KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Gadis kecil


__ADS_3

Nb : Tidak dianjurkan membaca novel ini pada siang hari✌✌✌ tapi kalau masi ingin membaca tidak apa-apa🙏🙏🙏Dosa tanggung sendiri🤣🤣🤣 (Canda kakak)


...❤HAPPY READING❤...


Gavano semakin mendekat hingga Alleta tersudutkan ke dinding, Lelaki itu kemudian menganngkat tangannya. Segera saja Alleta berpaling ke arah lain sambil menutup matanya.


"Ampun Tuan.!" Dengan nada bergetar


Namun sebuah tangan yang hangat menyentuh pipinya, seketika membut hatinya terasa sedikit lebih tenang.!


"Kamu kenapa.?"


"Aku pikir kamu akan memukulku tuan.!"


"Siapa yang akan begitu tega memukul wajah secantik ini.? Dan lagi kamu sangat lucu dengan gaya tambut acak-acakan seperti ini," Ucap Gavano disertai dengan senyum manisnya.


Buk...


Sebuah pukulan manja mendarat di dada bidang Gavano.


"Au..." Berpura-pura kesakitan.


"Maaf, tuan, aku kelepasan. Apakah sakit.?"


"Apa kamu khawatir.?"


"Tentu saja."


Seutas senyum kembali menghiasi bibir manis Gavano, hingga Alleta merona.


"Sebaiknya kita kembali ke kamar.!" Ajak Gavano menggendong Alleta.


"Turunkan aku tuan.!"


"Tidak akan siluman kecil.!"


Alleta terpaksa menurut saja, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak mau memperlihatkan wajahnya yang terasa seperti terbakar, bukan terbakar karna api yang meluap, melainkan terbakar oleh api gejolak asmara.


"Tuan..." Panggil Alleta setelah Gavano menurunkannya di tempat tidur.


Sementra Gavano mengeluarkn sesuatu dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Alleta,


"Minumlah."


"Ini untuk apa.?"


"Maaf, semalam aku melakukannya terlalu berlebihan, pil itu adalah obat mengurangi rasa perih." Ucap Gavano merasa bersalah.


"Apa kamu keluar hanya untuk membeli ini.?"


"Ya... minumla segera siluman kecil." titah Gavano seraya mencubit kecil pucuk hidung Alleta.


Segera Alleta meminum pil itu, hingga beberapa saat kemudian rasa perih di area sela..ngkangannya sudah berkurang.


"Apakah sudah lebih baik.?"


Gadis itu hanya mengangguk pelan.


"Alleta..." Panggil lembut Gavano


"Ya tuan.!"


"Maulai saat ini hingga seterusnya, kamu tidak di perbolehkan memanggilku tuan.?"


"Lalu dengan sebutan apa aku harus memangilmu.?"

__ADS_1


"Panggil saja seperti yang di lakukan orang-orang terdekatku.!"


Seketika wajah Alleta kembali memerah, gadis itu merasakan ada kehangatan dari kata-kata -orang-orang terdekatku-.


"Kamu kenapa.?"


"Tapi, bukankah aku hanya..."


Belum sempat Alleta melanjutkan, Gavano sudah menyumbat bibirnya dengan ciuman hangat, gadis itu akhirnya terbuai dan membalas ciuman itu seolah ada sesuatu yang mendorongnya, membuat Gavano begitu senang.


Beberapa saat bermain dengan ciuman, Gavaano melepaskan pagutan itu, dan membelai lembut rambut Alleta yang acak-acakan, hendak mengatakan sesuatu.


"Alleta... aku...!"


Tapi tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo...? ada apa.?... Baik..." Meninggalkan Alleta yang terlihat sedang bingung.


'Tadi dia ingin berkata apa yah.?' Tanya Alleta dalam hati. Sebentar kemudin, setelah mengakhiri panggilan, Gavano kembali duduk di pembaringan menghadap Alleta, dan ingin melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda tadi.


"Alleta... aku,, me..


Tok...tok...tok...


Mendengar ketukan pintu, Gavano berbalik dengan wajah yang begitu kesal.


"Tuan muda tadi nyonya besar menelfon dan berpesan..." Ucap kepala pelayan setelah Gavano mebuka pitu kamar.


"Persetan dengan pesan." Teriak Gavano, membuat kepal pelayan terkejut.' Apa salahku, di mana aku sekarang, huhuhu' Ritih dalam hati kepala pelayan itu.


"Tapi tuan... Nyonya.."


"Sekali lagi kamu mengetuk pintu ini, maka kamu akan saya pindahkan ke panti jompo.!"


"Maaf,,, maaf tuan muda pertama, saya tidak akan berani lagi.!"


"Baik tuan...." Berbalik dan meninggalkan Gavano.


Setelah menutup pintu, Gavano kembali duduk di samping Alleta.


"Tadi apa yang ingin kamu katakan.?"


"Ah... sudah tidak ada selera.!"


"Apa kamu lelah.? apa kamu ingin makan sesuatu."


"Tidak, aku hanya ingin istrirahat sebentar, kemarilah, dan istirahat bersamaku." Ucap Gavano naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Alleta, kemudian menarik gadis itu ke dalam pulukannya, dan terlelap bersama.


***


"berhenti seperti ini.!" Bentak Rico pada gadis kecil yang begitu cantik dan imut.


Bagaimana tidak, Riko yang saat ini duduk di kursih tempatnya bekerja di ruangannya yang tidak lain di perusahaan Gramentha grup, seorang gadis kecil berusia hampir delapan belas tahun, sedang berada di pangkuannya, hingga in..ti milik mereka bersentuhan, hanya terhalang oleh celana Riko.


"Tidak, aku tidak akan berhenti, aku begitu merindukanmu kakak, hatiku sangat hampa jika tidak melihatmu," Ucap gadis kecil itu sambil menyapu wajah Riko dengan telunjuknya, Baru kemudian menjatuhkan ciuman di leher lelaki dewasa itu."


"Sekali lagi berhenti." Kembali Riko membentak gadis kecil itu.


Bentakan Riko tidak berpengaruh sama sekali terhadap gadis yang masih asik menghujaninya dengan kecupan-kcupan, bahkan meninggalkan sebuah bekas di leher lelaki itu, dan tersenyum puas melihat bekasnya sendiri.


"Tidakkah kamu juga menginginkannya kakak.?"


"Tidak, jadi kumohon berhenti." Jawab Riko menegaskan.


"Bohong...! kamu pembohong.! Di bibirmu memang berkata kamu tidak menginginkanku, tapi di bawah sana tidak bisa berbohong kakak Riko." Ucap gadis kecil itu, seraya menggesek miliknya pada milik Riko yang sudah sejak tadi menegang,

__ADS_1


Gadis kecil itu kemudian menjatuhkan ciuman di bibir Riko, sesaat lelaki itu terbuai dan menikmati permainan gadis kecil itu. bahkan tangannya sempat meremas benda lunak milik gadis kecil yang masih berada di pangkuannya.


Tampa melepaskan ciuman, gadis kecil itu mulai membuka gasper Rico, perlahan tangannya mulai menyusup dan meraih benda yang sejak tadi menegang dan meronta meminta pelepasan.


"Alexa.! Berhenti...!" Mendorong gadis kecil itu, baru kemudin bangkit dari duduknya.


"Kakak...!" Alexa kaget


"Sebaiknya kamu pulang, Paman dan bibi pasti khawatir padamu,"


"Tidak, Lexa ingin di sini bersama kakak."


"Tidak Alexa," Berbalik membelakangi gadis kecil itu.


Namun penolakan Riko tak membuat Alexa berhenti sampai di situ, gadis kecil itu justru sangat antusias dan memeluk Riko dari belakang.


"Tidak kakak, Lexa sangat mencintamu, tak ada satupun pria dalam hidup Lexa, hanya kamu kakak Riko hanya kamu saja."


Kembali tangan gadis itu mencoba menyusup di balik celana Riko, namun dengan sergap Riko menangkap tangan Alexa.


"Pulanglah, aku akan meminta sopir perusahaan mengantarmu."


"Tidak, Lexa masih ingin di sini.!"


"Alexa..." Benta Riko sambil menghantam meja.


Gadis itu seketika terkejut, tak butuh waktu lama baginya untuk mengeluarkan butira-butiran air kecil dari matanya.


"Baik... baik... Lexa akan pergi, tapi Lexa akan tetap berusaha agar kakak Riko membalas cinta Lexa."


"Aku akan meminta sopir mengantarmu."


"Tidak perlu, aku bisa naik taxi." Berbalik meninggalkan Riko seraya menyeka air matanya.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ingin sekali rasanya Riko menghentikan kepergian Alexa, dan meraihnya kedalam dekapannya, namun lelaki itu mengurungkan niatnya,


"Jika Gavano dan paman mengetahu hal ini, mereka akan membunuhku, hufff... memabayangkannya saja aku tidak sanggup, Alexa, kuharap kamu berhenti mengangguku." Ucap Riko setelah Alexa berlalu.


***


Dua hari berlalu semejak kepulangan Revandara, Alexa beserta Axcel dan istrinya ke kota S.


Di sebuah toko kue, Gavano menemani Alleta, menikmati hidangan kue manis yang sudah mereka pesan. Sesekali Gavano tersenyum melihat Alleta yang sedang makan.


Namun apa yang Gavano dan Alleta tidak ketahui, ada beberapa orang yang nampak sangat kesal dengan Alleta. Bahkan kekesalan itu bertambah saat Gavano menyeka pinggir bibir Alleta lantaran terdapat sisa cake di sana. baru kemudian mencicipi sisa itu.


"Itu kotor Vano.!" Ucap Alleta


"Tidak, ini sangat manis." Jawab Gavano tersenyum hangat.


"Jadi kapan kita akan bertemu ayah dan ibu.? aku sangat malu, hari itu auyahmu menemukanku dalam keadaan yang seperti itu."


"Sudahlah, tak perlu kamu ungkit lagi. akan ada waktunya kamu bertemu mereka."


Sepanjang Alleta menyantap makanan manis, Gavano tak henti-hentinya memandangi Alleta dengan senyum hangatnya, membuat Alleta terkadang merasa kikuk, namun keinginan makannya lebih besar dari pada rasa kikuknya.


"Vano.! Bisa bicara sebentar.?"


Bersambung...


******


...ALEXA GRAMENTHA...


__ADS_1


...🌹SELMAT SAHUR🌹...


__ADS_2