KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Merasa tidak berharga


__ADS_3

Ketika lelaki itu berbalik, ia mendapati istri dan adiknya masih menghafal.


"Kemakmuran, demokrasi, peradaban, keharmonisan..." Alleta dan Arkana serentak menghafal dengan patuh seperti tidak terjadi apapun.


Melihat tak terjadi apa-apa pada istri dan adiknya serta mereka tetap pada hafalannya, Gavano keluar dari ruangan itu, setelah Riko menghampirinya dan mengajaknya untuk berbicara tentang pekerjaan.


Namun apa yang tidak Gavano ketahui bahwa, istri dan adiknya kembali saling menjambak sambil menghafal, hingga hafalan sampai lima puluh kali, merasa lelah, meraka berdua menghentikan pertikaiannya dan merosot ke lantai.


"Arkana ini semua karna kamu."


"Kamu juga salah, jangan berpikir saya tidak tahu apa yang kamu lakukan semalam di Club malam."


"Jadi tadi kamu membohongi kakakmu, kalau begitu aku akan memberi tahunya. Pam...!" Mulut Alleta di bungkam dengan tangan Arkana.


"Berhenti, awas saja kalau kamu berani."


"Puih.! apa saja yang telah kamu pengang hari ini, mengapa tanganmu terasa asin.?"


"tidak ada, tadi aku hanya menggaruk bokongku."


"Kurang ajar sekali kamu, biar bagaimanapun aku tetap adalah kakak iparmu." teriak Alleta sambil menyeka bibirnya."


"Jangan berisik, nanti kakak mendengar dan kembali menghukum kita, dan mungkin saja akan menambahnya."


"Tapi kau..."


"Aku hanya bercanda. hahaha."


Puas menertawakan Alleta, Arkana berdiri dan melangkah menuju meja makan, karna sejak pagi ia belum makan apapun sama sekali, ditambah lagi setelah sampai di rumah, alih-alih mendapatkan makanan, dirinya justru mendapat hukuman dari Gavano yang sangat ia takuti sejak dulu, Gavano memang menyayanginya, tapi juga sangat tegas dalam mendidik Arkana. begitu sayangnya pada Arkana, lelaki itu memperbolehkan Arkana berkecimpung di dunia internaimen


Ya !, saat ini Arkana memang adalah seorang aktor terkenal, sambil menunggu comebacknya, ia berlibur di luar negri.


"Apa kamu tidak akan makan.?" Tanya Arkana pada Alleta yang masih duduk di lantai.


Karna sangat lapar, Alleta bergegas ke meja makan. Mereka berdua duduk dengan tenang sambil menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh pelayan tadi. Gadis itu hendak mengambil hidangan udang, Arkana juga ingin, maka serentak mereka menusuk udang yang sama mengenakan garpu.


"Hei, ini punyaku." kata Alleta


"Tidak, aku terlebih dahulu menginginkanya."


"Aku yang pertama menusuknya dengan garpu, ambilah yang lain." Bentah Alleta yang tak mau kalah.


"Lepaskan ini punyaku."

__ADS_1


Merka berdua saling berebut, hingga udang yang di perebutkan terpental ke suatu tempat, dan mengenai jas Gavano. Seketika suasana di ruangan itu menjadi hening, hanya gerutukan gigi dari Gavano yang terdengar lantaran sangat emosi dengan kelakuan adik dan istinya. Lelaki itu berjalan menghampiri mereka yang hanya berjarak beberapa meter saja


"Apa kalian belum puas dengan hukuman yang kuberikan.?" Tanya lelaki itu dengan tatapan seperti seekor macan yang seolah-olah akan menerkam kedua mangsa di hadapannya.


"A... ak... aku, maafkan aku paman.!"


"Paman, paman, aku bukan pamanmu Alleta, berhenti memanggilku paman.!"


Lelaki itu menunduk dan meletakkan satu tangannya di meja makan sedang tangan yang lain memegang dan mengangkat dagu gadis yang sudah gemetran itu, sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja.


"Dengar Alleta, ini adalah kali terakhir aku memperingatkanmu, jangan memanggilku paman, aku bukan pamanmu, aku adalah suamimu, apa kau paham.?"


Gadis itu hanya mengangguk menandakan dirinya mengerti dengan apa yang di katakan oleh Gavano,


"Dan kau Arkana, jangan membuat kesabaranku habis, kalau tidak, aku bena-benar akan mengirimmu kembali ke luar negri, dan menjalani sisa hidupmu di kursi roda, apa kau mengerti.?"


"Mengerti kakak.!"


******


Saminggu kemudian, sesuai dengan apa yang di katakan oleh Gavano tentang pesta saat lelaki itu menerima panggilan telfon dari direktur Rendra. Di kamar Alleta sedang bersiap dan berdandan di bantu dengan pelayan. Sebagai istri dari presedir Gramentha, dirinya harus ikut menghadiri pesta dengan Gavano.


'Sebentar menghapal nilai-nilai, sebentar ingin menghadiri pesta, apa sebenarnya yang ingin di lakukan pria tua itu padaku, aku tidak bisa pergi ke Club malam lagi, setelah itu, aku harus mencari uang kemana.?' Tunggu, Club, pesta.' Sambil menepuk jidat, Alleta mengingat kembali perkataan Gavano seminggu yang lalu. 'Aku akan mencari sebuah pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhanmu'.


"Apa mungkin dia ingin aku menemani orang minum di pesta itu,.?


Alleta tersentak kaget, wajah cantiknya berubah menjadi murung setelah melihat gaun yang di kirim oleh Gavano untuk dirinya kenakan. 'Gaun sependek ini.? Aku pergi ke Club untuk menghasilkan uang dan membayar hutang, Gavano,! apa kamu benar-benar mengira aku pergi menjual diri.?' Ucap Alleta dalam hati sedih, gadis itu mau tidak mau harus mengenakn gaun yang yang sangat pendek, dan bagian atasnya terbuka, sehingga menampakkan belahan dada yang sangat menggoda milik Alleta.


Gavano sudah sejak tadi menunggu Alleta di sebuah pesta yang diisi oleh para tamu mengenakan topeng.


"Vano, itrimu sudah datang," Panggil Riko yang datang bersamaan dengan Alleta.


Gavano menoleh, dan terpesona dengan Alleta, gadis itu sangat cocok dengan gaun yang dirinya kirimkan. Meskipun gaun berwarna putih polos dengan tali pinggang hitam dan sekumpulan hiasan bunga mawar merah yang berkumpul pada satu titik di tali pinggang itu sedikit pendek dan terbuka.


"Malam ini adalah pesta bertopeng, kamu perlu memakai ini.!" sambil memberikan sebuah topeng yang sepasang dengan yang Gavano punya.


"Apa tuan tidak ingin mengatakan sesuatu.? aku masuk tampa tau apapun, Bagaimana kalau aku mempermalukanmu lagi.?"


"Apa maksudmu.?"


"Maksudku adalah, sekalipun kau ingin menjualku, aku juga harus tahu berapa nilaiku kan.?" Tanya Alleta yang menganggap Gavano akan menjualnya saat mengingat kata-kata Gavano tentang membantunya mencari pekerjaan.


Gavano berdelik dan memicingkan matanya, ia tak pernah mengira bahwa gadis yang telah ia nikahi menganggap dirinya akan di jual oleh Gavano.

__ADS_1


"Nona Alleta, anda sudah salah paham,Vano membawa anda kemari, sebenarnya karna hanya..." Ucapan Riko terhenti kerika Gavano memberi isyarat padanya.


"Tidak perlu menjelaskan."


Gavano dengan perwatakan yang dingin mendekati Alleta dan membantu gadis itu mengenakan topengnya.


"Alleta, membicarakan harga denganku... kau masih belum memiliki hak itu." Sambil menarik pinggul Alleta dan berjalan meninggalkan Riko.


"Gavano kau sungguh terlalu, bukankah kau membawa istrimu agar bisa menghentikan direktur Rendra untuk memberikanmu wanita.! kenpa kau tidak mengatakanya terus terang, aku berfikir kau adalah pemeran utama pria yang kelak takutnya akan berjuang keras mengejar istri.!" Ucap Riko setelah Gavano meninggalkannya.


Gavano dan Alleta berjalan menghampiri direktur Rendra yang juga menghampirinya,


"Bagaimana dengan pestanya Direktur Rendra.?"


"Semuanya biasa saja, kecuali gadis yang ada di belakang presedir Gavano... dia sangat berbeda dengan semua orang."


Pria gemuk itu menatap Alleta yang sejak tadi hanya berada di belakang Gavano, dia menatap Alleta penuh nafsu


"Benarkah.?" tanya Gavano.


"Benar, apa presedir Gavano bersedia membiarkan dia menemaniku minum anggur.? mungkin saja masalah tanah akan ku berikan padamu dengan sia-sia.!"


Mendengar percakapan Gavano dan pria gemuk itu, Alleta merasa sangat jijik. 'Pria gemuk ini menjijikan sekali, tidak mungkin Gavano benar-benar akan menukarku dengan sebidang tanah.?' Tanya Alleta dalam hati.


"Bagus jika direktur Rendra menyukainya, bagaimana mungkin aku tidak bersedia." Jawab Gavano dengan datar.


"Wah..." Dengan tatapan yang penuh nafau dan sangat menjijikan bagi Alleta.


"Tapi dia hanya khusus menemani orang minum anggur saja, tadi gadis ini, masih bertanya padaku tentang harga di depan pintu sebelum masuk, tentu saja harga yang dia minta tidak murah..."


Alleta sangat terkejut, bagaimana mungkin lelaki yang sudah ia nikahi justru membiarkan pria lain membawanya dan menemaninya bermain. Gadis itu menunduk hampir saja meneteskan air matanya. Namun dirinya berusaha untuk tetap tegar.


"Apakah direktur Rendra bisa membayarnya.?"


"Hahaha...! uang bukan masalah presedir Gavano, berapa banyak yang dia inginkan juga boleh..."


Bersambung...


******


Sedikit info : Dari episode 1 sampe 8, adalah kaleborasi antara saya dan adik saya yang adalah seorang bidan,


dan episode mendatang hanya saya saja. adikku sudah tidak bisa berkaleborasi karna sibuk, banyak yang mau lahiran,

__ADS_1


Sekian dan terimah kasih.


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2