KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Rencana


__ADS_3

"Kenapa kamu tiba-tiba meminta untuk bertemu.?" Tanya Felisa setelah duduk.


"Jangan terburu-buru, minumlah terlebih dahulu, aku sudah memesankan minuman untukmu."


Penasaran dengan mengapa Arkana tiba-tiba ingin bertemu dengannya, Felisa tak mau mengulur waktu lagi, wanita cantik itu meminum jus melon yang sudah di pesankan Arkana untuknya.


"Lalu apa itu.?" Kembali Felisa bertanya


"Jangan terburu-buru seperti itu." Jawab Arkana sambil tersenyum.


"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk bermain denganmu.!" Bentak Felisa yang mulai kesal.


"Sebenarnya aku hanya ingin bertemu saja denganmu." Ucap Arkna santai


Amarah Felisa meledak, mendengar apa yang dikatakan Arkana, wanita itu berdiri dan membentak meja.


"Kau... kurang ajar sekali, dasar"


Baru saja Felisa berbalik dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Cafe tersebut tiba-tiba kepalanya merasa pusing, pandangannya mulai buram


Kemudian wanita itu kembali berbalik menatap Arkana dengan penglihatan buramnya itu, samar-sama ia melihat Arkana tersenyum. 'Sial.. apa yang di lakukan bocah ini padaku.?'


"Kau... kau.. apa yang kau la..." Tak sempat melanjutkan kata-katanya, Felisa sudah jatuh dan tak sadarkan diri.


Sementara Arkana tersenyum puas melihat hal tersebut. Tak lupa juga Arkana menjelaskan pada pengunjung lain bahwa temannya hanya kecapean, makanya pingsan. Pemuda tampan itu membawa Felisa meninggalkan Cafe.


Di dalam mobil Arkana merogoh ponselnya dari saku celananya dan segera melakukan panggilan.


"Hallo, aku sudah mendapatkannya, apa yang harus aku lakukan." Tanya Arkana pada seseorang setelah panggilan tersambung.


"Bawa saja dia ke sini.!" Jawab seseorang itu di ujung telfon.


Seperti yang sudah dikatakan di telfon tadi, Arkana membawa Felisa ke sebuah rumah kayu yang jauh dari kota.


Tempat yang sangat sepi, bahkan jika ada ledakan di tempat itu, tak akan ada yang mendengarnya. Namun di tempat itu sudah di lengkapi denan fasilitas dan ada beberapa orang yang di khususkan untuk tinggal menjaga rumah kayu itu.


Rumah kayu, yang di luarnya kelihatan seperti rumah kayu pada umumnya yang ada di tengah-tengah hutan, Namun di dalamnya sungguh berbeda. Rumah kayu itu sebenarnya adalah milik Gavano, untuk menyiksa orang-orang yang berani mengusiknya.


Namun sudah lama tidak ia gunakan, dan Reygan mengambil alih tempat itu. Tentu saja itu atas persetujuan Gavano.


"Bawa dia masuk." Ucap Reygan setelah membukan pintu untuk Arkana.


Tak butuh waktu lama bagi Arkana untuk membawa Felisa yang masih tidak sadarkan diri itu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Rupanya tidak sulit untuk mendapatkamu perempuan ja..lang" Ucap Luna tersenyum puas.


Beberapa waktu lalu, Luna yang tidak terima dilimpahkan kesalahan, dan juga sudah tahu identitas Alleta yang sebenarnya menghubingi Reygan. Luna mengetahui tentang siapa Alleta itu ia dapatkan dari koneksinya.


Pada akhirnya Luna memberitahu Reygan bahwa yang melakukan penculikan terhadap Alleta adalah Felisa. Dan untuk memastikannya Reygan terlebih dalu menghubungi Gavano, dan memang benar bahwa Felisa yang menghubunginya.


Maka dari itu, Reygan setuju untuk bekerja sama dengan Luna, dan meminta bantuan Arkana lantaran tak mau Felisa curiga. Sementara Arkna yang memang merasa kasihan pada Alleta, mau ikut ambil bagian, meskipun pemuda itu seringkali bercekcik dan tidak akur, tetap saja Arkna merasa kasihan, dengan alasan ia tak ingin ada orang lain yang menindas Alleta kecuali dirinya.


Mereka bertiga merencanakan sesuatu pada Felisa dengan berpura-pura meminta Felisa bertemu ingin membicarakan sesuatuyng penting tentang Gavano, Padahal itu hanya akal-akalan saja agar Felisa mau.


Dan sebelum Felisa tiba, Arkana sudah terlebih dahulu, meminta pelayan untuk memasukkan sesuatu pada minuman Felisa, Tentunya Arkana juga telah membayar pelayan itu.


"Apa yang akan kita lakukan padanya.?" Tanya Reygan.


"Biarkan saja dulu dia di sini,"


Setelah mengurung Felisa di ruang bawah tanah di rumah kayu itu, Reygan, Arkana dan Luna meninggalkan tempat itu.


Tapi sebelum meninggalkan tempat itu, Reygan sudah menempatak beberapa orang untuk mennjaganya dan ada juga dua ekor ajing.


Mereka juga menyembunyikan hal ini pada Gavano.


******


"Semuanya sudah selesai, dan tentang kejutan itu, itu juga sudah di siapkan" Jawab Riko,


Merasa puas dengan jawaban sahabatnya, Gavano mengalihkan pembicaraan.


"Beberapa hari lalu aku melihat gadis kecil itu datang ke sini.! Apa yang dia lakukan di sini.?"


"Ah... itu, dia ingin bertemu denganmu, namun kamu sudah pergi terlalu terburu-buru." Jawab Riko berbohong.


Gavanon kemudian melangkah lebih mendekat pada Riko, lalu menepuk pundak sahabatnya.


"Aku harap kau bisa menjaganya, melihat kita tumbuh bersama, aku rasa kau sudah menganggapnya sebagai adik, maka dari itu aku berharap kau menjaganya layaknya seorang adik."


"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya dalam masalah maupun dalam bahaya." Jawab Riko.


Gavano kembali duduk di kursi kebesaranya, sementara Riko duduk di meja Gavano.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya tentang Felisa.?"


"Aku belum memikirkannya,"

__ADS_1


Setelah menjawab pertanyaan Riko, Gavano bangkit seraya meraih jasnya hendak meninggalkan perusahaan.


"Jam dua siang nanti akan ada rapat penting dari investor asing, mau kemana kamu.?" Tanya Riko.


"Pulang..."


"Tapi kita ada rapat.!" Suara Riko mulai meninggi.


"Aku merindukan istriku, mengenai rapat, bukankah kehadiranmu sama saja dengan kehadiranku, Ingat Riko, apa yang aku miliki kamu bisa memilikinya. Uang, kekuasaan, kamu bisa menggunakan itu semua." Berlalu meninggalkan Riko.


"Uang, kekuasaan, memang aku memilikinya darimu Vano, namun ada satu milikmu yang aku tidak bisa miliki, gadis kecil itu." Ucap Riko menghela nafas berat setelah Gavano berlalu.


Di waktu yang bersamaan di mana Felisa berada, wanita cantik itu sadarkan diri, Seketika ia terkejut saat tidak dapat mlihat seberkas cahaya sedikitpun. Ia mencoba menenangkan diri dan mencoba untuk bangkit, Akan tetapi dirinya tak bisa leluasa untuk bergerak.


Lantaraan kedu kakinya sudah di rantai, Maka ia segera berteriak.


"Tolong...!"


Guk... guk...guk


Teriakan Felisa membuat anjing yang menjaga menggonggong, seketika Felisa bertambah panik dan ketakutan, namun sesuai dengan sifatnya yang tenang, ia mencoba untuk diam saja sambil memimirkan di mana dia berada dan cara keluar dari tempat itu.


Namun wanita itu tidak dapat memikirkan apa-apa di tempat yang gelap seperti itu. Sungguh sial, ia bahkan merasa sangat ingin buang air kecil,


"Tolong siapun aku sangat ingin ke toilet." Teriaknya. Namun tak ada yang menjawab.


Hanya gonggongan ajing yang menjawabnya. Hingga pada akhirnya Felisa tak dapat lagi menahan dan mengompoli dirinya sendiri. 'Siapa yang melakukan ini padaku, kalian akan mati, aku bersumpah.!' Ucap Felisa marah, takut bercampur jadi satu.


Hingga beberapa waktu berlalu, akhirnya ruangan yang gelap itu mendapatkan cahaya, Seorang pria besar berjalan menghampirinya.


"Nona... makanlah, dan ini pakaian, beserta perlengkapan untuk mengurus dirimu." Ucap peria besar itu menyodorkan makanan dan beberpa perlengkapan untuk Felisa melalui sela jeruji besi.


"Siapa kamu.? kenapa melakukan ini padaku.?" Tanya Felisa berteriak.


"Maaf nona, aku hanya menjalankan tugas, patuh dan jangan memberontak jika kamu masih menginginkan nyawamu. Dan juga di sana sudah ada toilet dan tempat tidur. Saya akan datang jika waktu makan tiba." Jelas pria besar itu berlalu meninggalkan Felisa.


Sebentar setelah pria besar itu berlalu, hanya dengan cahaya lampu remang-remang, Felisa beranjak ke toilet untuk membersihkan diri. dan tetap dalam keadaan di rantai, Tentunya rantai itu bisa mencapai ke toilet dan tempat tidur yang kumuh.


Dalam ketakutannya, Felisa tetap berfikir tenang, agar bisa mendapatkan cara untuk kelur dari tempat itu.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2