
"Vano..." Teriak Alleta berlari memeluk Gavano saat melihat lelaki itu turun dari mobilnya tepat di depan universitas.
"Bagaimana kuliahnya hari ini.?"
"Baik..."
"Kamu lapar.?" Tanya Gavano,
Alleta hanya mengangguk manja dalam pelukan Gavano,
"Kakak, boleh aku ikut makan.?" Tanya Arkana yang juga kelasnya sudah berakhir.
"Carilah tempatmu sendiri." Tolak Gavano tegas, baru kemudian meninggalkan Arkana.
Seperti biasa, meskipun Arkana sudah memohon, tetap saja Gavano tidak mengindahkannya.
"Alleta..."
"Em...!" Jawab gadis itu mendongkak melihat wajah Gavano.
"Sebentar lagi, ulang tahunmu, dan aku berencana merayakannya bersamaan dengan resepsi pernikahan kita.!"
"Lalu.?"
"Apa istriku yang cantik ini tidak keberatan.?" Tanya Gavano memegang dagu Alleta.
Bukannya menjawab, Alleta justru balik bertanya pada Gavano
"Kenapa harus keberatan.?"
"Bukannya dulu kamu yang meminta agar pernikahan kita di rahasiakan di publik.?"
Mendengar apa yang di katakan Gavano, Alleta yang sejak tadi bersandar di dada bidang yang berbalut jas itu memperbaiki posisi duduknya.
"Itu dulu, saat aku belum mencintaimu.!"
"Jadi sekarang kamu mencintaiku.?"
"Ya aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
Meledaklah tawa Gavano, ia sangat puas mendengar peryataan Alleta.
"Lalu mana bukti cintamu.?"
"Tuan Gavano yang terhormat, bukankah aku sedah membuktikannya selama ini.?"
"Dengan apa.?"
"Denga tubuhku.!"
"Maka hari ini aku ingin meminta pembuktian itu lagi."
Gavano lalu mendorong Alleta hingga berbaring, lalu menatapnya,
"Kamu sungguh membuatku gila Alleta.!" Menjatuhkan ciuman pada bibir Alleta, dan dengan senag hati Alleta membalasnya, bahkan merangkul tengkuk leher Gavano.
Tangan Gavano hendak menyusup di balik dress Alleta.
"Hem... hem.. Presedir, kita sudah sampai" Ucap sopir berdehem.
Tidak tau apa yang akan terjadi andai saja mereka belum sampai di tempat tujuan. Mungkinkah akan melakukannya di mobil, Tapi bagaimana bisa, sedangkn di mobil juga ada seorang sopir.
"Vano... itu, kita sudah sampai." Ucap Alleta mendorong Gavano yang sejak tadi berada di atasnya.
"Oh... tidakkah kita melanjutkannya baru turun dari mobil.?"
"Stop ya.! tahan pikiran mesummu itu, kita sedang berada di luar.!"
"Berarti jika sedang tidak berada di luar, aku bebas melakukan apapun yang kumau.?"
Gavano terus saja menggoda Alleta. 'Heh... Presedir Gavano sudah tidak bisa diselamatkan'. Keluh sopir pribadi itu dalam hati.
Setelah makan, Gavano membawa Alleta ke sebuah butik mewah nomor satu yang terkenal di kota S.
"Untuk apa kamu membawaku ke sini.?"
__ADS_1
"Tentu saja mencoba gaun pengantinmu.!"
"Sungguh.?"
"Tentu saja." Jawab Gavano mencubit kecil puncuk hidung gadis itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan dan nyonya.?" Sapa dan tanya karyawan butik itu dengn ramah.
"Beberapa hari lalu saya memesan gaun pengantin, apa boleh saya melihatnya.?"
"Atas nama siapa tuan.?"
"Gavano Azka Gramentha."
Tersentak karyawan butik itu, beruntung ia berlaku sopan pada Gavano.
"Silahkan lewat sini tuan Gavano, gaunya sudah selesai.!" Sambil menuntun Gavano dan Alleta masuk. ke sebuah ruangan.
Ruangan yang di mana dipenuhi dengan gaun-gaun penganti yang mewah, yang menjadi setiap impian para gadis untuk memakainya.
"Silahkan tuan, ini gaunya."
"Wah cantik sekali..." Seru Alleta.
"Kamu suka.?"
"Suka sekali.!"
"Cobalah.!"
Karyawan butik itu segera mengantar Alleta ke ruang ganti. Sebentar kemudian, Alleta keluar dengan wajah malu-malu. Sementara Gavano lagi-lagi terpesona dengan keindahan istrinya.
"Apa aku cantik.?"
"Tentu saja.!"
"Tapi bagaimana bisa sepas ini di badanku.?"
"Aku suamimu, tentu saja setiap inci dari tubuhmu aku tau, ukuran serta modelnya, aku juga tau bau harum stroberry yang..."
Andai saja Alleta tidak menghentikannya, entah apa yang akan ia katakan selanjutnya, tampa perduli bahwa karyawan butik masih ada di anrata mereka. ' Sungguh romantis, romantisme yang berbalut kemesuman, heheh.. tapi itu sungguh lucu.' Ucap Karyawan itu dalam hati sambil tersenyum dan mengaitkan kedua tangannya untuk memopong dagunya.
Beberapa saat memandangi Alleta, tiba-tiba Gavano menerima sebuah panggilan. Tapi sebelum itu, ia pamit sebentar pada Alleta.
"Aku terima dulu panggilan ini sebentar, Tunggu aku.!"
"Baiklah."
Sebentar setelah Gavano berlalu, Alleta memutar tubuh menghadap ke cermin, mengagumi gaun yang ia kenakan. Seperti dengan seleranya, Gaun yang sederhana namun tampak anggun dan elegan.
"Sayang.! aku mau gaun yang di pakai gadis itu.!" Ucap seorang gadis seumuran dengan Alleta yang baru saja masuk.
Gadi itu menggandeng seorang pria yang lebih pantas menjadi ayahnya. Begitu Alleta berbalik, gadis itu terkejut melihat Alleta.
"Alleta...!"
"Oh... Alice.!"
"Apa yang kamu lakukan di sini.? kamu juga memesan gaun pengantin ya.? Tapi melihat kamu yang miskin mana ada uang untuk memesan gaun yang mahal." Caci Alice
Alice adalah teman sekelas Alleta saat masih duduk di banguk sekolah menengah atas. Tak jarang Alice sering membuli Alleta, lantaran Alleta dari keluarga miskin, sementra Alice adalah anak dari keluarga terpandang.
Bahkan lelaki yang di sukai Alleta juga di rebut oleh Alice.
"Jaga ucapanmu Alice.!" Bentak Alleta tidak terima di rendahkan.
"Kenapa, memang kenyataannya kamu hanyalah orang miskin.!
"Apa kamu mengenal gadis ini sayang.?" Tanya pria yang di gandeng Alice.
"Tentu saja. Dia adalah murid paling miskin di sekolah kami, tapi lupakan itu, aku nenginginkan gaun yang ia pakai."
Setelah Ucapan Alice berakhir, pria yang di gandeng Alice itu mendekati Alleta.
__ADS_1
"Kamu dengar itu nona.? calon istriku menginginkan gaun yang kamu kenakan.!"
"Tidak mau, ini di pesankan khusus untukku." Tolak Alleta.
Namun Alice tetap saja memohon pada prianya, bahkan menagancam akan membatalkan pernikahan jika ia tidak bisa memiliki gaun itu.
"Alleta menurutlah, aku akan membayar mahal untuk gaun itu.!" Pinta Alice.
"Berapa banyak kamu sanggup membayarnya.?"
"Enam ratus juta. Dan itu sudah cukup untuk biaya kehidupanmu beberapa tahun kedepan."
Alleta yang tidak suka di tekan seperti itu maju mendekati Alice.
"Ck..ck..ck...! enam ratus juta.? bahkan tawaranmu tidak sebanding dengan harga gelangku." Ucap Alleta memperlihatkan gelang yang di berikan mertuanya tempo hari. 'Ternyata ada gunanya menerima pemberian mertua sendiri.' Sambung alleta dalam hati
Alice terkejut mendengar apa yang Alleta katakan. Ia seperti tidak percaya.
"Bagaimana mungkin, memangnya berapa harga gelang itu.?"
"tiga miliar." Jawab Alleta dengan nada menekankan.
"Tidak mungkin aku ingin lihat.!" Mencoba mengapai tangan Alleta.
"Tak perlu melihatnya."
"Vano...!" Panggil Alleta beralih pandang melihat Gavano menghampirinya.
"Presedir Gavano.!" Sapa pria yang di gandeng Alice itu terkejut.
"Tak perlu melihatnya, dan jangan menyentuhnya. gelang itu khusus aku pesan untuknya."
Sementra pria tadi menyapa Gavano dengan lembut.
"Prsedir Gavano, apa yang anda lakukan.?"
"Oh direktur Alvy."
"Siapa di sayang.?" Tanya Alice.
"Di adalah Presedir Gavano, pemilik perusahaan Gramentha grup sekaligus putra dari penguasa kota S. yaitu Revandra Gramentha.
'Ohh.. tampan sekali, betapa bahagianya andai bisa menjadi pendampingnya. Dengan wajahku yang sangat cantik ini, aku yakin presedir Gavano tidak akan menolakku, Dibandingkan pria tua ini, presedir Gavano lebih baik, bahkan jauh lebih baik.' Pikir Alice yang ingin mencoba menggoda Gavano.
Alice segera melepaskan gandengannya dan membuat posisi menggoda di depan Gavano.
"Tidakkah kamu terlihat seperti permpuan murahan.?" Tanya Alleta merangkul lengan Gavano.
"Apa maksudmu.?"
"Caramu menggoda suami orang sungguh menjijikan." Sergah Alleta.
"Oh... jadi anda adalah nyonya muda gramentha.? sungguh suatu keberuntungan bisa bertemu dengan pendamping preaedir Gavano." Sela direkrur Alvy
Duar... bagai di sambar petir pikiran Alice, seakan tidak percaya.
"Tolong keamanan, keluarkan gadis ini, dia telah mengusik istriku." Perintah Gavno.
Tampa menunggu lama, keamanan meminta dengan sopan pada Alice dan direktur Alvy unuk segera meninggalkan tempat itu. Lantara tak mau terjadi apa-apa pada perusahaannya, direktur Alvy memilih keluar. 'Dulu aku bisa merebut lelaki yang kamu sukai, kali ini pun aku akan melakukan hal yang serupa.' Ucap Alice meninggalkan tempat itu.
Hingga beberapa saat berlalu, Alleta dan Gavano hendak keluar dari butik setelah selesai mencoba gaun. Namun Gavano keluar terlebih dahulu. Lantaran Alleta mampir ke toilet.
"Eh.. Vano, kebetulan sekali bertemu di sini." Sapa Julia
"Apa yang bibi Julia lakukan di sini.?"
"Tentu saja melihat gaun pengantin, kamu tau Vano, akhirnya Reygan sudah mau menikah.!"
"Bagus jika begitu"
"Vano...! Bisa tolong ikatkan rambutku ke atas.?" Pinta Alleta baru saja kembali dari toilet yang menyingkap rambutnya ke atas hingga memperlihatkan tanda kupu-kupu yang ada di lehernya.
Betapa terkejutnya Julia saat melihat tanda yang begitu cantik, dan tidak asing baginya. Hatinya yang sudah lama redup kini terang benderang.
"Elena..."
__ADS_1
Bersambung...
******