
"Sial, justru aku yang harus memberi penjelasan." Kata Arkana setelah Alleta berlalu.
Arkana segaja melakukan hal itu untuk membuat Alleta mempermalukan dirinya sendiri. Tapi berdasarkan apa yang tengah terjadi, Arkana melihat, Alleta justru mendapat dukungan dari Aliya untuk sering-sering melakukan hubungan suami istri agar dapat memberi mereka cucu lagi.
Stelah acara perayaan selesai, Alleta dan Gavano kembali ke pulau, sementra Arkana meminta bawahannya untuk memesankan tiket segera ke kota B.
"Mau ke mana kau anak nakal.?" Tanya Revandra pada putranya itu.
"Arka ingin menemui kekasih Arka ayah.!"
"Apa kau serius tentang itu.?"
"Tentu saja."
"Ok. Jaga dirimu nak."
Esok hari, Arkana berangkat ke kota B untuk menemui Mira. Dia segera ke Club malam milik Xavier. Dia menemukan Mira di sana sedang melatih kemampuan biliarnya.
Tampa kata-kata Arkana memeluk Mira dari belakang. Sontak Mira terkejut, dia tidak menyangka haya dengan mengirim pesan mengancam, Arkana akan langsung mengunjunginya di kota B.
"Kau pria brengsek." Maki Mira.
"Maafkan aku, kau salah paham.!"
"Salah paham.? Apakah gambar yang di kirim Alleta itu salah paham.?"
"Mira dengarkan penjelasanku."
"Tidak, lepaskan aku dan jangan mengangguku."
Tak mau Mira bertambah marah Arkana melepaskannya. Mira berbalik dan melanjutkan aktifitasnya. Namun, satu hal yang tidak di ketahui Arkana adalah, bahwa Mira tersenyum. Dia sebenarnya tahu tangan siapa yang menggengam tangan Arkana di gamabar yang Alleta kirim.
Alleta adalah sahabat Mira, tentu saja dia tahu bahwa itu adalah tangan Alleta. Tidak mungkin dia tidak mengetahuinya 'Cih...' Umpat Mira dalam hati. Dia sengaja membuat Arkana seolah bersalah.
"Mira...!"
"Pergi, jangan mengangguku."
Arkana akhirnya pergi, tersirat rasa penyesalan dalam diri Mira ketika Arkana pergi. Sebenarnya dia begitu merindukan sosok Arkana, hanya saja di ingin bermain sedikit lebih lama, hitung-hitung sekalian menguji seberapa besar cinta Arkana padanya.
Sekitar setengah jam kemudian, Xavier menghampiri Mira dan memberitahu Mira agat tidak menyebabkan masalah di Club malam miliknya.
Xavier meminta Mira membereskan masalahnya dulu, baru bisa kembali bekerja. Tentu saja Mira bingung, seingatnya dia tidak menyebabkan masalah untuk Club malam milik Xavier itu.
Karna Xavier terus menegaskan, akhirnya Mira memberhentikan aktifitasnya. Dia meletakan stik penyodok bola biliar dan berlalu meninggalkan Xavier Setelah Mira berlalu, Xavier hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. ' Sungguh gadis yang beruntung.' Gumam Xavier.
__ADS_1
Saat Mira yang sedang bingung karna tak tahu masalah apa yang telah di sebabkan untuk Club malam itu melngkah hendak keluar. Tiba-tiba dia terpaku dan tak dapat bergerak. Dia berdiri tegak tepat di pintu masuk Club malam. Dia terperangah melihat apa yang terjadi di depan Club malam milik Xavier itu.
"Mira Maafkan aku." Kata Arkana berlutut.
99.000 Bunga mawar merah berserakan tepat di depan pintu masuk Club. Bunga mawar itu menjadi penghalang bagi para pengunjung Club. Mereka tidak bisa masuk. Terlebih Arkana sedang berlutut di antara bunga marawar itu.
"Mira..." Panggil Arkana saat Mira hnya dim membisi, dia bahkan sedikit menganga lantran begitu terkejut dengan apa yang tengah terjadi.
"Apa yang kau laukan.?" Tanya Mira melangkah menghampiri Arkana yang berlutut.
Arkana menyodorkan satu bunga mawar pada Mira.
"Mira, maafkan aku, 99.999 bunga mawar ini adalah permintaan maafku."
"Berhenti menyebabkan masalah."
"Jika kau ingin aku berhenti maka terimalah."
Arkana mendongak dan menyodorkan satu tangkai bunga mawar untuk Mira.
"Ini adalah bunga mawar yang ke100.000, ambilah, jika kau menerima maafku lettakan mawar ini di antara 99.999 mawar. Jika kau tidak menerimanya, maka patahkan saja."
Perasaan tak menentu menjelajar dan menyelimuti tubuh Arkana ketika Mira meraih mawar di tangannya, Arkana menunduk menanti jawaban Mira. Namun, Arkana begitu sedih ketika Mira tidak beranjak dari hadapannya untuk meletakkan mawar itu ke 99.000 mawar yang lainnya.
"Tentu saja, jadi bisa kau berhenti menyebabkan masalah.?"
"Baiklah." Kata Arkana pasrah. Di bangkit dari berlututnya dan berbalik ingin pergi tampa melihat Mira dan hendak meninggalkan Mira. Namun, langkahnya terhenti ketika Mira meneriakinya.
"Arkana Dylan Gramentha, kau sungguh pria brengsek."
Mendengar Mira meneriakinya, Arkan tidak perduli dengan makian itu. Dia melangkah satu langkah lagi.
"Arkana, aku mencintaimu." Ucap Mira berteriak.
Arkana berbalik dan melangkah ke arah Mira. Dia menatapnya penuh pertanyaan.
"Bukankah kau tidak memaafkanku.?"
"Di mana aku pernah mengatakannya.?"
"Lalu mengapa kau tidak meletakkan mawar yang ke 100.000.?"
"Siapa yang bilang.?"
"Kau tidak beranjak dari tempatmu."
__ADS_1
"Bukn berarti aku tidak menaruhnya di sana."
Rasa bahagia Arkana setelah tahu bahwa Mira ternyata hanya melemparkan mawar ke 100.000 di antara mawar yang lain. Arkana memeluk Mira erat.
"Jadi bisakah kalian membersihkan kekacauan yang kalain sebabkan di Clubku.?" Teriax Xavier.
"Hahahah... Maafkan aku Vier. Aku akan membersihkannya." Kata Mira tertawa.
Seminggu berlalu, Arkana kembali ke kota S untuk melakukan sesuatu, begitu pula Mira, dia kembali ke rumah kakeknya.
Di dalam kamar, Mira tersenyum mengingat apa yang Arkana lakukan untuk maaf darinya. Tiba-tiba Mira tersadar akan batu giok biru milik ayahnya. Dia memeriksa tempat penyimpanan. Nafas lega Mira ketika melihat giok biru itu masih berada di sana. Dia mengambil giok itu. Dia berencana untuk membicarakannya dengan kakeknya. Dia hanya akan menunggu waktu sebentar lagi.
Malam berikutnya setelah kembali dari Club malam milik Xavie, dan setelah bertukar kabar dengan Arkana, Mira teringat bahwa dia ingin membecirakannya dengan kakeknya tentang batu giok biru itu.
Saat Mira melewati terowongan kediaman lelurga Bantara, dia mendengar seseorang berjalan dari arah lain, Mira segera bersembunyi di balik yembok penghalang. 'Pasti ini ada kaitannya dengan kepergian ayah.' Gumam Mira.
"Kita harus bisa menahan Mira di kota B ini."
"Sekarang Mira memiliki batu giok biru itu, Jika dia keras kepala dan tidak akan memberikan giok itu, maka dia akan seperti ayahnya yang saat ini sekarat."
"Kita harus melakuknnya dengan cara yang sama."
Mendengar hal tersebut, Mira terkejut, terlebih rupanya ayahnya juga telah di suntikkan virus SH seperti dirinya.
Ketika Mira mengintip, dia lebih terkejut, ternyata orang yang yang sedang melakukan pembicaraan itu adalah orang kepercayaan kakeknya. 'Dia orang yang misterius, dia hanya menerima perintah dari kakekku.' Gumam Mira.
"Ada masalah apa pak.?" Tanya seseorang yang berbicara dengan orang kepercayaan kakek Mira."
"Tidak apa." Jawabnya setelah merasa ada yang mendengarkan pembicraannya. Namun, dia menepisnya.
'Jadi mereka yang melakukannya pada ayahku, apa yang harus aku lakukan Arka.' Gumam Mira. Dia terperosot ke lantai dan memeluk lututnya. Dia tidak percaya bahwa orang yang melakukan kejahatan pada ayahnya dan juga dirinya berkeliaran di sekitarnya.
Lantaran begitu sakit di hatinya, virus SH bereaksi. Mira mengalami kejang, dengan tenaga yang tersisa dia mengeluarkan botol obat penahan sakit dari sakunya. Namun, karna tangannya gemetaran obat itu terjatuh dan mengelinding menjauh darinya.
"Oh tidak, pilku... Aku bisa mendengar suara gelindingannya tapi aku tidak bisa melihat botolnya." Kata Mira.
Akhirnya dia tahu siapa yang melakukan semua ini padanya dan pada ayahnya. Dia belum membalas dendam, dia tidak bisa mati sekarang.
Karna tidak sempat dengan obatnya, Mira terjatuh berbaring, kesadarannya sudah hampir menghilang. Namun, di masih bisa mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Mira...Mira...!" Panggil orang itu.
Bersambung...
******
__ADS_1