
Alleta segera melompat dan menyusup di balik selimut, meskipun daerah s*langkangan dan pinggulnya terasa sakit, Sedang Gavano meraih bathrob di meja yang semalam ia letakkan di meja setelah keluar dari kamar mandi dan kembali m*nggauli istrinya.
Pintu yang tadinya terbuka dengan perlahan, sekarang terbuka lebar, lalu kedua anak kembar berlari masuk dan memeluk kedua kaki Gavano yang masih dalam keadaan berdiri tegak.
Alleta yang melihat itu, menatap Gavano dengan tatapan penuh tanya, 'Siapa mereka ini.? apakah anak Gavano dari wanita lain.? lalu mengapa dia menikahiku jika dia sudah memiliki wanita.? atau... ibunya tidak menyukai wanita itu.?' Tanya Alleta dalam hati.
"Berhenti banyak berfikir Alleta" Ucap Gavano yang seakan mengerti apa yang sedang difikirkan Alleta, Lelaki itu juga memberi isyarat pada Alleta agar segera berpakaian sebelum kedua anak kembar itu melihatnya dalam keadaan tampa busana.
Mengerti akan isyarat yang di berikan Gavano, Alleta beranjak hendak mengambil baju di lemari, tapi karna di bawah sana sangat perih, Alleta tak kuasa untuk berjalan, gadis itu bahkan terjatuh dan pada akhirnya merangkak menuju arah lemari dan mengambil satu dress lingerie.
Ingin skali rasanya Gavano untuk membantu Alleta, tapi lelaki itu tak dapat bergerak, lantaran kedua kakinya di peluk oleh si kembar. Gavano lalu menunduk dan membelai rambut kedua anak kecil itu.
"Kalian tunggu di bawah, nanti aku akan menemui kalian." Bujuk Gavano.
Kedua anak kecil itu, segera berlari kelur dan tidak memperhatikan Alleta, sedang Alleta yang masih dengan pertanyaan yang berkecamuk di otaknya, kembali menatap Gavano.
"Berbenahlah, sepertinya di bawah ada paman Daniel. Tapi jika kamu tidak bisa maka istirahatlah," Ucapan Gavano pada Alleta kembali dingin dan datar, tidak seperti semalam saat Gavano m*nggauli gadis cantik itu.
Alleta yang merasakan Gavano kembali dingin padanya, tidak mau ambil pusing, toh semuanya juga sudah di bicarakan dengan baik.
"Aku akan ikut turun ke bawah, aku juga sangat lapar," Jawab Alleta yang berusaha membuat senyum hangat di wajahnya.
Lagi-lagi Gavano terpesona dengan senyum itu, ia tak menyangka bahwa gadis yang telah ia nikahi memiliki senyum sangat menawan, di tambah lagi tubuh yang sangat sexy dan menggoda, selain itu Alleta juga sangat suka memakai pakaian yang memperlihatkan bagian belahan dadanya saat berada di rumah
Melihatnya saja sudah membuat Gavano hilang akal sehatnya, maka perlahan lelaki itu berjalan menghampiri Alleta yang masih berdiri di depan lemari, melangkah semakin dekat hingga Alleta tersudutkan pada lemari. Lelaki itu memegang dagu Alleta dan mengangkatnya hingga wajah mereka saling bertatap.
Gadis yang sudah tersudutkan itu seketika merona dan kikuk. Terlebih lagi Gavano mulai mencium lembut bibirnya, Alleta tidak bisa melawan perlakuan Gavano itu. Puas bermain pada bibir mungil yang bagian bawahnya sedikit terbelah milik Alleta, ciuman lelaki itu kini sudah berpindah di leher Alleta.
"Tu...tuan Vano.!"
"Ehemm...!" Masih menghujani ciuman pada leher Alleta.
"Bukankah di bawah ada yang menunggumu.?"
'Sial... hampir saja aku melupakannya.' Ucap Gavano dalam hati dan menghentikan tindakannya. Sebelum itu ia kembali menyapu pandang tubuh Alleta.
"Gunakan pakaian yang layak, kita akan bertemu dengan paman Daniel." Perintah Gavano, gadis itu hanya mengangguk.
Sebentar kemudian Gavano sudah lengkap dengan setelan jasnya, namun Alleta masih merias diri.
Tak mau membuat pamannya menunggu, Gavano meninggalkan Alleta tampa sepatah katapun. Setelah Gavano berlalu, Alleta mulai memaki lelaki itu sambil mencari-cari baju yang cocok untuk di gunakan dan bagian leher yang tertutup agar tidak menampakan bekas yang di tinggalkan Gavano padanya.
Alleta baru teringat, bahwa dirinya tidak memiliki model baju yang seperti itu, maka ia gunakan saja baju yang ada. Lalu meraih syal milik Gavano yang begitu tebal lalu memakainya, meskipun terasa sesak, Alleta tetap mengenakannya.
******
Di ruang tamu Gavano duduk di sofa berhadapan dengan pamannya Daniel dan istrinya, beserta kedua anak kembar mereka yang satu laki-laki, dan yang satunya lagi perempuan.
"Di mana istrimu.?" Tanya Danile yang sudah mengetahui pernikahan tersembunyi Gavano.
__ADS_1
"Sebentar lagi akan turun."
Sesuai yang diucapkan Gavano, Alleta sudah menuruni anak tangga dan berjalan dengan anggun dan pelan ke arah mereka. Danile dan istrinya tertegun melihat gadis yang sangat muda hendak menghampiri mereaka. Danile kemudian bertanya pada Gavano sebelum Alleta sampai di hadapan mereka.
"Vano.! Apa dia istrimu.?"
"Ya paman.! kenapa.? apa ada yang salah.?"
"Tidak ada yang salah, hanya saja bukankah dia terlalu muda?"
"Umur kami hanya terpaut tujuh tahun, dan bukankah pria tua itu juga menikahi ibuku saat umur ibuku masih muda."
"Saat itu ibumu sudah berumur dua puluh tahun, namun istrimu yang aku lihat masih seperti usia delapan belas tahun, Bagaimana caramu menikahi gadis di bawah umur...?"
"Selamat pagi. Tuan, Nyonya.!" Sahut Alleta menyapa Danile dan istrinya lalu duduk di samping Gavano.
Sesaat Danile kembali tertegun saat menatap Alleta dengan jarak yang sangat dekat, bagaimana tidak, Alleta sangat cantik dan begitu muda.
"Hallo saya Paman Vano.! Danile dan ini istri saya, Anya.!" Ucap Danile
Alleta hanya tersenyum hangat, lantaran tak tau harus berbuat apa. Lalu pandangannya tertuju pada dua anak kembar yang sedang menikmati cemilan.
"Lalu siapa mereka.?" Tanya Alleta
"Oh.! mereka adalah Fia Mintle dan Faiq Mintle, mereka berdua adalah anakku."
"Apa.?"
"Kau kenapa Alleta.?" Tanya Gavano.
"Tidak... hanya saja."
"Tak apa, semua orang yang baru mengetahuinya akan terkejut seperti kamu."
"Maafkan aku Tuan."
"Panggil aku paman saja Alleta."
Alleta mengangguk, namun di dalam dirinya sebenarnya masih terkejut, bagaiman bisa Danile memiliki anak di usia seperti itu, ya memamang tidak dapat di pungkiri bahwa istri Danile memang terlihan masih umur tiga puluhan, Tapi tetap saja orang akan berfikir mereka adalah cucunya.
"Jadi Vano, maksud kedatangan kami ke sini, ingin menitipkan Fia dan Faiq untuk beberapa waktu, apa kau tidak keberatan.?"
"Tentu saja tidak paman.!"
"Kami harus keluar negri mengurus bisnis di sana, dan kami tidak bisa membawa mereka, mereka masih terlalu kecil untuk perjalanan yang seperti itu, terlebih lagi, mereka juga akan segera masuk sekolah TK, apa kau juga tidak keberatan membantu kami mendaftarkan mereka.?"
"Tidak.! saya akan berusaha sebaik mungkin menjaganya."
Setelah pembicaraan tentang menitipkan si kembar, Danile mohon pamit pada Gavano dan Alleta yang hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Tapi sebelum pergi Danile berpamitan pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Fia, Faiq, Ayah dan ibu akan pergi untuk beberapa waktu, apa kalian tidak keberatan tinggal bersama kakak Vano untuk sementara.? di sini juga ada kakak Arkana dan juga kakak Alleta, jadi kalian tidak akan kesepian.!"
"Baik Ayah." Jawab serentak kedua anak itu.
"Dan jangan membuat masalah untuk kakakmu. Apa kalian mengeti.?"
"Memgerti ayah."
"Baiklah, kalau begitu ibu dan ayah pergi dulu."
"Kapan paman datang.?" Ucap Arkana yang baru bangun
"Tidak lama ini."
Gavano dan Alleta beserta Arkana mengantarkan Danile dan istrinya sampai ke depan, Danile dan istrinya juga Gavano berjalan terlebih dahulu, sedang Alleta dan Arkana mengikut di belakang dan berhenti tepat di depan pintu rumah.
Lagi-lagi Arkana dan Alleta saling bertikai mulut.
"Hei kodok betina, tidakkah kamu merasa panas mengenakan syal yang begitu tebal di cuaca yang sepanas ini.?"
"Semua ini karna kamu" Jawab Alleta kesal
"Apa hubungannya denganku.?"
"Karna ulahmu, aku harus mengenakan syal ini."
Arkana semakin heran, tak mengerti, dan bertanya-tanya apa hubungan dirinya dengan Alleta yang mengenakan syal di cuaca panas seperti itu.
Alleta yang sangat kesal melihat Arkana seperti tidak merasa bersalah, langsung menendang tengkuk lutut bagian belakang Arkana. membuat pemuda itu hampir terjatuh, Merasa jengkel, Arkana membalas Alleta menarik rambutnya hingga Alleta juga hampir terjatuh.
"Kau..."
"Apa.? mau balas.?" Tantang Arkana.
"Tentu saja, kamu pikir aku takut." Jawab Alleta sambil menarik kera baju Arkana sekuat tenaga, hingga baju itu sobek.
"Kau, Kodok betina.! oh tidak baju tidur limitied editionku, hiks... hiks.." Lalu membalas merobek lengan baju Alleta.
Hingga akhirnya mereka saling bertikai, tak lupa juga seperti biasa saling menjambak.
Pertikaian itu tidak di perhatikan oleh Danile dan istrinya yang sudah masuk ke mobil dan meninggalkan kediaman Gavano, berbeda dengan Gavano, lelaki itu berbalik dan mendapati adik dan istrinya saling cekcok.
"Kalian berdua...!" Teriak Gavano lantang, tak lupa dengan tatapan ingin melahap mangsanya
Bersambung...
******
...... FIA MINTLE DAN FAIQ MINTLE......
__ADS_1