KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Menginginkan Devan


__ADS_3

"Vano...!"


"My...!"


Serentak mereka berbalik ke arah pintu yang Gavano sudah masuk dan berhenti tepat di hadapan mereka.


"Apa yang terjadi di sini.?" Sekali lagi Gavano bertanya.


"Vano...dia,!"


"My..!"


Ucapan Grace terhenti saat Alleta memanggil Gavano sembari berlari kecil ke pelukan Gavano. Sementra Grace yang tadi niatnya ingin memberitahu apa yang terjadi semuanya terhenti.'Dasar gadis ja..lang sialan.' Ucapnya dalam hati.


"Ada apa Alleta.? kenapa kamu bersedih.?"


"My.! tadi aku tidak sengaja menumpahkan minuman di baju bibi Grace, aku sudah minta maaf, tapi bibi justru menamparku."


"Bohong...! aku tidak menamparnya." Sela Grace.


"My...! sakit.!"


"Ayah...! kakak ini siapa.?" Tanya Devan menyela yang sejak tadi hanya diam, bahkan Alleta tidak menyadari kehadirannya.


Sungguh terkejutnya Alleta melihat anak kecil yang begitu mirip dengn Gavano sedang memegang celana Gavano.


"Ah... ayah hampir lupa.! perkenalkan dia istri ayah.!"


"Hallo kakak cantik.!"


Alleta berjongkok di depan Devan dengan senyum hangatnya.


"Hallo syang, aku Alleta, istri sah ayahmu.!" Ucap Alleta menekankan pada kalimat terakhirnya.


"Kakak sungguh cantik."


"Kamu pintar merayu yah, seperti ayahmu.!"


Setelah berkenalan Alleta kembali berdiri, lalu menatap Gavano, tatapan yang seolah meminta penjelasan. Bisa saja Alleta mengamuk saat itu juga, namun melihat Devan yang begitu lucu, gadis muda itu hanya mampu menahannya.


Dirinya tak mau jika Deven yang masih kecil harus mengetahui apa yang terjadi saat itu.


"Van Van... kamu ikut nenek ke atas,!" Titah Gavano tegas.


"Baik ayah." Jawab Devan dengan tegas pula.


"Ayo sayang.! Nenek punya banyak permen di kamar.!" Ajak Aliya menggendong Devan menaiki anak tangga.


Sementara Grace hanya mampu melihat, ingin sekali rasanya untuk mencegah karna hanya Devan satu-satunya yang bisa menyelematkannya dari situasi saat ini, namun apa daya, ia tak mampu, takut kalau-kalau dirinya mencegah, Gavano akan marah.


"Vano...! aku, aku..!"


"My, Aku ingin ke kamar" Pinta Alleta manja pada Gvano.


"Ok.!"


"Tapi pengen digendong.!"


"Jika itu yang di inginkan istriku."


"Vano, aku ingin berbicara padamu.!"


"Diam.!" Bentak Gavano


"Tapi Vano... aku."


"Bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak sering menampakkan wajahmu di rumah ini.?"


"Tapi aku.!"


"My... Aku lelah."


Gavano kemudian menggedong Alleta yang manja tampa memperdulikan Grace lagi, baru kemudin meninggalkan ruang tamu. Grace yang sungguh kesal hanya bisa me..remas roknya melihat kehangatan yang di berikan Gavano pada Alleta.


Setelah berada di kamar Gavno menurunkan Alleta di tempat tidur.


"Bisa jelaskan, mengapa Grace bisa tinggal di sini."


"Sebenarnya aku tidak menginginkannya, hanya saja wanita itu tidak mengizinkan Devan untuk tinggal jika dirinya tidak ikut tinggal. Devan masih sangat kecil, dia masih membutuhkan ibunya."

__ADS_1


Gavano menjelaskan kenapa Grace bisa tinggal, dan Alleta hanya diam saja. Melihat kediaman pada Alleta, Gavano berusaha membujuk Allet, takut kalau-kalau Alleta tidak terima.


"Alleta..."


"Ya.!"


"Apa kamu marah.?"


"Tidak, kenapa harus marah.?"


"Lalu mengapa diam saja.?"


"My... Jujur saja aku tidak menyukai jika Grace tinggal di sini, tapi aku tidak boleh mementingkan egoku, Devan masih kecil, dia butuh ayah dan ibunya berada di dedaktanya."


"Apa maksud kamu Alleta.?"


"Aku tidak keberatan kalian menghabiskan waktu bersama.!"


Wajah Gavano berubah mendengar apa yang dikatakan Alleta seakan-akan Alleta ingin pergi darinya.


"Apa maksudmu Alleta, apa kamu ingin meninggalkanku dan memberi cela untuk wanita lain masuk ke kehidupan kita."


"Dasar bodoh.! kamu itu sudah tua tapi tidak mengerti apa maksudku.!"


"Lalu apa.?"


Alleta mendekatkan diri pada Gavano, menarik dasinya sembari menyandarkan wajahnya di dada bidang Gavano.


"My...! aku menginginkan anak itu.!"


Gavano semakin tidak mengerti dengan ucapan Alleta,


"Apa maksudmu.? bukankah kamu menginginkan Devan bisa bersama ibu dan ayahnya.?"


"Tentu saja.!"


"Lalu.?"


"Aku menginginkan Van Van jadi anakku, dan yang ku maksud bersama ibu dan ayahnya itu, aku dan kamu, bukan wanita itu."


"Hufff...! Alleta kamu membuatku kaget saja, aku pikir kamu..."


"Sungguh.?"


"Tentu saja, dan kamu harus ingat, jangan sekali-kali membiarkan wanita itu menyentuhmu, jika tidak...!"


"Jika tidak apa siluman kecil...?"


"Jika tidak.!"


"Jika tidak.?"


"Jika tidak, aku,,, akan..."


Alleta menggoda Gavano, sengaja mendekatkan bibirnya pada leher lelaki itu, sehingga nafas Alleta begitu jelas terasa berhembus, perlahan Alleta mendekatkan wajahnya pada Gavano, sedikit lagi bibir mereka bersentuhan.


Gavano yang sudah tidak tahan godaan Alleta hendak menjatuhkan ciuman pada bibir Alleta namun Alleta menarik wajahnya dan mempererat dasi Gavano. Hingga membuat lelaki itu hampir tak bisa bernafas.


"uhuk... Alleta, apa kamu mau membunuh suamimu.?"


"Hari ini tidak ada ciuman, dan jangan mengangguku, aku ingi istirahat, aku lelah.!"


"Kamu,,, kamu sudah membuatku seperti ini, dan kamu mau mininggalkanku untuk tidur begitu saja."


"he, siapa suruh tidak memberitahuku tentang Grace yang tinggal di sini.!"


"Alleta, aku mohon, aku tidak bisa menahannya."


"Mandi saja dengan air dingin.!". Ucap Alleta berbalik dan menarik selimut lalu munutup kedua matanya.


Tak butuh waktu lama bagi Alleta untuk menjemput mimpinya, sementara Gavano hanya bisa menahannya dan mandi air dingin, bisa saja ia memaksa Alleta, namun ia tidak ingin gadis iru semakin kesal padanya.


"Ahh... Siluman kecil, aku mencintaimu." Ujar Gavano melayangkan kecupan hangat pada kening Alleta.


***


Malam hari saat hendak makan malam, semua berkumpul di meja makan, tak terkecuali Grace yang di perintahkan oleh Gavano mengurus aktivitas makan Devan, Sebenarnya Grace sungguh tak mau karna selama ini ia memang tidak pernah mengurus Devan dengan baik.


Membuat anak itu, tumbuh mandiri dan besifat dingin. Semua ia lakukan sendiri , sementara Grace hanya menghabiskan waktunya bermain dengan pria yang berbeda.

__ADS_1


"Ayah, Aku mau duduk di dekat kakak cantik.!"


"Devan...!" Bentak Grace.


"ayo ke sini.!" Panggil Alleta,


"Devan, aku ibumu, aku yang akan membantumu.!"


"Van van mau sama kakak cantik.!"


"Devan...!"


"Berhenti, makan dengan tenang, jika tak mau, kau boleh pergi dari sini.!" Ucap Gavano tegas dengan nada dingin dan mendominasinya, menciptakan suasana makan malam yang hening.


"Ayah sudah kenyang." Kata Revandra yang sejak tadi diam dan tak mau mencampuri urusan rumah tangga Gavano, begitu pula Aliya.


"Ibu juga, kami akan kembali ke kamar.!"


"Van Van juga sudah kenyang, terimah kasih kakak cantik sudah membantu menyuapi Van Van."


"Baiklah anak manis, setelah ini, Van Van harus tidur yah.!" Ucap Alleta tersenyum hangat.


"Ok.!"


Kini tersisa hanya Gavano, Alleta, Arkana, dan Alexa serta Grace yang ada di meja makan.


"Kakak... bagaimana dengan yang aku minta.!"


"Besok kamu sudah boleh masuk, dan sebagai tugas pertamamu, aku akan memberikan sebuah proyek kerja sama dari salah satu rekan bisnisku.!"


"Kerja sama tentang apa itu.?"


"Pembangunan komplex elite di wilaya xx.!"


Mendengar apa yang di katakan Gavano, Alleta berhenti mengunyah.


"My...! apa aku juga boleh ikut berpartisipasi dalam pembangunan itu.?"


"Tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang itu.!"


"My, jangan lupa aku mengambil jurusan Perancangan di Iniversitas."


"Tapi Alleta.."


"Kakak, kakak ipar benar, terlebih lagi ini adalah proyek pertamaku, aku tidak ingin terjadi kesalahan dalam bidang perancangan bangunan, maka dengan bantuan kakak ipar, mungkin akan lebih sempurna.!" Sela Arkana.


"Tapi kamu sedang...!"


"My.! boleh yah.!"


"Baiklah jika itu apa yang kamu mau tapi, kamu juga tetap harus hati-hati."


Gavano sebenarnya heran, bagaimana bisa dua orang yang sering kali bercekcok bahkan tidak pernah akur tiba-tiba ingin melakukan sesuatu bersama. Namun ia tak mau banyak berfikir.


"Dan kamu Alexa, bagaimana.? apa kamu sudah siap untuk bertunangan.?" Tanya Gavano tegas pada Alexa yang sejak tadi hanya diam bersama Grace.


"Lexa sudah kenyang.!"


Gadis keci itu meninggalkan meja makan tampa menjawab Gavano.


"Apa masih ada capcai.?" Tanya Gavano


"Biar aku ambilkan di dapur." Ucap Grace berdiri dan melangkah ke dapur untuk mengambil apa yang diminta Gavano.


Tiba-tiba, ponsel Gavano berdering, dan segera lelaki itu meninggalkan meja makan untuk menerima panggilan. Setelah memastikan Gavano benar-benar sudah pergi, Alleta memberi kode pada Arkana.


"Hei... apa kamu mau melihat sebuah pertunjukan.?"


"Kodok betina.! pertunjukan apa.?"


"Heheheh....!" Tawa Alleta dengan tawa iblisnya sambil memperlihatkan sesuatu pada Arkana.


"Apa kamu yakin.?"


"Yakin.!"


Alleta dan Arkana tertawa bersamaan, namun tawanya terhenti saat Grace sudah kembali dari dapur.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2