
"Dr.Aneth bagaimana keadaan istri saya.?" Tanya Gavano setelah Dr.Aneth memeriksa Alleta.
Dr.Aneth segera menuju ke kediaman Revandra saat mendapat telfon dari Gavano.
"Tidak ada masalah dengan nyonya Allate." Jawab Dr.Aneth sambil tersenyum.
"Apa maksud Dokter.? apa kamu tidak salah memeriksanya.?"
"Tidak peresedir Gavano.!"
"Tapi kenapa dia pingsan setelah makan bubur salmon yang saya buat.?" Sela Aliya di tengah pembicaraan Gavano dan Dr.Aneth.
"Tidak perlu khawatir, nyonya Alleta baik-baik saja, dia hanya perlu istrirahat yang cukup dan jangan banyak bergerak."
Penuturan Dr.Aneth semakin membuat Gavano kebungingan. Wajah dinginnya kini sudah berubah menjadi khawatir.
"Apa ada penyakit yang serius Dokter.?"
"Tidak ada presedir Gavano."
"Lalu mengapa istriku harus beristirah dan jangan banyak bergerak.?"
Dr.Aneth tersenyum melihat kekhawatiran Gavano, maka tampa mengulur waktu yang banyak, Dr.Aneth segera memberi tahu apa yang terjadi pada Alleta.
"Selamat presedir Gavano.! sebentar lagi anda akan menjadi ayah."
"Apa.?" Sahut Gavano bersamaan dengan ibunya.
"Benarkah apa yang kamu katakan.?"
"Tentu saja Nyonya Aliya."
"Oh Tuhan... akhirnya aku akan punya cucu.!" Ucap Aliya mengelus dadanya sambi mengucap syukur kepada Yang Maha Esa.
Sementara Gavano yang begitu gembira mendengar apa yang di katakan Dr.Aneth, segera saja ia menghampiri Alleta yang masih tertidur.
Memghujani Alleta dengan kecupan-kecupannya, labtaran begitu bahagia atas karunia itu, hingga membuat Alleta terbangun dan heran mendapati mertua dan suaminya meneskan air mata.
"Ibu, Vano.! ada apa.?" Tanya Alleta kebingungan
"kami bahagia nak.!"
"Bahagia kenapa.?"
"Allete terimah kasih.!" Ucap Gavano memeluk Alleta.
"Ada apa.? tolong jelaskan padaku Vano.!"
"Siluman kecil, sebentar lagi aku akan jadi ayah.!"
Alleta terkejut dan mendorong Gavano hingga pelukannya terlepas.
"Apa.?"
"Iya, sebentar lagi aku akan jadi ayah.!"
"Wanita mana yang telah kamu hamili, aku akan membunuhnya.!"
Alleta belum tau bahwa dirinya sedang hamil, hingga menuduh Gavano yang bukan-bukan. Akan tetapi, Gavano hanya tersenyum melihat wajah marah Alleta.
__ADS_1
"Kenapa tersenyum, cepat katakan siapa wanita itu.? aku benar-benar akan membunuhnya.
Meledaklah tawa Gavano mendengar kemarahan-kemarahan Alleta yang tidak masuk akal baginya. Lelaki itu segera menarik wajah Alleta dan menatapnya.
"Apa kamu akan membunuh dirimu sendiri.?"
"Apa maksudmu.?"
"Ya.! Wanita yang kuhamili, siapa lagi kalau bukan dirimu.?"
"Sungguh.?" Tanya Alleta mulai sedikit mengerti.
"Ya. Kamu mengandung, siluman kecil.!"
"Benarkah apa yang kamu katakan Vano.?"
Gavano hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu kembali memeluk Alleta, bergantian dengan Aliya.
"Tapi, ada satu hal yang harus ku beritahu pada kalian." Sela Dr.Aneth di tengah kebahagian itu.
"Apa itu Dokter.?"
"Dalam waktu satu sampai dua bulan ke depan, saya sarankan untuk melakukannya dengan hati-hati."
"Apa maksud dokter.?"
"Saya harap, presedir Gavano bisa sedikit lebih menahannya. Karna kehamilan masih begitu awal,takutnya akan terjadi apa-apa."
"Aku mengerti dokter, terimah kasih." Jawab Gavano, yang paham apa maksud dari kata-kata Dr.Aneth.
Setelah memastikan Alleta baik-baik saja, Dr.Aneth mohon pamit, dan meminta Gavano untuk menghubunginya sewaktu-waktu jika terjadi sesuatu pada Alleta.
"Apa kamu bahagia Alleta.?"
"Tentu saja, bukankah memang ini yang kita inginkan."
"Lalu bagaimana dengan universitas?"
"Bukankah dari awal aku sudah mengatakannya, bahwa aku tidak ingin ke universitas."
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, kalau begitu, kamu istirahat lagi ya.!"
"Vano.!"
"Em...!"
"Boleh ikut tidur bersamaku.?"
"Sesuai permintaanmu siluman kecil."
***
Kehamilan Alleta membuat keluarga Gavano sangat bahagia, mereka mengadakan makan malam keluarga, Gavano juga tidak lupa untuk memberi tahu Reygan kabar bahagia itu.
Sehingga bukan hanya keluarga Gavano yang bahagia, tapi keluarga Reygan juga ikut bahagia.
Walaupun ingin sekali Axcel dan Julia menemui Alleta, tapi niat itu di tahan toh seminggu lagi mereka akan bisa memeluk putri mereka.
Kembali di kediaman Revandra, Alleta mendapat begitu banyak hadiah, terutama dari Aliya, wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu, sangat senang.
__ADS_1
"Selamat ya kodok betina, atas kehamilanmu." Ucap Arkana memberi selamat di susul oleh Alexa.
"Dasar bocah tengik, dia itu kakak iparmu.! bisa tidak kamu sedikit sopan.!" Tegur Revandra.
"Ah... itu, maaf kakak ipar.!"
Makan malam keluarga berlalu begitu saja tentunya dengan candaan-candaan mereka.
Sebentar setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu, Gavano memberi perhatian lebih pada Alleta, begitu pula Aliya memberi tips-tips saat mengandung. 'Istriku sungguh pintar memberi masukan, tampa mengingat bagaimana tersiksanya aku saat dia mengandung Gavano.' Keluh Revandra dalam hati
Memang pada saat itu Aliya mengadung di usia dua puluh, dan sangat menyebalkan, tidak jarang ia selalu meminta hal-hal yang aneh, karna begitu mencintai istrinya, apapun akan dilakukan Revandra meskipun permintaan itu sangat tidak wajar.
Sementar Alexa dan Arkana berdebat tentang nama yang akan diberikan pada bayi yang belum lahir itu.
"Kakak, aku rasa, nama yang cocok untuk bayi kakak ipar, Vallet Gramentha, itu perpaduan antara nama kakak Vano dan kakak ipar."
"Bukankah itu nama perempuan, tidak, aku tidak terima, sebaiknya namanya Devario, itu lebih keren untuk bayi laki-laki."
"Tidak, Lexa mau bayi kakak ipar adalah perempuan."
"Tidak bisa, itu harus laki-laki." Bentah Arkana.
Capek dengan perdebatan Arkana dan Alexa, Gavano mengantam meja, membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.
"Berhenti berdebat, ini anak kami, bukan anak kalian."
"Vano.! jangan terlalu keras pada adik-adikmu." Tegur Revandra.
"Oh... kenapa.? itu adalah didikanmu, keturananmu, kamu yang membuatnya seperti itu, hingga putraku tumbuh menjadi laki-laki dingin dan tak berperasaan, untung saja Arkna dan Alexa menuruni sifatku." Sahut Aliya kesal
"Ah... istriku, maafkan aku,"
"Tidak mau."
"Maka aku akan menciummu."
"Ayah... kembali lah ke kamar kalian jika ingin bermesraan, kami masih ada di sini." Teriak Arkana yang melihat kemesraan ayah dan ibunya.
Namun Aliya masih ingin bersama anak-anak dan menantunya. hingga Revandra tak jadi membawanya ke kamar, meskipun dalam hati sedikit kecewa.
"Lalu kakak ipar dari kedua nama yang telah Lexa dan kakak Arka berikan, yang mana yang akan kakak ipar pilih.?"
"Tentu saja nama dariku." Sergah Arkana
"Tidak, harus nama dari Lexa."
"Kalian berdua, apa mengabaikan apa yang telah aku katakan tadi.?" Ucap Gavano dengan tatapan dinginya pada kedua adiknya itu.
Melihat Gavano moodnya sudah mulai berubah, Alleta segera mencairkan suasan.
"Hahahahah... tentang nama, nanti kita pikirkan ya.! setelah bayinya lahir. Mau perempuan atau laki-laki, aku dan Vano akan menyayanginya." Kata Alleta dengan senyumnya yang cantik.
Kata-kata Alleta barusan benar-benar mencairkan suasana yang tadinya sedikit hening lantaran Gavano sudah mulai berbeda cara bicaranya, seperti biasa Tegas dan dingin serta mendominasi.
Dan kembali ruangan itu di selimuti dengan kehangatan dan kebahagian, canda tawa memenuhi ruangan tamu itu. Hingga Alexa tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak terduga sama sekali.
Bersambun...
******
__ADS_1