
Setelah kepergian Mira, Arkana sibuk mengurus perusahaan Gramentha. Sesekali Mira menghubunginya untuk memberi kabar. Namun, sudah beberapa hari terakhir, Mira tidak menghubunginya selama Mira di kota B.
Arkana khawatir tentang Mira, dan bertekad mengunjugi Mira, Asal Arkana tidak berbisnis di wilayah kota B, maka tidak masalah jika dia ke kota B.
Betapa terkejutnya Arkana ketika mengetahui Mira sedang terkena virus dan sisa waktu hidupnya tidak sampai setahun lagi. Mira juga tidak tahu tentang virus yang ada di dalam dirinya. Dia hanya tahu bahwa dia mengidap penyakit biasa saja.
Sedang Arkana mengetahui hal itu, lantaran Dr.Aneth yang memeriksa darah Mira, mengatakan bahwa di dalam diri Mira terdapat sebuah virus mematikan. Dan satu hal yang tidak Arkana ketahui adalah, Mira dengan sengaja di masukkan virus ke dalam tubuhnya. Dan itu adalah ulah dari kakeknya sendiri.
Hal itu di karnakan ayah Mira adalah pemegan kuasa tertinggi di perusahaan Bantara dan memiliki batu giok biru yang dapat memerintahkan beberapa pebisnis untuk menyembahnya. Namun, giok itu tidak di ketahui keberadaannnya.
Mira bisa saja bertanya pada ayahnya, hanya saja ayahnya sudah sekarat dan ibunya tidak tahu tentang batu giok itu.
Kakek Mira menginginkan batu giok biru itu dengan menggunakan Mira. Tapi, Mira juga tidak tahu di mana giok itu berada.
Saat ayah mira melarikan diri ke kota S, karna ayahnya sendiri yaitu kakek Mira berusaha untuk membunuhnya. Ayah Mira menyimpan giok itu untuk Mira suatu saat nanti. Tapi nasib buruk berpihak pada ayah Mira, diam-diam kakek Mira selalu menyebabkan banyak masalah pada Mira, termaksud membuat ayah dan ibu Mira mengalami krisis.
Bisa saja ayah Mira bertindak untuk kembali ke kota B. Namun, dia takut istri dan anaknya akan terancam. Terlebih seluruh keluarganya begitu membencinya. Dan semenjak batu giok biru itu menghilang, semua pebisnis yang ada di kota B tidak menurut pada kakek Mira, mereka semua hanya menunggu pemegang batu giok itu kembali.
Perusahaan Bantara Grup tetap berda di atas karna kegigihan kakek Mira, meski dia tidak memegang batu giok biru itu, dia dengan telaten mengembangkan perusahaan berharap suatu saat nanti batu giok biru itu akan muncul dan menjadi miliknya.
Mira juga tidak tahu bahwa kakeknyalah yang melakukan semua itu padanya. Padahal Mira begitu percaya pada kakeknya.
"Kakek, boleh Mira minta ponsel Mira.?" Pinta Mira ketika dia sadar dari pingsannya. Dia ingin menghubungi Arkana.
"Tidak, kecuali jika kamu sembuh dulu." Tolak kakeknya yang memang sengaja menyita ponsel Mira.
Mira terpaksa mengurungkan niatnya. Sementara kakeknya meninggalkannya, anak dari saudara ibunya datang menjenguknya dan meminjamkan ponsel pada Mira tampa sepengetahuan kakeknya.
Arkana langsung ke rumah sakit saat tiba di kota B.
"Mira...!" Panggil Arkana melihat Mira terbaring lemah di ranjang pasien.
__ADS_1
"Arka,,," Sahut Mira, air matanya mulai menetes saat Arkana memeluknya.
Sebentar setelah berpelukan, Arkana menatap wajah Mira penuh pertanyaan.
"Berhenti menatapku, aku juga tidak tahu apa yang terjadi."
"Aku mencintaimu." Ucap Arkana kembali memeluk Mira.
Semenjak saat itu, Arkana bertekad untuk memasuki kota B untuk mengembangkan bisnisnya di sana. 'Meski aku harus melalui beberapa rintangan, aku akan membantu Mira mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Seminggu berlalu, Mira sudah keluar dari rumah sakit. Meski begitu, virus di tubuh Mira juga belum hilang.
"Mira, aku akan kembali ke kota S. dan akan kembali lagi ke sini saat aku sudah menyelesaikan sesuatu." Kata Arkana.
"Baiklah. Aku akan menunggunu."
Saat Arkana keluar dari kamar Mira, beberapa orang yang berpakaian serba hitam menatapnya. Tak ada yang tahu siapa Arkana sebenarnya, mereka semua hanya tahu bahwa Arkana adalah teman pria Mira.
***
Hal itu membuat Revadra begitu marah.
Di penjara bawah tanah.
"Arka, kau tahu bahwa orang yang ikut campur dalam urusan kota B maka akan di cambuk 50 kali. Kau melanggar demi seorang gadis. pantaskah kau seperti itu.?" Kata Revandara.
"Masalah ini tidak ada hubungannya dengan pantas atau tidak, aku melakukannya untuk gadis yang aku cintai. Aku tidak menyesalinya Ayah. Lakukan saja."
Revandra berbalik dan meminta orangnya untuk mencambuk Arkana sebanyak 50 kali. Arkana melepas pakaiannya, tangannya di gantung di antara dua tali.
"Maafkan aku Tn.Arka." Ucap orang suruhan Revandra.
__ADS_1
Suara cambukan dari dalam ruangan di mana Arkana mendapatkan hukuman, sangat jelas di telinga Revandra. Hatinya juga sakit menyiksa anaknya sendiri seperti itu. Namun, hukuman tetaplah hukuman.
Tiga jam kemudian. Setelah menjalani hukuman, Arkana sesaat pingsan lantaran bekas cambuknya mengeluarkan darah. Dia pingsan bukan karna rasa sakitnya, melainkan karna dia memang phobia dengan darah, meski itu darahnya sendiri.
"Arka, sebagai pemimpin Gramentha saat ini, kau seharusnya mengikuti aturan. Bagaimana bawahanmu akan mengikuti aturan jika kau saja seperti ini." Kata Revandra setelah Arkana tersadar dari pingsannya.
"Karna Gramentha grup memiliki pemimpin baru, maka kita akan mengannti aturan." Jawabnya.
Revanda meninggalkan Arkana. Tapi sebelum itu dia sempat mengatakan pada Arkana bahwa untuk mengubah aturan, Arkana harus melewati tes yang sangat menantang.
"Kamu harus melewati 10 hari di hutan premitif di mana binatang buas tinggal, tampa berbekalan senjata atau apapun itu. Lebih jelasnya dengan tangan kosong. Di sana juga terdapat pembunuh bayaran milik Gramentha yang akan mencoba membunuhmu. Jaga dirimu Nak." Kata Revandra.
"Aku akan lulus tesnya, seberapa beratpun itu." Ucap Arkan terjatuh ke lantai.
Asisten Revandra panik dan khawatir, dia meminta temannya untuk memanggilkan Dr.Aneth.
"Tak perlu, aku baik-baik saja. Dr.Aneth sedang merawatnya." Tolak Arkana. Dia sengaja menempatkan Dr.Aneth di sisi Mira, agar dapat mengetahui perkembangan Mira. Dan kakek Mira tidak mengetahui bahwa Dr.Aneth adalah dokter dari perusahaan Gramentha.
Dua bulan kemudian, di sebuah klub malam milik anak dari saudara ibu Mira. Mira sedang termenung menatap ke luar jendela yang terbuat dari kaca.
"Sudah dua bulan sejak Arka meninggalkanku di sini, aku sudah terbiasa di sini, tapi aku merindukannya. Arka, aku ingin tahu, apa yang sedang dia lakukan sekarang." Gumam Mira menempatkan satu tangannya di jendela kaca. Dia tersenyum. Senyum yang begitu manis. Senyum yang mengandung arti kerinduan yang mendalam.
Saat menatap bayangannya di jendela kaca, Mira sedikit terkejut, tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah. 'Aku mimisan lagi, ini di mulai sejak aku pindah ke kota B ini. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi padaku.' Gumam Mira.
Mira melangkah masuk ke sebuah ruangan yang terdapat sebuah komputer. Dia mengetik tentang gejala-gejala yang dia alami. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa dirinya mengidap sebuah virus mematikan.
"Mereka memberiku virus." Kata Mira menyadarkan diri di kursi tempaynya duduk.
Virus yang ada di dalam diri Mira adalah Virus yang mematikan, bahka. kota B saja belum tahu cara untuk menyembuhkan orang yang terkena virus tersebut, dan orang yang terinfeksi dapat bertahan hidup kurang lebih setahun.
Bersambung
__ADS_1
******