
"Apa kamu baik-baik saja Allta.?"
"Aku baik-baik saja My.!"
"Baguslah, aku merindukanmu, hampir dua bulan kamu bersamanya, apa dia tidak melakukan apa-apa padamu.?"
"Tidak, berakat bantuan Dr.Aneth yang kamu kirim."
"Oh... tuhan... Alleta, aku sungguh merindukanmu."
Gavano memeluk erat istrinya, istri yang hampir dua bulan tidak berada di sampingnya. Semua itu ia lakukan demi membongkar semuanya.
"Gantilah pakaianmu Alleta." Kata Gavano seraya menyerahkan sebuah gaun putih polos berenda. Dan sebuah sepatu berwarna hijau toska.
Alleta meraihnya dan melepaskan pakaianya di depan Gavano. Meskipun perut Alleta sudah membesar, tapi hal itu tidak menghalangi Gavano untuk tidak bernafsu pada Alleta.
"Apa yang kamu lihat My.? apa aku sudah jelek dengan perut membengkak seperti ini." Kata Alleta saat tubuhnya sudah polos
"Tidak, kamu seksi Alleta."
"My...!" Bentak manja Alleta
"Apa boleh, sekali saja."
"My... aku tidak mau terlambat ya." Keluh Alleta.
Terpaksa Gavano mengurungkan niatnya untuk mengauli Alleta. 'Saial...! Andai saja ini bukan pesta pernikahan Reygan, aku sudah melahapmu siluman kecil, sampai kamu tidak bisa turun dari tempat tidur' Kata Gavano dalam hati.
Alleta sudah selesai berdandan. Tidak banyak hiasan di wajahnya, tak ada pernak-pernik perhiasan di badanya, hanya ada sebuah cincin pernikahan yang tak pernah ia lepaskan melingkar di jari manisnya. Rambutnya hanya di ikat dan ada beberapa helai yang di biarkan tidak terikat menambah kecantikan Alleta
Cincin di jri manis yang membatunya melancarkan rencananya. Itulah sebabnya Gavano tidak terlalu khawatir tentang keberadaan Alleta.
Beberapa waktu lalu sebelum terjdinya kecelakaan, Saat itu Alleta meminta Gavano untuk mengikuti ide pemikirannya.
"My...! aku punya ide untuk mengetahui semuanya."
"Ide apa itu Alleta.?"
"Aku akan pergi ke sisi Leo, rencanakan kecelakaan dan buat aku seolah-olah telah tiada."
"Tidak... tidak Alleta, aku tidak akan membahayakan nyawamu dan calon bayi kita. Ide gila apa itu." Geram Gavano
"My... aku sudah meminta kakak Reyagan untuk membantu."
"Sialan.. Reygan kau brengsek.!"
"My... tolonglah.!"
"Bagaimana jika Leo membawamu pergi jauh dari kota S.?"
"My, bukankah aku punya ini.!" Kata Alleta sembati memperlihatkan jari manisnya.
Beberapa lama Alleta membujuk Gavano hari itu, hingga Gavano mau mengikuti apa yang Alleta rencanakan.
***
__ADS_1
Kembali ke resepsi pernikahan, Saat Alleta muncul dan memeluk ayah dan ibunya, para Tamu bertepuk tangan, tentunya para tamu tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Meraka hanya mengira hadiahnya adalah seorang cucu yang di kandung putri pemimpin Atmaja Grup.
Berbeda dari para tamu yang lain, Leo dan Grace terkejut bukan main. hampir-hampir meraka merasa kaki mereka sedang tidak menginjak lantai. Seolah Leo dan Grace kehilangan akal sehatnya. Dan seperti melayang, Keringat dingin menjelajari tubuh mereka lantran begitu kagetnya.
Setelah puas memeluk putrinya Julia dan Axcel menatap Reyagan dan Delia.
"Nanti aku jelaskan." Ucap Reygan yang seolah mengerti tatapan orang tuanya. Sebuah tatapan yang meminta penjelasan.
Gavano kembali melanjutkan perkataannya.
"Ada satu hal lagi, berhubung ini adalah acara keluarga istriku tentunnya tidak apa-apa bagiku untuk mengumumkan satu hal di sini."
"Silahkan. Presedi Gavano, kami sangat menantikan setiap apa yang keluar dati mulut anda." Kata salah seorang wartawan.
Tentunya jika ada acara-acara seperti itu, para wartawan juga tidak mau ketinggalan informasi dan ikut ambil bagian dalam acara.
"Devan kemarilah.!" Panggil Gavano pada putranya.
Devan berjalan ke arah Gavao, wajah dingin, kaku, mendominasi namun tampan, itulah yang orang-orang lihat pada diri Devan saat Devan berjalan melewati mereka.
"Dia adalah putraku. Devan Gramentha."
Semua terkejut akan hal itu. Putra.? Gavano baru menikah satu tahun yang lalu, dan tiba-tiba ada seorang putra. Tidak mungkinkan istrinya hamil duluan. Bagaimana bisa seorang gadis yang begitu muda bisa melahirkan.
Itulah pikiran-pikiran yang ada di kepala para tamu, bahkan sebagian mereka menganggap Alleta melahirkan di usiannya yang tiga belas tahun karna melihat usia Devan saat ini sudah lima tahun. Sementara umur Alleta baru menuju ke sembilan belas.
"Maafkan saya, pasti kalian semua bertanya-tanya tentan kelahiran putraku." Lanjut Gavano.
"Benar presedir kami semua penasaran." Jawab salah satu wartawan.
"Lalu di mana ibunya.?"
"Ibunya...!"
Mendengar Gavano akan menyebutkan tentang ibu Devan, Grace yang tadi terkejut, tersenyum dan dengan bangga hendak berjalan maju ke arah Gavano, namun langkahnya terhenti saat Gavano menlanjutkan perktaannya.
"Ibunya meninggal...!" Lanjut Gavano
Semua terkejut terutama, keluarga Gavano dan keluarga Alleta.
"Jadi apa itu istri pertama anda presedir.?"
"Tidak, istriku hanya ada satu, dan aku mendapatkannya dengan tidak sengaja, saat itu aku sedang mabuk berat dan dikuasai nafsu, lalu tidak sengaja membuat seorang wanita mengandungnya."
"Bisa kah anda memberitahu kami siapa ibu kandungnya.?"
"Felisa Hasio, model tepanas di Gramentha intertaimen"
"Bukankah anda mengatakan bawha ibunya meninggal, sementara yang kami semua par media tahu bahwa nona Felisa saat ini sedang berlibur.?"
"Tidak, dia meninggal, kami menutupi itu untuk mencari tahu siapa pembunuhnya."
"Lalu apakah anda sudah mengetahuinya."
"Ya... dia berada di antara kita di sini."
Para media dan para tamu menoleh kiri kanan, untuk mencari tahu siapa pembunhnya. Semntara Grace di kembali selimuti keringat dingin dan bergetar.
__ADS_1
"Dia..." Kata Alleta menunjuk ke arah Grace.
"Tidak, tidak bukan aku," Kata Grace menyangkal sembari menutup telinganya dalam ketakutan.
"Dan di bantu oleh pria itu" kata Alleta menunjuk Leo kemidian.
Saat itu Leo sudah terdesak dan tak bisa mengelak lagi. Terpaksa dia maju dan memasang badan. Leo bahkan sangat terkejut karna Alleta membohonginya.
"Lalu mengapa jika itu aku, Alleta aku tidak menyangka kamu membohongiku, aku memperlakukanmu baik selama ini. Tapi kamu menipuku. Tapi tak apa, aku masih akan tetap melanjutkan apa yang sudah aku mulai. Dan kau presedir Gavano yang terhormat, sebentar lagi Gramentha Grup akan musnah dan mengenai istrimu, kau tidak tahu apa saja yang aku lakukan padanya selama bersamaku. hahhahha." Ucap Leo tertawa dengan percaya diri.
"Gramentha grup tidak akan musnah, dan tak ada apa-apa yang terjadi selama nyonya muda Gramentha bersamamu." Kata Dr.Aneth menyela,
Kedatangan Dr.Aneth membuat perhtian semu tertuju padanya. Terlebih Dr.Aneht membawa beberapa berkas di tangannya.
Berkas yang berisi semua bisnis dari perusahaan Leo, baik itu bisnis ilegal maupun legal, bahakan ada juga berkas untuk menyerang Gramentha Grup.
"Kau juga menipuku." Maki Leo.
"Tentu saja, kau tahu direktur Leo.! Aku dan Alleta bekerja sama untuk menipumu, bakhan setiap kau bercerita pada Alleta saat dia tertidur, aku diam-diam meletakkan perekam di hodie Alleta, dan diam-diam menyalin semua berkas ini."
"Jadi kau melakukannya."
"Seperti perkataanmu."
Dr.Aneth meminta seseorang untuk membawa alat yang biasa digunakan untuk mendengar rekaman suara. Kemudian Dr.Aneth mulai memperdengarkan rekaman itu hingga selesai.
Para pebisnis yang saat ini menjalani kerja sama dengan Leo, mencaci maki Leo, dan berkata akan membatalkan semua kerja sama itu setelah mendengar semua kejahatan yang Leo lakukan pada keluarga Gramentha.
"Sialan kalian semua."
Leo sudah tersudutkan, ia tak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkan ke arah yang bergantian.
"Kalian semua harus mati. Terutama kau Gavano, keluargamu membuat ibuku menderita hingga akhir hidupnya."
Seketika semua terkejut,
"Leo aku tidak tahu siapa ibumu, bagaimana bisa kami melakukan sesuatu pada ibumu.?"
"Laila... Laila ibuku...!"
Daniel, Aliya dan Revandra terkejut.
"Tidak mungkin kau adalah anak ibuku.! " Daniel menyela.
"Ya aku memang bukan anak kandungnya. Tapi cinta kasihnya padaku mengalahkan cinta kasih seorang ibu kandung."
Leo menceritakan semuanya tentang bagaiman Laila bisa menjadi ibunya, tak lupa air matanya yang mengalir.
"Ibuku berakhir menyedihkan membawa dendamnya pada keluarga Gramentha. Kau harus mati Gavano. Agar keluargamu juga merasakan kehilangan orang yang disanyang.
Suasana yang tadinya meriah dengan alunan musik dan kegembiraan menyambut pesta kini di liputi ketegangan. Baru saja Leo hendak menarik pelatuknya, itu terhenti ketika seorang pria tua tiba-tiba menyela.
"Berhenti, dendam ibumu bukan pada keluarga Gramentha, tapi aku, aku yang membuat semuanya jadi seperti ini."
Bersambung...
******
__ADS_1