
"Arkana..." Panggil Mira ketika samar-samar dia melihat Arkana sebelum kesadarannya hilang.
Di rumah sakit x di kota B. Mira terbaring lemah, Arkana menemaninya tampa tertidur selama sehari semalam.
"Dokter, bgaimana keadaannya.?" Tanya Arkana khawatir saat dokter telah memeriksa Mira.
Dokter menjelaskan bahwa menurut pemeriksaan, Mira baik-baik saja, sesuatu mungkin telah memicu pingsannya. Dia hanya tergores dan butuh istirahay. Itulah analisis menurut dokter biasa di rumah sakit itu. 'Mira pasti pingsan karna virus SH itu.' Gumam Arkana seraya menatap Mira
"Arka..." Panggil Mira ketika dia tersadar dan mencoba meraih Arkana.
"Kau sudah bangun, bagaimana perasaanmu.?" Tanya Arkana menangkap tangan Mira yang mencoba meraihnya.
"Aku baik-baik saja."
Arkana meminta Mira agar segera makan. Namun, Mira tidak menginginknnya, meski Arkana sudah berusaha keras membujuknya.
"Aku tidak nafsu makan."
Dia menutup matanya dengan lengannya, kebenaran yang dia cari selama ini begitu kejam, dia tidak bisa makan apa-apa sekarang.
"Mira kau harus makan, jika kau terus seperti ini, seseorang yang mencintaimu akan sedih."
"Arka."
"Buka mulutmu, jika ada masalah aku akan mengurusnya untukmu saat kau selesai makan." Kata Arkana hendak menyuapi Mira.
"Arka."
"Em..."
"Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang melukaimu, yang kau cari selama ini ternyata adalah orang yang paling kau percayau dan kau hormati." Tanya Mira tertunduk.
"Aku akan menemukan kebenaran dan menghadapinya."
Akhirnya Mira tersenyum, meski butiran kecil mengalir di pipinya. Arkana sungguh tahu cara menghiburnya. Arkana kemudian menarik Mira ke pelukannya, menyeka air matanya.
"Jika aku tidak bisa menghiburmu, bagaimana bisa aku menjadi pria di belakangmu."
"Aku tidak memintamu untuk menjadi pria di belakangku." Goda Mira.
Arkana semakin menarik Mira dan mendekapnya erat, sementara Mira tidak menyia-nyiakannya, dia menagkap bibir Arkana dengan bibirnya. Meski awalnya Arkana terkejut, dia akhirnya membalas ciuman Mira.
__ADS_1
Pagutan bibir mereka terjadi hingga beberpa saat, sampai Mira terengah-engah, baru Arkana meleaskan pagutan bibirnya. 'Ketika Arkana ada, aku tidak punya hal lain untuk di pikirkan, aku begitu menyukainya. 'Ucap Mira dalam hati seraya memeluk Arkana.
Saat sedang asik bermesraan tiba-tiba ponsel Arkana berdering, dia mohon pamit meninggalkan Mira untuk menjawab telfon.
"Aku harus menerima ini." Kata Arkana berlalu meninggalkan Mira yang tersenyum hangat padanya.
"Hallo." Sapa Arkana ketika di menerima panggilan telfon itu.
"Arka, kami menemukan Dr.Aditama." Jawab seseorang di ujung telfon.
"Apa kau yakin itu dia"
"Ya orang-orang kita menemuknnya di pulau kalimantan dan di sedang berada di bawah kendali seseorang."
Arkana berbalik melirik Mira yang masih tetsenyum di dalam ruang inapnya. Dia berpikir bahwa pada saat kritis seperti ini, dia tidak bisa membiarkan orang-orang di kota B menemukan Dr.Aditama. Atau mereka akan mencoba menghentikan pengembangan obat untuk virus SH.
Arkana kembali mendekat pada Mira, seolah dia meminta ijin untuk pergi beberapa hari.
"Kau boleh pergi jika perlu."
"Mira, aku akan pergi selama beberapa hari. berjanjilah padaku bahwa kau akan menjaga dirimu sendiri."
"Baik."
***
"Kakek...!" Sapa Mira ketika masuk di ruang inap kakeknya.
Kakek Mira berpura-pura sakit keras untuk menghentikan Mira untuk meninggalkan kota B. Mira meraih kursi yang ada di samping ranjang pasien, baru kemudian menghenyakan diri dan meraih tangan kakeknya. Dia juga bertanya tentang kedaadaan kakeknya.
"Aku baik-baik saja sekarang. Kau adalah cucu terbaikku di antara cucu-cucuku yang lain."
Kakek Mira bahkan mengatakan bahwa umurnya tidak lama lagi, dia ingin Mira tetap tinggal di kota B untuk merawatnya.
"Tentu kakek."
"Dan ingatlah, selama aku masih hidip, rumah keluarga Bantara adalah rumahmu."
'Rumah.? Cih.! Aku tinggal hanya untuk membalas dendam. Setelah Arkana meninggalkan kota B. Mira menjaga kakeknya di rumh sakit.
Tiga hari kemudian, Mira meninggalkan rumah sakit bersama kakeknya.
__ADS_1
Kembalinya Mira ke keluarga Bantara membuat bibinya murka, dia begitu membenci Mira lantaran Mira mendapat perhatian lebih dari kakeknya.
"Kau bilang kau akan meninggalkan kelurga Bantara. Kenapa belum cukup seminggu kau sudah kembali lagi." Teriak bibinya yang tidak mengerti apa yang membuat kakek Mira bersikap baik pada Mira.
"Itu bukan urusanmu."
"Apa maksudmu."
"Yang di maksud dengan bukan itu adalah, lebih baik kai tidak mengacau dengnku. Aku mungkin akan melakukn sesuatu jika kau membuatku marah." Kata Mita menegaskan sambil menunjuki wajah bibinya.
Setelah mengalami perdebatan bersama bibinya, Mira masuk ke kamarnya. Namun, dia merasa bahwa kamarnya ada sedikit tambahan. Dia menyadari bahwa seseorang telah memasang kamera di kamarnya. Ya, siapa lagi jika bukan orang kepercayaan kakeknya
"Tuan, apa Mira menemukan kita.?" Tanya orang kepercayaan kakek Mira pada kakek Mira.
"Aku rasa tidak, kamera di letakkan secara diam-diam di sudut, di tidak akan menydaranyi."
Beberapa hari orang kepercayaan kakek Mira memantau Mira di kamar. Namun, dia tidak menemukan ada hal yang mencurigakan yang akan di lakukan Mira.
Apa yang tidak kakek Mira ketahui bahwa Mira meminta Alleta untuk meminta bantuan pada Devan yang seorang anak kecil yang pandai dalam meretas atau bisa juga dibilang Devan adalah seorang hacker.
Dengan bantuan Faiq, Devan berhasil membuat kakek Mira tidak menyadari bahwa vidio yang terekam adalah vidio palsu, sementara Mira melakukan sesutu untuk membalas dendam pada keluarga Bantara terutama pada kakeknya sendiri.
Berkat bantuan Faiq dan Devan, akhirnya Mira bisa mengetahui siapa-siapa yang ada di balik semuanya selain kakeknya sendiri. Mira juga meminta Devan meretas sistem internasional perusahaan Bantara di mana sistem itu adalah sumber kekayaan bagi keluarga Bantara, dan tempat di mana kekuasaan dan uang bertemu.
"Aku akan membalas dendam dengan mengambil semua yang mereka miliki." Kata Mira dengan senyum iblisnya.
Sudah tiga hari Mira menyesatkan orang-orang suruhan kakeknya, dengan rekaman cctv yang di edit oleh Devan dan Faiq. Membuat kakeknya percaya bahwa Mira berhenti mencari kebenaran. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah Mira sibuk di bantu Faiq dan Devan.
Namun, tiba-tiba virus SH yang ada di tubuh Mira bereaksi.
"Uhuk..." Batuk Mira mengeluarkan percikan darah.
Mira sadar bahwa dirinya semakin buruk, dia tidak punya banyak waktu lagi, untuk meredam virus SH itu, Mira meminum pil yang Arkana berikan sebelum meninggalkan kota B. Dia berhar bisa memiliki waktu lebih lama untuk membalas dendam dan kembali pada Arkana secepat mungkin.
Sementara itu, di laboratotium medis perusahaan Gramentha, Arkana menghampiri Dr.Aditama yang sedang melakukan pemeriksaan tentang virus SH. beberapa hari yang lalu, ternyata Arkana berhasil menarik Dr.Aditama ke pihaknya dan meneliti serta mencari penawarnya.
"Tn.Arka, Tn.Xavier baru saja menelfon dari kota B, dia berkata bahwa Nona Mira lebih sering sakit." Teriak salah satu orang kepercayaan Arkana.
"Orang-orang iti telah berbuat banyak kejahatan pada Mira. Aku tidak akan menunggu lagi. Beritahu ayahku, aku akan masuk ke hutan neraka dan mengubah aturan.".
Bersambung
__ADS_1
******