
"Lepaskan tangan kotormu dari bahuku." Bentak Gavano saat Grace memegang bahunya.
"Jangan terlalu seperti itu, bagaimanapun aku adalah bagian dari masa lalumu" Jawab Grace tenang.
"Masa lalu.? apa kau tidak salah.?"
"Tentu saja tidak".
Grace mulai lebih mendekat pada Gavano, menarik dasinya dan membetulkannya. Meskipun Gabano hanya diam saja, tapi di dalam hatinya sungguh geram.
Momen itu diabadikan oleh seseorang yang memotret mereka dari kejauhan. Melihat Gavano diam saja, Grace semakin berani mendekatkan tubuhnya hingga benda kenyal miliknya dapat dirasakan oleh Gavano. Dan kembali momen itu diabadikan seperti tadi.
"Kurang ajar.!"
Bentak Gavano bangkit dari duduknya di susul Grace.
"Vano !, kenapa selalu seperti ini.?"
"Memang dari awal sudah begini."
Gavano memutar tubuhnya hendak meninggalkan taman.
"Bagaimana dengan putra kita.?"
Perkataan Grace membuat langkah Gavano terhenti, Dengan tatapan tajamnya, Gavano berbalik dan melangkah semakin mendekat ke arah Grace, dan berhenti tepat di hadapan wanita cantik itu.
'He, ternyata benar apa yang di katakan lelaki itu, Vano benar-bebar tertarik jika membahas tentang putranya.' Ucap Grace dalam hati, disertai senyum yang mengiasi wajah cantiknya.
Ia berharap senyum itu akan meluluhkan hati Gavano, namun semua tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Gvano justru mencengkram leher Grace.
"Jangan mengancam dengan putraku." Ujar Gavano yang semakin lama semakin mengencankan cengkramannya pada leher Grace.
"Le..lepaskan, sakit."
Grace terlihat seperti hampir kehabisan nafasnya, wajahnya memerah, sedang tangannya menepuk-nepuk tangan Gavano meminta di lepaskan.
"Aku beri waktu sampai besok, jika kau tidak membawa anak itu, maka jangan salahkan aku berbuat sesuatu yang tidak terfikirkan olehmu." Sambil melepaskan cengkramanya dengan sedikit mendorong.
"Uhuk... uhuk...!"
Gavano kemudian meninggalkan Grace yang tersungkur ke tanah akibat tak kuasa menahan rasa sakitnya. Sebelum pergi Gavano kembali mengingatkan satu hal pada Grace.
"Jangan tunjukan senyum menjijikanmu itu di hadapanku." Ucap Gavano menegaskan seraya meninggalkan Grace.
'Vano, kamu bisa menghinaku saat ini, tapi suatu saat nanti aku bersumpah, kamu akan menjadi miliku'. Sumpah Grace dalam hati saat Gavano meninggalkannya.
Sebebentar setelah Gavano berlalu, pria yang sejak tadi mengintai dan memotret Grace dan Gavano, menghampiri Grace.
"Apa kamu tidak apa-apa.?"
"Ya.! bantu aku berdiri.!"
Pria itu kemudian membantu Grace berdiri.
"Besok Gavano memintaku untuk membawa putranya.!"
"Maka bawa saja.!"
"Tapi Loe, aku takut. Gavano akan mencurigaiku.!"
"Tidak akan selama kamu bisa menjaga rahasia ini.!"
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika Gavano melakukan tes DNA.?"
"Maka lakukanlah.?"
"Apa kamu gila Leo.?" Bentak Grace
"Tidak, bukankah kamu menginginkan Gavano.?"
"Tentu saja, tapi jika mengambil resiko ini, aku takut Gavano akan membunuhku jika ia tahu bahwa aku bukan ibu kandung putranya.!"
"Tak perlu khawatir.!"
"Bagaimana aku tidak khawatir, jika Gavano hanya melakukan tes DNA pada putranya, aku tidak masalah, bagaimana jika dia melakukan tes itu antara aku dan anak itu.?"
"Kamu tenang saja, sebelum ibu anak itu meninggal aku terlebih dahulu mengambil sampel DNAnya untuk jaga-jaga.!"
"Bebarkah.?"
"Tentu.!"
"Jika begitu aku akan tenang, lalu bagaimana dengan yang tadi, apa yang kamu dapatkan.?"
Leo lalu menyerahkan kamera yang ia gunakan untuk memotret Gavano dan Grace, saat Garece mencoba mendekatinya, seolah-olah mereka sedang bermesraan.
Kedua orang itu kini tersenyim puas denga apa yang mereka dapatkan hari itu, mereka berfikir akan mendapatkan hasil yang sempurna yang sesuai dengan keinginannya.
***
Di kediaman Revandra, Gavano dan kedua orang tuanya menunggu kedatangan Alleta dan Arkana.
Beberapa waktu menunggu, akhirnya Alleta dan Arkana menampakkan batang hidungnya.
"Ah... kakak, ayah dan ibu juga ada disini.?" Sapa Arkana sambil menggatuk kepala
"Hahahah, bukan itu maksud Arka, hanya saja..."
"Kalian berdua dari mana..?" Tanya Gavano, membuat Arkana tidak sempat melanjutkan kata-katanya.
Melihat Arkana sudah mulai keringat dingin dan kakinya sedikit bergetar, Alleta mengambil inisiatif untuk menjawab,
"My,!" Panggil Alleta lembut juga manja, membuat Gavano yang tadinya sedang geram, perlahan emosinya memudar.
"Hem...!"
"Maaf, jika tidak memberitahumu, tapi kami baru saja kembali dari menemui Mira.!"
"Mira.?" Tanya Gavano sambil mengosok dagunya.
"Benar, Arkana sedang menjalin hubungan dengan Mira.!"
Peryataan Alleta membuat Aliya dan Revandra terkejut,
"Iya, benarkan Arkana, kamu sedang berkencan dengan Mira.?" Tanya Alleta seraya memberi kode pada Arkana.
"Ah... hehehe iya be..benar kakak."
"Mira.? siapa dia.?" Tanya Aliya
"Ibu, dia adalah sahabatku, tak apa kan.?"
"Oh... Sayangku Alleta, jika itu menurutmu baik, maka ibu dan ayah akan baik-baik saja."
__ADS_1
"Sungguh.?" Sela Arkana.
"Ya.!" Jawab Aliya serentak dengan Revandra.
"Terimah kasih ayah, ibu.!"
"Tunggu dulu.!"
Tiba-tiba Gavano membuka suara dengan bentakan yang seperti biasanya. Membuat suasana yang tadinya ceria menjadi sangat hening dan sesdikit tegang.
"Bukankah kemarin Alexa baru saja menemanimu ke rumah kekasihmu.?" Tanya Gavano tegas memicingkan matanya seraya memagutkan tanganya untuk memopong dagunya.
"it...itu...! kami sudah berpisah kakak.!"
"Alasannya.?"
"tidak cocok saja heheheh.!"
"Berhenti tertawa, jangan pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan hari ini.!"
Alleta dan Arkana terkejut, betapa tidak, ternyata Gavano mengetahui apa yang mereka lakukan hari ini. Terlebih lagi tadi mereka sempat menolak untuk mengaku. Alhasil antara Alleta dan Arkana tak ada yang berani membuka mulut dan memilih untuk diam saja.
Seperti biasa, saat sedang tertekan, Alleta hanya bisa bermain dengan jemarinya dan kuku-kuku panjangnya.
"Kenpa tidak ada yang menjawab.?"
"Vano, jangan terlalu keras pada adik dan istrimu." Sela Aliya.
"Ibu, Vano minta, ibu jangan terlalu memanjakannya."
"Baiklah nak, jika begitu, ibu dan ayah serahkan padamu, kami capek kami akan istirahat.!"
"Baik bu.!"
Revandra membawa Aliya ke kamar untuk istirahat. Sebentar setelah kedua orang tua itu berlalu, Gavano kembali pada Arkana dan Alleta yang masih berdiri tegak di hadapanya, tak berani untuk berpindah.
"Alleta, duduklah, kamu sedang mengandung, tak baik bagimu untuk berdiri terlalu lama."
Lantaran begitu lelah, Alleta mengangguk dan duduk di samping Gavano.
"Dan kamu Arkana, sebagai hukuman atas apa yang kamu lakukan hari ini, mulai lusa, kamu harus bergabung di perusahaan. Berhenti menjadi aktor."
"Sungguh kakak.?" Tanya Arkana ingin lebih meyakinkan.
"Ya.!"
"Baik...!"
Gavano heran melihat tingkah Arkana yang begitu senang saat di perintahkan untuk bergabung di perusahaan. Betapa tidak, selama ini Arkana paling anti dengan perusahaan dan lebih memilih terjun ke dunia intertainer, dan tiba-tiba saja pemuda itu begitu senang.
Sebenarnya, sepanjang perjalanan pulang, Alleta bercerita tentang masalah Mira pada Arkana, dan saat itu juga, demi cintanya pada Mira, Arkana membulatkan tekatnya untuk melepaskan karirnya sebagai aktor, dan akan meminta pada Gavano untuk membawanya untuk bergabung di perusahaan, agar bisa membantu masalah Mira.
Pucuk dicinta ulanpun tiba, tampa meminta, ternyata Gavano sudah memerintahkannya untuk bergabung. Itulah mengapa Arkana begitu senang.
"Kalau begitu aku kembali ke kamar.!" Pamit Arkana,
Gavano hanya diam menyaksikan Arkan yang kegirangan lantaran Gavano menyuruhnya bergabung di perusahaan.
"Ada apa dengannya.? kenapa dia aneh seperti itu, bukankah dia sungguh tidak menyukai perusahaan.?" Tanya Gavano pada Alleta setelah Arkana berlalu.
Bersambung...
__ADS_1
******