KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Apa ayah memukuli ibu.?


__ADS_3

Julia hanya tersenyum, terelebih Axcel tidak menolaknya.


"Jika ingin bermain maka teruskan.!"


"Sayang....! apa kamu tidak keberatan.?"


"Tentu tidak."


"Tapi aku mengatuk."


Axcel memicingkan matanya, menatap Julia yang sudah berpindah di sampingnya, menarik selimut ingin tertidur.


Kelakuan Julia membuat Axcel sedikit kesal, bagaimana tidak, Julia sudah membangunkan sesuatu, dan meninggalkannya begitu saja setelah terbangunkannya.


"Istriku... kamu sudah memulainya, jadi kamu harus mengakhirnya.!"


Julia pura-pura tidak mendengar perkataan Axcel, dia juga tertawa kecil, sampai Axcel merangkak ke at..asnya baru dia terkejut setengah mati. Jantungnya berdegup kencang, wajahnya merona.


"Kenapa, malu.?"


"Tidak, kenapa harus malu.?"


Julia memang sangat malu, karna sudah tiga tahun berlalu,


"Maka kamu harus menemaniku bermain.!"


Julia semakin tersipu dan memalingkan wajahnya ke arah lain, menampakkan le..hernya yang halus, hingga Axcel tak sabar untuk memberi ke..cupan di sana.


Tidak menunggu lama lagi, Axcel segera menjatuhkan wajahnya di leher Julia, memberi ke..cupan di sana dan meninggalkan tanda ke pemilikannya. Sementara tangannya mulai me..raba setiap inci kulit Julia.


"Ugh...!" Le..guh Julia ketika tangan Axcel menyusup di balik da..lamnnya di bawah sana.


Axcel me..mainkan jari-jarinya dengan lihai, dan sesekali menekan sesutu yng membuat Julia tak kuasa menahan de..sahannya.


"Nikmat.?"


"Sayang kamu begitu mesum. A..h..h.! De..sah Julia di akhir perkatannya lantaran Axcel menekannya di bawah sana.


Axcel lalu menarik tangannya dan memperlihatkan dua jarinya pada Julia, betapa malunya Julia melihat itu. Dua jari Axcel yang terdapat cairan bening milik Julia.


"Kenapa?"


"Ka..kamu...!"


"Ini belum selesai nyonya Atmaja."


Nyonya Atmaja, Julia begitu senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Axcel. Itu berarti Axcel sudah mengakuinya.


Axcel kembali mulai permainannya, dia me..lucuti langrie Julia hingga tubuhnya polos. Axcel juga kagum dengan pemandangan yang indah di depan matanya, terbersit rasa penyesalan di dalam dirinya, kenapa tidak dari dulu mencintai pemilik tubuh yang indah itu.


Cahaya lampu yang remang-remang menyinari wajah cantik Julia. Axcel menyapu pandang pemandangan itu baru kemudian meletakan kedua tangannya di kedua benda kenyal milik Julia, perlahan me..remasnya.


Julia lagi-lagi memalingkan wajahnya, dia tersipu. Hingga Axcel menarik dagu Julia agar bisa menatapnya.


Sedetik kemudin sebuah ke..cupan hangat singgah di bibir Julia,

__ADS_1


Dag... Dig... Dug... Itulah yang dirasakan Julia saat ini. Sudah begitu lama dia tidak mersakan kecupan itu.


Axcel mulai memperdalam ci..umannya, me..njulurkan li..dahnya ke dalam rongga mu..lut Julia, beberapa saat Julia hanya diam karna masih tidak menyangka dengan semua yang ada pada saat itu. Dan membalas ciu..man Axcel serta mengikuti permainan Axce.


Merasa Julia ter..engah-engah, Axcel menarik wajahnya dan menuntun Julia berbaring. Lalu membisikkan sesuatu pada Julia.


"Apa kamu siapa.?"


Julia hanya mengangguk, Axcel kemudian me..mbuka lebar kaki Julia, menekuknya dan masuk di antara keduanya. Dia mengarahkan miliknya yang sudah me..negang, Namun Julia menghentikannya, membuat Axcel bingung.


"Kenapa.?" Tanya Axcel.


"Sebelum melakukannya, apa boleh aku bertanya.?"


"Silahkan."


Julia diam sesaag baru bertanya.


"Apa kamu mencintaiku.?"


"Aku mencintaimu Julia, sangat mencintaimu.!" Tegas Axcel.


"Maka lakukanlah."


Sebentar kemudian milik Axcel tenggelam di dalam diri Julia dengan sempurna.


"Meski sudah melahirkan bayi, kamu masih se..mpit Julia."


"Sungguh.? Ugh...!" Le..guh Julia saat Axcel menekan di bawah sana.


He..ntakan demi he..ntakan yang Axcel lakukan, keringatnya mulai menetes. Dan tidak sampai tiga menit, milik Axcel sudah memuntahkan cairannya, hal itu membuat Julia sedikit kecewa, lantaran rasa nyeri belum hilang tapi Axcel sudah selesai.


Kekecewaan Julia berganti rasa bahagia, ternyata selama Axcel tidak bersamanya, Axcel menahan hasratnya, yang mana lelaki manapun sangat sulit untuk melakukan hal itu.


Julia kemudian membelai kepala Axcel yang sedang bersimpuh di dadanya.


"Tak apa... aku mengerti."


Baru saja Julia hendak mendorong Axcel karna begitu berat di berbaring di at..asnya. Milik Axcel kembali menegang.


Julia melihat ke bawah, lantaran di dalam intinya terasa ada sesuatu yang membengkak. Keduanya lalu tertawa.


"Apa boleh...?"


"Tentu saja."


Mendapat persetujuan Julia untuk melakukannya kedua kalinya, Axcel segera mengambil posisi dan mulai memompa, kali ini, aktivitas panas itu berlanjut lagi, dan berlangsung hingga hampir satu jam.


Tentunya dengan le..guha dan de..sahan nikmat yang keluar dari bibir Julia.


"Bibi... itu suara ibu, apa ayah sedang memukuli ibu.?" Kata Reygan yang tiba-tiba terbangun dan mendengar suara-suara dari kamar orang tuanya.


Anya, hanya bisa menepuk jidatnya. 'Boss kamu keterlalu, apa kalian lupa di sini masih ada anak kecil.' Keluh Anya dalam hati dan berusaha untuk membuat Reygan kembali tidur.


"Mungki kamu salah dengar."

__ADS_1


Anya kemudian memperdengarkan lagu anak-anak, dari ponselnya hingga Reygan kembali tertidur.


Sementara di kamar utama, Aktivitas panas berlangsung tampa memperdulikan keringat yang bercucuran meski di ruangan itu terdapat AC. Malam itu Axcel dan Julia berkali-kali melakukannya, dan mencapai pelepasan berkali-kali pula.


***


Esok hari, Julia terbangun di pelukan Axcel, dia masih tidak menyangka bahwa semuanya itu nyata. Dia tersenyum puas lalu membangunkan Axcel untuk berbenah karna Reygan dan Anya juga sudah menunggu sejak tadi di meja makan untuk sarapan.


Beberapa saat Reygan menunggu, akhirnya ayah dan ibunya menghampirinya untuk sarapan bersama.


"Ibu... apa ayah memukuli ibu semalam.!"


"Tidak, kenapa bertanya begitu nak.?"


"Aku mendengar suara ibu seperti sedang di pukuli ayah."


Purfff... Axcel menyemburkan kopinya, karna perkataan Reygan.


"Kamu hanya bermimpi.!" Kata Anya mencoba meyakinkan Reygan.


"Tapi bibi Anya, kenapa ada banyak bekas merah di leher ibu, pasti ayah memukulinya."


"Uhuk...Uhuk..." Julia tersendak, dia tak tahu, jawaban apa yang harus dia berikan pada putranya, dia hanya teraenyum dan melempar pandangannya pada Axcel, berharap Axcel bisa membantunya menjawab.


"Oh... itu, hanya gigitan nyamuk sayang.!" Kata Axcel.


"Pasti nyamuknya besar-besar yah.?"


Axcel dan Julia saling menatap, tak tau lagi harus menjawab apa, mereka hanya bisa berharap Anya bisa membantu mereka keluar dari hal ini. Benar saja Anya menjawab pertanyaan Reygan.


"Sayang,,, anak kecil tidak boleh terlalu banyak bertanya di saat sedang makan, takutnya nanti tersendak."


Akhirnya Reygan berhenti dengan pertanyaan-pertanyaannya. Setelah selesai sarapan, Axcel meminta Anya menemani Reygan sehrian, kebetulan aedang hari libur, Axcel ingin menghabiskan waktu yang yang terbuang banyak tampa Julia di sampingnya.


"Sayang...! boleh aku kembali ke asrama.?"


"Untuk apa.?"


"Aku tidak punya pakaian di sini, aku hanya ingin mengambil pakaianku."


"Tak perlu, di lemari sudah aku sediakn beberapa pakaian wanita dan itu sangat cocok untukmu.!"


"Sungguh.?"


"Emm..."


Julia kemudin menganti pakaiannya, sementara Axcel keluar untuk membeli beberapa perlwngkapan make up untuk Julia, tentunya Julia sudah memberi tahu apa-apa yang dia butuhkan.


Beberapa waktu berlalu, selama Axcel berbelanja, Julia hanya menghabiskan waktu untuk menata ruangan sesuai keinginan dan suasana hatinya.


Julia terhenti ketika seseorang masuk dan membuka pintu, Julia menoleh dan melihat siapa yang masuk.


Julia terkejut, dan emosinya langsung menggejolak melihat orang itu, bahkan Julia sangat ingin menamparnya berkali-kali.


Begitu pula orang yang baru saja masuk itu, dia juga terkejut dengan adanya Julia di rumah itu. Dia bahkan ketakutan melihat Julia, dan menyangka Julia adalah hantu, semakin Julia melangkah ke arahnya, dia juga melangkah mundur hingga terpojokkan di dinding.

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2