KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Mengizinkan Grace tinggal


__ADS_3

Gavano dan keluarganya tercengang secara bersamaan saat Grace menolak apa yang di minta Revandra. Gavano yang tadinya berjongkok di depan putranya kini berdiri tegak


"Kenapa tidak boleh.?"


"Devan masih terlalu kecil untuk berpisah denganku, kecuali kalian juga mengizinkanku tinggal di sini, baru aku mengizinkan Devan tinggal."


"Kurang ajar.!"


"Jika tidak mau, ya sudah. Devan mari kita pulang, sepertinya ayahmu tidak menginginkanmu.!"


"Tidak, aku mau di sini, bersama ayah, nenek, kakek, paman dan bibiku.!"


"Tidak bisa, ingat siapa yang melahirkanmu, membesarkanmu.! ayo,!"


Grace menarik tangan Devan yang sedikit meronta. Entah apa yang membuat anak kecil itu ingin tinggal bersama ayahnya, apakah sungguh karna ingin tinggal.? atau karna ada sesuatu antra dia dan Grace.


"Berhenti."


Sedikit lagi Grace yang menarik paksa Devan akan keluar dari rumah itu, langkahnya terhenti saat Gavano mencegahnya.


"Baiklah, kau jg boleh tinggal di sini."


Orang tua dan adiknya terkejut dengan keputusan Gavano, mereka tidak menyangka Gavano akan mengizinkan Grace untuk tinggal di rumah itu.


Revandra memegang bahu putra pertamanya hendak memastikan lagi, apakah pria tua itu tidak salah dengar.


"Nak.! apa kamu yakin.?" Tanya Revandra


"iya kakak, terlebih lagi, seharusnya masalah ini kakak hrus berunding terlebih dahulu dengan kakak ipar.!" Sambung Arkana, yang memang tidak menyukai Grace dari awal kemunculannya.


"Pikirkan lagi nak.!" Sambung Aliya kemudian.


Melihat Gavano seperti banyak berfikir, Grace kembali mengancam untuk segera membawa Devan.


"Jadi bagaimana, sebaiknya kami pergi saja, ayo Devan.!"


"Bergenti, tetaplah tinggal.!, dan kalian tolong jangan menghalangi keputusanku.!"


"Gavano, kamu jangan keterlaluan pada kami, biar bagaimanapun, ini adalah kediananku, kamu seharunya meminta perundingan terlebih dahulu." Sergah Revandra mulai emosi.


Namun emosi itu mereda saat Aliya segera mendekatinya dan mengenggam tangannya, memberi ketenangan untuk pria tua itu.


"Jika ayah tidak mengizinkannya, maka biarkan aku pindah."


Seketika Aliya terkejut mendengar ucapan Gavano, betapa tidak, susah payah ia menginginkan agar Alleta bisa tinggal bersamanya, namun karna hal ini maka ia akan berpusah lagi dengan menantunya, menantu yang begitu ia sayangi.


"Ay.!" Panggil Aliya pada Revandra.


Meskipun hanya memanggil begitu, namun tatapan Aliya menandakan seolah meminta agar membiarkan Grace tinggal di rumah itu, seperti biasa jika Aliya sudah memohon seperti itu maka Revandra tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menurutunya.


Mau mengeluh juga tidak bisa, toh sifat Aliya terbentuk seperti itu karna dia juga, lantaran terlalu memanjakannya saat masih kanak-kanak, hingga membuat Aliya tumbuh menjadi gadis yang begitu manja.

__ADS_1


"Baiklah...!"


"Tapi bagaimana dengan kakak ipar.?" Tanya Alexa menyela.


"Nanti aku akan membicarakan masalah ini dengannya.!" Jawab Gavano.


Setelah perundingan singkat itu, akhirnya Grace tinggal di rumah itu, sementra Devan begitu senang, begitu pula Aliya dan Revandra, juga Arkana dan Alexa. Betapa tidak akhirnya rumah itu kehadiran seorang cucu. Meskipun juga harus menerima kehadiran wanita yang sama sekali mereka tidak sukai.


"Rumah ini begitu besar, aku harap kau jangan sering-sering menunjukan wajahmu di hadapanku, kecuali saat kau mengurus Devan." Ucap Gavano menegaskan.


Grace hanya teraenyum.'Tak apa, asalkan aku sudah bisa masuk di rumah ini, masalah menunjukkan wajahku, itu tergantung situasi. hahahahah.!' Ucap Grace dalam hati sambil tersenyum.


Kediaman Revandra begitu besar, jadi mereka tidak perlu untuk bertemu dengan Grace setiap saat, terlebih lagi Gavano memerintahkan pelayan untuk membawa Grace ke kamar yang sedikit jauh dari kamar-kamar Gavano dan keluarganya. Agar wanita itu tidak menampakkan wajahnya setiap saat.


Berbeda dengan Devan, anak kecil itu justru di tempatkan di antara kamar Revandra dan kamar Gavano. dan juga hanya beberapa langkah dari kamar Arkana dan Alexa.


***


Alleta berlari saat turun dari mobil yang mengantarnya kembali ke kediaman Revandra, ia tidak memberi tahu Gavano bahwa ia akan kembali siang itu juga.


Setelah sampai di ambang pintu, hendak memberikan kejutan pada Gavano, langkah Alleta terhenti.


Alih-alih memberi kejutan justru dia yang terkejut, bagaimana tidak, baru semalam ia meninggalkan rumah hanya untuk menginap di rumah orang tuanya, pulang-pulang, ia sudah melihat seorang wanita sedang duduk santai di ruang tamu.


Tak mau banyak mengambil kesimpulan sendiri sebelum mengetahui apa yang terjadi, Alleta segera masuk ke dalam rumah lalu berteriak tampa memperdulikan Grace yang sedang bersantai di ruang tamu itu.


"My...!" Teriak Alleta memanggil Gavano, namun sekian lama memanggil tak ada tanda-tanda Gavano akan menjawabnya.


"Tak perlu berteriak seperti itu, Vano, sedang membawa putranya keluar.!" Ucap Grace.


Alleta yang tadinya ingin ke kamar, mengurungkan niatnya, gadis muda itu mendekati Grace.


"Apa makasudmu, dan juga apa yang kamu lakukan di sini.?"


"Hahahah,,, ternyata Vano belum memberi tahumu ya, kalau mulai hari ini aku dan putranya akan tinggal di sini, dirumah ini."


'Apa.?, kenapa secepat itu, dan kenapa Vano belum memberitahuku, ahh... aku harus bertanya padanya terlebih dahulu.' Ucap Alleta dalam hati.


"Oh...!"


Alleta hanya menanggapi denga oh, membuat Grace kesal, padahal niatnya adalah membuat Alleta marah. Namun semua tak sesuai dugaannya.


"Putra kami juga menginginkan orang tuanya selalu bersama dan membangun keluarga kecil, jadi aku harap kamu tahu diri dan memberi kami waktu untuk menikmati kebahagian keluarga kecil kami." Sambung Grace dengan percaya diri dan angkuh.


"Jangan terlalu banyak berharap bibi,"


"Apa.? sejak kemarin kamu memanggilku bibi, aku tidak menikah dengan pamanmu." Bentak Grace mulai semakin kesal dengan ketenangan Alleta.


"Berapa unurmu.?" Tanya Alleta.


"Dua puluh tuju, kenapa.?"

__ADS_1


"Aku masih delapan belas tahun, jadi tidak salah, jika aku memanggilmu bibikan.?" Ejek Alleta


"Kamu dasar gadis ja..lang sialan."


Grace yang kekesalannya sudah diluar batasnya, mengangkat tangan hendak menampar Alleta, namun tidak seperti dugaannya, meskipun Alleta masih sangat buda, tapi dia bukanlah gadis yang mudah di tindas.


Plak...


Suara tamparan yang begitu keras terdengar, bukan tamparan Grace untuk Alleta, melainkan tamparan Alleta untuk Grace


"Awuu...! kau... kau berani menamparku.! dasar gadis ja..lang.!"


Grace mencoba membalas Alleta, tapi lagi-lagi tangannya di tangkap oleh Alleta, dan bukan Alleta namanya jika hanya berhenti di situ, gadis muda itu meraih sebuah gelas di meja, gelas yang masih penuh dengan jus yang belun sempat Grace minum.


Alleta kemudian menyiramkan jus itu ke wajah Grace hingga membasahi sebagian bajunya.


"Ups... maaf bibi, tanganku tergelincir.!"


Garace begitu emosi dan kembali ingin menampar Alleta, dan Alleta lagi-lagi hendak menangkapnya, akan tetapi, gadis itu tidak sengaja melihat Aliya menuruni anak tangga, hingga Alleta berpura-pura tersungkur kelantai dan memegang pipinya.


"Auw... sakit....!" Teriak Alleta kencang.!


Mendengar teriakan Alleta, Aliya segera menghampirinya, dan mendapati Alleta sudah berada di lantai dan memegang pipinya. Seketika amarah Aliya meledak.


"Kurang ajar...!"


Plak...


Wajah Grace lagi-lagi terkena tamparan, bukan dari Alleta tapi kini dari Aliya."


"Auw.. bibi, aku tidak salah, gadis ja..lang itu yang memulainya, lihat dia menumpahkan minum padaku. Lagi pula aku juga tidak menamparnya."


Aliya yang tadinya memabantu Alleta berdiri, kembali menampar Grace.


Plak...


"Berani sekali kamu menampar menantuku.!"


"Aku... aku, tidak.."


"Diam...!, Sayagku Alleta, apa kamu baik-baik saja.?"


"Tak apa bu, hanya sebuah tamparan." Ucap Alleta pura-pura.


Melihat itu Grace semakin kessal, namun tak bisa berbuat apa-apa. 'Lihat saja, begitu aku mendapatkan Vano, kalian semua akan aku balas lebih dari ini.' Ucap Grace dalam hati sambil memegang pipinya. Hingga seseorang memasuki rumah itu.


"Apa yang terjadi di sini.?"


Bersambung...


******

__ADS_1


__ADS_2