
Di sebuah pesta, Axcel dan Julia bergandengan mesra, tak lupa Reygan mengikut di belakanngnya di temani Anya.
Julia sangat cantik, membuat para gadis-gadis iri melihatnya, dan mengatakan jika pantas Axcel tidak tergoda dengan wanita lain toh istrinya secantik itu.
"Ibu, pergilah menari, Reygan ingin lihat ibu menari."
"Tapi..."
"Pergilah, aku akan menjaga Reygan." Kata Anya.
Axcel membawa Julia ke tengah-tengah, dan memulai berdansa bersama para pasangan yang lainnya.
Sementara itu Reygan yang di temani Anya, tidak sengaja melihat Anya meneteskan air matanya.
"Bibi, kenapa.? Apa bibi ada masalah sama paman Varo.?"
"Tidak ada sayang...!"
Di sisi lain Daniel memperhatikan Anya, baru saja dia ingin menyapanya, paman Axcel sudah terlebih dahulu menyapa Daniel
"Ternyata kau memperhatikan wanita cantik." Sapa paman Axcel
"Bukan hanya cantik, dia juga cukup seksi."
"Tapi wanita itu sudah punya pacar."
"Memangnya kenapa jika sudah punya."
"Tapi dia adalah pacar adik anda Tn.Daniel."
Duar... Perasan Daniel bagai disambar petir, ternyata dugaannya benar, Anya dan Alvaro saling mencintai. Tapi Daniel berusaha tetap tenang, dia kemudian bangkit dari duduknya.
"Jika anda mengatakan hal itu untuk kongkalikong denganku demi menyingkirkan Axcel, maka sebaiknya anda mundur saja. Dan setahuku, polisi kembali memeriksa tentang kasus pembunuhan Tn.Atmaja tiga tahun lalu, sebaiknya anda bersiap-siapa." Kata Daniel meninggalkan Atman.
Daniel menghubungi asistennya dan meminta mencari tahu di mana Alvaro sekarang,
"Tn.Varo, sepertinya sedang stres, dia bertengkar dengan orang di Club malam." Jawab asistennya di uhung telfon.
"Sekrang bagaimana keadaannya.?"
"Tn.Alvaro, kalah jumlah, dia terluka dan di larikan ke rumah sakit."
Mendengar hal itu, Daniel segera ke rumah sakit, sementara Anya mencoba menghubungi Alvaro, karna panggilannya tidak tersambung, Anya meminjam telfon salah satu tamu.
Anya menjelaskan ketika panggilan tersambung, betapa terkejutnya dia saat tahu bahwa yang menerima adalah Daniel, Daniel bahkan meminta Anya untuk tidak bertemu dengan Alvaro, dengan alasan, takutnya Alvaro akan sakit hati lagi.
Di satu sudut pesta, paman Axcel kesal dan tidak tenang mendengar bahwa polisi kembali membuka kasus kematian Atmaja.
Emely juga sudah ada bersamanya, dia mengatakan ada Emely tentang semuanya dan meminta Emely untuk bertanggung jawab. Atman tidak mengatakan tentang pembunuhan, dia hanya mengatakan korupsi yang di lakukannya saat di negri asing.
"Kenapa harus aku.?"
"Kalau kamu tidak menanggungnya, kita berdua akan dituntut Axcel sampai mati."
"Tapi, aku ingin balas dendam pada adikku Clara."
Atman memeluk Emely, mencoba membujuknya.
"Lalui dulu masa-masa sulit ini, nanti ketika aku sudah memegang kekuasaan di perusahaan, aku akan berusaha melepaskanmu."
"Baiklah."
Emely menyetujui apa yang di katakan Atman, dia memang sudah mencintai pria paruh baya itu
"Sudah waktunya minum obat." Kata Atman memberi sebutir obat pada Emely.
__ADS_1
Sejak ginjal Emely di donorkan untuk Clara, lukanya seringkali infekai dan bergantung pada obat yang di berikan oleh paman Axcel.
***
Axcel dan Julia mengakhiri dansannya, dan Reygan tersenyum bangga melihat kedua orang tuanya.
Di tengah pujian yang di lontarkan para tamu untuk Axcel dan Julia, tiba-tiba beberapa petugas kepolisian menyela di acara itu.
Petugas itu memberitahu bahwa paman Axcel di curigai melakukan korupsi pada sebuah perusahaan
asing, namun karna sudah sepakat, Emely mengakui bahwa itu adalah perbuatannya.
Emely akhirnya di bawa ke kejaksaan, dan langsung di introgasi. Emely mengakui semuanya , tapi Emely bingung dengan kasus pembunuhan.
"Apa kau kenal orang ini.?" Tanya petugas menyodorkan foto pria tua Atmaja.
"Ya... aku kenal."
"Apa kau yang membunuhnya.?"
Emely terkejut.
"Aku memang melakukan korupsi, tapi aku tidak membunuh siapapun"
"Tapi Tn.Atman mengatakan bahwa kau yang membunuhnya."
"Tidak, buka aku." Kata Emely menyangkal dan menangis"
Emely tidak mengakui perbuatannya, dia akhirnya di lemparkan ke dalam penjara wanita yang di dalamnya terdapat beberapa wanita kasar.
Emely tidak menginginkan itu, dan akhirnya meminta petugas kepolisian kembali membawanya ke ruang introgasi, dia berjanji akan mengatakan yang sebenarnya.
Terlebih salah seorang petugas mengatakan padanya, bahwa Atman hanya memanfaatkannya.
Di ruang introgasi Emely mengatakan semuanya, namun petugas kepolisian meminta bukti.
"Di mana vidio itu."
"Ada di... aggghh..." Teriak Emely kesakitan di bagian pinggangnya. Tak lama kemudian dia memuntahkan darah dan tidak sadarkan diri.
Petugas memanggil dokter untuk memeriksanya, dan hasilnya Emely di racuni. Rupanya obat yang di berikan paman Axcel adalah racun.
Saat itu juga Emely menghembuskan nafas terakhinya dan membawa dendamnya pada Clara.
Di rumah Axcel begitu kesal, namun kekesalan itu hilang saat memandang anak dan istrinya sedang bersenda gurau. Dia menghamipir mereka
"Sayang ada apa? Mengapa wajahmu seperti itu."
Axcel menceritakan semuanya pada Julia bahwa Emely telah meninggal, dan kasus pembunuhan akan di hentikan sesaat dan akan berlanjut saat vidio yang di maksud Emely ditemukan.
"Sayang, sabarlah. Suatu saat semua akan terbongkar"
"Ku harap seperti itu."
"Ayah...!" Sela Reygan.
"Ada apa sayang.?"
"Reygan lihat, akhir-akhir ini, bibi Anya seperti sedang ada masalah."
Axcel meraih Reygan ke pangkuannya.
"Sayang, tidak boleh terlalu banyak ikut campur dalam urusan orang dewasa."
Reygan tertawa,
__ADS_1
Puas bermain bersama ayah dan ibunya, Reygan meminta untuk tidur, tapi kali ini dia ingin pergi ke kamar sendiri, dengan alasan dia sudah dewasa.
Sebentar setelah Reygan berlalu, Axcel menatap Julia sedemikian rupa.
"Kenapa menatapku begitu.?"
"Juli, sudah berapa lama sejak kejadian itu.?"
"Maksudmu, kejadian saat kau merobbekku di bawah.?"
"Juli, pelankan suaramu."
"Maaf..."
"Jadi sudah berapa lama.?"
"Sudah hampir sampai batas yang di tentukan."
"Tapi aku sudah tidak bisa bertahan, kamu terlalu menggoda bagiku."
Tampa sepata kata, Julia menarik tangan Axcel ke kamar dan mendorongnya lalu merangkak ke atas tubuh Axcel.
Axcel yang memang sudah menegang membiarkan hal itu.
"Sayang, kita harus tetap ikut aturan dokter."
"Tapi... Juli, aku sudah tidak bisa.!"
Julia tersenyum licik menatap Axcel, senyum yang penuh dengan pikiran-pikiran iblis. Axcel bingung, terlebih saat Julia berdiri mengambil dasi dan mengikat tangan Axcel di tiang pembaringan.
"Ap.. Ap yang akan kamu lakukan, jangan macam-macam Julia." Kata Axcel terbata-bata, takut Julia akan melakukan sesuatu yang akn menyiksanya seperti ala-ala B.D.S.M
Senyum Julia semakin licik, saat melihat wajah Axcel yang seperti itu, dia mulai melucuti pakaian Axcel.
"Julia, bagaimana kalau kita mengikuti saran dokter saja, melakukan sampai batas yang di tentukan."
"Sayang, bukankah tadi kamu yang menginginkannya.?"
"Hehehe.. tapi tidak lagi, luka robeknya juga pasti belum sembuh."
'Sial, apa yang akan Julia lakukan padaku, aku tidak bisa menebak apa yang dia fikirkan, terkadang dia memiliki cara-cara yang aneh untuk melakukn sesuatu padaku.' Kata Axcel dalam hati.
"Sayang kamu kenapa.?"
"Juli, jika kamu memasukkannya sekarang, kamu akan kesakitan."
"Sayang, siapa yang ingin memasukkannya.?"
"Lalu apa yang akan kamu lakukan."
"Tentu saja membantumu meredamnya."
Julia mengubah posisinya dan bersimpuh di se..langkangan Axcel seperti yang sering dia lakukan.
Julia bermain di sana dengan lihainya. seakan aedang menikmti sebuah es krim yang meleleh.
"Aggrrhh..." Pekik Axcel saat miliknya memuntahkan cairannya. Dia baru bisa bernafas lega setelahnya, ternyata Julia tidak melakukan hal-hal yang berbahaya.
Setelah pelepasannya, Julia kembali merangkak ke tubuh Axcel.
"Kenapa menghela nagas seperti itu.?"
"Hahahah... tidak, aku hanya..."
"Hanya apa.? kamu fikir aku akan melakukan sesuatu padamu.? Itu tidak akan pernah. Aku sangat mencintaimu." Kata Julia melepaskan tangan Axcel.
__ADS_1
Bersambung...
******