
"Boleh aku masuk.?" Tanya Alleta setelah Luna membuka pintu.
"Apa yang kamu lakukan, apa kamu tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu."
"Tidak, lagi pula, selama Gvano masih hidup, dia tidak akan membiarkanku dalam bahaya."
"Cih...! masuklah." Ucap Luna kembali menutup pintu apartemen.
Sementara sipir yang mengantar Alleta menunggu di luar, tentu saja itu karna Alleta yang mencegahnya untuk ikut masuk.
"Lalu apa alasanmu datang ke sini.?" Tanya Luna setelah mereka duduk di ruang tamu.
Tapi sebelum itu, Luna memberikan minuman pada Alleta.
"Apa aku boleh minum dulu.?"
"Silahkan.! tapi apa kamu tidak takut jika aku meracunimu.?" Jawab Luna dan kembali bertanya pada Alleta dengan angkuh.
Entah mengpa Alleta tidak ada rasa curiga sama sekali terhadap Luna. Ia menghabiskan minuman yang di berikan Luna padanya. Membuat Luna benar-benar tidak habis fikir, bisa-bisanya Alleta tidak waspada padanya.
"Jadi apa yang membawamu ke sini.?"
"Sebelumnya aku minta maaf jika suamiku telah melakukan sesuatu padamu."
"Cih... Suamiku...!" Ucap Luna lirij lalu berpaling ke arah lain.
"Tapi aku datang untuk memberitahumu sesuatu."
Kata-kata Alleta membuat Luna tersentak. 'Ingin mengatakan sesuatu.? apa.? bahkan gadis ini berani datang ke tempatku, tidakkah dia takut aku akan melakukn seauatu padanya.?' Pikir Luna.
"Apa itu.?"
"Beberapa waktu lalu seseorang menculikku dan hampir memperkosaku, lalu setelah Vano menintrogasi salah satu dari mereka, mereka mengatakan bahwa yang menyuruh mereka adalah kamu,"
"Aku sudah tahu itu, bahkan Gavano membalasku sangat kejam, tapi aku tidak dendam dengannya, yang kupikirkan saat ini mencari siapa yang membuatku jadi kambing hitam." Ucap Luna menghela nafas
"Itulah alasanku datang menemuimu."
"Maksudmu kamu tahu siapa yang melakukannya.?"
"Tentu saja."
"Lalu siapa.?" Tanya Luna serius.
"Felisa."
"Apa.?"
Seketika Luna terkejut, ternyata orang yang mengkambing hitamkan dirinya tidak lain adalah Felisa yang pernah berkolusi dengannya untuk meracuni Alleta, bahkan semua kesalahan dilimpahkan pada Luna waktu itu.
Alleta juga memberitahu Luna tentang Felisa yang membuat Luna dipersalahkan atas keracunan itu, membuat Luna sangat marah, hingga bibirnya bergetar dan meremas rok yang ia kenakan
"Aku sudah memberitahu kamu semuanya, maka aku akan pamit." Ucap Alleta bangkit dari duduknya.
"Tunggu.!" Cegah Luna.
"Ya.!"
Dengan ketulusan hati Luna meraih tangan Alleta, lalu meminta maaf atas peristiwa keracunan dan pura-pura sakit waktu itu. Luna merasa bersalah telah melakukan itu semua.
__ADS_1
"Alleta, jika aku meminta maaf, apakah kamu akan memaafkanku.?" Tanya Luna memohon namun tetap dengan wajah angkuhnya.
"Jika kamu bersungguh-sungguh, maka kenapa tidak."
"Baiklah, cepatlah pulang, aku takut Gavano akan membakar apartemenku jika tau istrinya ada di sini."
"Aku pulang dulu kak Luna."
Panggilan Alleta pada Luna, membuat hatinya merasa hangat. 'Seperti itukah di panggil dengan sebutan kakak.? heh... begitu hangat.!' Ucap Luna menutup pintu setelah Alleta berlalu.
Benar saja, Gavano sudah ada di depan apartemen berdiri tegak hendak masuk dengan penuh kecemasan. Akan tetapi, kecemasan itu hilang setelah melihat Alleta keluar tampa lecet sedikitpun
"Vano...!" Teriak Alleta berlari memeluk Gavano saat melihat lelaki itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini.?"
"Tidak ada.! hanya ingin menemui teman baru saja.!"
"Maksud kamu Luna.?"
"Rahasia..."
Di balik jendela kaca di dalam apartemen Luna melihat kemesraan Gavano dan Alleta.
Kali ini, wanita itu tidak cemburu bahkan tidak marah sekalipun. 'Aku salah bila aku berfikir untuk memisahkan kalian. Mungkin cintaku harus terkubur di sini, di apartemen ini.' Gumam Luna dalam hati yang memang sudah berencana untuk meninggalkan apartemennya dan tinggal sementara di rumah ayahnya sebelum kembali di mana orang yang sangat mencintainya dan menunggunya berada, yaitu Samuel.
"Tapi sebelum itu, aku akan membalas semua yang dilakukan perempuan ja..lang itu."
***
"Alleta... sayangku...!" teriak Aliya yang baru saja kembali dari New York.
"Ibu... bukankah ibu baru saja ke New York.? kenapa kembali lagi.?" Tanya Gavano."
Plak...
"Dasar anak nakal, apa kamu melarang ibu untuk tidak merindukan menantuku.?" memukul bahu Gavano
"Bukan seperti itu, tapi bukankah pria tua itu akan mengalami stres berat jika ibu tidak bersamanya.?"
"Ibu tidak lama, lusa juga sudah akan kembali padanya."
"Lalu untuk apa kembali ke kota S jika lusa akan kembali lagi ke New York,?"
"Kamu tau Vano, ibu sungguh iri, saat teman-temanku memamerkan momen saat berbelanja bersama menantu mereka." Ucap Aliya sedih tapi wajah sedihnya begitu lucu.
"Jangan bilang ibu kembali hanya untuk mengajak istriku berbelanja."
"Bolehkan...? yah Vano boleh ya.?" Ucap Aliya memohon.
Gavano yang melihat ibunya memohon seperti itu, mau tidak mau harus mengizinkannya, lagi pula itu hanya sehari, dan ada juga yang akan mengawasi ibu dan istrinya.
Seperti yang sudah Aliya katakan, mertua dan menantu itu menghabiskan waktu seharian untuk berbelanja, Aliya memborong begitu banyak pakaian untuk Alleta, bahkan membeli beberapa pakaian cosplay kucing yang se..xy dan menggoda.
Tampa sepengetahuan Alleta, Aliya memasukkannya ke dalam kantong belanjaan mereka.
Puas berbelanja Aliya kemudian membawa Alleta ke sebuah toko berlian
"Keluarkan perhiasan paling mahal yang ada di toko kalian." setelah masuk ke dalam
__ADS_1
"Ibu... apa yang ibu lakukan."
"Sayangku, hari ini adalah hari yang dikhususkan untuk menemaniku, jadi kamu ikuti saja ya sayang.!" Ucap Aliya meminta pengetian pada menantunya dengan membuat wajah sedih.
Tak mau melihat mertuanya bersedih, maka Alleta menurut saja, sampai pada saat karyawan toko keluar dengan membawa sebuah kotak perhiasan.
"Nyonya, ini adalah perhiasan yang paling mahal di toko kami, dan itu hanya ada satu, Beberapa hari yang lalu, presedir Gavano yang meminta kami untuk merancang desain perhiasan ini, dan beliau juga melarang kami memproduksinya, dan tadi juga berpesan jika nyonya datang ke toko kami, kami harus memberikan perhiasan ini." Jelas karyawan itu yang memang sudah tahu siap Aliya dan Gavano.
Dan beberapa hari yang lalu Gavano juga sempat memesan perhiasan untuk Alleta, namun belum ada kesempatan untuk mengambilnya lantaran kesibukan yang padat.
Berbeda dengan Aliya yang kegirangan melihat perhiasan berlian itu, Alleta justru terkejut melihat harga berlian tersebut. 3.000.000.000.- itulah yang tertulis pada perhiasan gelang berlian itu.
Tampa menunggu waktu lama, Aliya segera mengambil gelang berlian itu dan memasangkan ke tangan menantunya.
"Ibu... tidakkah ini terlalu berlebihan.? ini sangat mahal."
"Sayangku, terkadang kita harus memanjakan diri dengan apa yang kita punya. Lagi pula itu sudah di pesan oleh Vano."
"Tapi bu... ini terlalu mahal untuk ukuran gelang sekecil ini."
"Tidak sama sekali. jika itu untuk menantuku yang cantik."
Meskipun beberapa kali menolak, akhirnya Alleta menerima gelang berlian itu, tak lupa Aliya mengabadikan momen-momen berbelanja bersama Alleta seharian penuh.
Hingga malam hari mereka kembali ke kediaman Gavano, dengan belanjaan yang menumpuk.
"Vano ibu pulang ke rumah lama, ibu juga sudah meminta Alexa untuk menemani ibu di sana."
"Arkana juga ikut ibu..." Pinta Arkana tiba-tiba menyela.
"Kamu mau ke mana.?"Tanya Alleta.
"Aku takut gerakan kalian terlalu kencang dan berisik nanti malam, dan akan mempengaruhi tidurku, aku tidur di rumah lama sampai ibu kembali ke New York."
Seketika Alleta merona malu,
"Oh Rupanya kamu tahu situasimu" Sergah Gavano datar.
Sebentar setelah Aliya dan Arkana berlalu, Alleta membersihkan diri dan duduk di pembaringan sambil membuka satu persatu belanjaan yang di belikan Aliya untuknya.
Sedang Gavano duduk di sampingnya, dan meraih satu kantongan belanjaan, kemudian membukanya. Wajahnya memerah ketika melihat apa isi kantong belanjaan itu.
"Siluman kecil... kamu sudah mulai nakal." Ucap Gavano mengangkat paakain cosplay kucing yang se..xy dan menggoda, yang ia keluarkan dari kantongan belanjaan.
Tidak hanya Gavano, Alleta juga sektika merona melihat apa yang di pegang oleh Gavano,
"Itu...itu... bukan aku yang...!"
"Karna kamu sudah membeli ini, tentu saja ini tidak boleh di sia-siakan.?" Ucap Gavano dengan senyum iblisnya.
Alleta dengan terpaksa harus memakai pakaian itu,
"Kamu sungguh penggoda handal siluman kecil." Ucap Gavano menarik Aleta dan membaringkannya ke tempat tidur, baru kemudian menindihnya dan munjatuhkan ciuman pada bibir gadis itu.
"U.g.h...!" Le..guh Alleta.
Bersambung...
__ADS_1
******