
Leo keluar dan berteriak mencari Alleta di sekeliling. Lelaki itu sangat khawatir, sampai ia menemukan Alleta sedang berjongkok di pinggir pantai memeluk lututnya, tatapannya lurus ke depan, entah apa yang gadis itu pikirkan.
Leo menghampirinya segera.
"Ternyata kamu di sini."
Alleta mendongkak menoleh ke arah Leo seraya melemparkan senyumnya.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar."
"Jadi apa kamu mendapatkannya.?"
"Ya... udaranya cukup menenangkan pikiran."
"Maka mari kita masuk, sudah saatnya kamu minum vitamin."
"Baik."
Leo terlebih dahulu melangkah meninggalkan tempat itu dan Alleta mengekor di belakangnya.
"Minumlah lalu istirahat."
Alleta menjawab dengan anggukan.
"Aku ingin menonton tv, boleh.?"
"Tentu saja. Tapi besok ya, sebab di sini tidak ada tv."
"Kenapa begitu.?"
"Alleta, hatiku sakit saat kamu melupakan bahwa aku tidak suka dengan acara-acara tv." Kata Leo berbohong dan membuat mimik wajah kecewa.
"Maafkan aku, aku sungguh melupakan itu "
"Tak apa."
Di kediaman Daniel, Gavano duduk di sofa di samping Revandra, sementara Devan di pertemukan dengan Fia dan Faiq oleh Delia yang kebetulan hari itu Delia tidak ke mana-mana.
"Ayah, aku ingin menanyakan satu hal padamu.!"
"Apa itu Vano.? Tanpaknya kamu begitu serius."
"Apa ayah pernah menyakiti seorang wanita di masa lalu.?"
Daniel tertawa mendengar pertanyaan Gavano, yang menurutnya sangat lucu. Daniel tahu apa yang terjadi di masa lalu. Tentunya begitu banyak wanita yang Rvandra sakiti, termaksud ibunya sendiri, yaitu Laila.
"Mengapa paman Daniel tertawa.?"
"Vano.! di masa lalu, ayahmu adalah seorang casanova yang brengsek, digilai banyak gadis-gadis, tentu saja para gadis merasa sakit hati ketika ayahmu menolaknya."
"Kenapa kamu menanyakan hal itu Vano.?" Tanya Revandra pada putranya.
"Ayah, tentunya ayah tahu siapa Leo.!"
"Ya ayah tahu, ada apa dengannya.?"
"Sebagian anak perusahaan kita di luar negri, Leo telah menyerangnya."
"Ayah, tidak heran dengan hal itu, kita sama-sama tahu bahwa dari dulu ayahnya ingin menyaingi Gramentha Grup, tapi sampai detik ini dia tidak berhasil, bahkan ambisanya itu menurun pada putranya.!"
__ADS_1
"Tapi Vano, apa hubungannya Leo menyerang anak perusahaan Gramentha yang ada di luar negri dengan masa lalu ayahmu.?"
"Paman, Aku takut, Leo adalah salah satu putra dari wanita yang telah di sakiti perasaannya oleh ayah, dan ingin membalas dendam."
Revandra memutar badan menghadap putranya, meletakkan tangannya di bahu Gavno.
"Nak, Sebelum Leo lahir, ayahnya sudah berambisi, mengenai ibunya, aku sama sekali tidak mengenalnya, bahkan hanya satu kali bertemu dengannya. Itupun saat aku dan ibumu melangsungkan resepsi pernikahan kami."
Gavano terdiam, ternyata dugaannya salah, Leo bukanlah putra salah satu wanita dari masa lalu ayahnya. 'Lalu apa motifnya, jika hanya untuk menyaingi kekuasaan Gramentha, ia tidak perlu berbuat lebih jauh seperti ini.' Pikir Gavano dalam hati.
"Apa yang kamu fikirkan Vano.? mengapa diam.?"
"Tidak ada, aku harus kembali ke perusahaan, dan aku akan meninggalkan Devan di sini untuk beberapa hari. Apa paman Daniel keberatan.?"
"Tentu saja tidak."
Gavano kembali ke purusahaan sementara Revandra kembali ke rumah untuk bersiap. Gavano menitipkan Devan di rumah pamannya, Lantaran Revandra dan Aliya akan ke New York besok untuk memeriksa bisnis yang ada di sana.
Devan dititipkan di rumah Daniel karna Gavano tidak ingin Grace melakukan sesutu pada Devan terlebih jika mereka dibiarkan tinggal berdua, sementara Aliya dan Revandra tidak berada di rumah.
***
"Kakak Riko" Panggil Alexa pada Riko yang saat ini sedang mengemudi.
"Em... ada apa gadis kecil.?"
"Tepikan mobilnya.!"
Seperti permintaan Alexa, Riko menepi dan mematikan mesin mobil, dan kebetulan saat ini mereka berada di sebuah jalan sepi, Riko memilih melewati jalan itu lantaran menghindari macet.
"Kakak.! Lexa merindukanmu." Ucapnya yang memang beberapa hari terakhir meraka tidak bertemu karna Riko terlalu sibuk dengan urusan Gavano.
Alexa kemudian bergerak dan berpindah posisi naik di atas pangkuan Riko setelah melonggarkan setelan jok.
"Apa yang kamu lakukan.?"
Alexa tidak menjawab, dia hanya membenamkan wajahnya di leher Riko, nafasnya yang berat terasa jelas berhembus di daun telinga Riko.
"Apa yang membutmu risau Alexa.?"
"Lexa merindukan kakak ipar. Sudah sebulan kepergiannya."
"Tenangkan dirimu, bukan hanya kamu yang merasa kehilangan kita semua juga merasa demikian."
"Tapi aku melihat kakak Vano, tidak begitu merasa kehilangan, dia bahkan tidak perduli, saat aku dan kakak Arka bertanya tentang kakak ipar."
Riko menarik nafas lalu menghembuskannya seraya berusaha memberi pengertian pada Alexa.
"Jangan berpikir seperti itu, siapa yang tahu apa yang ada di dalam hati Gavano, bisa saja dia sangat merasa sangat kehilangan dari pada kita semua."
"Begitu kah.!"
"Em... Jadi berhenti banyak berfikir."
Alexa akhirnya mengerti. Gadis kecil itu kemudian meraih dasi Riko, memainkannya dan wajahnya tetap pada leher Riko.
"Alexa..."
"Ada apa kakak.?"
"Tidakkah kamu merasa saat ini posisimu begitu..."
__ADS_1
"Huss...." Potong Alexa menutup bibir Riko dengan telunjuknya.
Alexa menegakkan badannya dan menjatuhkan ciuman di bibir Riko, Riko membalasnya, karna jujur saja, lelaki itu juga merindukan sentuhan bibir Alexa.
"Apa kakak menikmatinya.?"
"Menikmati."
"Lalu bisa Lexa melanjutkan.?"
Tapi Riko tidak menjawab, hanya tatapan yang ia berikan pada Alexa, seolah tatapan itu menandakan persetujuannya bagi Alexa untak melanjutkan apa saja yang dia inginkan.
Alexa kemudian membuka gasper Riko, menurunkan resleting lelaki itu, kemudian mengeluatkan sesuatu yang sudah menegang sejak tadi.
Jari-jari kecil Alexa me..remas dan memainkan ke..janta..nan Riko, sangat lihai sekali.
"Alexa..." Panggil Riko saat Alexa memasukkan ke..janta..nannya ke dalam mu..lut Alexa, dan me..ngulum..nya berulang kali, memainkan ke..lur ma..suk
"Lepaskan saja kakak." Ucap Aelxa sembari mempercepat gerakan tangan dan mu..lutnya.
"Alexa... ag...rh...r...rh..."
Er..angan Riko keluar dari bibirnya bersamaan dengan pelepasannya.
"Kakak suka.?"
"Kamu nakal gadis kecil. Entah apa yang akan Gavano lakukan padaku jika dia tahu aku menggunakanmu sebagai pe..muas. mungkin dia akan menembak kepalaku di tempat.
"Itu jika kakak Riko mengatakan padanya."
Riko kemudian mengambil tissu dan membantu Alexa untuk membersihkan jari jemarinya yang penuh dengan sisa-sisa pe..lepasan Riko.
"Kita pulang sekarang.!" Pinta Alexa.
"Tapi aku belum membantumu."
"Tidak perlu kakak, saat ini tamu bulananku sedang berkunjung, aku melakukan itu agar kakak Riko tidak menahannya. Dan mencari wanita lain jika kakak benar-benar sudah tidak dapat menahan."
"Alexa, aku mencintaimu, buang fikiran kotormu itu." Kata Riko sambil menaikkan resleting dan memperbaiki gaspernya kembali.
"Maafkan aku, aku tidak akan berkata demikian lagi."
"Bagua jika kamu mengerti gadis kecil."
Seeprti biasa, jika Leo pulang entah dari mana dia terlebih dahulu masuk ke kamar Alleta di mana Alleta sedang tertidur pulas. Dan seperti biasa Leo juga bercerita pada Alleta
"Alleta, kamu tahu, bagaimana nasib wanita yang aku ceritakan padamu beberapa waktu lalu. Di meninggal karna seorang wanita lain yang menginginkan putra penguasa itu. Sungguh tragis nasibnya. Padahal dia memiliki seorang putra dari putra peguasa itu."
Leo berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi perktaannya.
"Kamu pasti tidak akan menyangka bagaimana cara wanita lain itu membunuh bahkan merebut putranya. Dengan bantuan pria yang ingin membalas dendam. Pria itu bahkan membuat wanita yang meninggal itu tahu bahwa ia mengandung dan melahirkan. Kamu mau tahu dengan cara apa pria itu melakukannya.? Dia me..."
"Ah maaf direktur Leo, aku tidak tahu anda di sini." Kata dokter wanita yang masuk ke kamar di mana Alleta berda. Membuat kata-kata Riko terhenti.
Dokter itu beralasan untuk mengecek keadaan Alleta.
"Jaga dia. Aku akan kembli ke kamar untuk beriturahat." Kata Leo lalu meninggalkan kamar tampa tahu bahwa Alleta terbangun setelah Leo berlalu.
Bersambung...
******
__ADS_1