KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kesedihan Anya


__ADS_3

Anya merasa geli, dia kemudian meminta Daniel untuk cepat melakukannya.


Seperti yang Anya minta, Daniel tampa ragu lagi memulainya dan berharap setalah ini, Anya tidak akan menyesalinya.


"Aku mulai." Kata Daniel.


"Em...!"


Daniel melebarkan kedua kaki Anya dan masuk di antaranya, mengarahkan miliknya untuk menacapkan di dalam diri Anya.


Susah payah Daniel baru bisa menembusnya.


"Sial, dia.masih perawan.!" Kata Daniel.


Daniel mulai memompa pelan, takut Anya akan merasa sakit, Dia sungguh tidak menyngka bahwa Anya benar-benar masih perawan, tadinya Danie berfikir bahwa Anya hanyalah wanita sekaligus sekertaris yang kesepian.


Le..guhan dan de..sahan nikmat bercampur rasa perih di bawah sana.


"Varo, selamat ulang tahun, aku mencintaimu."


Tak... Tersentak hati Daniel. 'Ada hubungan apa di antara mereka'. Pikirnya.


Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Daniel terus saja memberi hentakan di bawah sana. Dia bukanlah Axcel yang setia pada satu pria, Daniel seringkali melakukan hal itu jika dengan wanita yang di suka.i, Baik itu istri orang ataupun masih gadis, janda sekalipun.


Daniel bersyukur, dia antara semua wanita yang telah tidur bersamanya, tak ada yang meminta pertanggung jawaban, toh mereka memang hanya bersenang-senang.


Tapi berbeda dengan Anya, Anya adalah sekertaris Axcel, dan tak tahu bahwa yang sedang tidur dengannya bukanlah orang yang dia harapkan


"Ah... Varo.!" De..sah Anya sambil menyebut nama Alvaro.


Sebenarnya ada rasa penyesalan dalam diri Daniel, andai saja dia tahu bahwa Anya sedang bersama Alvaro, dia tidak akan melakukan hal itu.


Daniel kemudin mempercepat gerakannya, hingga terjadi pelepasan di atara keduannya.


Esok pagi, Anya terbangun dan mendapati dirinya sudah tidak berpakaian, terlebih ada rasa perih di area se..langkangannya.


"Sudah bangun.?"


Anya terkejut bukan main, bukankah semalam dia bersama Alvaro, tapi kenapa yang ada di hadapannya adalah Daniel,


"Apa yang kamu lakukan padaku Tn.Daniel.?"


"Tak perlu aku jawab kamu juga sudah tahu."


Daniel melangkah ke arah Anya, sedikit menunduk lalu berbisik ke telinga gadis sekertaris itu.


"Meski kau yang memintanya terlebih dahulu, aku akan bertanggung jawab." Bisik Daniel.


"Ti... tidak perlu Tn. Daniel."


"Sungguh.?"


"Sungguh."


Anya kemudian membenahi dirinya, memakai pakaian yang di sediakan Daniel lantaran gaunnya yang semalam sudah terkoyak.

__ADS_1


Baru saja Anya hendak membuka pintu ingin pergi, seseorang terlebih dahulu membuka pintu itu.


"Kakak... ini setelan ja..smu." Kata Alvaro terkejut di akhir katanya.


Setelan yang di bawa terjatuh ke lantai, bukan hanya Alvaro yang terkejut, Anya juga demikian. Alvaro, menggepalkan tangannya dan menunduk ke bawah.


"Aku pergi...!" Katanya meninggalkan kamar itu.


Anya segera mengejarnya, namun Alvaro tidak ingin mendengar penjelasannya, dia sudah terlanjur sakit, andai saja itu orang lain, mungkin Alvaro masih bisa mengerti.


"Tapi... kenapa.? Kenapa harus kakakku Anya.! Aku membencimu, aku tidak ingin melihatmu." Teriak Alvaro, lalu meninggalkan Anya.


Anya sudah tidak dapat berbuat apa-apa, dia hanya bisa menerima keputusan Alvaro, hatinya juga sakit dengan semuanya.


"Maafkan aku." Ucap Anya meneteskan air matanya, lalu meninggalkan tempat itu.


Sementara Daniel menghubungi orang yang dia minta untuk membawakan setelannya.


Rupanya Daniel tidak tahu bahwa Alvaro mengambil inisiatif untuk membawakan setelan untuknya.


Brak... Daniel menendang sebuah hiasan yang ada di kamar itu.


"Sialan..!"


***


Siang itu, Axcel meminta Anya menemaninya ke Mintle Grup untuk membicarakan sebuah proyek baru bersama Daniel, Ingin sekali Anya menolak, tapi dia juga kasihan pada Axcel, terlebih, hanya Anya yang tahu detail tentang kerja sama itu.


Di ruang rapat perusahaan Mintle, Anya menjelaskan semua detail tentang kerja sama itu, dan begitu selesai, dia meminta ijin untuk ke toilet,


Sebentar setelah Anya berlalu, Daniel juga menggunakan alasan yang sama, dan meminta Axcel untuk membicarakan sisanya pada para pemegang saham yang lain.


"Tn.Daniel, ini toilet wanita."


"Lalu kenapa jika ini toilet wanita, perusahaan ini milikku, tentunya toilet ini juga milikku."


Daniel melangkah maju sementara Anya melangkah mundur hingga terpojokkan. Daniel bahkan mengankat Julia duduk di wastafel, dan masuk di antara kedua kaki Anya. Dia mendekatkan wajah pada Anya dan berbisik pelan.


"Aku menginginkanmu."


"Itu tidak mungkin Tn.!"


"Kamu tentunya tahu bahwa Axcel sangat menginginkn kerja sama ini, Aku akan menadatanganinya dengan satu syarat."


"A.. Apa itu."


"Selama kerja sama berlangsung, kamu harus tinggal di sini, di perusahaan ini dan menjadi wanitaku."


"Itu tidak mungkin." Bentak Anya.


"Tak apa jika tidak mau, tentunya kamu tahu apa konsekuensinya."


Anya menundukkan kepalannya dan berfikir, selama ini Axcel sangat baik padanya, bahkan menganggapnya sebagai keluarga, jadi mungkin sudah saatnya dia membalas kebaikan Axcel, terlebih, Axcel sangat menginginkan kerja sama ini.


Baru saja Daniel mau membuka kunci toilet, Anya menghentikannya.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju."


"Kau tidak menyesal.?"


"Tidak akan."


Daniel kembali berbalik dan memojokkan Anya, dia membuka kancing baju Anya, merabanya di sana, dan juga menyusupkan tangannya di balik rok sebatas lutut Anya,


Dadanya yang sedikit besar membuat Daniel seketika ber..gairah pada Anya, hingga detik itu juga Daniel melakukannya di toilet, Sementara Anya hanya bisa menerima semuanya.


Toh itu juga tidak lama, terlebih dia juga tidak bisa mendapat keturunan, jadi tak ada yang perlu di khawarirkan.


Suara de..sahan dan Era..ngan Daniel sedikit terdengar di luar, membuat beberapa karyawan terkejut, tapi mereka pikir mungkin seseorang sedang sembelit di dalam sana. Padahal itu adalah suara dari Anya dan Daniel sedang melakukan aktifitas panas.


Setengah jam kemudian, Anya kembali ke rung rapat, Axcel menanyainya mengapa begitu lama, Anya hanya mengambil alasan bahwa dia gerkunci di toilet.


"Beruntung ada ob yang membukakanku." Kata Anya beralasan.


"Lalu bagaimana denganmu Daniel, apa kamu juga terkunci di toilet.?"


"He, tidak mungkin, aku hanya bertemu seseorang tadi, dan melakukan beberapa pembicaraan, tapi itu tidak penting."


"Oh..."


"Axcel, karna Anya lebih tahu banyak tentang proyek ini, aku ingin dia berada di sini sampai peroyek itu selesai." Kata Daniel saat di ruangan tinggal dia, Axcel dan Anya.


"Daniel tentang itu, kamu harus meminta persetujuan Anya, jika dia tidak mau, aku juga tidak mengisinkannya."


Daniel kemudian menatap Anya,


"Saya akan di sini boss."


"Anya, meskipun aku sangat menginginkan kerja sama ini, tapi jika kamu terpakasa, maka tak apa."


"Tidak boss. Aku sepenuh hati membantumu.


Axcel menghela nafas dan bangkit dari duduknya, memperbaiki jasnya.


"Baiklah jika itu maumu, maka aku akan pulang.


"Baik bos...!"


Berlalunya Axcel, Daniel mengunci ruang rapat, dan melangkah ke arah Anya.


"Tn. Daniel, tolong jangan serakah.!"


"Ok... tapi mulai malam ini kamu tinggal di tempatku, menjadi wanitaku."


"Dengan satu syarat,!"


"Apa.?"


"Tolong jangan katakan hal ini pada Tn.Axcel."


"Tak masalah."

__ADS_1


Bersambung...


******


__ADS_2