
"Arkana, berhenti di situ," Teriak Alleta mengejar Arkana.
"kenapa kamu mengejarku, aku hanya tidak sengaja."
"Pasti kamu sengaja, selama ini kamu selalu mengerjaiku. Berhenti...!" Teriak Alleta semakin kencang seraya mengambil bantal di sofa dan melemparkan ke arah Arkana.
Namun lemparan itu mengenai seseorang yang tak terduga
"Paman Axcel.!" Sahut Arkana terkejut
Beberapa waktu sebelumnya, Arkan tidak sengaja menyenggol Alleta yang sedang berdiri di depan kulkas, mencari sesuatu untuk menyegarkan kerongkongannya, Alhasil minuman dingin yang ada di tangan Alleta tertumpah dan mengenai baju Alleta.
"ma...Maaf..." Ucap Alleta terbata-bata.
'hehehe,,, kali ini kamu akan habis Alleta, dasar wanita sakit mental.' Ucap Arkana dalam hati saat melihat Axcel melangkah menghampiri Alleta yang terlihat sedang ketakutan.
Gadis itu berusaha setenang mungkin, ia hanya menunduk sambil memainkan jemarinya seperti biasa saat Gavano hendak menghukumnya.
Namun hal yang tak terduga justru di lakukan oleh Axcel, lelaki separuh baya itu justru membelai lembut rambut Alleta, perasaan hangat yang sudah lama terpendam, kini kembali bergejolak saat melihat wajah Alleta.
Begitu pula Alleta, selain ayah dan ibunya yang telah meninggal, hanya Gavano yang selalu membelai lembut rambutnya. Tapi kini seorang pria berumur lima puluhan namun masi sehat dan segar, sedang membelainya, bahkan tangan pria itu terasa hangat menusuk hati Alleta.
'Hangatnya, aku hanya merindukan ibu dan ayah.' Ucap Alleta dalam hati, lalu menatap Axcel, lelaki paruh baya itu seperti hendak mengeluarkan air mata. Namun sebagai seorang pria, ia masih dapat menahannya
"Paman Axcel,! Kapan paman datang.?" Sapa Gavano menuruni anak tangga, seketika Axcel menarik tangannya.
"Ah,,, baru saja."
"Silahkan duduk paman,"
Axcel kemudian duduk bersandar di sofa, sementara Gavano berbalik pada Arkana dan Alleta,
"Arkana.! kenapa diam saja di aitu, apa tugas kuliahmu sudah selesai.?" Tanya Gavano tegas
"Belum kakak.!"
"Lalu mengapa masih di situ.?"
Arkana segera meninggalkan ruangan itu. Sebentar setelah Arkana berlalu, Gavano berbalik menatap Alleta, gadis itu tampak sedang ketakutan saat mendengar nada tegas Gavano pada Arkana.
Tak seperti yang Alleta pikirkan, ternyata Gavano lebih lembut padanya di bandingkan Arkana. Lelaki itu mendekat dan berbisik lembut di telinga Alleta.
"Siluman kecil, sebaiknya kamu mengganti pakaian yang kotor itu, dan masuk kekamar untuk mengerjakan tugas kuliahmu."
"Baik..." Segera pergi dengan wajah yang sudah memerah.
Setelah Arkana dan Alleta berlalu, Gavano menyusul duduk di sofa.
"Maaf paman.! saya menyesal dengan apa yang terjadi barusan.!"
"Tak apa Vano.! Lalu, apa gadis itu istrimu.?"
"Benar paman.!"
"Cantik dan masih muda, jika dilihat, istrimu masih delapan belas, benarkan.?"
"Begitulah paman, jadi ada apa paman Axcel tiba-tiba datang tampa memberi kabar.?"
"Ah...! hampir saja aku melupakan hal yang paling penting.!"
__ADS_1
"Apa itu.?"
Sejenak Axcel menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya perlahan pula.!"
"Kedatanganku ke sini untuk menanyakan seauatu padamu.!" Ucap Axcel menjadi serius.
"Apa itu paman Axcel.?"
"Jadi, kemarin Reygan memberitahu kami bahwa dia akan menikah."
"Bukankah itu bagus.!"
"Tapi yang tidak dapat kupikirkan, dia berkata ingin menikahi seorang pelayan."
"Paman.! bukankah status sebenarnya tidak terlalu penting, asalkan dua insan saling menyukai, kenapa tidak.?"
"Lalu apakah aku bisa bertemu pelayan itu.?"
"Apa maksud paman?" Gavano mengkerutkan keningnya.
"Ya,,, Reyagan jatuh cinta pada pelayan yang ada di rumah ini, di rumahmu Vano.!"
Sebentar Gavano mencoba memutar otaknya, tidak ada pelayan yang berkencan dengan Reygan saat ini. Kecuali tempo hari Reyhan meminta pelayan barunya yaitu bibinya Gavano sendiri. Tapi setelah ketahuan oleh Gavano, bibinya sudah tidak di rumah itu lagi.
"Spertinya yang paman maksud adalah Delia, bibiku."
"Apa maksudmu Vano.?"
Gavano mulai menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari yang lalu, bahkan Gavano menjelaskan tentang asal usul Delia. Hingga Axcel merasa lebih tenang, ternyata putranya tidak sembrangan dalam memilih pasangan.
***
"Baiklah kelas akan di akhiri sampai di sini.!" Ucap seorang dosen setelah memberikan materi pada para pelajar di departemen perancangan yang di ikuti oleh Alleta,
"Vano.!" Sapa Alleta saat membuka pintu ruangan kepala universitas dan mendapati Gavano sedang duduk sambil membaca koran di sofa.
"Sudah selesai.?"
"Sudah, lalu di mana kepala universitas.?"
"Jangan mencarinya aku sudah menyuruhnya keluar." Jawab Gavano tak lupa dengan wajah dingin dan tegasnya.
Pembawaan Gavano seketika membuat teman Alleta terpesona,
"Siapa dia Alleta.?" Tanya Helen
"Gavano Gramentha."
'Alleta ini benar-benar idiot, seorang pria tampan dengan status tinggi ada di depannya, tapi dia tidak bisa merasakan apapun.' Gumam Helen dalam hati dan segera berjalan melewati Alleta,
Untuk menarik perhatian Gavano, Helen bahkan sengaja terjatuh tepat di hadapan Gavano
"Ah,,, sakit." keluh Helen, namun Gavano tidak merespon.
Justru Alleta yang segera menolongnya.
"Helen, kamu tidak apa-apa.?"
"Tak apa.!"
__ADS_1
Gavano kemudian bangkit dari duduknya dan menarik Alleta, merangkul pinggul ramping gadis itu.
"Ah..Vano.!"
"Apa kamu lapar siluman kecil.?" Tanya Gavano mencubit puncuk hidung Alleta.
"Apa kita akan makan.?"
"Tentu saja." Jawab Gavano lembut
Alleta berbalik bertanya pada Helen.
"Helen apa kamu ingin ikut makan.?"
"Ah,, itu, malam ini aku akan makan di rumah saja, ibuku sudah menunggu." Jawab Hellen menolak, lantaran merasa sangat malu.
"Baiklah..."
'Dasar siluman kecil bodoh, apa dia tidak tahu, orang lain punya maksud lain pada suaminya.?, dan kamu bahkan mengajak orang itu untuk makan bersamamu' Ucap Gavano dalam hati memicingkan matanya, seraya menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
Helena kemudian berlalu, Gavano mendekati Alleta,
"Alleta anastasia, apa kamu bodoh,? Dia sudah di kasih hati malah minta ampela.! Sembarangan orang hendak merayuku, kamu bahkan tidak cemburu, dan justtu menolongnya.! Aku memperingatkanmu Siluman kecil, jika terjadi lagi, aku akan menghukummu.! " Ujar Gavano sedikit kesal.
'Selain mengatakan kalau dia akan menghukum dan menghukum, apa tidak ada kata yang lain yang bisa dikatakan pria tua mesum itu.?' Delik Alleta dalam hati.
Gavano membawa Alleta di sebuah restauran di ruangan khusus untuk makan bersama para bawahannya dari berbagai menejemen dari Gramentha Grup sambil membahas masalah pekerjaan
"Hallo presedir Gavano.!" Serentak para bawahan itu menyapa hormat pada Gavano.
"Selamat siang persedir Gavano." Sapa Felisa yang juga turut serta mengambil bagian dalam proyek yang akan di bahas kali ini.
Tapi Gavano bersikap acuh tak acuh pada Felisa
"Ambil satu kursi lagi.!" Perintah Gavano.
"Baik." Jawab seorang pelayan
'Gavano benar-benar membawa gadis sial ini.' Kesal Felisa dalam hati.
"Siapa itu.? ini pertama kalinya presedir Gavano membawa seorang wanita." Tanya salah seorang pengurus menejemen kepada pengurus menejemen lainnya.
"Siapa lagi.? sudah jelas itu wanitanya."
Setelah duduk dan mulai membicarakan tentang pekerjaan, Sementara Gavano memberikan ponselnya pada Alleta untuk bermain game. Dan sudah duduk di samping Gavano.
"Pak Farrel, tentang film yang di invest oleh Gramentha intertaimen saat ini...."
'Meraka sedang membicarakan pekerjaan, sebaiknya aku tidak menganggu mereka.' Guman Alleta lalu memulai bermain game Namun game itu tidak bisa di mainkan.
"Kenpa tidak bisa di mainkan.!" Ucap Alleta seraya menghantam-hantam ponsel Gavano di pinggiran meja.
Membuat Felisa yang sedang berbicara tentang lokasi pembuatan film sangat kesal, dirinya merasa terganggu dengan bunyi-bunyi yang di keluarkan dari beberapa hantaman ponsel dari Alleta.
"Nona Alleta, kami sedang membicarakan tentang perusahaan, bisakah anda tidak menganggu.?" Teriak Felisa kesal
Dengan santai Alleta menjawab,
"Apakah aku menganggu kalian.?" Tanya Alleta pada para pengurus menejemen lainnya.
__ADS_1
Bersambung...
******