
Arkana segera melarikan Mira ke rumah sakit, dan menghubungi anak dari saudara ibu Mira yaitu Reyna. Beberapa saat belalu, Mira telah sadar dari pingsannya. Dia melihat Arkan di sampingnya yang begitu khawatir padanya.
"Kau sudah bangun.? Bagaimana perasaanmu sekarang.?" Tanya Arkana seraya membelai rambut Mira.
"Aku pingsan.?"
"Mira kau.!"
"Hahaha aku mungkin terlalu lelah." Kata Mira menyembunyikannya dari Arkana.
Arkana mendekat pada Mira dan meraih dagunya.
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku.?"
"Apa yang kau bicarakan.?"
"Kau tidak berniat memberitahuku.?"
'Ini terlalu dekat.' Ucap Mira dalam hati saat Arkana lebih mendekatkan wajahnya. Jatung Mira berdegup kencang.
Sedikit lagi bibir Arkana menyentuh bibir Mira. Namun, itu terhenti lantaran terdengar suara dari luar seseorang memaksa untuk masuk. Cepat-cepat Mira mendorong Arkana menjauh darinya
"Maaf Tn.Arka, aku tidak bisa menghentikannya." Kata bawahan Arkana yang ditugaskan oleh Revandra untuk mengikuti Arkana.
Seorang pria yang sesusia Arkana masuk dan menghampiri Mira, dia adalah laki-laki yang akan di tunangkan dengan Mira.
"Apa kau baik-baik saja." Tanya Xavier
"Aku tidak apa-apa jawab Mira.
Meski telah di tunangkan, Mira menolak pertunangan itu, dan Xavier yang notabennya adalah pria yang baik dan tidak suka memaksa kehendak orang lain, mengerti dan menghormati keputusan Mira untuk berteman saja dengannya.
"Kau terlihat pucat, kau tidak sehat." Kata Xavier hendak membelai rambut Mira. Namun, Arkana menangkap pergelangan tangan Xavier.
"Dia bilang dia baik-baik saja, terimah kasih atas perhatianmu." Tegas Arkana
"Apa yang membuatmu berfikir bahwa kau bisa mewakili dia bicara." Tanya Xavier bangkit dan menatap sinis Arkana.
"Aku adalah pasangannya. Bagaimana denganmu.?"
"Mira adalah tunanganku."
"Tunangan.? huh. Sekarang tidak lagi."
"Kau..." Kata Xavier terpotong ketika seorang perawat masuk dan meminta Mira untuk melakukan pemeriksaan.
Rasa lega Mira, dia merasa terselamatkan ketika tadi tidak tahu harus berbuat apa saat Arkana dan Xavier saling menatap penuh kebencian.
"Aku akan pergi bersamanya." Kata Arkana meninggalkan Xavier.
"Berhenti, Aku ingin bicara padamu." Pinta Xavier.
"Apa.?" Tanya Arkana ketus.
"Sebebarnya siapa kau.?"
__ADS_1
"Itu yang yang ingin kau bicarakan. Kau akan tahu ketika waktunya tiba."
Xavier sedikit emosi mendengar jawaban Arkana yang seolah santai saja.
"Kau harus menjauh dari Mira, tidak perduli siapa kau."
Arkana lebih mendekatkan diri pada Xavier, dan terlihat sangat jelas bahwa Arkana lebih mendominasi dari pada Xavier. Dan lebih tinggi dan sedikit besar dari Xavier.
Merasa terdominasi, Xavier mundur selangkah.
"Apakah aku tidak tahu diri.? mari kita mencobanya, aku tidak akan melepaskanmu jika kau membuat Mira dalam masalah."
"Itu bukan urusamu, dia hanya mantan tunanganmu." Kata Arkana santai
Jawaban santai Arkana membuat Xavier bertambah emosi. Dia menarik kera kemeja Arkana.
"Aku menyukai Mira, urusannya adalah urusanku. Aku akan melindunginya."
Arkana menarik tangan Xavier dan memelintirnya di belakang punggung Xavier. dan meringkuknya.
"Kau menyukainya.? tapi kau bahkan tidak tahu siapa yang mengancamnya. Bagaimana kau akan melindunginya." Ucap Arkana. Dan meskipun Xavier adalah orang yang ditunangkan oleh kakek Mira secara Acak, dia hanyalah putra dari seorabg pebisnis yang asetnya tidak bisa dibandingkan dengan milik Gramentha Grup maupun Bantara Grup.
"Aggrhh..., Apa maksudnya.?"
Belum sempat Arkana menjawab, Mira sudah selesai dengan pemeriksaannya dan kembali ke ruang inapnya. Dia juga sudah baikan dan menggati pakaian pasien dengan pakaian biasa. Segera Arkana melepas Xavier.
"Kau tak perlu tahu, lagi pula kau bukanlah tandinganku." Tegas Arkana lagi.
'Aku tidak bisa melawan Arkana barusan, siapa dia sebenarnya.' Keluh Xavier dalam hati sambil memperbaiki pakaiannya yang berantakan sebelum Mira masuk.
Mira mendapati Arkana dan Xavier sedang berdiri tegak dan saling membelakangi. 'Apa yang mereka bicarakan, mereka terlihat bermusuhan sekarang.' Guman Mira dalam hati.
"Bagaimana tesnya.?"
"Lihat semuanya normal, sudah kubilang aku hanya kelelahan." Kata Mira.
Arkana tentu saja tidak percaya, karna dia memang sudah tahu, meski Mira berusaha menyembunyikannya. Berbeda dengan Xavier, dia percaya dengan hasil tes Mira yang memang jika dokter biasa yang memeriksanya, dia tidak akan mengetahui tentang virus itu.
Lain dengan Dr.Aneth yang sudah terlatih, Arkana meminta bawahannya untuk mengambil sampel darah Mira untuk mencari tahu cara penyembuhannya.
"Apa yang Arkana bicarakan." Kata Mira.
Xavier merasa kesal, saat dia berbicara pada Mira. Namun, Mira menatap Arkana. 'Mira begitu perduli padanya, bahkan saat berbica padaku, dia menatapnya.' Keluh Xavier.
"Sudah larut, aku akan membawamu pulang." Kata Xavier
Namun, lagi-lagi Arkana menghentikannya dengan mencengkaram tangan Xavier kuat dan menghempaskannya
"Itu tidak perlu, aku akan melakukannya. Ayo pergi."
"Ah.. Tunggu." Kata Mira. Tapi Akana tidak berhenti.
Setelah Arkana dan Mira berlalu, Xavier yang menahan sakit di pergelangan tangannya memekik.
"Dia sangat kuat."
__ADS_1
***
Di parkiran rumah sakit, Arkana menarik Mira dengan berjalan sangat cepat.
"Tunggu Arka." Cegah Mira.
Arkana berhenti berjalan dan Mira menubruknya dari belakang.
"Aduh...! Apa yang kau lakukan.?" Keluhnya.
"Kalian berdua begitu dekat, apa kau ingin dia memberimu tumpangan.?" Tanya Arkana seraya nencubit manja pipi Mira.
"Yah, Apa kau cemburu.?"
"Tentu saja, lalu bagaimana kau akan menebusnya padaku." Tanya Arkana lagi, dia semakin mendektkan diri pada Mira, menarik Mira agar lebih menempel padanya. Dia meraih pipi Mira.
Saat Arkana mengelus bibir Mira dengan jempolnya, Mira menggitnya.
"Kau membuat satu kesalaha lagi."
Dengan sigap Arkana menarik Mira dan menciumnya di bibir. Mira dengan degupan jantung yang keras membalasnya. 'Aku harus mengakhiri ini, atau Arka dan aku akan tersakiti.'
"Arka, hentikan, kau membuatku tidak nyaman."
"Maafkan aku, mari masuk ke mobil."
Arkana mengantar Mira kembali ke kediaman Bantara yang di penuhi dengan orang-orang yang munafik yang sedang bersaing ingin memiliki semua aset Bantara Gruo, terutama kakek Mira.
"Aku sudah memikirkannya, aku tidak mencintaimu Arka. Kau menciumku tampa persetujuanku tadi, itu sangat kasar. Cukup sudah, kita akhiri sampai di sini, jangan datang lagi padaku." Kata Mira keluar dari dalam mobil.
"Kau menolakku karna kau tidak mencintaiku atau karna kau mngidap virus SH yang belum ada penawarnya.?"
Mira terkejut, ternya Arkana mengetahui tentang virus yang di deritanya. Namun, dia tetap berpura-pura tidak tahu tentang itu. Arkana menarik Mira dan memeluknya dari arah belakang.
"Berhenti berbohong, aku tahu segalanya. Aku tidak akan meninggalkanmu karna virus SH itu Mira. Jawab pertanyaanku, apakah karna kau tidak mencintaiku atau karna virus itu.?" Tanya Arkana dengn tangan yang gemetar di perut Mira.
'Tanganya gemetar, apakah dia juga takut, dia taku aku mendorongnya pergi.' Ucap Mira dalam hati memikirkannya kembali. Dia meraih tangan Arkana yang gemetar, meletakkanya di dadanya.
"Aku mencintaimu." Jawab Mira tampa keraguan
"Kalu begitu, jangan memaksaku pergi. Aku tidak akan menghentikanmu apapun yang akan kau lakukan, aku akan membantumu menyelidiki tentang ayahmu."
"Bahkan jika aku hanya punya satu tahun yang tersisa.?" Tanya Mira meraih pipi Arkana yang masih memeluknya di belakang.
"Aku akan menyelesaikannya. Percayalah."
"Ya... Mari kita lalu ini semua, meski hanya tersisa satu tahun."
"Mira percayalah padaku, aku tidak akan membiarkanmu terluka secara fisik atau psikologi."
Arkana memutar tubuh Mira dan menciumnya di bibir.
Bersambung...
*****
__ADS_1
Author note : Tersisa beberapa episode lagi ya gais...😁😁😁