
Julia masuk ke kamar dan sudah tidak melihat Axcel di tempat tidur, Julia menyapu pandang sekeliling kamar. Namun, tetap tidak menemukan adanya Axcel dari sana.
"Pria brengsek.! sebegitu inginkah dirinya bertemu dengan wanita itu." Maki Julia, dia mengira bahwa Axcel ingin bertemu dengan Raisa.
Julia sudah malas untuk memikirkannya, dia mengganti pakaiannya, dengan lingrie berenda warna merah muda.
"Ahh..."
Julia berbalik dan terkejut, Axcel sudah berada di depannya.
"Sa... Sayang...!"
Axcel tidak menjawab, dia hanya menatap Julia sedemikian rupa, senyum yang terukir di bibirnya adalah senyum yang belum pernah Julia lihat.
"Sayang, aku lelah, boleh ya aku tidur sekarang.?"
"Tidak akan ku biarkan." Kata Axcel singkat.
Axcel menarik Julia ke tempat tidur, mendorongnya dan menindihnya.
"Jangan harap bisa tidur, setelah apa yang kamu lakukan padaku tadi."
"Hahaha, sayang soal itu, boleh kita bicarakan nanti.?"
"Bicara nanti.? Tidak akan.!"
"Lalu bagaimana caramu melepaskan ikatan di tanganmu.!"
"Tak perlu kamu pikirkan itu, yang harus kamu pikirkan, bagimana caramu melepaskan diri malam ini."
Baru saja Axcel mulai meraba bagian bawah Julia, mereka di kejutkan oleh suara ketukan pintu yang terbuka. Benar saja Reygan dengan mainan robot di tangannya masuk dan melompat ke tempat tidur.
"Ayah, Ibu, apa kalian ingin bermain game lagi, dan tidak mengajak Reygan."
Julia dan Axcel saling menatap, tak tau harus menjawab apa, mereka berfikir, jika saja saat ini Anya ada, pasti Anya bisa memberi jawaban yang baik pada Reygan.
Axcel yang tak tahu harus menjawab apa, hanya meminta agar mereka tidur saja, dengan Reygan tidur di tengah di antara mereka.
"Ibu, ayah.!" Panggil Reygan, tapi tak ada jawaban dari kedua orang tuanya.
Axcel dan Julia sudah menjemput mimpinya, Reygan meraih ponsel Julia, dan memotret ayah dan ibunua yang tertidur itu, Reygan bahkan menuntun keduanya agar terlihat semakin mesra.
"Hehehe... Lihat apa yang akan Reygan lakukan. Reygan ingin agar semua orang di dunia tahu bahwa ayah dan ibu Reygan saling mencintai." Gumam Reygan sambil mengetik di posel ibunya.
__ADS_1
Esok hari, berita terpanas muncul di halaman kedua koran bisnis. Di mana di sana terpampang jelas foto Julia dan Axcel sedang tertidur pulas sambil memeluk Julia.
Semua yang melihat berita itu sangat kagum dan iri dengan kebahagiaan Axcel dan Julia. Clara yang melihat berita itu, tersenyum, bisa melihat kakaknya bahagia, begitu pula Anya, dia juga turut bahagia.
Berbeda dengan paman Axcel yang saat ini tengah terbaring di rumah sakit, merawat luka-lukanya akibat sayatan dari anjing-anjing peliharaan Clara beberapa waktu lalu.
Atman paman Axcel, sangat kesal dan meremas koran bisnis itu.
"Tidak akan aku biarkan kalian bahagia." Katanya.
Di rumah Axcel dan Julia meminta Reygan menghadap mereka, dan menceritakan apa yang terjadi, kenapa foto mereka bisa tersebar. Rupanya semalam setelah Reygan mendapatkan foto itu, dia segera mengirimnya pada sesorang yang juga bekerja di perusahaan Atmaja Grup menggantikan Ayan untuk sementara selama Anya bersama Daniel.
"Begitulah ayah, ibu, maafkan Reygan, jangan marahi Reygan.
Julia tersenyum, tak tega rasanya untuk marah pada anak sekecil itu.
"Jangan diulangi ya sayang.!" Kata Julia lembut.
Setelah memberi penjelasan Julia meminta sopir untuk mengantar Reygan ke sekolah kanak-kanak, sedang Axcel juga segera ke perusahaan, tapi sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk melayangkan satu kecupan hangat di dahi istrinya, istri yang membuatnya bisa melupakan Aliya.
***
Siang hari Axcel dan Reygan membantu Julia menghias rambutnya agar tampak lebih cantik.
"Tapi kenapa bisa, yang aku tahu selama ini, direkrur Raisa tidak punya saingan ataupun orang yang membencinya." Kata Axcel.
Hari itu Axcel dan Julia di periksa oleh polisi lantran orang yang ditemui Raisa terakhir kali adalah Julia, tapi nasib baik berpihak pada mereka, karna mereka juga tidak melakukan apa-apa pada Raisa, pihak kepolisian tidak menemukan adanya sangkut paut antara kematian Raisa dengan Axcel dan Julia.
Sementara itu, di salah satu pantai, Clara duduk bersama beberapa anjing di sisinya. Dua orang pria menghampirinya dan membisikkan sesutu pada Clara.
Clara tersenyum, setelah mengetahui apa yang terjadi, gadis cantik itu meminta kedua pria tadi yang tidak lain adalah pengawalnya untuk meningalkannya sendiri.
"Aku akan melindungin kakakku, tak akan kubiarkan seseorang merusak kebahagiaannya. Sipapun itu." Kata Clara menatap anjing-anjingnya setelah kedua pengawalnya berlalu.
"Anya bagaimana.? Apa kamu merasa nyaman di perusahaan Mintle.?"
"Saya nyaman Boss. Terlebih Tn.Daniel sangat baik padaku, buktinya dia memberi kebebasan padaku untuk tetap mengurus masalahmu."
"Sungguh.?" Tanya Julia.
"Sungguh.!"
"Lalu, bagaimana dengan hal yang aku minta.?"
__ADS_1
"Tentang nona Clara.?"
"Ya...!"
Anya menghela nafas, dia belum berhasil meminta Clara untuk bertemu dengan Axcel dan Julia, sangat sulit baginya untuk mendapatkan koneksi yang berhubungan dengan Clara.
Bisa saja Anya ke rumahnya. Tapi, itu semua sia-sia lantaran semua orang yang menjaga rumah itu tidak mengisinkan Anya.
"Tak apa, kita juga tidak bisa memaksanya." Kata Axcel.
"Maafkan aku Boss.!"
"Tidak apa Anya, kita semua sudah berusaha." Sambung Julia.
"Terimah kasih ibu Reygan,"
Setelah urusannya dengan Axcel, Anya kembali ke Mintle Grup, beberapa saat menatap layar komputer, Anya beranjak untuk menyegarkan diri di toilet,
Daniel yang melihat itu, menyusulnya, dan mengunci toilet setelah masuk di mana Anya berada. Tentu saja hal itu membuat Anya lagi-lagi terkejut. Terlebih, saat ini mereka berada di toilet wanita.
"Tn.Daniel, bisakah melakukannya saat kita kembali.?"
"Tapi kali ini, aku mau kamu yang mengabil inisiatif terlebih dahulu." Kata Daniel berbisik ke telinga Anya, dan tangan nakalnya sudah menyusup di balik rok sebatas lutut Anya.
Daniel keluar toilet terlebih dahulu, di susul Anya. Betapa sakit perasaan Anya saat mendengar perkataan dari beberapa pegawai perusahaan yang mengatakan bahwa Anya menggunakan tubuhnya demi mendapat kerja sama dari Mintle Grup. 'Sudahlah, memang itu kenyataannya.' Kata Anya.
Di saat yang bersamaan, Alvaro yang datang ke perusahaan mendengar para karyawan mengatai Anya, dia juga sangat sakit mendengar hal itu.
Alvaro tidak menyangka bahwa Anya yang seorang wanita baik dan selama ini menjaga kehormatannya, rela melakukan semua itu demi mendapat kerja sama antar perusahaan.
Begitu sakit, Alvaro tidak jadi menemui Daniel, dia memilih untuk menenangkan diri, dan bersiap untuk bertemu Anya sebelum dia ikut membantu Daniel di perusahaan.
Tak mau mendapat gangguan dari siapapun Alvaro memilih kediaman Revandra untuk menenangkan diri. Aliya juga merasa senang atas kehdiran Alvaro. Tentu saja, sebab, Alvaro adalah keluarganya seperti Daniel.
Malam hari, seperti yang di janjikan Anya dia mengambil inisiatif untuk mendekati Daniel, dia mencoba menggodanya. Sengaja Anya mengenakan lingrie tranaparan yang dapat menampakan lekuk tubuhnya serta pakaian dalam yang berwarna hitam miliknya.
Daniel yang melihat itu berusaha menelan salivanya melihat Anya yang sangat seksi.
Tampa menunggu lama, Daniel segera menerkam Anya, meski sebenarnya Anya sangat sakit di hatinya. Tapi, itu adalah pilihannya.
Baru saja Daniel mulai mencembu Anya, tiba-tiba Anya merasa kesakitan di bagian perutnya. Hal itu membuat Daniel khawatir dan menghentikan aktifitas itu.
Bersambung
__ADS_1
******