
Esok pagi Alleta bangun dalam keadaan tidak berbusana, hanya sebuah selimut yang membungkus tubuhnya
"Ah.! kepalaku sakit sekali" Sambil menegakkan tubuh dan menjadi panik setelah mendapati dirinya tidak mengenakan apapun selain selimut, di mana bajuku.? dan bagaimana aku bisa pulang semalam.?"
Dengan kepala yang masih terasa pusing, Alleta menunduk dan mendapati ada noda darah di selimut yang membungkus tubuh polosnya, ia menjadi semakin panik dan tamoa sadar berteriak.
"Darah...!"
"Kamu sudah bangun.?" Sahut Gavano yang hanya berbalutkan handuk yang menutupi bagin bwahnya saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok handuk kecil untuk sedikit menghilangkn sisa-sisa air keramasnya.
Alleta menyapu pandang tubuh Gavano, mulai dari atas ke bawah, ' Gavano tampa pakaian, darah di atas seprai, bukankah?' Berfikir dalam hati sambil menatap tubuh Gavano dengan otot-otot yang terpahat rapi dan indah.
"Paman....! kamu binatang, kamu menodaiku."
Alleta kembali berteriak dan menunjuk ke arah wajah Gavano, 'Awalnya aku mengira dia masi ada sedikit hati nurani, hasilnya dia mengambil kesempatan saat aku mabuk dan melakukannya' Dalam hati Alleta sangat frustasi dan tidak terima, meskipin Gavano adalah suaminya, tapi ia tidak berharap melakukannya dalam keadaan mabuk.
"Ugh,,, perutku sakit"
Gavano yang sudah berpakaian lengkap keluar dari kamar dan menunggu Alleta di balik pintu,
"Maaf, aku minta maaf untuk panggilan binatang padamu tadi. Emm.. apakah di sini ada pembalut.?" Tanya Alleta yang sudah salah sangka pada Gavano, ternyata lelaki itu tidak melakukannya, dan noda darah di atas seprai ternyata bukan darah keperawanannya. Dan masalah mereka tidak berpakaian itu karna semalam ia muntah dan mengenai Gavano
"Rak atas di sebelah kiri, perlengkapan wanita sudah di siapkan setelah kamu menjadi istriku." Jawab Gavano yang sudah di katai binatang oleh Alleta dan mandi sebanyak tiga kali lantaran Alleta memuntahinya.
Beberapa saat kemudian, setelah berbenah dan mengenakan pakaian, Alleta dengan perasaan bersalah karna memanggil Gavano dengan sebutan binatang keluar dan mencoba bersikap hati-hati, takut kalau-kalu Gavano akan memperhitungkan kesalahannya.
"Paman.! semalam, apa kamu yang membantuku mengganti baju.? maaf, aku kira noda darah itu, kamu sudah menodaiku." Ucapnya dengan canggung.
"Kau ini bodoh atau bagaimana.? jika aku tidak melepaskan pakaianmu, apa kamu mau tidur dengan muntahan.? Ingat Alleta, kau adalah istriku, kalaupun aku melakukannya itu sudah hakku, selain itu apa maksudmu ingin mencari biaya hidup makanya pergi bekerja di Club malam, apa uangku tidak cukup untuk membiayaimu.?"
"Bukan itu paman !, sebenarnya aku hanya merasa bosan jika harus tinggal di rumah, apa lagi sekarang, aku sudah mengundurkan diri dari kampus" jawab Alleta yang tak mau memberi tahu Gavano kalau dirinya mencari pekerjaan di Club malam untuk membayar hutang ayahnya.
"Kenapa.? apa kau tidak ingin melanjutkan pendidikanmu.?"
__ADS_1
"Bukan, bukan itu, aku hanya merasa, tak ada lagi alasan yang membuatku harus melanjutkan pendidikan, ibuku sudah tiada, hanya ibu satu-satunya alasanku untuk melanjutkan pendidikan, dengan harapan bisa membuat hidup kami bisa lebih baik kelak, tapi ibu sudah tidak ada."
Gavano yang prihatin pada Alleta merubah ekspresi wajahnya yang tadinya sedikit kesal dan marah, menjadi sedikit hangat bermaksud untuk menghibur gadis yang terlihat sedang bersedih di hadapannya.
"Baiklah, aku akan membantumu mencari pekerjaan yang baru dan layak sekaligus cocok untuk kebutuhanmu. Dan kau Arkana, masuklah, mau berapa lama lagi kau mau menguping di luar sana.?" Ucap Gavano yang kembali berubah raut wajahnya di kata-kata terakhirnya untuk Arkana yang sejak tadi menguping di luar ruangan dan tak berani masuk.
***
"Sialan.! aku sudah ketahuan, bagaimana ini.? sebaiknya bertanya pada gogle saja." Sambil meraih ponsel dari dalam saku celananya dengan sangat panik, terlebih lagi dahinya kini sudah di perban.
"Arkana Dylan Gramentha!, masih tidak masuk.?" Teriak Gavano dari dalam ruangan.
"Saat kakak memanggil namaku dengan lengkap, tamat sudah hidupku."
Lelaki yang berusia dua puluh tahun itu dengan panik membuka pintu dan masuk ke ruangan di mana Alleta dan Gavano berada.
"Kebetulan sekali kakak,! kenapa kamu juga ada di sini, cuaca hari ini benar-benar tidak buruk, hahaha.!" dengan senyum padahal sebenanya ia sangat ketakutan menghadapi Gavano.
"Semalam... aku pergi menemui beberapa temanku dan makan malam." jawabnya yang mencoba menghindari pertanyaan Gavano,
Dengan tegas Gavano melangkah lebih dekat ke hadapan Arkana yang sudah mulai tertekan, keringat dingin mulai ia rasakan, meskipun takut ia tetap berusaha tenang, tapi tetap saja tidak bisa.
"Benarkah hanya bertemu dengan beberapa teman.?" Nada bicara semakin berat
"Be.. benar kakak.!"
"Arkana, Aku tidak menantang kamu masuk ke dalam dunia intertaimen, tapi jika kamu berani bergaul dengan orang-orang yang tidak pantas, lalu terkena masalah... Aku tidak keberatan membuatmu melewati sisa hidupmu di kursi roda." Ucap Gavano yang menekankan pada kalimat terakhirnya.
"Ak...aku mengerti.!" Dengan ekspresi ketakutan.
Alleta yang menyaksikan ketegasan Gavano pada Arkana, membuat ekspekulasi tentang arkana. 'Arkana di hadapan semua orang : Tuan muda kedua di keluarga Gramentha yang bermartabat, kata-katanya bisa di pegang, dan mersa tidak pantas berbicara dengan seseorang yang seperti Alleta, tapi Arkana di hadapan Gavano : Sangat patuh, merendah, dan tertekan lantaran sangat takut pada kakaknya. 'Bagus sekali, ada dua wajah pada Arkana, hahaha.' Mengejek dalam hati dan tertawa.
Melihat Alleta yang sedang tertawa kecil, Gavano berbalik dengan tatapan dingin
__ADS_1
"Kau juga berdiri dengan baik di sebelah Arkana.!"
"Hah.? kenapa aku juga harus berdiri di samping Arkana, apa hubungannya denganku.?"
Ponsel Gavano tiba-tiba bedering, ia lalu menatap layar ponselnya dan melihat nama Rendra sedang memanggil, Tak butuh waktu lama lelaki itu untuk menjawab panggilan, tetapi sebelum itu, ia kembali menatap kedua orang yang sudah berdiri dengan baik dan tak berani bergerak.
"Kalian berdua, setiap orang hafalkan nilai-nilai inti sosialisme dalam kehidupan, lalu intropeksi kelakuan masing-masing, tidak selesai menghafal maka tidak boleh bergerak." Ucap Gavano menegaskan.
"Hallo direktur Rendra ! pesta minggu depan...
"Atas dasar apa aku harus menghafal ini.?" keluh Alleta sedangkan Arkana sudah mulai menghafal saat Gavano sibuk dengan panggilannya.
"Menjunjung kemakmuran, demokrasi, peradaban, harmonis..."
"Hei kenapa kamu begitu lancar.?" Teriak Alleta sambil menginjak kaki sebelah kanan Arkana, ia berfikir semua ini salah Arkana ia jadi terkena imbasnya.
Tak mau kalah, Arkana lalu menepuk-nepuk pundak Alleta dengan kencang
"Cepat hafalkan, apakah saat sedang mengorek telinga, otakmu juga ikut keluar.? sehingga kamu tidak mendengarkan perintah kakak.?"
"Arkana, sejak dari bandara, aku sudah bersabar denganmu sangat lama." Jawab Alleta dengan frustasinya di tambah lagi Arkana menepuk pundaknya sangat kencang. Gadis itu kembali membalas menendang bagian lutut Arkana dengan sekuat tenaga sambil melafalkan apa yang di perintahkan.
"Menjunjung kesastraan, peradilan dan hukum..."
Arkana yang merasa kesakitan, berbalik menghadap Alleta yang sedang sangat kesal
"aghh...! kau berani menendangku." Ucap Arkana lalu kembali menghafal sambil menjambak rambut Alleta, begitu pula sebaliknya, meraka saling menjambak satu sama lain sambil menghafal.
Gavano yang selesai dengan panggilan telfonya berbalik untuk mengecek kedua orang yang sedang dirinya hukum
Bersambung...
******
__ADS_1