinya saat tahu bahwa yang kelur dari mobil adalah Axcel.
"Ah rupanya anda tuan...!"
"Lalu kenapa jika itu aku.?"
'Astaga galak amat, aku harus berusaha.' Kata Julia dalam hati, tapi belum juga dia bertindak, Axcel kembali melanjutkan kata-katanya.
"Pokoknya aku tidak mau tahu nona Julia, kamu harus menganti bagian yang tergores itu."
__ADS_1
"Astaga Tuan, pakai logika saja, tuan yang mengemudikan mobil ugal-ugalan dan hampir menabrak saya, jadi yang seharusnya jadi korban adalah saya."
"Benarkah.? kalau begitu mari kita lihat CCTV di sana." Kata Axcel menunjuk CCTV di satu bagian.
'Sial... agghhrhh... kenapa harus ada CCTV di sini.! Kalu mereka memeriksa CCTVnya maka yang salah tetap adalah aku.' Teriak Julia dalam hati.
"Hahaha... itu tuan Axcel, baik aku minta maaf, Tenang saja, kalau aku lap sebentar, pasti akan kinclong lagi, jangan marah-marah ya.!" Kata Julia seraya memungut sesutu di bawah yang ada di dekat kakinya untuk mengelap bagian yang tergores.
Sementara Julia mengelap bagian yang tergores tampa memperhtikan, Axcel menjadi emosi.
"Nona Julia apa yang kau lakukan pada mobilku.?"
Teriakan Axcel membuat Julia berhenti mengelap bagian yang tergores itu lalu melihat mobil itu,
"Astaga kenapa semakin banyak goresan?"
Julia lalu memeriksa kertas yang dia pakai untuk mengelap mobil Axcel.
"Sial... ini sih kertas amplas, pantas saja semakin lecet."
Dengan hati yang tidak karuan, Julia menatap wajah Axcel yang kelihatan semakin emosi. 'Bagaimana ini... Tuhan... bantu aku.'
"Minggir dari sana, tak ada gunanya berdebat dengan gadis sakit jiwa seperti kamu." Kata Axcel lalu masuk ke mobil, menyalakan mesin lalu menacap gas
Julia terpaksa minggir karna takut Axcel benar-benar akan menabraknya.
"Bos... tidakkah anda terlalu kasar pada gadis itu.?" Ucap Anya sekertaris Axcel.
"Aku rasa tidak, kamu lihat Anya, dia semakin merusak mobilku. huff...!"
Sementara itu Julia yang masih di tempat itu, menyadari bahwa kedatangannya untuk meminta pertanggung jawaban, tapi kenapa malah hampir bertengkar dengan Axcel.
"Kesalahan apa yang telah aku lakukan di kehidupanku sebelumnya, hingga Tuhan mempermainkanku begini. Dan lagi aku di katai gadis sakit jiwa. Aggrhhh...!" Teriak Julia di akhir perkatannya sambil menjambak rambutnya dan tampa sadar menendang pembatas jalan yang begitu keras.
"Auwww... sakit... hiks... hiks... Benar-benar nasib yang sial."
Di tengah kekesalan bercampur makian-makian yang tidak jelas yang terlontar dari mulutnya, bahkan rambutnya sudah acak-acakan akibat ulahnya sendiri, seseorang menegurnya.
"Bukankah anda nona Julia dari keluarga Ganendra.?"
Julia menoleh ke sumber suara.
"Ya. saya.! Tapi anda siapa.?" Tanya Julia bingung, kenapa ada yang mengenalnya di saat dia hanya mengenakan pakaian biasa.
Jika saja saat itu dia sedang mengenakan pakaian formal, mungkin saja dia bisa mengerti mengapa orang bisa mengenalnya.
Tapi saat ini berbeda, penampilnya sekarang bahkan sudah tidak karuan, dan koror di mana-mana.
__ADS_1
Bersambung...
******