KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Inisiatif Axcel


__ADS_3

Axcel hanya terdiam saat Julia menanyakan hal itu, Jujur saja, Axcel sudah mulai memperhatikan perasaannya pada Julia, dia merasa sudah merasa ada benih yang tumbuh di hatinya.


Axcel juga sudah mulai melupakan Aliya, bahkan sudah tidak perna memikirkan gadis itu lagi.


Namun Axcel merasa belum saatnya mengatakan cinta pada Julia sebelum persaannya pada Julia utuh. Dia takut suatu saat nanti dia akan goyah.


"Tak apa jika kamu tidak mau menjawab." Kata Julia lagi


"Maafkan aku..."


"Tak apa, aku akan menunggumu mengatakan cinta padaku, aku tidak perduli seberapa lama aku harus menunggu."


"Terimah kasih Julia." Kata Axcel mencium ubun-ubun Julia.


Mereka melanjutkan dansa romantis itu.


"Lalu apa yang kamu minta sebelum meniup lilin.?"


"Aku ingin seorang bayi."


Axcel terdiam dan mengakhiri dansanya bersama Julia serta mengakhiri musik romantis di ponselnya, lalu mengirim pesan pada seseorang.


"Siapa yang kamu kirimkan pesan.?"


"Dokter.!"


"Sayang, meski kita menikah sudah setahu lebih, tapi di dalam keluargaku tidak ada yang tidak bisa memiliki keturunan.!"


"Apa maksudmu.?"


"Lalu itu, kenapa menghunungi dokter, bukankah kamu ingin memeriksa apakah aku bisa memberimu keturunan atau tidak.?"


Axcel melepaskan tawanya, dia merasa wajah yang dibuat Julia itu sangat lucu, terlebih Julia salah paham padanya tentang dokter itu.


Axcel lalu menarik Julia ke pelukannya, dan menjelaskan bahwa dia mengirimi pesan pada dokter pribadinya, meminta vitamin untuk Julia.


Julia mencubit manja perut Axcel setelah mendapat penjelasan.


"Sayang...! kamu mengerjaiku."


Axcel hanya tertawa lepas, baru kali ini dia tertawa seperti itu setalah sekian lama, terakhir di seperti itu saat sebelum Aliya menikah.


"Lalu, malam ini, mari membuat satu." Ajak Axcel menggoda.


Julia jadi tersipu, baru kali ini Axcel yang mengambil inisiatif itu, biasanya dia yang selalu menggoda laki-laki itu, tapi kini sebaliknya.


"Kenapa.? tidak ingin.? Aku akan membuatmu tidak bisa turun dari tempat tidur malam ini." Bisik Axcel ke telinga Julia.


Julia semakin tersipu, wajahnya merona, jantungnya berdegub kencang.


Semakin berdegup jantung Julia saat Axcel mendekatkan wajahnya ke wajah Julia, dan memberi kecupan di pipi Julia, lalu ke bibirnya. Keduanya larut dalam ciuman itu, yang semakin lama semakin panas.


Ciuman yang membawa mereka ke tempat tidur.


"Malam ini aku tidak akan melepaskanmu." Kata Axcel lagi.


Tapi apa yang Axcel tidak ketahui adalah, alih-alih membuat Julia tidak dapat turun dari tempat tidur, justru Julia lebih aktif darinya.

__ADS_1


Malam yang panjang meraka lalui, malam yang di penuhi dengan de..sahan-de..sahan manja yang kelur dari bibir Julia, meski dia yang begitu aktif.


Tak bisa Axcel pungkiri, bahwa Julia membuatnya terlena dan merasakan kenikmatan surga dunia yang sensungguhnya malam itu, dan itu kali pertama Axcel tampa basa-basi untuk melakukannya, tidak seperti sebelumnya yang awalnya selalu menolak.


Terlebih dia yang lebih dulu mengambil inisiatf itu.


Malam itu, Axcel melakukannya berkali-kali, dan tertidur setelah puas melampiaskan semua hasrat yang terpendam selama ini di saat mereka tidak berada di kota yang sama.


Esok hari, Julia dan Axcel terbangun bersama, bukan Julia yang yang tidak bisa turun dari tempat tidur melainkan Axcel.


"Nona Ganendra, cepat atau lambat, aku akan mati di atas ranjang olehmu." Kata Axcel meraba pinggangnya yang terasa kaku setelah aktifitas panas semalam.


Julia terkekeh,


"Kamu sudah tahu keahlian istrimu."


"Sungguh kamu wanita..."


Julia memotong perkataan Axcel


"Wanita murahan maksudmu.?"


"Wanita yang membuat gila."


"Sungguh.!"


"Mau menambahnya.?" Kata Julia mulai menggoda lagi setelah tadi hampir kesal pada Axcel.


"Apa kamu masih sanggup nona Ganendra.?"


"Hahaha... aku rasa pertanyaan itu cocoknya diperuntukkan padamu."


***


Enam bulan berlalu, Axcel mengunjungi Julia setiap awal dan pertengahan bulan. Tapi setiap Julia bertanya tentang apakah Axcel mencintainya, Axcel hanya menjawanya dengan kata maaf, Julia juga tidak memaksa dan memilih menunggu seperti yang dia janjikan pada Axcel.


Seperti yang di katakan Emely, dia kembali lagi dan menemui Axcel di perusahaan. Keanggunannya membuat karyawan Atmaja grup mengaguminya, tak terkecuali Anya, sekertaris Axcel. Dia mengantar Emely ke ruangan Axcel, dan kembali pada pekerjaannya setelahnya


Emely duduk berhadapan dengan Axcel.


"Bgaimana Axcel.? apa kamu sudah setuju menikahiku.?"


"Tidak akan.!"


"Kenapa.?"


"Nona Emely, aku sudah menikah.!"


"Tapi aku tidak pernah melihat di mana istrimu, dan aku juga tidak melihat ada pernikahan dan resepsi."


"Itu bukan urusanmu."


Emely yang tadinya bersikap tenag mulai menampakkan sifat aslinya. Dia membentak Axcel dan menghantam meja.


"Apa kamu lupa janjimu Axcel."


"Itu hanya janji anak-anak!"

__ADS_1


"Tapi buatku, itu adalah janji yang berharga."


"Maaf nona Emely, pekerjaanku masih banyak, aku harap kau bisa mengerti"


"Aku tidak akan menyerah dan akan tetap berusaha hingga mandapatkan yang sudah semestinya aku miliki."


Emely menarik nafas dalam-dalam sebelum meninggalkan ruangan Axcel, dia merubah mimik wajahnya menjadi seperti sebelumnya dan tersenyum kepada setiap karyawan yang menatapnya.


Sebentar setelah Emely berlalu, Axcel meminta Anya memesankannya tiket ke Maroko.


Axcel begitu pusing karna Emely, dan memutuskan ke Marok untuk bertemu Julia, pdahal baru seminggu dia kembali dari mengunjungi Julia di Maroko.


Di salah satu univeraitas di mana Julia di tempatkan. Setelah mengikuti kelas yang di bawakan dosen Adrian, Julia segera bergegas dan meninggalkan kelas karna merasa tidak enak badan.


"Mengapa terburu-buru.?" Tanya dosen Adrian menarik pergelangan tangan Julia.


Julia hanya diam dan menatap pergelangan tangannya di genggam Adrian, mengerti akan tatapan Julia, dosen muda itu cepat-cepat melepaskannya.


"Maaf Julia."


"Tak apa, aku pergi dulu."


Adrian hanya bisa menatap kepergian Julia, dia tidak punya hak untuk mengentikannya. Dosen muda itu juga sudah tahu bahwa Julia telah menikah, dan ingin sekali rasanya dosen muda itu bertanya tentang pernikahan Julia.


Tapi dia mengurungkan niatnya, toh itu bukanlah urusannya, meski sebenarnya ada rasa sakit di hatinya.


Sementara itu Julia kembali ke apartemen dan terkejut melihat Axcel sudah berada di sana. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Axcel, tidak biasanya dia seperti itu. Wajah yang murung, pakaian sedikit berantakan. Terlebih lagi Axcel baru saja mengunjunginya seminggu yang lalu.


"Sayang...!" Panggil Julia.


"Kamu sudah pulang.?" Kata Acel memyambut Julia dan memeluknya, dia menjatuhkan wajahnya di pundak Julia.


"Ada apa sayang.?"


"Sebentar saja seperti ini, aku lelah."


Julia hanya bisa mengikuti kemauan Axcel dan kembali bertanya setelah mereka duduk di pembaringan


Axcel merogoh sakunya dan mengelurkan rokok dari sana baru menatap Julia.


"Boleh.?"


"Tak apa.!"


Sebentar setalah menyelut rokoknya, Axcel mulai bercerita tentang apa yang terjadi di kota S yang menyangkut Emely dan pamannya yang tiba-tiba datang ingin memiminta hak atas perusahaan. Tak ada yang Axcel tutupi sedikitpun pada Julia.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan.?"


"Aku tidak tahu,"


"Maafkan aku sayang. Sebagai istri aku tidak bisa menemanimu di saat seperti ini."


"Itulah sebabnya aku ke sini, karna aku membutuhkanmu Julia, kamu istriku, hanya padamu aku bisa bercerita keluhan hatiku.


Julia memeluk Axcel, memberinya ketenangan. Hingga beberapa saat Julia tiba-tiba merasa pusing dan langsung tidak sadarkan diri.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2