
"Bibi ada apa.?" Tanya Gavano yang melihat Julia menatap istrinya sedemikian rupa.!"
"apa ini istrimu..?"
"Benar.!"
"Sungguh gadis yang cantik," Ucap Julia yang menahan air matanya.
Sebenarnya, ingin sekali rasanya Julia memeluk Alleta, namun wanita paruh baya itu masih ragu, sebelum memastikan semuanya.
"Alleta, ini bibi Julia, ibunya Reygan.!"
"Hallo bibi... Aku Alleta.!" Mengulurkan tangan.
Uluran tangan Alleta di sambut hangat oleh Julia, wanita paruh baya itu bahkan mengelus tangan Alleta.
"Kalau begitu bibi pergi dulu.!"
"Bukankah bibi ingin melihat gaun pengantin.?"
"Nanti saja, ada hal yang lebih penting dari pada itu. Bibi pergi dulu, dan Alleta sampai jumpa lagi." Pamit Julia berbalik, Dan meneteskan air mata,
Tidak ada yang tahu, tetesan air mata itu karna apa, bahagia kah.? sedihkah.? atau apun itu, entahlah, yang jelas Julia ingin pulang dan segera bertemu dengan suaminya.
Setelah Julia berlalu, Alleta menatap Gavano yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Vano...! apa yang kamu pikirkan.?"
"Ah, tidak ada.!"
"Bohong.!"
"Apa kamu percaya jika aku berkata, sedang memikirkan gaya apa yang bagus untuk malam nanti."
"Kamu,,, bagaimana bisa sungguh mesum bigini" Ucap Alleta malu seraya mencubit pinggang Gavano.
"Auwww sakit.!"
"Biarin, siapa suruh kamu begitu mesum,!"
Tapi kamu suka kan.?"
"Ihh... Vano.!" Memukul-mukul dada Gavano
"Sorry, sorry, ayo kita pulang."
'Kenapa ibunya direktur Reygan menatapku seperti itu.? dan kenapa aku merasa sangat dekat dengannya, padahal aku belum pernah bertemu sekalipun dengannya.' Pikir Alleta saat sudah berada di dalam mobil.
"Kamu lagi melamun apa nyonya Gavano.?" Tanya Gavano membuyarkan lamunan Alleta.
"Oh... itu... aku.!"
"Apa kamu sedang melamun tentang kinerjaku saat melayanimu.?"
"Vano...!"
"Hahaha... istriku begitu manis saat merajuk."
'Astaga... sejak kapan presedir Gavano menjadi semesum ini. Apa kah dia menganggap aku hanya sebagai pajangan saja, sebaiknya aku menjadi sopir tuan muda pertama saja.
***
Di dalam ruangan yang hening, dengan cahaya lampu yang tidak begitu terang, Felisa di bangunkan oleh langkah sepatu hak tinggi, yang semakin lama semakin mendekat.
__ADS_1
Tak lama, seorang wanita yang mengenakan gaun merah menyala dengan belahan paha sebelah kanan yang terbuka lebar, seluru wajahnya tertutupi oleh topeng masuk bersama dua orang pria yang bertubuh besar.
"Pegang kedua tangannya." Perintah wanita bertopeng itu
"Baik Nona."
Felisa seketika meronta, saat kedua tangannya sudah di pegang oleh dua pria tersebut.
"Siapa kamu.? jika berani perlihatkan wajahmu.!"
"He... kau tak perlu tahu siapa aku, kau hanya perlu mengikuti kemauanku.!"
"Apa yang mau kamu lakukan.?" Tanya Felisa saat melihat wanita bertopeng itu mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah berisi cairan di dalamnya.
Wanita bertopeng itu semakin mendekat, memgang dagu Felisa.
"Tenang saja, ini tidak akan sakit."
"Tidak... hentikan, apa yang kamu lakukan. tolong...!" Teriak Felisa.
Namun wanita bertopeng itu tidak menghiraukan teriakan dan rontaan Felisa, Maka dengan segera ia menyuntikkan cairan itu ke dalam tubuh Felisa.
Baru kemudian melangkah mundur dan memasang sebuah kamera tepat di hadapan Felisa yang tadi sudah ia bawa.
'Kenapa begitu panas, aku merasa ingin meledak, hos..' Ucap Felisa dalam hati. Rupanya cairan yang di suntikkan padanya, adalah cairan perangsang dengan tingkat kadar yang tinggi, bahkan bila hanya melakukannya dengan satu pria saja, maka itu tidak akan mampan.
Lama kelamaan efek suntikan itu semakin beraksi, tak tahan, Felisa segera mencopot satu persatu pakaian yang ia kenakan. Lalu berbalik pada pria yang tadi memegannya.
"Tolonglah... tolong aku, ini sangat panas dan sungguh menyiksa.
Tampa perduli dengan kamera yang sesang on, Felisa mulai me..njilati tubuh besar dan kekar pria di sampingnya. Tangannya juga sudah mulai menyusup di balik ce..lana pria tersebut dan hendak menangkap benda milik kedua pria itu.
Akan tetapi, kedua pria itu segera menangkap tangan Felisa dan mengeluarkannya dari dalam ce..lana mereka.
"Bukan kewajiban kami melayanimu nona.!"
"Gunakan ini.!" Ucap pria satu sambil memberikan sebuah alat bantu s..e..x yang berukuran sangat besar
"Bagaiman bisa ini akan masuk.?" Tanya Felisa di sela-sela de..sahannya.
"Jika tak mau memakainya, maka kamu akan menderita." Sergah wanita bertopeng itu.
Ia lalu memerintahkan kedua pria berbadan besar untuk mengikutinya keluar dari ruangan itu meninggalkan Felisa.
Sebentar setelah wanita bertopeng itu berlalu, Felisa yang sudah tidak tahan segera mengambil benda itu dan mengolesinya dengan cairan pelumas. Perlahan memasukkannya ke dalam in..ti miliknya.
Akan tetapi, baru ujungnya yang masuk, in..ti Felisa sudah mengeluarkan da..rah segar, bukan dara ke..pe..rawanan, melainkan darah yang keluar karna memaksa sutu benda untuk masuk.
Felisa berusaha membenkan alat bantu itu, namun tetap saja tidak bisa mencapai kepuasannya, Maka ia berusaha dan berusaha lagi sambil semakin membuka lebar se..langkannya. Hingga pada akhirnya alat bantu itu terbenamkan dengan sempurna.
Meskipun sakit Felisa tetap memainkannya, dan lama kelamaan alat bantu itu bisa keluar masuk dari in..ti Felisa tampa tersendak sedikitpun.
Sementata Felisa me..nde..sah, dengan kaki yang terbuka lebar tepat di depan kamera. Sampai mencapai pelepasannya, Tak puas, Felisa melakukannya berulang kali, hingga efek suntikan itu benar-benar hilang, dan pada akhirnya ia jatuh pingsan.
Lantaran ia baru merasakan sakit yang amat di bagian in..tinya.
***
"Bagaimana.? apa kamu puas.?" Tanya Reygan pada Luna yang baru saja keluar dari tempat penyekapan Felisa.
"Dengan bantuan topeng dan pengubah suara ini, perempuan ja..lang itu tidak akan mengenaliku." Jawab Luna menlepaskan topeng dan pengubah suaranya.
Luna kemudian duduk di kursi yang berhadapan denag Reygan yang sedang menyelut rokoknya.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.?"
"Lakukan saja bagianmu hingga puas, baru aku akan melakukan bagianku." Jawab Reygan.
"Lalu bagaimana dengan pernikahanmu.?"
"Tentu saja setelah Gavano melaksanakan resepsi pernikahannya."
"Kenapa tidak sekalian saja. bukankah bagus jika menikah bersama.?"
"Tidak mingkin, Gavano sudah menyiapkan sebuh kejutan di resepsinya yang bersamaan dengan perayaan ulang tahun gadis itu.
***
Di waktu yang bersamaan
"Sayang...! sayang...!" Teriak Julia setelah sampai di kediaman Atmaja.
"Ada apa.? kenapa seperti sedang terburu-buru."
"Itu...itu.. aku." Dengan nafas yang memburu.
"Tenangkan dirimu Julia, tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan dengan pelan" Tuntun Axel untuk mengatur nafas istrinya.
Beberapa saat mengatur nafas, Julia menarik tangan Axcel untuk duduk di sofa, me..remas tangan suaminya dengan senyum manis di wajahnya.
"Ada apa Julia.?"
"Sayang... istri Gavano... istrinya."
"Iya, kenapa dengan istrinya.?"
"Dia.. dia putriku Elena...!"
Seketika Axcel terkejut mendengar peryataan Julia. Wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Apa maksudmu Julia, bukankah kita menyaksikan sendiri pemakaman putri kita.?"
"Selama ini kita telah salah..." Serga Julia yang mulai meneteskan air mata.
"Ap maksudmu.?"
"Tanda itu, tanda lahir kupu-kupu yang ada di leher istri Gavano sama persis dengan tanda lahir Elena putri kita."
Axcel semakin terkejut, namun dibalik keterkejutan itu ada rasa bahagia yang luar bisa. Axcel kemudian memegang kedua pipi istrinya.
"Apa kamu yakin.?"
"Aku yakin.!"
"Syukurlah, jika dia memang putri kita, maka perasaan hangat yang kurasakan selama ini tidak salah." Ucap Axcel memeluk istrinya.
"Lalu kapan kita akan menjemputnya.?"
"Tentang itu, kita tidak boleh terburu-buru. Mengingat sifat Gavano yang tegas dan mendominasi, aku takut jika kita terburu-buru, dia tidak akan memberikan kesempatan pada kita untuk bertemu putri kita. Terlebih lagi resepsi pernikahan mereka tidak sampai sebulan lagi."
"Tapi aku ingin sekali memeluk putriku."
"Aku pun sama, tapi kita juga tidak bisa tiba-tiba datang dan mengaku sebagai orang tuanya. Dan aku melihat, dia sangat bahagia bersama Gavano."
"Aku akan menahannya, melihatnya bahagia aku sudah cukup senang." Ucap Julia menagis bahagia di dalam pelukan Axcel.
Bersambung...
__ADS_1
******