KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Perasaan yang berbeda


__ADS_3

Tebelalak mata Gavano mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh sahabatnya itu.


"Apa maksudmu.?"


"Vano, sebaiknya kau jujur pada perasaanmu sendiri."


"Aku... aku tidak mencintainya, dia hanya gadis belia yang aku nikahi untuk kepentingan bersama."


"Aku akan bertanya sebelum aku keluar. Yak ku sangka ekspresemu seperti itu,"


"Apa.?"


"Dua bulan ini, apa kamu sering menyentuh gadis itu.?"


"Apa hubungannya dengan ini.?"


"Tentu saja ada, lelaki yang tidak mencintai wanita, maka ia tidak akan menyentuh wanita itu lebih dari sekali, tapi kamu, kamu bahkan bermain dengannya hingga pagi."


Gavano terdiam memikirkan ucapan sahabatnya yang sudah keluar dari ruangan presedir. 'Apa benar aku mencintainya.?'


Gavano meraih tas yang selalu dia bawa ke kentor, melangkah berjalan keluar tergesa-gesah, lelaki itu bahkan tidak memperdulikan karyawan yang menyapanya. Dan itu adalah hal yang lumrah, toh selama ini Gavano memang jarang sekali tersenyum pada mereka. Terakhir mereka melihat senyum di bibir Gavano, saat membawa seorang gadis ke ruaangannya yang tidak lain adalah Alleta.


Seorang lelaki mengendarai mobilnya dengan kecepata rata-rata, berharap bisa segera sampai ke rumah, lelaki itu bahkn saat ini dilanda perasaan yang tak menentu.


Setelah bebetapa saat perjalanan, akhirnya lelaki itu sampai di rumah, masuk ke dalam rumah dengan perasaan tergesa-gesa namun tetap dengan langkah yang berwibawa.


Lelaki itu mulai mencari di setiap ruangan, membuka satu persatu pintu. Hingga akhirnya menemukan seorang gadis yang tengah asik membaca di perpustakaan.


"Tuan...!" Ucap Alleta, saat melihat Gavano masuk ke ruangan itu dengan tatapan yang tidak biasa.


"Alleta, apa yang kamu lakukan di sini.?"


"Seperti yang tuan lihat, aku sedang membaca buku."


"Kenapa tidak ke universitas.?"


"Hari ini tidak ada pelajaran."


"Oh..."


"Lalu, tuan sendiri sedang apa.? bukankah ini masih siang dan seharusnya tuan Vano sedang bekerja."


Pertanyaan Alleta membuat Gavano menjadi salah tingkah, wajah dingin dan tegasnya mulai memerah, terlebih lagi Alleta beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Gavano.


"Apa tuan sakit.?" Tanya Alleta

__ADS_1


"Ti...tidak.!" Jawab Gavano gugup.


"Wajahmu memerah tuan.! sepertinya kamu sedang demam." Semakin mendekat dan meletakan tangannya di jidat Gavano,


Lelaki yang sedang kikuk itu, semakin tak karuan perasaannya, jantungnya berdetak sangat kencang.


"Berhenti Alleta,"


"Tapi tuan sepertinya kamu benar-benar sedang demam, detak jantungmu saja sangat kencang dan tidak teratur, sebaiknya aku mengambilkan obat untukmu.!"


Begitu Alleta berbalik, Gavano meraih pinggul Alleta, memeluknya diri arah belakang, membuat gadis itu heran, baru kali ini Gavano bertingkah seperti itu. Ingin sekali rasanya Alleta bertanya, namun ketidak beraniannya mengurungkan niat itu.


"Gadis...! jangan bergerak, tetap seperti ini sebentar." Pinta Gavano lalu menjatuhkan kepalanya di atas bahu Alleta,


Jujur saja Alleta sangat geli dengan cambang-cambang halus yang menusuknya, terlebih lagi, seperti biasanya, Alleta sangat senang mengenakan pakaian yang bagian atasnya terbuka saat sedang berada di rumah. Sehingga cambang-cambang tipis itu menempel sempurna di kulitnya.


Rasa geli, bahkan bulu-bulu tangannya mulai berdiri, namun tetap saja Alleta tidak berani bergerak.


Bebarapa saat Gavano memeluk gadis itu, ia merasakan sebuah perasaan yang tenang dan hangat, 'Ini baru pertama kali aku mersakan sesuatu yang seperti ini, bahkan saat memeluk Luna di masa lalu, aku tak pernah merasa senyaman ini.' Gumam Gavano dalam hati.


Lelaki itu kemudian menuntun tubuh Alleta hingga berbalik menghadapnya, memegang dagu gadis itu, mengangkatnya dan menjatuhkan ciuman di bibir Alleta.


Alleta semakin bingung dengan Gavano, tapi demi tidak membuat lelaki itu marah, Alleta berinisiatif membalas ciuman itu, bahkan gadis itu mengalungkan tangannya ke batang leher Gavano,



-Pipiluma pipiluma dolilimpa, oh sungguh senang sekalai...-(nada dring ponsel Alleta)


Ponsel Allet tiba-tiba berdering


"Hallo,,, Baik aku akan segera kesana." Sahut Alleta, lalu mengakhiri panggilan setelah beberapa saat berbicara.


"Ada apa.? siapa yang menelfon.?"


"Ah, ini tuan.! Mira sedang berada di rumah sakit, apa aku boleh pergi.?"


"Baiklah, aku akan meminta sopir mengantarmu."


"Tidak, tidak perlu tuan, sepertinya aku akan lama."


"Tidak, jangan membantah."


"Baik.."


Alleta menerima dengan pasrah lantaran tak mau membuat lelaki yang bertingkah berbeda padanya berubah menjadi binatang buas yang setiap saat bisa memangsanya.

__ADS_1


"Alleta, kamu membuat perasaanku tidak menentu, apa benar apa yang di katakan Riko.?, mungkinkah aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu Gadis.?"


"Jika cinta ya katakan saja kakak, tak perlu membuang banyak waktu, awas nanti kakak ipar di ambil orang loh.!" Ucap Faiq yang baru bangun.


Sebenarnya, tadi Alleta bersama dengan Faiq di perpustakaan, dan Faiq tertidur di sofa, itulah kenapa Alleta menghabiskan waktu di perpustakaan sambil menunggu Faiq bangun.


"Sejak kapan kamu bangun.?"


"Baru saja." Jawab Faiq berbohong, Bocah laki-laki itu sebenarnya melihat apa yang Gavano lakukan, dan menurut bocah yang pikirannya sudah sedikit dewasa itu, itu adalah hal yang wajar bagi sepasang suami istri,


Faiq juga selalu milahat kemesraan kedua orang tuanya, itulah sebabnya Faiq sedikit mengerti dengan keadaan dan menjadi dewasa sebelum waktunya.


'Sial..! bahkan anak umur lima tahun saja tahu kalau aku mulai mencintai gadis itu.' Keluh Gavano dalam hati.


"Kakak, aku lapar,.!


"Baik, mari kita makan sing bersama."


Gavano mengendong Faiq ke meja makan dan memerintahkan pelayan menyiapkan makanan, di meja makan juga sudah ada Fia.


***


Malam hari, tepatnya pukul tujuh belas lewat dua puluh dua menit, Alleta baru kembali dari rumah sakit.


Amira, mengalami luka ringan karna terjatuh di kamar mandi, hingga pergelangan kakinya terluka, dan tak ada siapapun yang merawatnya, lantaran kedua orang tuanya lebih sibuk mengurusi pekerjaan mereka masing-masing.


"Nyonya muda, kita sudah sampai." Ucap seorang sopir yang di tugaskan oleh Gavano untuk mengantar Alleta,


"Ah...! aku masih ingin di sini sejenak, masuklah istirahat terlebih dahulu."


"Tapi nyonya, tuan muda berpesan, begitu pulang anda langsung harus masuk."


"Sebentar saja, aku juga tidak akan melarikan diri, mau laripun harus lari kemana.? sudahlah, biarkan aku sendiri sebentar."


"Baik nyonya muda, kalau begitu saya masuk terlebih dahulu, tolong nyonya jangan berlama-lama di sini, saya takut tuan muda pertama akan marah."


Alleta hanya mengangguk


Puas berada di dalam mobil, Alleta bergegas meninggalkan mobil dan berjalan masuk ke rumah


Betapa terkejutnya Gadis itu, matanya melebar, tubuhnya tak mampu untuk bergerak, rasa marah bercampur dengan rasa kagetnya di ambang pintu, saat melihat Gavano sedang memeluk seorang wanita, bahkan wanita itu menciumi pipi kiri dan kanan Gavano, sangat mesra.


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2