
"Siapa kau.!" Tanya Leo
"Aku adalah suami mendiang ibumu, Reyno.!"
"Apa maksud mu.?"
Reyno menceritakan semua apa yang terjadi di masa lalu, Tapi tetap saja Leo menganggap itu semua adalah ulah Revandra.
Dan akhirnya Leo mengarahkan pistolnya ke arah Revandra, membuat Aliya jadi gemetaran sementra Revandra tetap tenang, seperti biasanya. Dia hanya memeluk Aliya berharap Aliya bisa tenang.
Lagi-lagi Leo hendak menarik pelatuknya.
Buk... Tiba-tiba tulang belakangnya seperti mau patah akibat sebuah tendangan seseorang dari arah belakang. Hingga Leo terjtuh tersungkur di lantai dan pistonya terlepas dari tangannya, entah ke arah mana postol itu pergi
"Berani sekali kai menodongkan pistol ke arah ayahku." Kata Arkana penuh emosi berdiri tegak dengan satu tangan di saku celananya
Arkana sangat marah melihat ayahnya ditodong senjata. Hal itu membuatnya memberanikan diri untuk untuk bertindak tampa perduli jika saja Leo berbalik dan menembaknya.
Leo yang tersungkur ke lantai dan kepalanya terbentur di lantai mengeluarkan darah kemudian bangkit hendak membalas Arkana. Belum sempat Leo menghantam Arkana, Arkan sudah pingsan duluan. Lantara melihat darah yang keluar dari kepala Leo.
Leo bingung, kebingungan Leo jadi kesempatan bagi para suruhan Gavano untuk meringkuknya.
"Brengsek kalian semua, lepaskan aku..." Ronta Leo.
Gavano memerintahkan orangnya untuk segera membawa Leo pergi dari kapal itu menggunakan kapal kecil yang sudah tersedia, bertujuan untuk agar acara bisa di lanjutkan lagi.
Mereka semua keluar dari ruangan untuk menyaksikan Leo di bawa paksa. Setelah Leo dipindahkan di kapal kecil dengan tangannya yang diborgol di belakang. Leo akan di bawa ke tempat di mana biasanya orang-orang yang melawan Gavano menerima akibatnya.
Namun semua tak sesui rencana, Saat para suruhan Gavano lengah, Leo memilih melompat ke laut dari pada harus merasakan penyiksaan dari Gavano.
Dan semua menyaksikan hal itu terjadi.
"Bagaimana ini dia melompat ke laut.!" Tanya salah seorang tamu.
"Tenang saja, lagi pula tangannya di borgol tidak ada harapan untuk dia hidup. Terlebih saat ini kita sedang berada di tengah lutan lepas."
"Ya... mungkin saja dia akan di makan monster laut."
Begitulah kata para tamu. Dan kembalii masuk ke dalam untuk melanjutkan pesta.
"Tunggu..." Kata Alleta menghentikan langkah keluarganya.
"Ada apa Alleta.?" Tanya Gavano.
"Di mana Devan.?"
Tiba-tiba ponsel Gavano menerima sebuah pesan. (Putramu ada di tanganku). Isi pesan dari Grace.
"Devan ada bersama Grace."
"Apa.?" Serentak kelurga Alleta dan Gavano terkejut. Tapi Gavano tetap tenang.
"Tenanglah, nikmati pesta seperti tak ada apa-apa, kalian masuklah. Aku akn membawa Devan kembali, dan jangan sampai para tamu dan wartawan tahu hal ini." Kata Gavano.
"Aku ikut My.!"
"Alleta, sebaiknya ikut meraka masuk, agar tak menimbulkan kecurigaan. Jika ada yang bertanya ke mana aku, bilang saja aku lelah dan beristirahat di kamar."
Seperti yang Gavano minta, mereka semua masuk dan melanjutkan acaranya, Sementara Gavano pergi bersama Riko menggunakan kapal yang tadi hendak dipakai untuk membawa Leo.
Rupanya beberapa waktu lalu, saat semua di landa ketegangan ketika Leo mengeluarkan pistolnya. Grace memanggil Devan. Devan yang masih menganggap Grace ibunya, menghampirinya tampa tau ternyata Grace mempunyai niat buruk terhadapnya.
__ADS_1
Tentu saja, walaupun Devan adalah anak yang cerdas, biar bagaimanapun dia tetaplah anak kecil. Terlebih selama lima tahun dia hidup, Grace lah yang ada bersamnya.
***
Di sebuah rumah kecil Grace mengikat Devan di sebuah kursi kayu. Devan yang menuruni sifat ayahnya tetap tenang.
"Ibu...!"
"Diam bocah sialan, aku bukan ibumu."
"Tapi Devan tetap menganggap ibu adalah ibuku."
Tak sedikitpun hati Grace tergerakkan, karna memang dari awal dia tidak terima jika Gavano memiliki putra dari wanita lain. Seandainya itu bukan untuk mendapatkan Gavano, ia sudah lama menyingkirkan Devan.
Tapi semua sudah tidak ada gunanya, kini Gavano sudah tahu semuanya jadi tak ada gunanya jika anak kecil itu tetap hidup.
Dan saat tadi pistol milik Leo terjatuh, ternyata Grace yang mengambilnya dan membawa Devan dengan bantuan awak kapal yang ia bayar meninggalkan kapal pesiar yang berlayar di tengah lautan lepas.
"Setelah aku menyingkirkanmu, aku akan menyingkirkan gadis ja..lang sialan itu lalu meninggalkan kota ini,"
Garace meletakkan ujung pistol di kepala Devan, berharap anak kecil itu akan memohon dan menagis. Tapi Devan tetap tenang. Anak kecil itu hanya menutup matanya saat Grace mulai menghitung mundur.
Disaat hitungan hapir selesai, pintu terbuka dengan sebuah tendangan dari Gavano.
Grace menoleh dan menodong Gavano bergantian dengan menodong Devan. Hal itu Grace lakukan berkali-kali.
"Jangan medekat atau kalian akan mati di sini."
"Apa yang kau inginkan Grace, lepaskan Devan dia tidak tahu apa-apa.!"
"Tidak, aku hanya menginginkan hidup bersammu Vano.!" Kata grace mulai mengeluarkan air matanya.
"Itu tidak mungkin Grace, aku sudah menikah.!"
"Itu tidak mungkin Grace." Kata Gavano seraya memberi kode pada Riko melalu hitungan tangannya yang tak di sadari oleh Grace.
Dor... Suara tembakan mengema di rumah itu, Grace terdiam lalu melihat ke bawah, seperti ada cairan yang membasahi gaunnya, Pelan-pelan Grace meraba perutnya sebrlah kiri dan melihat tangannya. Itu sudah berlumuran darah.
Grace menjatuhkan pistol di tangannya dan melangkah mundur kemudian tersungkur ke tanah.
Dengan sekuat tenaga Grace mencoba bertahan.
"Vano aku mencintaimu, sungguh mencintaimu. Jika kamu bahagia dengan kepargianku maka isinkan aku pergi bersama cintaku."
Grace kemudin merangkak ke arah pistol yang ia jatuhkan tadi, mengambilnya dan mengarahkan ke kepalanya, Dengan satu tembakan, Grace terbaring di lantai bersimpuh darah.
Sebenarnya bisa saja Grace diselamatkan karna Riko menembaknya hanya di bagian pinggangnya dan tidak mengenai organ vitalnya.
Hanya saja Grace lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri dari pada jika ia selamat, ia harus merasakan sakit hati melihat kebahagian Gavano dan Alleta.
Gavano segera meraih Devan dan melepaskan ikatan tali lalu memelukya erat. ' Oh tuhan, putraku masin begitu kecil, dia harus melewati ini semua karna kesalahanku.' Ucap Gavano meneteskan air matanya.
Merasa ada sesuatu yang mengenai bajunya Devan bertanya pada Gavano.
"Ayah... ada apa.?"
"Tidak sayang, maafkan ayah.! Karna ayah membunuh ibumu.!"
"Dia bukan ibuku ayah,"
"Biar bagaimanapun dia adalah orang yang yang membesarkanmu nak, apa kamu tidak membenci ayah.?"
__ADS_1
"Tidak, Dia tidak pernah memperlakukanku seperti putranya, dia mengabaikanku, aku di besarkan oleh bibi pengasuhku." Kata Devan mengusap air mata Gavano.
"Oh... putraku."
Setelah Gavano memerintahkan orang untuk mengurus mayat Grace dan meminta memakamkannya dengan layak. Gavano membawa Devan kembali ke kapal pesiar dan memikmati acara sampai selesai.
Sementara Arkana di rawat di salah satu kamar di kapal itu dengan Mira di sisinya.
***
Beberapa bulan berlalu, Kini semuanya kembali normal. Perut Alleta sudah membesar dan menunggu hari untuk melahirkan.
Sementara para orang tua sibuk membicarakan tentang hubungan Riko dan Alexa. Terutama Aliya yang sangat berambisi untuk menyatukan mereka. Terlebih lagi Aren adalah sahabat baiknya. Sahabat yang selalu memberinya saran-sara kotor untuk menggoda Revandra di masa lalu
Di kamar Alleta berdiri di depan jendela dan melihat keluar lalu melihat perutnya sudah sangat besar.
Melihat istrinya, Gavano menghapirinya dan memeluknya dari arah belakang.
"Ada apa Alleta.?"
"Tidak ada apa-apa"
Tiba-tiba Alleta merasa sakit di perutnya dan cairan putih tumpah ke lantai. Membuat kepanikan pada Gavano.
"Ada apa Alleta.?"
"My...! sepetrinya aku akan melahirkan."
Dalam kepanikan Gavano menggendong Alleta menuruni anak tangga.
"Ada apa Vano,?" Tanya Aliya yang duduk di ruang tamu membicarakan tetang Riko dan Alexa.
"Ibu, Alleta akan melahirkan."
Gavano kemudin membawa Alleta ke rumah sakit dan Alleta di tangani oleh Dr.Aneth
Selama proses persalinan Alleta, semua kelurga tampak cemas dan khawatir di depan ruang bersalin.
Hingga suara tangisan bayi menggema dari ruang bersalin, kekhawatiran dan kecemasan berganti rasa bahagia.
"Selamat nyonya muda, bayinya lahir dengan selamat, dan bayinya perempuan."
Kebahagian Gavano terpancar di wajahnya. Meskipin tadi dia harus menjadi korban kesakitan Alleta. Alleta menjambak rambut Gavano. Bahkan memaki Gavano dengan sebutan Lelaki brengsek karna telah membuatnya hamil dan merasakan sakitnya melahirkan.
"Bayinya perempuan Alleta." Ucap Gavano kemudian mencium dahi Alleta sebagai ucapan terimah kasihnya.
"Ya My.! seperti keinginan kita."
Kelahiran seorang bayi perempuan yang memiliki wajah mirip ayahnya, hanya bibirnya yang mengikuti Alleta, bibir yang bagian bawahnya sedikit terbelah, membuat semua keluarga bahagia dan menyambut hangat bayi permpuan itu.
Tak terkecuali Devan, anak kecil itu begitu senang memiliki adik perempuan yang begitu mirip dengannya. bahkan sangat mirip. Tentu saja. Mereka bersal dari benih laki-laki yang sama. Meskipun dari ibu yang berbeda
Meraka memberi bayi perempuan itu Devani,
DEVANI SHOPIA GRAMENTHA
Bersambung...
__ADS_1
******