KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Tekad Mira


__ADS_3

"Apa kamu mengenal pelayan ini direktur Arka.?" Tanya gadis yang bersamnya.


"Tidak, maaf apa kamu mengenal saya.?" Jawab Arkana lalu bertanya pada pelayan itu yang tidak lain adalah Mira.


Entah mengapa jawaban Akana membut dada Mira terasa tersayat sembilu yang runcing. Hampir saja Mira mengeluarkan air matanya.


Maka ia cepat-cepat berbalik dan pergi setelah meletakkan botol anggur yang tadi di bawa.


"Pelayan itu sungguh aneh." Kata gadis yang makan bersama Arkana.


"Perlukah kita membahas itu nona Viona.?"


"Maafkan aku, lalu mari kita lanjutkan makan siangnya."


"Ok...!"


Di toilet Mira menatap bayangan dirinya di dalam cermin, hatinya berkecamuk, ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan. Perasaan yang menyakitkan.


Tampa sadar air matanya yang tadi berusaha dia tahan, akhirnya menetes.


"Kamu harus kuat Mira, dia buka lelaki yang harus kamu tangisi... Tapi kenapa aku harus menangisnya.?"


Mira lalu memutar tubuhnya dan bersandar di dinding toilet, lalu merosot ke lantai, memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.


"Nona, kau tak apa.?" Tanya seorang gadis yang baru saja masuk ke toilet dan mendapati Mira menangis.


Mira lalu mendongkak dan melihat siapa yang bertanya padanya. Maka segera ia menghapus air matabya dan berdiri.


"Hei.. ada apa.? mengapa menangis.? dan bukankah kamu pelayan yang tadi.?"


"Maafkan saya Nona. Kalau begitu aku pergi dulu."


Baru saja Mira hendak kelaur dari toilet, gadis yang bertanya padanya menarik tangannya. Hal itu membuat Mira terkejut.


"Maaf ada yang bisa aku bantu Nona.?" Tanya Mira kemudian.


"Ck..! Kalian berdua, saling mencintai tapi saling menyakiti."


"Apa maksud anda.?"


"Sebelumnya perkenalkan saya Viona, wanita yang akan menikah dengan Arkana di masa depan."


"Lalu apa hubungannya denganku.?" Tanya Mira lagi yang sebebarnya di dalam hatinya bagai di sambar petir.


"Ya aku tahu, kalian saling mencintai."


"Maksudnya bagaimana nona Viona.!"


"Gadis cantik, kamu pikir aku bodoh dan tidak tahu apa-apa.? tadi saat kamu mengantarkan anggur, aku melihat ada sesuatu di matamu saat melihat Arkana, begitu pula dengannya."

__ADS_1


"Tapi... aku..."


"Sudahlah gadis cantik, jika kamu mencintainya, sebaiknya berhenti saling menyakiti perasaan masing-masing. Jangan sampai menyesal di kemudian hari."


Perkataan-perkataan Viona akhirnya membuat Mira sadar akan persaannya pada Arkana.


"Tapi bagaimana denganmu nona Viona, bukankah kamu akan menikah dengan Arkana.?"


"Ya... tapi itu keinginan keluarga kami, dan kami berdua tidak menghendaki hal itu, terlebih aku tidak menyukai Arkana. Buatku dia masi seorang bocah tengil yang bersembunyi di balik perasaannya dengan cara berpura-pura tidak mengenslmu."


"Tapi nona Viona..."


"Sudahlah gadis cantik, jika kamu mencintainya, pergilah, kejar dia, sepertinya dia masih berada di sekitar restauran ini.!"


"Terimah kasih nona Viona."


Sebelum pergi untuk mengejar Arkana, Mira menyempatkan diri memeluk Viona yang sudah menyadarkannya akan perasaannya pada Arkana.


Tapi itu sia-sia, Mira sedikit terlambat, Arkana sudah naik ke mobil dan menancap gas. Mira tidak putus asa, ia bahkan mengejar Arkana hingga ia benar-benar sudah tidak dapat berlari lagi.


Hingga sore hari, Mira kemudian menghubungi Alleta, dan menayakan, apakah Arkana sudah ada di rumah atau tidak, dan Alleta menjawab bahwa Arkana belum kembali.


Entah ada firasat apa, tiba-tiba Mira ingin mencari Arkana di rumah lama Gavano. Rumah yang sudah tidak Gavano tempati semenjak kejadian saat penyusup masuk ke rumah itu.


***


Benar saja dugaan Mira, bahwa Arkana ada di rumah itu, ia tahu karna melihat mobil Arkana terparkir di rumah itu. Mira lalu meraih ponselnya dan menghubungu Arkana.


"Aku ada di depan."


"Maksudmu.?


"Aku ada di depan rumah Presedir Gavano."


Arkana lalu melihat dari balik jendela, benar saja Mira benar-benar ada di depan gerbang.


"Pulanglah..." Ucap Arkana lalu mengakhiri panggilan.


Namun Mira tidak putus asa, maka ia bertekat untuk menunggu hingga Arkanan keluar dan menemuinya.


Sampai malam tiba, langit mulai menitikkan tetesan air bening, yang lama kelamaan semakin deras. Tapi itu tidak membuat Mira berhenti menunggu, meskipun gadis itu sudah mulai mengigil kedinginan lantaran semu bajunya basah kuyup.


Sementara di dalam rumah Arkana menikmati segelas kopi susu sambil membaca berkas-berkas yang ia bawa dari perusahaan tadi.


"Tuan muda kedua." Panggil kepala pelayan rumah itu.


Ya meskipun Gavano dan Alleta beserta Arkana dan Alexa sudah tidak tinggal di rumah itu, tapi para pelayan dan kepala pelayan tetap di biarkan bekerja di rumah itu. Agar rumah itu tetap bersih dan nyaman.


"Ada apa.?" Tanya Arkana menghentikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Tuan muda kedua, di luar di depan pagar, dari tadi ada seoran gadis berdiri di sana."


"Siapa.?"


"Itu, sepertinya teman nyonya muda Alleta yang pernah mampir ke sini."


Arkana lalu mengingat bahwa tadi Mira menghubunginya.


"Sial... aku pikir dia sudah pergi, dasar gadis bodoh."


Arkana kemudian bangkit dan mengambil payung, lalu keluar untuk menjemput Mira.


Betapa perihatinnya Arkana melihat Mira yang sudah basah kuyup dan menggigil sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Sedang Mira begitu senang Arkana menghampirinya. Ia tersenyum sebelum tak sadarkan diri. Arkana yang panik segera membawa Mira masuk.


Waktu sudah menunjukan pukul 21:23 malam. Arkana dengan setia menunggu Mira yang belum sadarkan diri. Hingga bebetapa menit kemudian Mira terbangun.


Segera Arkana menghampirinya dan membantunya duduk dan bersandar di atas pembaringan.


"Aku di mana.?" Tanya Mira memijit kepalanya.


"Kamu ada di kamarku."


Sesaat Mira mengingat kembali apa yang terjadi hari ini. Lalu melihat tubuhnya yang sudah berganti pakaiannya.


"Tenanglah, bukan aku yang melucuti pakaianmu, pelayan yang membatuku." Kata Arkana menjelaskan sebelum Mira salah paham pdanya.


"Terimah kasih Arka."


"Lalu apa yang membawamu kemari. bukankah kamu tidak ingin bertemu denganku."


"Maafkan aku Arka." Ucap Mira seraya menunduk tak kuasa untuk menatap Arkana.


"Mira, sebenarnya apa maumu.? aku sudah berusaha mengikuti kemauanmu, bahkan aku berpura-pura tidak mengenalmu di hadapan orang lain, meskipun itu sangat menyakitkan."


"Maafkan aku Arkana, maafkan aku."


"Baiklah, istirahatlah, di luar sedang hujan deras, besok aku akan mengantarmu kembali, dan jangan lkukn hal itu lagi, terlebih, jangan mencariku lagi, bukankah itu yang kamu inginkan.?"


Sakit sekali perasaan Mira mendengar perkataan Arkana, dan bukan cuma Mira, bahkan Arkana pun sakit saat melontarkan kat-kata tersebut pada Mira.


Pemuda tampan itu berfikir jika tidak memperjelas dari sekarang, ia takut Mira akan memberinya harapan lagi, dan membuatnya sakit hati lagi, seperti yang lalu-lalu.


"Istirahatlah, nanti pelayan akan mengangantarkan makanan untukmu. Lalu kamu bisa tidur setelah makan." Ucap Arkana bangkit hendak meninggalkan kamar itu."


"Aku mencintaimu.!" Ucap Mira tiba-tiba.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2