KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Emosi yang meluap


__ADS_3

"Alexa sepertinya aku harus mengantarmu kembali." Kata Riko setelah membaca pesan dari Gavano.


Saat Alexa menghilang, orang suruhan Gavano menghubunginya dan memberi tahu bahwa gadis kecil itu berhasil melarikan diri.


"Tapi kakak...!" Keluh Alexa.


"Please... jadilah anak baik, jangan membantah,"


"Kakak, bawa Lexa pergi dari kota ini. Lexa mohon...!"


"Tidak Alexa, tidak."


"Kakak tidak mencintaiku."


Riko memegang kedua pipi Alexa dan menatapnya lembut.


"Aku mencintaimu Alexa, bahkan sangat mencintaimu, tapi tidak seperti ini. Aku janji setelah mengantarmu, aku akan cari cara agar kita bisa bersama, tentunya dengan cara yang baik"


"Kakak Riko janji.?"


"Ya.! aku janji. Apa kamu mengerti.?"


Gadis itu hanya mengangguk dan menuruti permintaan Riko. sembari memeluknya eret.


Sebentar setelah memberi pengertian pada Alexa, Riko mengantar gadis kecil itu kembali. Perasaan tak menentu berkecamuk di dalam hati Alexa, sementara Riko hanya berusaha bersikap tenang.


"Berani sekali kamu.!" Bentak Gavano, saat Alexa dan Riko masuk ke rumah.


"Kakak..." Sahut Alexa terkejut.


"Masuk ke kamar.!" Perintah Gavano tegas, tak lupa dengan wajahnya yang kaku, dingin serta menyebalkan bagi Alexa.


"Tidak..." Bantah Alexa.


"Bawa dia ke kamar.!" Titah Gavano pada orangnya.


Segera dua orang pria yang berpakaian serba hitam memaksa Alexa untuk ke kamar.


"Tidak, tidak mau, lepaskan aku.!" Ronta Alexa.


"Maaf Nona kecil. Kami harus menuruti perintah tuan muda." Ucap salah satu pria yang membawa Alexa ke kamar.


Gavano lalu berbalik memandangi Riko yang tatapannya tak luput dari Alexa yang di pakasa ke kamar. Gavano tahu apa yang di rasakan sahabatnya itu.


"Terimah kasih sudah mengantarnya kembali."


"Ok.!"


"Dan juga, mulai besok kamu di tugaskan untuk mengurus anak perusahaan di luar negri, tepatnya di Itali."


"Tidak perlu.!" Jawab Riko datar.


"Kenapa.? Apa kamu juga mau membantahku seperti gadis kecil itu."


"Tidak."


"Lalu.?"


Riko kemudin mengeluarkan sebuah amplop persegi panjang dari saku celananya. Lalu meletakkan di meja, dan memberitahu Gavano untuk membacanya.

__ADS_1


"Apa itu.?" Tanya Gavano.


"Surat pengunduran diriku.!"


"Kenapa.?"


Pertanyaan Gavano tidak di jawab oleh Riko, Riko bahkan meninggalkan rumah itu tampa berbicara lagi pada Gavano.


Kedua sahabat yang awalnya saling mendunkung kini menjadi renggang hanya karna keegoisan seorang Gavano.


Sungguh kesal hati Gavano saat Riko tidak memperdulikannya, meskipun ia berteriak memanggil sahabatnya itu.


"Sial..." Maki Gavano sambil menghantam meja dan menyapu semua barang yang ada di meja dengan tangannya, hingga semuanya jatuh, berantakan dan pecah di lantai.


Keributan yang di buat oleh Gavano mengundang rasa ingin tahu semua yang ada di rumah itu, tak terkecuali Alleta yang sedang beristirahat.


Beruntung Revandra dan Aliya tidak ada di rumah, meka membawa Devan untuk bertemu kakek buyutnya yaitu Reyno, sehingga ia tidak menyaksikan apa yang terjadi di rumah itu.


Sementara Grace yang juga penasaran ikut berkumpul bersama para pelayan yang tak ada yang berani untuk mendekat. Meraka tahu jika tuannya sedang marah dan tak ingin di tanya-tanya.


Maka Grace lagi-lagi mengambil kesempatan itu, berharap ia bisa menenangkan Gavano.


"Vano, ada apa.?" Ucapnya sambil menepuk lembut bahu Gavano.


Alih-alih tenang, Gavano justru bertambah Geram, dan berbalik, lalu mencengkram leher Grace.


"Va.. Vano, tenanglah...!" Kata Grace yang wajahnya sudah memerah menahan rasa sakit di lehernya.


"Berani sekali kau mencampuri urusanku.!"


"Vano lepaskan...!" Sambung Grace seraya memohon dan agar Gavano melepaskan cengkramannya yang semakin kuat."


Namun yang tidak di ketahui Gavano, bahwa dalam hati Alleta sungguh senang dengan perlakuan Gavano pada Grace.


"Awuu..." Keluh Grace saat Gavano melepaskan cengkramannya dengan sedikit mendorong hingga Grace jatuh tersungkur ke lantai, dan tidak sengaja kakinya terkena pecahan beling yang berserakan di lantai.


Gavano kemudian memandang Alleta, begitu pula Alleta, Amarah yang tadinya meluap kini sudah hilang hanya dengan kehadiran Alleta di depannya.


"My...! tenanglah, mari ke kamar dan ceritakan apa yang terjadi."


Gavano menurut saja ajakan Alleta, sedangkan Grace yang terluka jadi kesal. Dalam hati wanita cantik itu memaki Alleta sedemikian rupa. Dan hanya pelayan yang membantunya setelah tuannya berlalu.


***


"My... Apa yang terjadi.? Hal apa yang membuatmu marah besar.?" Tanya Alleta setelah berada di kamar dan duduk di tepi pembaringan.


"Riko, gadis kecil itu...hufff...! Aku sungguh pusing.!" Jawab Gavano me..remas rambutnya.


"My,!"


"Em..."


"Tidakkah kamu terlalu keras pada mereka. Mereka saling mencintai, kenapa tidak biarkan saja mereka menikmati cinta itu, selama itu masih di batas wajar."


"Apa menurutmu aku terlalu keras.!"


"Ya...! Aku dan Alexa seumuran, jadi aku tahu apa yang di rasakannya. Jadi berhentilah bersikap demikian padanya.!"


"Lalu apa yang harus aku lakukan.?"

__ADS_1


"Berhenti menekan mereka berdua.! Ayolah, kamu juga pasti merasakan yang namanya cinta kan.!"


"Begitu.?"


"Ya...!"


Gavano lalu menarik nafas perlahan dan menghembuskannya perlahan pula.


"Baiklah, seperti keinginan istriku. Meskipun aku masih ingin bermain sediki lebih lama."


"Jadi kamu sengaja My.?"


"Em... seperti dugaanmu, dan bukannya aku tidak setuju dengan hubungan mereka hanya saja, aku ingin tahu sebatas mana Riko mencintai gadis kecil itu, Kami tumbuh bersama, aku takut cinta yang dirasakan Riko pada gadis kecil itu hanyalah cinta layaknya seorang kakak saja.!"


"Lalu.?"


"Sampai saat aku menugaskan Riko menjaganya saat mengadakan tur, Aku baru tahu bahwa Riko benar-benar tulus pada gadis kecil itu. Jika saja aku tidak di beritahu oleh orang-orangku, aku tidak akan tahu bahwa Riko sungguh tulus. Dan saat mereka kembali aku berharap mereka lebih jujur padaku, tapi mereka lebih memilih bermain petak umpet. Jadi aku hanya menemani mereka saja.!"


"Jika seperti itu, lalu mengapa kamu marah seperti ini.?"


"Itu karna Riko tidak berusaha menjelasknnya, dan justru memberiku surat pengunduran dirinya. Awalnya aku mengira dengan berpura-pura mengirimnya ke Itali, dia akan memohon, tapi nyatanya tidak, dia justru meninggalkanku." Jelas Gavano.


Saat ini Gavano begitu frustasi, betapa tidak, semua berjalan tak sesuai harapannya.


"Dan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.?"


"Aku tidak tahu Alleta, aku lelah, bisakah aku beritirahat sebentar."


"Ya...! Aku kan ada di sini menemanimu.!"


Gavano akhirnya terlelap, begitu pula Alleta, kebetulan hari juga masih siang. Gavano hari itu pulang karna kaburnya Alexa.


Grace ke rumah sakit untuk mengobati lukanya, dan meminta Leo untuk bertemu di sana.


"Sial, aku gagal lagi.!" Ucap Grace pada Leo.


"Sabarlah, orang seperti Gavano itu, hanya kesabaran yang bisa meluluhkannya. Dulu juga dia begitu terhadap Alleta. Dingin, acuh tak acuh, bahkan terkadan aedikit menyiksanya." Jelas Leo.


"Sungguh.?"


"Ya.!"


Di tempat lain, Arkana sedang makan malam bersama seorang gadis, putri dari rekan bianisnya di sebuah restauran barat xx.


"Mau minum anggur.?" Tanya gadis yang bersamanya.


"Boleh...!"


Gadis muda dan cantik itu memanggil pelayan dan meminta untuk di bawakan sbotol anggur.


Pelayan itu terkejut bukan main saat melihat siapa yang ia bawakan anggur.


"Tu.. tuan muda Arkana.!" Ucap pelayan itu terkejut.


Bersambung...


******


...🌹Gavano & Alleta🌹...

__ADS_1



__ADS_2