
"Beberapa hari yang lalu, kamu mengatakan bahwa kamu ingin segera menikah.!"
"Benar kakak...!"
"Aku sudah menemukan orang yang tepat untukmu, dan akan menyiapkan pesta pertunangan untukmu.!"
"Tidak, Lexa hanya ingin menikah dengan orang yang Lexa cintai.!"
"Jngan membantah.!"
"Kakak, kamu jahat.!" Ucap Alexa seraya menagis dan berlari masuk ke kamarnya
"Lexa.. Lexa... Alexa.!" Panggil Gavano, namun Alexa tidak berbalik sedikitpun.
"Ada apa nak.? kenpa berteriak seperti itu.?" Tanya Revandra menghampiri Gavano dan duduk di kursi disusul Aliya.
"Ah.. ayah...! Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya."
"Nak, Kamu jangan terlalu keras pada adik-adikmu, biar bagaimanapun mereka terbilang masih sangat muda."
"Ibu, Istriku juga begitu muda, tapi dia sanggup bersikap dewasa meskipun kadang kedeawasaan itu hilang ketika dia bertingkah sesuai umurnya. Namun tetap saja dia bisa mengerti keadaan.!"
"Itu berbeda Vano, istrimu tumbuh di sekitar keadaan yang memaksanya harus berpikir dewasa, sementra adikmu tumbuh di lingkungan yang sewajarnya. dia bahkan tumbuh menjdi gadis manja."
"Maaf ibu, kali ini Vano, sepertinya akan tetap dengan pendirian Vano.!"
Dan seperti biasanya Jika Gavano sudah mengatakan seperti itu, maka baik Aliya maupun Revandra tidak dapat mengubahnya.
"Lalu apa kamu sudah menemukan lelaki yang cocok dengan adikmu.?" Tanya Revandra
"Sebenarnya aku belum menemukannya,"
"Buknkah kamu berkata bahwa kamu sudah menemukannya.?"
"Tidak ayah.! aku hanya mencoba menekan gadis kecil itu agar di bisa jujur padaku, dan meskipun aku berkata akan mencarikan pemuda yang cocok, tentu saja itu harus dengan persetujuan Alexa sendiri."
Gavano memang menginginkan pria yang baik untuk adik perempunnya, hanya saja ia ingin mendapat persetujuannya terlebih dahulu untuk mencarikan seorang pemuda yang cocok.
Larutnya malam membuat rungan itu sunyi, meskipun di situ ada Gavano dan kedua orang tuanya. Hingga keheningan itu kembali berwarna ketika Aliya mulai membuka mulut.
"Bagaimana dengan Riko!"
"Apa maksud ibu.?"
"Ya... Riko, ibu mersa dia adalah lelaki yang tepat untuk putri kecilku, Ayahmu dan ayahnya dalah sahabat, begitu juga ibu dan dan ibunya, di masa lalu, kami sering menghabiskan waktu bersama" Bujuk Aliya.
"Tidak, aku tidak setuju," Bantah Gavano.
__ADS_1
"Kenapa.?" Tanya Revandra heran
"Ayah, ibu, Riko hanya menganggap gadis kecil itu adiknya sendiri, mana mungkin mereka bisa bersama.! Terlwbih lagi aku tidak ingin memaksa Riko untuk mencintainya."
"Nak, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Contohnya ibu dan ayahmu, di masa lalu ibu adalah putri kesayangan ayahmu, hingga benih-benih cinta itu tumbuh di antara kami, dan kami memutuskan untuk menikah." Jelas Aliya yang sebenarnya malu-malu.
"Ayah ibu, mari kita lupakan masalah itu, ada masalah yang lebih penting.!"
"Apa itu Vano.?"
Gavano menatap ayahnya sejenak, beru kemudin mulai berbicara.
"Ayah, ini masalah wanita dari masa lalu ayah.!"
"Siapa itu Vano.?" Tanya Revandra memicingkan matanya.
"Emma Hasio."
Mendengar nama Emma, Aliya terkejut, beberpa waktu lalu, Gavano juga menanyakan hal tersebut padanya."
"Ya, ada apa dengan Emma.?"
"Ayah, saat ini Emma Hasio sedang berada di sebuah panti jompo, di New York,"
"Dari mana kamu tahu.? bahkan aku selama ini mencari keberadaannya, tapi tidak menemukannya."
Revandra semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan putranya.
"Apa maksudmu nak.?"
"Ayah, Keberadaan Emma semua di atur oleh Laila, dan membut putri Emma, yaitu Felisa Hasio sangat membenci keluarga kita, namun Laila tidak menyangka bahwa Felisa melupakan dendam itu dan benar-benar jatuh cinta padaku.!"
"Aku ingat saat itu Emma sedang mengandung benih hasil dari pe..merkosaan yang ayah perintahkan pada orang untuk mem..perkosanya, lantara terus-terus menganggu ibumu, tapi aku tidak menyangka bahwa ia sungguh melahirkan seorang putri."
"Ya...! Tapi Felisa sekarang sudah tiada.!"
"Apa.?"
Pelan-pelan Gavano menjelaskan pada kedua orang tuanya tentang semuanya, terutama Laila yang saat itu kabur dan menikah pada seorang pria yang memiliki seorang anak. Lalu merawat anak itu hingga bertumbuh besar, dan membuat anak lelaki itu meneruskan dendamnya sebelum Laila meninggal.
Setelah menjelaskan semuanya, Gavano terdiam seperti pikirannya tiba-tiba di rasuki oleh Grace yang memiliki seorang putra bersamanya
"Vano.!"
"Ya ibu.!"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada Grace dan putranya.?" Tanya Aliya seakan tahu apa yang ada di fikiran Gavano.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, mari pikirkan itu nanti.
***
Esok hari seperti yang di minta Gavano pada menejer Felisa, ia melakukan jumpa pers tentang Felisa yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit.
Sementara itu, seperti yang sudah Allea dan Arkana sepakati, Alleta membantu Arkana untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Mira.
"Hahaha..." Tawa Arkana melihat penampilan Alleta.
"Kenapa tertawa.?"
"Kamu begitu lucu dengan penyamaranmu, tidak ada yang akan tahu, bahkan kakak Vano sekalipun tidak akan tahu bahwan itu kamu dengan pakain gembel seperti ini.!"
"Memangnya kenapa dengan pakaianku.?"
"Kodok betina, masih banyak model pakaian untuk menguntit, kenapa kamu justru memilih pakaian yang sobek dan compang-camping seperti ini.? dan ini kenapa kamu menyasak rambutmu, hahahah.!".
"Hei tikus got.! tidakah kamu harus berkaca terlebih dahulu.? melihat kamu berpakaian wanita seperti ini akan membuat orang-orang mengira kamu itu banci kaleng. hahahaha...!"
Untuk menguntit Mira, Alleta dan Arkana mengubah penampilan mereka hingga tak ada yang bisa mengetahui bahwa itu mereka.
Alleta berpakaian layaknya gembel dan rambut yang acak-acakan, serta wajah yang kucel, sedangkan Arkana bepakain dan berdandan seperti wanita, namun karna postur tubuhnya yang berotot, Membuat Arkana terlihat seperti seorang banci pengamen
"Berhenti tertawa, Mira sudah keluar" Ucap Arkana melihat Mira keluar dari rumahnya yang di jemput oleh seseorang.
Maka Alleta dan Arkana segera masuk ke mobil dan memerintahkan supir pribadi keluarga Gramentha mengikuti mobil yang di tumpangi Mira.
Melihat pakaian yang di kenakan Arkana dan Alleta, membuat pak supir selalu tertawa, namun menyembunyikannya mengingat yang di tertawainya adalah nyonya muda Gramentha dan tuan muda kedua Gramentha.
Hingga mobil Mira berhenti tepat di sebuah restauran dan masuk bersama seorang pria. Sedang Alleta dan Arkana mengikuti mereka.
Namun karna penampilan Alleta dan Arkana yang seperti itu, membuat keamanan restauran tidak memngijinkan mereka masuk.
Sampai pada saat meraka benar-benar jenuh dan mengungkap identitas mereka, akan tetapi keamanan tetap tidak percaya, Mana ada nyonya muda dan tuan muda kedua dari Gramentha yang berpenampilan seperti itu.
Lelah berdebat dengan keamanan, akhirnya Alleta mundur dan duduk di sebuah tempat, terlebih lagi dirinya saat ini tengah hamil, sementara Arkana berdiri di sampingngya, membuat orang-orang yang melihatnya, merasa iba, dan memberikan beberapa lembar uang.
"Terima kasih tuan," Ucap Arkana.
Namun betapa terkejutnya Arkana dan Alleta ketika mendongkakan kepala dan melihat siapa yang memberikan lembaran uang pada mereka.
Berasambung...
******
Selamat menunaikan IDUL FIRTI
__ADS_1