KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Tuan.! Apa yang terjadi padamu.?


__ADS_3

"Alleta... Alleta... Di mana kamu.?" Teriak Gavano panik dan masuk ke kamar.


Lelaki itu mulai mencari di setiap sudut kamar namun tak menemukan gadis yang ia cari, dan sebuah dorongan datang pada Gavano untuk mengecek kamar mandi.


Lega, khawatir, itulah yang dirasakan lelaki itu sekarang. Lega karna apa yang ia pikirkan tentang Alleta kabur lagi tidak benar, khawatir lantaran siapa yang tau sudah berapa lama gadis itu berendam sambil tertidur.


Tak mau semakin lama Alleta berendam, Gavano segera mengeluarkan Alleta dari bak mandi dan mengendongnya dalam kedaan polos ke tempat tidur, menyelimuti gadis itu yang tiba-tiba terbangun.


"Tuan...! kenapa aku ada di sini.? bukannya tadi aku sedang berendam."


"Sudah sejak kapan kamu berendam.?"


"Sesaat setelah tuan keluar dari kamar ini." Jawab Alleta sambil mengucak mata dan posisinya sudah duduk di hadapan Gavano dengan tubuh yang polos


"Apa kamu ingin bunuh diri.? dengan cara berendam begitu lama.? begitu.?"


"Tidak tuan... aku hanya merasa lelah dan tidak sengaja tertidur."


"Sudahlah Alleta, kembalilah tidur."


"Tapi..."


"Sudah yah Alleta, berhenti membuat masalah.! mari kita tidur saja." Ucap Gavano seraya menarik tubuh Alleta ke dalam dekapannya, dan tidur sambil memeluk gadis itu.


Memang sedikit terfikir oleh Alleta untuk melarikan diri, namun sejenak gadis itu berfikir ketika sudah membuka jendela. Bagaimana tidak, dengan cara apa dia harus kabur sedangkan jendela begitu tinggi dan jauh dari tanah.


Meskipun Alleta sangat menyukai tantangan, tapi gadis itu juga tidak berfikir untuk mengakhiri hidupnya begitu saja dengan melompat dari ketinggian, terlebih lagi, ia belum menemukan kedua orang tuanya. Dan pada akhirnya memilih untuk berendam dan lupa untuk menutup kembali jendela.


Malam berganti pagi, matahari telah menampakkan cahanyanya, masuk melalui sela-sela jendela kamar, Namun itu tak membuat sepasang suami istri yang saat ini terlelap dalam dekapan, untuk segera terbangun.


Hingga waktu siang tiba, baru Alleta membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sedang berada dalam dekapan lelaki dingin, tegas dan terbilang kejam.


Pelan-pelan Alleta menyapu pipi Gavano, meraba cambang-cambang halus yang tertata rapi di wajah lelaki itu.


"Tuan... apa sebenarnya yang terjadi padamu.? mengapa sikapmu terhadapku terkadang berubah kapan saja.?"


Entah apa yang merasuki Alleta, gadis itu sangat berani menjatuhkan ciuman pada bibir Gavano, hingga beberapa saat ia tersadar tentang apa yang dilakukannya, beruntung lelaki itu tidak terbangun.


'Ah... Alleta, dasar bodoh, apa yang kamu lakukan.?, ingat hubungan kalian hanya sebatas kontrak.' Maki Alleta pada dirinya sendiri dalam hati. Baru kemudian membenamkan wajahnya ke dada bidang lelaki yang masih terlelap sambil memeluk erat tubuhnya.


Namun apa yang tidak Alleta ketahui adalah, bahwa sebenarnya Gavano sudah terbangun sejak tadi, lelaki itu juga mendengarkan apa yang di katakan Alleta, ia juga merasakan hangatnya bibir mungil Alleta. Bisa saja dia membalas, tapi lelaki itu diam saja sebab takut jika Alleta terkejut.


Tok... tok... tok...


Suara daun pintu di ketuk oleh seseorang dari luar, dan itu membuat Alleta hendak bangkit dari dekapan Gavano yang sudah terlepaskan.


"Biar aku saja yang membuka, sebaiknya kamu berpakaian ini sudah siang, dan sudah waktunya makan siang.!"


Alleta hanya menurut saja, terlebih lagi dirinya saat ini sedang dalam keadaan polos.


"Ada apa.?" Tanya Gavano pada kepala pelayan setelah lelaki itu membuka pintu.

__ADS_1


"Tuan muda pertama, di bawah ada tuan Reygan, dia masih belum menerima pembatalan kontrak semalam."


"Baik, suruh menunggu, sebentar lagi aku akan turun, siapkan kembali dokumen tentang kerja sama, oh dan minta tolong kepada pelayan lain untuk menyiapkan makan siang."


"Baik tuan..." Ucap kepala pelayan itu undur diri.


Sebentar setelah kepala pelayan itu berlalu, Gavano berbenah dan merapikan diri, di bantu oleh Alleta yang masih mengenakan bathrobe, mengambilkan kaos dan celana kain dari lemari, karna hari itu adalah hari minggu, jadi Gavano hanya meminta pakaian sehari-hari saja.


"Berpakainnlah, kita akan makan siang dengan seseorang.!"


"Baik tuan.!"


"Ah,,, jangan menggunakan baju yang terbuka."


"Mengerti tuan."


***


"Vano.! apa maksudmu membatalkan kontrak ini.?" Tanya Reygan emosi.


"Duduklah dulu,"


Setelah duduk, Reygan kembali bertanya.


"Jadi, apa maksudmu."


"Tentang hal itu, maafkan aku, semalam aku sangat pusing, istriku menghilang.!"


"Sekali lagi maafkan aku, untuk menebusnya, aku sudah membuat kembali dokumen penandatanganan kontrak, dan hasilnya aku berikan 60% untukmu,"


"Baik... kali ini aku akan memaafkanmu."


Beberapa saat kemudian, setelah menandatangani persetujuan kontrak, seorang pelayan baru yang cantik menghampiri mereka.


"Tuan muda pertama, makan siang sudah siapa."


"Baik, panggilkan nyonya."


"Baik tuan."


Reygan sejak tadi memperhatikan pelayan itu, dia sedikit terpesona dengan kecatikan pelayan teraebut.


"Apa yang kamu lihat.?"


"aku baru pertama melihatnya. Apa dia baru.?" Tanya Reygan sambil mengosok-gosok dagunya dan tatapan penuh nafsu.


"Ya.! Baru kemarin, soalnya ibuku membawa dua pelayan kami."


"Lalu, bolehkah aku bermain dengannya.?"


"Jangan membuat masalah di rumahku b*jingan.!" Tegas Gavano tapi dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Hanya seorang pelayan.!


"Jika ingin bermain, jangan di sini, sebaiknya setelah pekerjaan selesai."


"Tapi, aku ingin memilikinya, berilah padaku."


"Berhentilah bermain-main dengan wanita, sebaiknya kamu mulai mencari wanita dan menikah."


Reygan dan Gavano sudah duduk di meja makan, sedang Alleta baru saja tiba dan menarik kursi di samping Gavano, baru kemudian duduk.


Reygan yang melihat kedatangan Alleta tersentak, seperti ada sesuatu yang intim pada gadis itu. Seperti rasa rindu yang di tahan selama bertahun-tahun dan kini terlepaskan.


"Ini istriku, Alleta,! Sahut Gavano membuyarkan lamunan Reygan.


"Alleta.!"


"Reygan."


Bukan hanya Reygan, tapi Alleta juga merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh Reygan, bahkan dalam diri gadis itu sangat ingin menyapa lebih banyak, namun niat itu diurungkannya lantaran takut pada lelaki yang sudah mulai melahap makanannya


Di tempat lain jauh di New york, seorang wanita yang memandangi foto keluarganya, tiba-tiba hatinya terasa ada yang bergejolak, tak ada yang tau apa yang terjadi,


"Sayang.! kamu kenapa.?" Tanya Axcel pada istrinya.


"Tidak, hanya saja, aku mersakan gejolak dalam hatiku, dan tiba-tiba aku sangat merindukan putra dan putri kita."


"Ya.! saat ini kamu memang merindukan Reygan dan Elena yang telah tiada. sebaiknya kita berdoa untuk kesuksesan Reygan dan untuk gadis kecil itu semoga dia bahagia di sana, dalam dekapan Yang Maha Esa." Ucap Axcel lalu memeluk istrinya.


Kembali di kediaman Gavano, suasana rungan itu menjadi hening seketika, hanya suara garpu dan sendok yang terdengar, hingga Gavano mulai membuka suara


"Kapan paman dan bibi akan kembali.?"


"Belum tahu.! mungkin akhir tahun saat ulang tahun gadis kecil itu. Andai saja dia masih ada, mungkin umur dan wajahnya akan secantik istrimu."


'Tunggu, kenapa aku merasa wajah istri Gavano ini begitu femeliar, bahkan bibir itu...' Tanya Reyagan dalam hati sambil memperhatikan bibir mungil Alleta yang bgian bawahya terbelah.


"Sudah puas melihat bibir istriku.?"


"Ah,,, maaf.! Istrimu sangat cantik, di mana kamu menemukannya.?"


"Buka urusanmu, makan dan segera kembali ke rumahmu.!"


"Hei... Vano, bisakah kamu santai sedikit. Aku lihat kamu begitu memcintai istrimu ini, kamu bahkan cemburu padaku, jujur saja, meskipun aku suka bermain dengan wanita-wanita, tapi aku tidak suka daun muda yang seperti ini."


"Diam dan makanlah dengan tenang.!" Tegas Gavano


Mereka kembali makan dengan tenang, namun tiba-tiba.


"Gavano...!" Teriak seorang wanita yang baru saja datang.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2