
"Alleta, berhenti makan, ikut denganku." Ucap Arkan kesal lantaran pelayan tidak mengenali dirinya yang juga tinggal di kediaman itu.
Jelasa saja pelayan itu tidak mengenalnya, toh baru saja tadi pagi dia menjado salah satu dari mereka
Namun Alleta tetap menikmati makanannya, dan tak memperdulikan Arkana yang sangat kesal.
Pemuda itu menghentakkan tangannya ke meja makan, tapi tetap saja Alleta bersikap acuh tak acuh padanya, membut pemuda tampan itu semakin kessal.
"Dasar gadis sialan.! kenapa kamu masih makan dan mengabaikanku, kodok betina...!!! "Teriak Arkana.
Tetap saja Alleta menikmati makanannya. Baru kemudian berbalik pada Arkna yang sudah duduk di sampingnya.
"Kodok betina, hinaan yang kamu katakan kemarin di telfon, untuk sementra aku bisa melupakannya. Tapi hari ini ibu ingin bertemu denganmu, dan memintaku menjemputmu selagi kakak tidak ada.!"
"Aku tidak ingin ikut, tampa persetujuan tuan.!"
"Alleta, kamu bisa melakukan panggilan telfon dan memberitahunya,"
"Tapi aku tidak ingin." bersikap cuek.
"Alleta, aku sudah memanjangkan kesabaranku, andai bukan ibu yang meminta, aku juga tidak akan menghabiskan waktu untuk menjemputmu."
"Untuk urusan itu, kamu sudah melakukan perintah ibu, dan aku tetap tidak ingin ikut."
"Alleta, ini hanya pertemuan biasa saja, dan jika kamu tidak ikut, ibu akan benar-benar datang sendiri dan menyeretmu."
"Tunggu sampai aku selesai sarapan."
Setengah jam kemudian, setelah sarapan Alleta, mengganti pakaian yang modis, cocok dengan usinnya, membut gadis muda itu semakin cantik.
"Kenapa lama sekali kamu mengganti baju, mau pakai baju apapun kamu tetap adalah wanita yang sudah bersuami."
"Berhenti mengejekku, Jangan sampai aku mengurungkan niatku."
Sebentar kemudian Alleta dan Arkana hendak meninggalkan kediaaman Gavano, tetapi kepala pelayan memberi tahu pada Alleta.
"Nyonya muda, tuan muda pertama akan makan malam di rumah malam ini, saya harap anda bisa pulang lebih awal." Pinta kepala pelayan yang sebenarnya takut jika Gavano mengetahui Alleta pergi tampa ijin darinya.
Terlebih lagi Gavano sudah mewanti-wanti kepada kepala pelayan itu agar menjaga Alleta jika Alleta tidak sedang berkuliah. 'Kepala pelayan terlihat khawatir.' Ucap Alleta dalam hati.
"Baiklah, aku akan kembali sebelum tuan kembali." Berlalu meninggalkan kediaman Gavano.
Di dalam mobil saat perjalanan, Arkana sangat kesal lantaran gadis yang sedang duduk di sampingnya tidak memperdulikannya sama sekali.
"Dia tidak melihatku sama sekali, Cih...! kalau begitu aku juga tidak akan perduli." mulai memutar sebuah lagu pada dvd yang tersedia di dalam mobil.
-Ohh... aku sangat jenius... ohhh aku, tidak jenius.. ohh..-(lagu rock)
Alleta kaget ketika lagu yang di putar Arkana terasa menusuk gendang telinganya.
Menjadi jenius tidaklah mudah.... menjadi jenius adalah bawahaan... ohhh...-
__ADS_1
"Lagu apa ini.? telingaku sakit." teriak Alleta sambil metutup kedua kupingngnya.
Teriakan Alleta membuat Arkana tiba-tiba menghentikan mobilnya, lalu berbalik berhadapan dengan Alleta,
"Apa maksudmu.? apa kamu salah minum obat atau apa.? berani sekali kamu menghina lagu pertamaku.!" Arkana marah sambil menunjuk wajah Alleta.
"Lagu ini, lagu ini tidak bisa di dengarkan, telingaku sakit."
"Kamu menghina laguku," Mulai membunyikan klakson, menancap gas, dan mengenderai dengan kecepatan yang meningkat.
Mobil yang di kendarai secara ugal-ugalan itu, membuat para pejalan kaki memakinya.
"Hei... pelan-pelan, jalan ini bukan milikmu."
"Berani sekali, kamu kira kamu keren hanya karna mengendarai mobil mahal.?" Maki para pejalan kaki.
Sedang Alleta masih menutupi telingannya dengan kedua tangannya.
"Huff, apa yang kamu lakukan.?" Tanya Alleta dengan nada teriak saat Arkan mulai memperlambat laju mobil.
"Alleta, hari ini aku akan bersabar, karna ibu yang memintaku menjemputmu, tapi tunggu saja nanti. kamu harus bersiap-siap berlutut padaku."
***
Setelah melaui bebera waktu perjalanan sambil saling memaki, akhirnya Arkana dan Alleta tiba di sebuah hotel mewah, Arkana keluar dari mobil mengenakan masker,
"Apa lagi yang kamu tunggu, cepat keluar dari mobil.!" Titah Arkana.
Gadis itu kemudian keluar dari mobil namun hak sepatunya menginjak sebuah kerikil
"Aaa...." Alleta tersandung.
Alleta tersandun dan jatuh ke pelukn Arkana, tampa mereka sadari, ada seseorang yang memotretnya dari balik dedaunan.
"Ah,,, aku tersandung batu dan hampir saja terjatuh, hak tinggi ini sangat berbahaya." Gumam Alleta yang masih memegangi Arkan.
Tidak seperti dalam drama-drama atau novel-novel romantis, saat seorang wanita tersandung dan jatuh kepelukan seorang pria, maka keduanya akan merona dan jantungnya akan berdetak kencang.
Tapi berbeda dengan kedua orang yang tak pernah cocok itu, Arkana justru kesal dan mendorong Alleta. Bahkan pemuda itu sempat menyapu seluruh tubuhnya.
Sedang Alleta, karna merasa bersalah, dirinya tidak marah saat Arkan mendorongnya, tapi tetap saja ada sedikit rasa kesal pada dirinya.
Tak mau membuang waktu Arkana masuk ke hotel dan Alleta mengekor di belakangnya.
"Ibu..." Panggil Arkana manja, saat sudah berada di restaurant barat yang terdapat di dalam hotel.
"Ah,,, kalian sudah sampai, mari aku perkenalkan pada teman-teman ibu."
Hari itu, Aliya mengadakan pertemuan di restaurant barat yang ada di hotel mewah xx dengan para istri dari rekan bisni Revandra, sekaligus mengenalkan menantunya.
"Wah... tuan muda kedua Gramentha grup sangat tampan ya.!" Puji para istri rekan bisnis Revandra
Karna pujian itu, Arkana merasa berbanga diri, tapi kebanggaan itu hilang ketika ibunya mulai membuka suara.
"Berhenti memperhatikan anak nakal itu, aku sengaja mengumpulkan kalian di sini bukan untuk memujinya, melainkan memperkenalkan menantu perempuanku." Ucap Aliya penuh semangat dan senyum bahagia.
__ADS_1
Alleta tersipu malu. Bagaimana tidak ibu-ibu itu menatapnya sedemikian rupa. Bukan menatap karna tak suka, melainkan tatapan itu menandakan bahwa mereka terpesona dengan kecantikan Alleta.
"Wahh... muda sekali.!"
"Berapa umurmu.?"
"Cantik skali...!"
"Di mana Gavano menemukan gadis secantik ini.?"
Pertanyan-pertanyaan itu membuat Alleta bingung harus menjawab apa, mengerti dengan apa yang di rasakan menantunya, Alliya berinisiatif untuk menjawab.
"Umurnya belum genap delapan belas tahun, memang cantik, putraku tidak salah memilih. Untuk di mana putraku menemukannya, aku juga belum tau," seraya duduk di kursi di ikuti para istri-istri rekan bisnis Revandra, dengan meja yang sudah di penuhi makanan.
Jawaban di akhir kata-kata Aliya, membuat raut wajah para ibu-ibu itu berubah, yang tadinya kagum, menjadi seperti merememehkan Alleta.
"Apa.? kamu belum tau di mana putramu mendapatkannya.? Hati-hati loh jeng Aliya, jangan sampai putramu menikahi gadis yang tidak tahu asal usulnya." Ucap seorang istri yang memang sifatnya suka merendahkan orang lain.
Jika saja suaminya tidak berperan penting dalam Gramentha Grup, sudah sejak lama Aliya tidak ingin berteman dengannya.
"Jeng Reya... gak boleh loh ngomong begitu, apa lagi di depan orangnya."
"Tapi sayakan berkata sejujurnya, bagaimana jika dia hanya gadis miskin yang akan menguras habis harta Gramentha."
"Berhenti, apapun dia, dia tetap adalah menantu sekaligus nyonya muda Gramentha Grup." Bentak Alliya membuat Raya terkejut.
Bagaimana tidak, baru kali ini wanita itu meliahat kemarah Aliya yang sejatinya adalah wanita paling lembut dan baik.
"Ibu tak apa, benar apa yang mereka katakan, aku memang adalah sorang gadis yatim piatu, dan miskin. Tapi aku tidak pernah berfikir tentang harta keluarga Gramentha, aku masih muda, dan masih bisa mencari uang sendiri." Ucap Alleta yang matanya sudah hangat namun gadis itu mampu untuk menahan.
Arkana yang sejak tadi hanya diam, juga ikut membela Alleta,
"Kamu, wanita gendut.! jangan asal ngomong dong.!"
"Kalian semua menganiayayaku... aku akan menyuruh suamiku menghentikan kerja sama dengan Gramentha Grup.!"
"Ibu, Arkana, sebaiknya aku pergi saja," Berdiri dan hendak pergi. Namun tindakannya di hentikan oleh Aliya.
"Berhenti, yang seharusnya pergi itu adalah kamu, bukan menantuku." Bentak Aliya.
"Baik, tunggu saja, aku akan benar-benar menyuruh suamiku membatalkan kontrak."
"Oh... silahkan saja, dan setelah itu jangan datang pada kami untuk memohon." Ucap Aliya tegas.
Seperti yang di ketahui banyak orang, tak ada yang dapat menentang kekuasaan Gramentha Grup di kota S.
Di perusahaan Gavano sedang sibuk bekerja, di hampiri oleh karyawannya,
"Presedir, ini dokumennya."
"Baiklah, tolong buatkan aku secangkir kopi."
"Baik."
Sebentar setelah karyawan itu berlalu, Gavano membuka dokumen yang di berikan padanya. Matanya melebar, emosinya melonjak, bahkan lelaki itu meremas sampul dokumen yang ada di tangannya, sesaat setelah melihat apa yang ada di halaman depan dokumen itu.
__ADS_1
Bersambung...
******