
'Sialan wanita itu, mengapa dia tidak mengatakan padaku Alleta sedang mengandung.' Maki Leo pada Grace dalam hati.
"Apa yang harus di lakukan selanjutnya dokter.?
"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya jangan melakukan hubungan intim dulu."
"Ap akibatnya jika kami tetap melakukannya.?"
"Karna kandungan istri anda terbilang lemah, bayinya akan hilang, dan itu akan sangat membahayakan bagi sang ibu."
"Baik dokter, saya mengerti." Kata Leo.
Dokter wanita itu pamit undur diri meninggalkan Alleta dan Leo. Leo berjalan ke arah Alleta.
"Maafkan aku Alleta, hampir saja aku membunuh bayi kita."
"Bayi kita.?"
"Ya.! aku suamimu, tentunya bayi itu juga milikku."
Alleta hanya tersenyum pada Leo. Dalam hati Loe sebenarnya sangat kesal lantaran Alleta saat ini mengandung dan itu bukan miliknya, melainkan milik Gavano. Namun karna begitu cinta terhadap Alleta, Leo bertekat untuk menerima bayi itu.
"Em... itu.!" Kata Alleta.
"Apa.? kamu mau apa Alleta.?"
"Aku bosan, boleh aku pinjam ponsel.?"
"Di sini tidak ada ponsel Alleta, jaringanpun tidak ada."
"Memangnya di mana kita saat ini.?"
"Kita sedang di pulau di mana kita pernah melakukan pernikahan" Jawab Leo mengarang.
"Benarkah.?"
"Ya...! itu benar Alleta.!"
"Boleh aku lihat foto pernikahan kita Leo.?"
"Ah... itu, anu... Itu masih di tempat fotografer. Aku belum sempat mengambilnya."
"Oh..."
"Istirahatlah, aku ingin ke suatu tempat."
"Baiklah."
Alleta lalu beristirahat, sementara Leo meninggalkan kamr dan pergi dari pulau itu menggunakan sebuah kapal yang sudah di sediakan.
Leo meminta untuk bertemu dengan Grace di rumahnya.
"Ada apa kamu memintaku ke mari.?" Tanya Grace, setelah sampai di rumah Leo dan menghenyakan pan..tatnya di sofa.
"Alleta ada bersamaku.!"
"Apa"
Grace terkejut, karna dua minggu ini yang ia ketahui bahwa Alleta telah meninggal.
"Kenapa.?"
"Tidak, hanya saja aku tidak percaya.!"
"Apa aku pernah bermain-main denganmu.?"
"Tidak... jika Alleta ada padamu, di mana dia.?"
"Kamu tidak perlu menanyakan hal itu.!, aku memanggilmu ke mari untuk menanyakan satu hal.!"
"Apa itu.?"
"Kamu tahu Alleta sedang mengndung.?"
__ADS_1
Grace diam saja ketika Leo bertanya, ia tdak tahu harus berkata jujur atau menyembunyikannya lagi."
"Jawab." Bentak Leo menghantam meja.
"A...aku tahu.!"
"Wanita ja..lang si..alan, mengapa tidak memberitahuku.?"
"Aku pikir kamu sudah tahu.!"
"Bisa-bisanya kamu berfikir seperti itu.! sementara aku tidak banyak bertemu dengannya, bagaimana aku tahu, terlebih selama ini Alleta hanya mengenakan hodie."
"Maafkan aku Leo."
Seperti apa yang di katakan Leo, selama dua minggu Alleta bersamanya, Alleta hanya suka memakai hodie dan celana kain. Pernah sekali Leo membelikan pakaian untuk Alleta, namun gadis muda itu hanya memandanginya diam.
Alleta bahkan mencuci sendiri hodienya, dan tak membiarkan siapapun menyentuhnya. Dan jika ada yang menyentuh, baik itu pelayan ataupun Leo, ia akan bertiak histeris. Hal itulah yang membuat Leo membiarkannya tetap memakai hodienya.
Dia hanya ingin memakai hodie yang ia kenakan saat terjadi kecelakaan, jika merasa kotor, hodie itu ia cuci lalu memakainya kembali ketika kering.
"Bagaimana perkembanganmu bersama Gavano.?"
"Tidak ada perkembangan, semenjak Alleta tidak ada di rumah itu, rumah itu terasa seperi rumah berhantu, hening, tak ada canda tawa seperti saat Alleta masih di sana, penghuni rumah hanya sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas masing-maising. Gavano juga jarang ada di rumah, dia hanya pulang untuk mengecek keadaan putranya."
"Bersabarlah... Nanti Gavano juga akan memperhatikanmu."
"Bagaimana dengan Alleta, mengapa dia tidak meminta untuk dipulangkan.?"
"Dia Amnesia.!"
"Apa.?"
"Ya.! Dia amnesia."
Grace tertawa puas, meskipun Alleta tidak meninggal, setidaknya dia tidak bisa mengingat apapun.
***
Di perusahaan Gavano termenung, hingga Riko masuk ke ruangannya pun dia tidak menyadarinya.
"Ah... ya, maaf Riko, kapan kamu masuk.?"
"Baru saja.!"
"Ada apa.?"
"Tidak, aku hanya merindukan istriku."
Riko hanya diam saja, tidak tahu harus menjawab apa, baginya wajar jika Gavano merindukan istrinya, sudah dua minggu berlalu sejak kecelakaan itu.
"Pernikahan Reygan tidak lama lagi, hadiah apa yang akan kamu berikan padanya.?"
"Entahlah, aku belum memikirkannya."
"Oh... tentang kerja sama dengan klien sore ini bagaimana.? apa kamu akan menghadirinya, atau hanya akan mengirim Arkana untuk menggantikanmu.?"
"Aku akan mengirim Arkana.!"
"Ke mana kamu setelah ini Vano.?"
"Temani aku minum.!"
"Ok..."
Riko dan Gavano bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke sebuah Club malam xx dan menyewa satu kamar.
"Apa anda ingin di temani para lady tuan" Tanya pria berpakaian serba hitam saat Gavano memasuki ruangan yang ia sewa.
"Tidak perlu, aku hanya ingin minum berdua dengannya." Jawabnya sambil melempar pandangan pada Riko.
Hal itu menimbulkan spekulasi-spekulasi dari para lady yang Gavano tolak.
"Astaga... tampan-tampan tapi sayang belok." Ucap salah satu para lady setelah Gavano dan Riko berlalu."
__ADS_1
"Hus... pelankan suaramu, kamu tahu siapa dia.?" Tegur pria berpakaian serba hitam tadi.
"Tidak.?"
"Gavano Azka Gramentha, pewaris Gramentha grup."
"Apa.?"
"Janga omonganmu.! aku tidak mau club ini hancur karna satu ucapan dari lady sepertimu.!"
"Maaf pak, maafkan aku.!"
"Sudah kalian pergi saja.!"
Di ruangan yang Gavano pesan di isi dengan aluna musik kesukaan Alleta, dan beberapa botol wisky di meja.
"Ada apa.? mengapa tiba-tiba ingin minum.?"
"Riko, sebenarnya, saat ini aku sedang berusaha mengingat kejadian beberapa tahun lalu.!"
"Tentang Luna.?"
"Bukan.!"
"Lantas.?"
"Ini semua ada hubungannya dengan putraku.!"
Gavano menceritakan semua yang Alleta ceritakan padanya sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi.
"Tapi bagaimana mungkin itu Felisa.!"
"Riko, enam tahun yang lalu, saat aku sedang mabuk, aku tidak sengaja tidur dengan seorang wanita, tapi aku tidak tahu siapa dia."
"Jika Felisa adalah ibu putramu, tentunya dia adalah wanita itu."
"Sebenarnya bukan itu masalahnya."
"Lalu apa.?"
"Aku hanya tidak habis fikir, bagaimana bisa dia hamil bahkan melahirkan tampa ia sadari, terlebih lagi semua ini ada hubungannya dengan Leo."
"Aku juga sedang mencari tahu, bagaimana itu bisa terjadi pada Felisa. aku sudah berusaha mencari informasi, tapi sepertinya semua informasi itu telah di lenyapkan dengan sengaja. Aku mendapatkan riwayat medisnya saja harus mengelurkan banyak biaya."
"Aku akan mengangti biaya itu."
"Si..alan kamu Vano, kamu anggap aku ini apa.?"
"Maaf, aku hanya bercanda. Bantu aku untuk menyelidikinya sekali lagi."
"Apa yang kamu tawarkan sebagai imbalan."
"Kamu mau apa lagi.? bukankah hal berharga sudah kamu dapatkan.?"
"hahaha... aku hanya bercanda."
"Si..alan, kamu membalasku."
Gavano dan Riko menghabiskn malam bersama di club malam xx itu, sambil menikmati beberapa botol wisky yang tersedia.
Di sebuah pulai di mana Alleta berada, Leo baru saja kembali dari kota S, dia segera ke kamar Alleta, karna tak kuasa menahan rasa rindunya.
Alleta sudah tertidur saat Leo kembali,
"Alleta, maafkan aku sudah berbohong, kamu tahu Alleta, aku sangat mencintaimu, seperti cintaku pada mendiang ibuku Laila, meskipun dia bukan ibu kandungku, tapi bagiku, dia adalah seorang malaikat Alleta, apapun akan kulakukan demi membalas budi baiknya padaku, termaksud menghancurkan keluarga Revandra yang telah membuat mendiang ibuku pergi dengan dendamnya."
"Ehmm...!" Keluh Alleta dalam tidurnya.!"
Leo kemudian memakaikan selimut pada Alleta, lalu keluar dari kamar itu. Tiba-tiba Alleta terbangun.
Bersambung...
******
__ADS_1
Author note : Yang bingung, nih aku kasih tahu, Felisa adalah wanita yang pertama kali tidur dengan Gavano, dan satu scane saat Felisa ngomong sendiri sama Alleta, Tapi Alleta tidak menanggapinya. Itu ada di chapter berapa ya. lupa aku,🤣🤣✌✌✌