KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Lagi-lagi hukuman


__ADS_3

Di sebuh cafe, Riko menunggu kedatangan Gavano, Jenuh, suntuk, bosan, itu semua dirasakan Riko saat ini, namun lelaki usia dua puluh enam tahun itu tidak pernah mengeluh.


Setiap kali dirinya ingin mengeluh, bahkan sangat ingin menghajar Gavano, ia selalu teringat kata-kata ayahnya, Andre, 'Nak, jika bukan presedir Revandra, mungkin ayah akan jadi gembel dan pengemis.' Itulah yang selalu membut Riko tetap setia.


Tapi di balik perkataan ayahnya, Riko memang sangat menyangi sahabatnya itu, karna Gavano sangat baik adanya, dan menganggap Riko seperti saudara laki-lakinya sendiri, begitu pula dengan Riko. Sejak kecil mereka bersama, sekolah, bahkan kuliah di tempat yang sama.


Hanya saja, Gavano selalu membuat Riko, kessal dengan semua keributan yang sahabatnya itu timbulkan.


"Sorry.! aku terkena macet." Ucap Gavano yang sudah datang lalu duduk di kursi berhadapan dengan Riko.


"Bisakah kau tidak selalu membuatku menunggu seperti ini.? kau sungguh lelaki bajingan Vano.!" Sahut Riko kessal.


"Sorry, sorry.!"


Mereka berdua sama-sama menyeduh kopi yang sudah di siapkan oleh pelayan kafe,


"Lalu bagaimana dengan apa yang aku minta.?" Tanya Gavano sambil meletakkan kopi kembali ke meja.


"Felisa Hasio, seorang artis yang saat ini sedang bernaung di Gramentha Internaiment, dan juga adalah salah satu model termahal di Gramentha intertaiment..."


"Aku sudah tahu itu," Sergah Gavano menghentikan perkataan Riko."


"Vano, aku belum selesai.!"


"Lalu, lanjutkan.!"


"Aku sudah menyelidiki apa yang kamu minta.!, Felisa Hasio sepertinya adalah putri seorang wanita dari masa lalu tuan besar Revandra. Tapi, aku tidak bisa mendapatkan detailnya, sepertinya jejak wanita itu sengaja di hilangkan."


"Apakah pria tua itu tau.?"


"Sepertinya tuan besar Revandra tidak tahu,"


"Baik... bantu aku untuk mencari tau semuanya.?"


"Lalu apa imbalannya.?"


"Berhenti meminta imbalan padaku, bukankah, apa yang aku punya sekarang ini bisa kau nikmati sesuka hati.?, apapun yang kau inginkan selama ini, kau selalu mendapatkannya."


"Belum, masih ada yang belum aku dapatkan darimu."


"Jangan macam-macam Riko.!"


"Hahahaha... aku hanya bercanda."


"Kapan kau akan menikah.? bukankah paman Andre dan bibi Aren juga sudah berkali-kali memintamu segera menikah.?"


"Belum terfikirkan."

__ADS_1


"Maaf Riko, andai saja bukan karenaku kau mungkin sudah menikahi wanita itu.!"


"Tidak masalah, itu semua sudah berlalu, aku juga tidak bisa memaksanya untuk berada di sisiku,"


"Sekali lagi maafkan aku, dan terimah kasih waktu itu kau mengorbankan cintamu untukku."


"Kau tahu Vano.? aku sangat bersyukur bisa melepaskan Luna, andai saja aku masih memaksanya untuk bertahan, maka... mungkin saja aku yang akan berada di posisimu saat itu. hahahah...!"


"Kau mengejekku. Baik akan ku kirim kau ke Afrika."


"Hahahah..."


Kedua sahabat itu sama-sama tertawa karna ulah Luna.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan Alleta.? bagaimana kamu akan mengurusi semuanya setelah Luna kembali.?" Tanya Riko yang kembali serius.


"Kau tak perlu mengkhawatirkan tentang itu. Bukankah kamu sendiri yang membantuku menulis kontrak itu.? tentunya kamu juga mengerti dengan peraturan nomer satu yang tertulis di kontrak itu." Jawab Gavano kembali menyeduh kopinya.


"Ok,! aku tidak akan mencampuri masalah ini, hanya saja...!"


"Apa.?" Tanya Gavano memicingkan matanya.


"Tidak, bukan apa-apa."


"Baik, kalau begitu aku harus kembali ke perusahaan, kau juga secepatnya kembali,"


Gavano meninggalkan Riko yang masih betah duduk di dalam Cafe. Sebentar setelah Gavano berlalu, ponsel Riko berdering.


"Kakak Riko, aku merindukanmu, tidak lama lagi aku akan kembali." Ucap seorang gadis yang terdengar sangat centil berbica pada Riko di ujung telfon.


"Berhenti menelfonku, dan jangan pernah mengangguku lagi."


"Aku tidak akan menyerah kakak, sekalipun kamu menolakku selama bertahun-tahun, aku akan tetap mengejarmu, meskipun badai hujan menerpa bumi, aku tidak akan berhenti."


"Maaf..." Ucap Riko lalu mengakhiri panggilan itu. 'Hufff... kenapa semuanya jadi seperti ini.' Desah Riko


******


Malam hari di kediaman Gavano, Allet dan Arkana duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan was-was, takut dan tegang sambil menunggu kepulangan Gavano. Bahkan saat makan malam tadi, mereka berdua tidak berselera memikirkan apa yang akan Gavano lakukan pada mereka.


Beberapa lama kemudian, lelaki yang sejak tadi di tunggu kehadirannya akhirnya muncul di ambang pintu. Berjalan dengan tatapan tajam, aura dingin dan menekan, lelaki itu duduk di hadapan kedua orang yang sejak tadi dilanda ketegangan.


Alleta seperti biasa, saat dalam suasana yang tegang hanya bisa menunduk, dan bermain pada kuku-kuku panjang yang rapi dan indah, sedangkan Arkana berpaling ke arah lain tidak berani menatap lelaki di hadapannya yang seperti sangat kelaparan dan ingin melahap mangsanya dengan sangat kejam.


Gavno hendak meletakkan tas kantornya di meja, namun lelaki itu tidak sengaja menyambar sebuah mobil mainan milik Faiq yang ada di meja.


Hingga mobil mainan itu terjatuh ke lantai, dan berhasil membut Alleta dan Arkana tersentak kaget, takut kalau-kalau Gavano akan memukul mereka.

__ADS_1


"Ma..maaf.!" Ucap Alleta dan Arkana serentak yang sudah di selimuti keringat dingin.


Tersirat sebuah senyum di bibir Gavano melihat Alleta yang sudah gemetaran, entah apa maksud dari senyuman itu, hanya Gavano yang tau.


"Ok.! Seperti biasa, jika kalian melakukan kesalahan, tentunya kalian tau konsekuensinya kan.?"


"Ba...baik kakak.! aku akan menghafal." Jawab Arkana terbata-bata.


"Aku juga akan..."


"Akan apa.?"


"Seperti yang tuan selalu lakukan, aku akan menerima hukumannya, kalau begitu kami akan menghafal, ayo Arkana."


"Ayo..!"


Arakan dan Alleta sama-sama berdiri, dan hendak meninggalkan Gavano,


Plak... Sebuah hentakan di meja sekali lagi membuat Alleta dan Arkana terkejut, bahkan lebih terkejut dari pada yang tadi.


"Duduk...." Perintah Gavano tegas.


Keduanya kembali duduk.


"Siapa yang bilang aku menyuruh kalian untuk menghapal.?"


"La..lalu hukuman apa yang kali ini akan kakak berikan.?"


"Baik, karna kamu sudah bertanya. Maka mulai besok hingga tiga bulan ke depan semua properti yang kamu gunakan, termaksud mobil, kartu kredit, akan aku sita."


"Tapi kakak, aku ke lokasi syuting dan kuliah pake apa.?"


"Ada sopir yang akan mengantarmu."


Arkana mulai memohon, namun tetap saja Gavano tidak memperdulikannya, meskipun jauh di lubuk hatinya, merasa kasihan pada Arkana, tapi kalau tidak seperti ini, kapan Arkana akan dewasa dan berhenti bertikai dengan Alleta


Lelah memohon dan meminta, akhirnya Arkana berhenti dan menerima hukuman dari Gavano. ' Ohh... tidak, aktor apa yang ke lokasi syuting di antar oleh sopir keluarga, hiks...! hiks...! image ku akan hancur, semua ini karna kodok betina itu, tunggu saja, setelah ibu dan ayah datang, aku akan mengadukanmu pada mereka... hiks...! hiks...! mobilku, kartu kreditku,' Ucap Arkana dalam hati.


Arkana dengan perasaan sedih beranjak meninggalkan Alleta dan Gavano di ruang tamu, ia kembali ke kamarnya, tak lupa dengan makian yang di lontarkan pada Alleta.


"Semua ini karna gadis itu, semenjak dia ada di rumah ini, kakak sudah tidak menyayangi dan memanjakanku lagi, bahkan kakak selalu menghukumku... hiks...! hiks...! ibu percepatlah kepulanganmu." Masuk ke kamar dan merebahkan diri di pembaringan, hingga ia tertidur lelap.


Sedang Alleta masih diam membeku di hadapan Gavano. Lelaki itu juga hanya diam saja memandangi gadis di depannya, hingga akhirnya ia berdiri dan melangkah ke arah Alleta, membantu Alleta berdiri, dan menarik tangan gadis itu berjalan ke suatu sudut ruangan.


Gavano menyandarkan Alleta pada dinding dengan tangan kanan yang menempel pada dinding yang bercat putih polos tepat di samping wajah Alleta, Sementara tangan kirinya berada pada saku celananya.


"Tu..tuan.! ap yang ingin kamu lakukan.?"

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2