KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Pembalasan


__ADS_3

"Dokter... Dokter...!" Teriak Gavano panik.


Dr.Aneth berlari menuju kamar di mana Alleta dan Gavano berada saat mendengar teriakan panik dari Gavano.


"Ada apa tuan.?"


"Periksa istriku, dia tiba-tiba menggila dan langsung tak sadarkan diri."


"Silahkan baringkan nyonya di tempat tidur."


Setelah memberikan pemeriksaan wajah Dr.Aneth begitu tidak bersemangat.


"Ada apa dokter.? kenapa dia tiba-tiba berlaku demikian.?"


"Tuan, sepertinya Nyoya muda mengalami trauma dari kejadian yang menimpanya."


"Kurang ajar, siapa yang berani melakukan ini pada istriku, aku akan membuatnya lebih baik mati dari pada hidup." Ucap Gavano menggerutukan giginya dan menggepalkan tangan


"Luka anda juga harus segera di obati."


"Lakukan."


Sebentar setelah memberikan perawatan pada luka Gavano, Dr.Aneth kembali ke kamarnya, sedang Gavano duduk di samping Alleta yang sudah tenang.


Lelaki itu kemudian mengengam tangan Alleta, betapa hancurnya hati seorang Gavano, melihat tubuh istrinya penuh dengan memar, Ia begitu marah sampai mengelurkan air matanya. 'Andai saja aku tidak memasang alat pelacak di cincin ini, mungkin saja pria ba..jingan itu sudah menodai istriku.' Ucap Gavano mencium tangan Alleta.


Gavano adalah seorang lelaki yang semasa hidupnya sangat sulit untuk mengeluarkan air mata, bahkan di waktu kanak-kanaknya pun dia hampir tak pernah menagis, namun kali ini lelaki itu mengeluarkan air matanya karna tak dapat menahan gejolak amarah yang membara dalam dirinya.


Hingga beberapa saat, air mata itu jatuh menetes di tangan Alleta, membuat gadis itu sadar kembali.


"Vano...!"


"Alleta, bagaimana perasaanmu.?"


"Semua badanku terasa sakit.!" Bangkit dari pembaringan dan duduk di bantu oleh Gavano.


"Vano, maafkan aku, aku tidak bisa menjaga diriku, hingga pria itu... dia... memperkosaku." Ucap Alleta, yang mengira dirinya sudah di perkosa.


Mendengar apa yang di katakan Alleta, Gavano segera memeluk istrinya.


"Apa kamu akan membuangku.? aku sudah tidak bersih lagi. Aku sudah terdona oleh lelaki lain." Tanya Alleta dengan beruarai air mata membasahi baju Gavano.


"Tidak Alleta, jangan katakan seperti itu, karna apa yang kamu pikirkan sama sekali tidak terjadi."


"Apa maksudmu.?"


"Ya.. untung saja aku datang tepat waktu.!"


"Lalu di mana mereka.?" Masih menagis terseduh-seduh.


"Jangan kamu pikirkan tentang itu, aku sudah membereskannya. Dan setiap tetesan air mata yang keluar dari mata indahmu ini, aku akan membalasnya dua kali lipat."


Gavano kemudian menuntun Alleta ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, lelaki itu membantu Alleta, sekali lagi amarahnya meluap melihat tubuh indah istrinya kini sudah di penuhi memar.


"Vano..!"

__ADS_1


"Emm...!"


"Aku ingin tetap di tempat ini. jangan bawa aku kemanapun, aku tidak ingin bertemu siapapun."


"Baiklah Alleta, sesuai permintaanmu."


Setelah selesai, Gavano kembali menggendong Alleta ke tempat tidur, menyuapinya makan, memberinya obat, baru kemudian menidurkan Alleta.


Sebentar setelah Alleta tertidur Gavano merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya lalu melakukan panggilan


"Riko, bagaimana.? apa mereka sudah mau mengakuinya.?"


"Belum, mereka memilih diam bahkan sudah di siksa."


"Aku akan segera ke sana." Mengakhiri panggilan telfonnya.


Lelaki itu berbalik untuk menatap wajah istrinya, baru kemudin berlalu meninggalkan Alleta yang terlelap, tapi sebelum itu, Gavano sudah terlebih dahulu meminta Dr. Aneth untuk menjaganya, dan tetap mengawasi Alleta. Tak lupa juga Gavano meletakkan beberapa penjaga di Villa itu, untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


***


"Mata mana yang kamu gunakan untuk melihat tubuh istriku.?" Tanya Gavano mengerutukan giginya, saat bertanya pada ke dua pria yang tadi dibiarkan hidup.


"Ma..maaf tuan.! kami sungguh tidak tahu bahwa gadis itu adalah istri tuan.!" Tanya Gavano pada kedua pria yang tangan dan kakinya di rantai.


"Lalu siapa yang menyuruhmu.?"


"Kami juga tidak tahu, namun dia adalah seorang wanita."


"Apa kau bisa mengenali wajah wanita itu.?"


Seketika Gavano tersentak, benar saja, Luna. 'Wanita itu benar-benar menguji kesabaranku.!' Marah Gavano dalam hati.


"Riko berikan besi yang sudah di panaskan itu.?" perinta Gavano.


Membuat kedua orang itu ketakutan setengah mati.


"Ap.. apa yang tuan lakukan pada kami.?"


Tampa berkata apapun Gavano segera saja mencungkil satu bola mata kedua pria itu.


"Aghrhh... sakit, ampun tuan ampun.!"


"Mata yang sudah melihat tubuh istriku tidak akan kubiarkan begitu saja." Melemparkan besi panas itu ke lantai lalu mengelap tangannya dengan kain yang sudah Riko siapakan.


Gavano kemudian berbalik hendak meninggalkan ruangan yang memang khusus dia sediakan untuk orang-orang yang berani melawannya. Helen juga ada di salah satu ruangan di tempat itu.


"Pontong tangan mereka satu-satu, dan jika mereka sudah tidak bernyawa, lemparkan untuk makanan ajing, tentunya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk menghilangkan jekak mereka, Dan jika ada kelurga yang di tinggalkan, beri mereka kompensasi yang sesuai."


"Baik." Jawab Riko.


***


Di perjalanan Gavano yang sejak tadi amarahnya tak pernah mereda menelfon Luna.


"Di mana kamu.?"

__ADS_1


"Aku di apartemenku."


"Kirimkan alamatnya" Lalu mengakhiri panggilan itu.


Gavano membutuhkan beberapa waktu untuk sampai ke tempat Luna, hingga akhirnya lelaki yang sejak tadi tidak sabar ingin bertemu dengan Luna sudah berdiri di depan pintu apartemen.


"Vano...! apa kamu sudah sadar bahwa kamu masih mencintaiku.?" Sambut Luna gembira saat melihat Gavano berinisiatif untuk menemuinya.


Tampa berkata apapun, Gavano segera mencengram kuat leher Luna,


"Uhuk.. uhuk... Va..vano.! Lepaskan aku.!"


Luna meminta untuk di lepaskan namun Gavano tidak berhenti, hingga wajah Luna memerah hampir kehabisan nafas baru Gavano melepaskannya.


"Vano.. apa salahku, mengapa kamu berlaku dememikian padaku" Tanya Luna di sertai dengan air matanya yang mulai menetes.


"Masuk..." Perintah Gavano.


Tak butuh waktu lama, dua orang pria yang berbadan besar dan bertato, tak lupa dengan bagian ke..jantanan yang sangat besar masuk ke dalam apartemen Luna.


Membuat Luna semakin heran dan ketakutan, ia tak tahu apa kesalahannya sehingga Gavano memperlakukannya seperti itu.


"Lakukan..." Titah Gavano pada kedua pria berbadan besar itu. Sedangakan dirinya, berjalan ke sebuah kursi untuk duduk baru kemudian membelakangi Luna.


Sesuai perintah Gavano, kedua pria berbadan besar itu segera saja merobek lingrie yang di kenakan Luna, hingga menampakkan tubuhnya yang polos, Tampa menunggu lagi, kedua pria itu bergantian melakukannya kepada Luna.


Meskipun luna meminta dan memohon, tapi Gavano tidak perduli, lelaki itu hanya menikmati sebatang rokok di tangannya.


"Vano... ku mohon hentikan, sakit... ah...!" Teriak Luna kesakitan saat bagian in..tinya di masuki ke..jantanan dengan ukuran size yang sangat besar.


"Itulah akibatnya jika kamu menyuruh seseorang untuk menculik dan me..mper..kosa nyonya muda." Sergah salah satu pria yang sedang memberikan he..ntakan liar dibawah sana.


Betapa terkejutnya Luna mendengar apa yang dikatakan pria itu, ia merasa belum bahkan tidak melakukan apa-apa pada Alleta. Lalu siapa yang melakukannya.?


"Vano...! kumohon tolong aku, tolong aku... aku hampir mati kesakitan. tolong." Teriak Luna mengapai-gapai.


"Agrh..." pekik salah satu pria berbadan besar itu setelah mencapai ke..pusannya.


Tak sampai di situ, pria yang satunya lagi, mengambil alih dan membenamkan miliknya pada inti Luna yang sudah bercampur da..rah dan cairan putih, bukan dara ke..pe..rawanan, melaikan darah dari luka yang di sebabkan gesekan kasar dari benda yang begitu besar.


Pria itu memberikan hentakan-hentakan liar pada inti Luna, sampai mencapai pelepasanya. Semetara Luna sudah tidak berdaya dan sangat sakit di bawah sana.


"Tuan.. kami sudah selesai."


"Baik... pergilah."


Setelah kedua pria itu pergi Gavano bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah Luna yang sudah polos dan bersimpuh darah di bagian intinya, Gavano berjongkok tepat di depan wajah Luna.


"Ini peringatan terakhir dariku, Cih... menjijikan." Menjambak rambut Luna lalu menghempaskannya. Kemudian meninggalkan apartemen yang di penuhi bauh darah bercampur sesuatu yang berwarna putih.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa ini terjadi padaku. Vano, sebegitu bencinya kah kamu padaku, bahkan kamu membiarkan dua orang pria mem..per..kosaku di hadapanmu." Keluh Luna begitu pilu setelah Gavano berlalu.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2