KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Menggoda Axcel


__ADS_3

Setelah acara resepsi selesai, Axcel meminta waktu pada orang tua Julia untuk membicrakan sesutu pada Julia,


Sementara Helen yang terlihat kesal karna lagi-lagi Julia mendapatka sesuatu yang lebih bagus darinya. Dia melirik Gio yang sudah terlelap di sampingnya.


"Aku sudah mengikuti keinginanmu.! bagaiman dengan yang kamu tawarkan.?" Tanya Axcel seraya mengingatkan tentang kata-kata Julia saat membisikkan sesutu di telinganya.


Julia berdiri, berjalan ke arah Axcel,


"Ohh... tentang itu, Aku tidak akan melupkannya." Jawabnya lalu menurunkan setengah gaunnya, yang hampir saja bagian dadanya terlihat.


Julia duduk di pangkuan Axcel, meraih tangan Axcel untuk me..remas bagain dadanya. Tak bisa Axcel pungkiri bahwa milik Julia memang sesikit besar dan berisi serta kenyal.


Cepat-cepat Axcel menarik tangannya, tak mau larut dalam nafsunya.


"Apa ini yang diajarkan orang tuamu, menjadi sangat murahan nona Julia.?"


Perkataan Axcel sebenanya membuat Julia sangat kesal, namun memang benar, saat ini dirinya terlihat sangat murahan, menggoda seorang lelaki demi tanggung jawab.


"Aku akui, Tn. Axcel, aku memang sedikit murahan, tapi jangan bawa-bawa ayah dan ibu."


Axcel tertawa mengejek.


"Sedikit.? Nona Julia, kamu bukan sedikit murahan, tapi sangat murahan"


"Tak apa, yang terpenting saat ini kamu sudah setuju menikahiku."


Julia berdiri dari pangkuan Axcel, dan tampa ragu, membuka seluru gaunnya, hanya selembar dalaman yang menutupi bagian inti Julia, sementara bagian atas sudah sangat polos.


Putih, bersih, mulus kulit Julia, Axcel hanya bisa melihat itu, dan berusaha menelan salivanya, menjernihkan pikirannya agar dirinya tetap dalam keadaan waras melihat tubuh Julia.


"Cih... dasar murahan."


"Tak apa, terlebih bagaian mana tubuhku yang tidak pernah kamu lihat Tn.Axcel.? Bahkan kamu sudah


dua kali berpetualng di sana."


Julia tersenyum pada Axcel, 'Terbuat dari apa nafsu pria ini, bahkan di saat aku sudah seperti ini, dia masih bisa bertahan. Apakah harus minum dulu baru bisa menimbulkan birahinya.? Sial...!' Gumamnya dalam hati.


Tak mau berlama-lama, Axcel bangkit dan mendekat ke arah Julia, memegang dagu Julia,


Cup... Julia dengan lincahnya mengecup bibir Axcel. Axcel hanya tersenyum sinis.


"Ingat nona Julia, hanya ada pernikahan, tidak ada resepsi."


"Apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu jika tidak ada resepsi.?"


"Itu urusanmu, masalahmu, Dan tentang tindakanmu saat ini, Aku tidak tertarik sama sekali."


"Sungguh.? maka akan kuperiksa.!"

__ADS_1


Julia dengan sigapnya menagkap sesuatu yang ada di balik celana Axcel, benar saja, itu benar-benar tidak membengkak sama sekali.


"Aku akan pergi."


"Aaggrhh....! Benar-benar tidak ada reaksi, apa dia impoten.? tapi jika itu impoten, bagaimana bisa melakukannya dua kali. Sial... sungguh sial, Tapi aku tidak akan menyerah sampai di sini." Maki Julia saat Axcel sudah keluar dari kamarnya.


Gadis cantik berambut pendek itu, kembali memungut gaunnya di lantai.


Sementara itu Axcel yang baru saja keluar dari kamar Julia, berjalan melewati kamar Helen. Dan kebetulan Helen keluar dari kamarnya hanya mengenakan lingri, dia berpura-pura tersandung dan menjatuhkan diri pada Axcel.


"Hati-hati nona Helen."


"Maaf tuan aku tidak sengaja." Jawabnya seraya bertingkah menggoda,


Helen dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya. Siapa tahu Axcel akan tergoda olehnya, dan beralih padanya, meninggalkan Julia.


"Ada apa nona Helen.?"


"Tn.Axcel apa kamu benar akan menikah dengan kakak.?"


"Ya.!"


"Apa tuan tahu, kalau kakak sudah menghabiskan malam bersama pria sembarangan di hotel.?"


Helen memberitahu Axcel tentang kejadian di hotel seraya mendekatkan tubuhnya pada Axcel , memperbaiki kera baju lelaki itu.


"Nona Helen, perhatikan sikapmu, kamu sudah menikah." Kata Axcel mendorong Helen menjauh darinya.


"Minggir.!" Kata Axcel meninggalkan Helen.


Helen lagi-lagi dilanda kekesalan.


***


Seminggu berlalu, Axcel telah selesai mengucapkan janji sakralnya di hadapan penghulu, Julia telah resmi menjadi istrinya.


Pernikahan itu hanya di hadiri oleh oran tua Julia dan ayah Axcel. Julia memberi tahu ayahnya bahwa tidak akan ada resepsi sampai Julia lulus di universitas. Ayahnya setuju dengan itu, karna biar bagaimana pun putrinya masih muda dan saat ini masih mahasiswa.


Berbeda dengan Helen, ayahnya tidak terlalu memikirkan tentangnya... terlebih Helen memilih untuk tidak melanjutkan ke universitas setelah lulus di bangku sekolah menengah atas.


Pernikahan sudah selesai, di susul makan malam keluarga. Dan Julia ikut kembali ke kediaman Atmaja bersama Axcel setelahnya.


"Pilihlah kamar mana saja yang kamu suka.!" Kata Axcel setelah sampai di rumah.


"Apa maksudmu Axcel.? Julia adalah istrimu, tentunya kalian harus tidur bersama." Sergah ayahnya.


Meskipun awalnya Axcel menolak, tapi karna tak mau berdebat dengan ayahnya, akhirnya dia menyetujui Julia untuk tidur di kamarnya.


Di kamar Julia menghempaskan tubunyanya ke pembaringan busa yang empuk.

__ADS_1


Axcel yang sudah kesal sejak tadi, medekati Julia, naik ke atas Julia, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis cantik itu.


"Itu... Tn.Axcel, hari ini aku begitu lelah. Boleh besok saja aku melayanimu."


"Cih... dasar gadis murahan, jangan bermipi." Kata Axcel.


Axcel lalu menarik bantal dan menarik lengan Julia, melemparkan bantal ke lantai, menyeret Julia menjauh dari pembaringan.


"Apa makasudnya ini Tn.Axcel.?"


"Tidur di bawah. Dan jangan sekali-kali naik ke tempat tidurku."


Malam pertama mejadi istri Axcel, alih-alih bermesraan, Julia justru mendapat perlakuan kasar dari Axcel. 'Pria bajingan... Impoten, awas saja.' Maki Julia.


Mau tidak mau, Julia harus tidur di lantai beralaskan selimut tipis, beruntung karpet di lantai kamar Axcel begitu tebal, sehingga hawa dingin dari kramik lantai tidak terasa menyentuh kulit Julia.


Beberapa saat berguli-guling, mata Julia tidak dapat terpejamkan, dan akhirnya memilih untuk mandi air hangat.


Setengah jam kemudian puas berendam di air hangat Julia berdiri dan meraih bathrobenya tapi tiba-tib kakinya terpeleset, hingga membuatnya terjatuh di lantai kamar mandi.


"Aauuwww..."


Suara teriakan dari kamar mandi membangunkan Axcel, dan cepat-cepat membuka pintu kamar mandi. Dia melihat Julia yang sudah tersungkur dengah tubuh polosnya.


"Kamu mengganggu tidurku saja.!" Katanya.


"Tn.Axcel, tidakkah kamu mau menolongku.?"


"Mimpi saja, urus masalahmu sendir." Kata Axcel kembali menutup pintu, lalu keluar dari kamar


Begitu kesalnya Julia saat itu, makian terlontar di mulutnya. Bisa-bisanya Axcel tidak menolongnya sama sekali, padahal dia begitu sulit untuk berdiri. 'Dasar pria brengsek, tidak punya hati nurani.'


Dengan susah payah Julia bangkit, saat keluar dia tidak meliht keberadaan Axcel di kamar itu.


"Bagus jika dia tidak ada, bukankah itu kesempatanku untuk tidur di kasur.!"


Baru saja Julia ingin naik ke pembaringan, tiba-tiba Axcel kembali,


"Siapa yang mengijinkanmu tidur di sana.?"


"Tapi...!"


Julia terpaksa mengurungkan niatnya, dan kembali tidur melantai. Sebelum tidur Axcel melemparkan saleb untuk mengolesi memar di lutut Julia. Rupanya tadi dia meninggalakan kamar untuk mengambil sebuh salep.


Axcel tak mau menolong Julia, karna Julia dalam keadaan tidak berpkaian, Dia takut kewarasanya akan hilang sementara dia begitu tidak menyukai Julia.


Esok hari Axcel terbangun dengan Julia di pelukannya.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2