KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Kepergian Anya


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan silau cahayanya melalui sela-sela jendela. Meski cahaya matahari telah menerpa wajah cantiknya yang masih sedikit bengkak, Anya tak juga bangun dari mimpinya. Hingga Daniel melayangkan sebuah kecupan hangat di ubun-ubunya, baru dia membuka matanya pelan.


"Sudah bangun."


"Tn.Daniel, maafkan atas kelancanganku semalam."


Daniel tersenyum hangat dan duduk di tepi pembaringan. Laki-laki itu menatap wajah bengak di depannya. yang menunduk menatap buku-buku jarinya. Hingga sebuah tangan hangat menyentuh pipinya, dia sedikit terkejut.


"Anya, maafkan aku, jika telah membuatmu sakit dan memisahkanmu dengan Varo. Namun, jujur aku sungguh mencintaimu."


"Aku tahu, kamu hanya kasihan padaku."


"Tidak, Aku tidak kasihan, Anya apapun akan aku lakukan, asal kamu memaafkanku.!"


"Sungguh.?"


"Sungguh.!"


"Lepaskan aku." Kata Anya berpaling ke arah lain.


Permintaan Anya membuat Daniel sontak terkejut, bagaimana bisa dia melepaskan seseorang yang sangat dia cintai, terlebih dia telah merusak kehidupan dan cinta orang tersebut. Dia sejenak berfikir sebelum menjawab permintaan itu.


"Apa kamu sungguh menginginkannya.?"


"Jika itu tidak berdampak pada Tn.Axcel dan perusahaannya."


Daniel bangkit, hampir saja emosinya meledak saat itu juga, saat ketiaka Anya menyinggung tentang Axcel.


"Pergilah." Kata Daniel.


Namun, Anya tidak beranjak dari tempatnya, dia diam terpaku, dia *******-***** jari-jarinya.


"Pergi..." Tegas Daniel.


Tampa sepata kata Anya beranjak dari tempatnya terpaku, dia merasa sakit di dadanya, dia tidak tahu sakit itu dari mana datangnya dan apa penyebabnya. Apakah karna Daniel mengusirnya ataukah karna dia tidak tahu harus ke mana setelah pergi dari kediaman Mintle, tapi bukankah semua itu yang diinginkannya selama ini.?.


Anya menukar bathrobenya dengan pakaian apa saja yang dapat dia raih, tampa memperhatikannya, dia meraih satu kemeja putih polos yang tergantung di lemari milik Daniel, dan satu laging miliknya sendiri.

__ADS_1


Daniel juga tidak melihatnya, dia baru berbalik setelah mendengar suara pintu tertutup yang menandakan bahwa Anya sudah kelaur dari kamar itu dan meninggalkan Daniel sendiri. Dia meremas rambutnya lantaran begitu frustasi, Dia bahkan memukul kecil kepalanya, merasa dirinya begitu bodoh membiarkan Anya berlalu begitu saja.


Sementara itu, Anya yang baru saja keluar dari kediaman Mintle berjalan di pinggir jalan raya. Dia menatap kedepan dengan tatapan kosong, dia tidak tahu harus ke mana. Hingga kebetulan Axcel menemukannya sedang duduk.


Tak membuang waktu banyak, Axcel menepikan mobilnya, mematikan mesin dan keluar dari mobil menemui Anya.


"Anya.!"


"Bos...!"


"Apa yang kamu lakukan di sini.?"


"Boss...!"


Hanya kata itu yang keluar dari keronkongan Anya. Dia tak sanggup mengatakan bahwa Daniel mengusirnya dan itu atas keinginan dan permintaannya sendiri. Hanya air mata yang menetes semakin lama semakin deras. Tatapan matanya seolah meminta Axcel untuk membawanya pergi dari sana.


Sesuai keinginannya, Axcel membawanya pergi dari tempat itu dan kembali pulang ke kediamn Atmaja. Anya menangis saat Julia memeluknya. Dia menceritakan apa yang tetjadi padanya, dia tidak melewatkan apapun, dia juga masih meyakini bahwa dirinya masih mencintai Alvaro. Namun, Julia tidak yakin, Julia melihat bahwa yang Anya cintai bukanlah Alvaro melainkan Daniel.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.?" Tanya Axcel.


"Jika bisa, aku ingin ke luar negri untuk melanjutkan sekolahku yang sempat tertunda dulu.!"


Anya tidak menjawab dia hanya mengangguk. Mau tidak mau Axcel menyetujiinya. Meski Axcel berulang kali meminta Anya untuk lebih memikirkannya lagi, tapi Anya sudah bulat dengan tekadnya. Dan untuk membalas semua kebaikan Anya, Axcel membantu Anya dan keinginannya. Dia memilih negri Paman Sam untuk tujuannya. Axcel juga membiayai semua keperluan Anya selama di sana nanti.


***


Tiga tahun kemudian.


Tepat di hari ulang tahun Reygan yang keenam tahun dan Gavano yang kedelapan tahun, mereka merayakannya secara bersamaan di sebuah hotel mewah salah satu milik Revandra. Acara itu berlangsung tampa kendala apapun. Reygan yang merayakan ulang tahun yang keenam sementara Gavano merayakan perkenalannya sebagai pewaris perusahaan Gramentha


"Bibi..." Panggil Reygan saat melihat Aliya dengan seorang bayi yang baru berusia satu tahun di tangannya.


"Ada apa sayang.?" Tanya Aliya berjongkok.


"Reygan ingin melihatnya." Kata Reygan meminta untuk melihat bayi yang di gendong Aliya.


"Boleh."

__ADS_1


"Siapa namanya.?"


"Arkana." Jawab Revandra.


"Tampan seprtimu paman.!" Kata Reygan.


Melihat putranya berada di sisi Revndra dan Aliya, Axcel dan Julia menghampirinya setelah menyapa beberapa tamu undangan yang hadir. Melihat ibunya menghampirinya, Reygan berlari menjemputnya. Anak kecil itu langsung mengutarakan niat dan keiginannya untuk memiliki seorang adik perempuan yang lucu.


Mendengar permintaan Reygan, Julia menatap Axcel, Axcel mengerti tatapan itu. Dia kemudian menatap Reygan dan mengiyakan apa yang diminta Reygan, Julia dan Axcel juga merasa sudah waktunya memiliki bayi.


"Selamat ulang tahun Reygan, Selamat perkenalan pewaris Gavano." Ucap Alvaro dan Clara secara bergantian.


"Terimah kasih bibi, paman.!" Jawab Reyagan dan Gavano secara bersamaan.


Setelah memberikan hadiah pada Gavao dan Reygan, Clara mengutarakan niatnya bahwa dia akan segera menikah dengan Alvaro. Hal itu membuat semuanya terkejut, Mereka semua tahu bahwa Alvaro masih mencintai Anya, tapi bagaimana bisa mereka akan menikah.


Tiga tahun yang lalu, saat Anya pergi tampa tahu bahwa Alvaro juga sedang berada di rumah sakit, hanya Clara yang merawatnya dan berada di sampingnya. Itu membuat Alvaro yakin bahwa Clara adalah orang yang tepat untuknya.


"Kakak.!" Panggil Clara pada Julia, saat Julia menjenguk Alvaro di rumah sakit.


"Kakak.?" Tanya Julia bingung.


"Iya ini aku, anak yang di bawa pergi ibuku, adikmu.!"


Julia memeluk Clara, hatinya bergetar, sudah lama dia curiga bahwa Clara adalah adiknya, dan akhirnya semua benar adanya. Dia meneteskan air mata bahagianya mengalir membasahi dress Cara di bagian bahu.


Setelah puas memeluk Julia, Clara menceritaan bahwa dia adalah orang dibalik semuanya, yang membantunya menyingkirkan penghalang kebahagian Julia. Termaksud apa yang telah Clara lakukan pada paman Axcel. Clara sudah membuatnya tidak dapat berbuat apa-apa lagi, dia hidup. Namun, seperti tidak hidup, Clara melumpuhkan semua persendiannya dan melemparnya ke panti jompo. Sementara Helen juga sudahendapat semua balasannya. Clara membaya ke sebuah pulau yang terdapat banyak binatang buas. Tidak ada yang tahu. Helen sudah mati atau masih hidup


Tentu saja hal itu membuay Julia dan beberapa orang yang ada di tempat itu terkejut dangan apa yang telah Clara lakukan.


Kembali ke perayaan Reygan dan Gavano. Di salah satu sudut di mana perayaan itu dilangsungkan. Daniel termenung dengan segelas wine di tangannya. Sejak kepergian Anya, dia berubah tak lagi seperti dulu, dia lebih banyak menghabiskan wktu di perusahaan. Hanya Axcel yang selalu memberinya dorongan sehingga Daniel bisa bertahan selama ini.


Daniel tak pernah sekalipun melupakan Anya, bahkan cintanya semakin bertambah sejak kepergian Anya.


"Selamat ulang tahun Reygan." Ucap seorang wanita cantik dengan dua buah hadiah di tangannya. Semua berbalik menatapnya


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2