KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Tapi aku perduli


__ADS_3

...🌹HAPPY READING🌹...


"Wanita sakit mental apa yang kamu lakukan di sini.?" Teriak Arkana terkejut setelah Alleta ikut masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan Arkana ke universitas.


Beberapa menit yang lalu.


"Ah...! kenapa begitu sial sekali hari ini. ban motor pecah, aduh...!" Keluh Alleta saat memeriksa sepeda motornya.


Tak mau banyak berfikir, dengan sigap Alleta berlari ikut masuk ke mobil.


"Hanya hari ini.!"


"Baik, hari ini aku akan membiarkanmu.!" Jaqab Arkana mengalah.


Terlebih lagi, Gavano tidak keberatan sama sekali, bahkan lelaki itu tersenyum hangat pada Alleta pagi tadi.


Di universitas Alleta meminta sopir menurunkannya di gerbang universitas, Sesuai apa yang telah mereka sepakati bahwa meraka berdua tidak akn saling mengenal.


Setelah turun dari mobil, seorang gadis cantik yang seumuran dengan Alleta meneriaki gadis itu, Segera saja Alleta meminta sopir segera mengantar Arkana sampai ke depan universitas.


"Alleta..." Sapa Mira setelah Arkana berlalu.


"Hai..."


"Sepertinya itu adalah mobil tuan muda kedua dari Gramentha Grup, kenapa kamu bisa keluar dari dalam mobil itu, apa hubungan kalian.?


"ah... itu.. itu kami hanya kebetulan bertemu di jalan, dan meminta tumpangan padanya." Jawab Alleta berbohong.


Dan meskipun sebenarnya Mira mengetahui bahwa Alleta sedang berbohong, gadis itu memilih untuk tidak mencari tau lebih dalam lagi, ia merasa jika Alleta merasa itu adalah sesuatu yang harus di katakan pada Mira, maka ia pasti akan mengatakannya, tampa di tanyai.


Siang hari usai berkuliah, Alleta terlebih dahulu meninggalkan universitas, sebab gadis itu ingin mencicipi makanan manis yang ada di sebuah toko kue, tidak jaih dari univeritas tempatnya belajar.


"Wah... manis sekali, seperti bentuknya.!" Ucap Alleta kagum, saat melihat kue di atas meja yang diantarkan oleh pelayan untuknya.


"Sangat manis, seperti yang memesannya.!" Sahut seorang lelaki dengan pakaian stelan kantor, dilihat dari penampilannya, lelaki itu adalah seorang pengusaha.


Namun Alleta tidak perduli dengan orang itu dan tetap menikmati kue manis di hadapannya. Akan tetapi lelaki itu lebih agresif, dan mendekati Alleta, bahkan ia duduk berhadapan dengan Alleta.


"Aku Leo, Leo Santosa, dari perusahaan Santosa Grup." Ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangan"


Dan Alleta tetap tidak mengubrisnya sama sekali.


"Siapa namamu.?"


"Paman, bisakah anda diam, anda sungguh mengangguku." Sergah Alleta kesal.


'Ah,,, manis sekali gadis ini, semenit saja aku sudah mencintainya, dan butuh waktu bagiku untuk melupakannya' Ucap Leo dalam hati mengagumi Alleta, dan sepertinya lelaki itu langsung jatuh cinta pada Alleta.


"Tidakkah aku terlalu tua jika kamu memanggilku paman.? aku masih dua puluh delapan loh.!"


"Aku tak perduli" Jawab Alleta datar.


Merasa tidak nyaman dengan kehadiran Leo, Alleta menghentikan aktivitas makannya dan memilih untuk segera meninggalkan tempat itu.


Saat hendak berlalu, Leo menarik t tangan Alleta,


"Setidaknya beri tahu siapa namuamu."


"Lepaskan aku paman.!" Meronta ingin di lepaskan.


"Lepaskan dia" Ucap pria dingin yang baru saja datang.!"

__ADS_1


"Oh... Presedir Gavano, sejak kapan kamu datang," Sapa Leo


"Baru saja." Menjawab sambil menatap tangan Leo yang masih memegang tangan Alleta, tatapan yang tajam, perasaan amarah menjelajar masuk ke dalam diri Gavano.


Beberapa waktu lalu, Gavano dan Leo memang sudah ada janji untuk membicarakan kerja sama atar perusahaan, dan kebetulan tempat yang mereka pilih adalah tempat yang sama dengan yang di pilih Alleta.


"Vano.!" Panggil Alleta


"Jadi kalian saling kenal.?"


"Tentu saja, Presedir Leo.! bisakah anda melepaskan tangan istri saya.?"


"Apa.?, jadi...?"


"Ya.! dia adalah wanitaku."


"Sejak kapan anda menikah.?"


"Sebelum menjawab, bisakah anda melepaskan tangan istriku terlebih dahulu.?" Pinta Gavano tegas, tak lupa dengan tatapan ingin memangsanya.


"Ah.! maaf"


Setelah Leo melepaskan tangan Alleta, gadis itu berlari memeluk Gavano, entah mengapa perasaan takut yang tadi menggorogoti dirinya saat Leo memegang erat tangannya, seketika hilang saat gadis itu memeluk Gavano,


Merasakan ada yang berbeda pada istrinya, Gavano kembali menatap Leo yang terlihat tidak senang dengan kenyataan, bahwa wanita yang ia sukai telah menjadi istri dari anak penguasa kota S.


"Sepertinya, lain kali saja kita membahas soal pekerjaan."


"Kenapa presedir Gavano.?"


"Ada hal yang lebih penting.!"


Leo berjalan menghampiri Gavano yang masih memeluk Alleta, Seraya membisikkan sesuatu.


"Jika sudah puas bermain, saya tidak keberatan jika anda memberikannya padaku" Ucap Leo kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Membuat Gavano menggepalkan tangannya.


***


Cup.!


Sebuah kecupan hangat mendarat di kedua pipi Gavano, membuat lelaki dingin dan tegas terlihat sedang salah tingkah.


"Ah... itu, apa yang kamu lakukan siluman kecil.?"


Tapi Alleta tidak menjawab, gadis itu bahkan berani melonggarkan dasi Gavano, membuka satu persatu kancing kemejanya, tangannya yang lentik menyusup di balik kemeja itu, meraba dada bidang Gavano, seraya merebahkan kepalanya dan bersandar di dada bidang tersebut.


"Lalu, di mana ponsel yang kamu janjikan tuan Vano yang terhormat.? aku harap kamu tidak mengecewakanku.?" Pinta Alleta menggoda.


"Alleta... Hentikan ini.!" Pertintah Gavano yang sebenarnya sudah mulai be..rgairah.


"Berikan dulu ponselku.!"


"Baik, baik,!"


Sebentar setelah Alleta menghentikan tindaknnya, Gavano meraih sebuah kantong belanjaan, dan memberikannya pada Alleta.


Gadis itu terlihat sangat senang, terlebih lagi, ponsel yang di berikan oleh Gavano adalah keluran terbaru yang sangat di idamkan oleh Alleta.


"Terimah kasih.!"


"Hanya itu.?"

__ADS_1


"Lalu apa lagi.?"


'Ke mana siluman kecil yang tadi merayuku sedemikian rupa.? Setelah mendapatkannya, siluman ini mengabaikanku.' Ucap Gavano berdelik dalam hati, melihat Alleta tidak lagi perduli padanya, gadis itu sibuk bermain dengan ponsel barunya.


Andai saja saat ini Alleta tidak ada tamu bulanan, mungkin sejak tadi Gavano sudah menerkamnya.


"Apa kamu menyukainya.?"


"Suka.!"


"Lalu apa kamu menyukaiku.?"


"Suka juga"


"Apa yang kamu suka dariku.?"


"Uangmu.!" Jawab Alleta santai.


Apa yang dikatakan Alleta memang benar, jika bukan karna uang dan perjanjian kontrak pernikahan serta janji Gavano untuk membatunya mencari kedua orang tunya, siapa yang tau apa yang akan dilakukan gadis itu, mungkin saja ia akan meninggalkan Gavano,


Sedang Gavano yang mendengar jawaban Alleta merasa tidak senang, lelaki itu kemudian berbalik, dan tampa sadar melemparkan setelan jas yang sejak tadi masih berada di tangannya.


Alleta tak mau ambil pusing, terlebih lagi apa yang ia inginkn sudah ia dapatkan, 'Jadi untuk apa lagi merayu si pria tua mesum itu' Delik Alleta dalam hati.


Sepanjang malam, Gavano hanya bolak-balik di tempat tidur, matannya tak dapat terpejamkan, Jujur saja, saat ini Gavano sangat ingin menyalurkan ga..irahnya setelah melihat belahan dada Alleta yang sudah tertidur.


Tak mau menganggu Alleta, Gavano bangkit dan keluar dari kamar, lelaki itu kemudian duduk sendiri di ruang tamu, di temani secangkir kopi panas, merogoh saku celanannya, mengelurkan rokok dan membakarnya baru kemudian menyelutnya.


"Alleta, apa benar kamu hanya menyukai uangku.?"


***


Esok hari, Gavano berangkat ke perusahaan seperti biasanya. Hingga siang hari, Gavano menghubungi Alleta dan meminta gadis itu membawakan sebuah berkas yang terletak di meja kerja Gavano yang tak sengaja ia lupakan.


Seperti yang di minta oleh Gavano, Alleta membawa berkas tersebut ke perusahaan. Lagi-lagi gadis muda itu menjadi pusat perhatian, namun kali ini tidak ada yang berani menghalanginya, lantran beberapa waktu lalu, Gavano memberitahu semua jika gadis muda bernama Alleta tidak ada yang boleh mnghalanginya.


Beberapa menit berjalan, akhirnya Alleta sampai di depan ruangan Presesir, baru saja gadis muda itu ingin mengetuk daun pintu, dirinya di kejutkan oleh seuara wanita seperti sedang bermanja pada Gavano.


Segera saja Alleta membuka pintu tampa mengetuknya terlebih dahulu, betapa terkejutnya gadis itu melihat seorang gadis muda sedang memeluk Gavano dengan manja.


"Ini yang kamu minta" Melemparkan berkas ke meja kerja Gavano, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat pemandangan tersebut.


"Aalleta...!" Teriak Gavano, namun gadis yang di teriakinya tidak memperdulikannya.


'Ada apa denganku, kenapa hatiku begitu sakit.?' Tanya Alleta berlari seraya menyeka air matanya yang mulai menetes.


"Dia pasti sudah salah paham." Ucap Gavano mengejar Alleta


"Dimana Gavano.?" Tanya Riko tak sengaja bertemu Alleta,


"Aku tidak tau dan aku tidak perduli,"


"Tapi aku perduli" Sahut Gavano


Bersambung...


******


Jangan lupa like dan komen ya Bastie.!


✌✌✌

__ADS_1


__ADS_2