
"Saya Daniel Mintle."
Julia mengingat-ingat kembali siapa saja yang dia temu.i saat pesta beberapa bulan lalu, hingga akhirnya dia menydari bahwa yang ada di hadapannya adalah saudara dari istri Revandra yang saat ini sedang melakukan kerja sama dengan perusahaan ayahnya.
Setelah menyapa, julia berbalik dan berlari segera meninggalkan tempat itu. Membuat Daniel bingung, bahkan berfikir bahwa Julia takut padanya.
Julia kembali ke rumahnya, dan duduk di sofa ruang tamu setelah sampai di rumah. Meminta salah satu pelayan untuk membuakan minum.
"Kakak...!" Sapa Helen.
"Ada apa Helen.?"
"Dari mana.? kenapa pakain kakak seperti ini.?"
Julia baru sadar ternyata pakaiannya sangat kotor, itu juga karna ulahnya sendiri. Menyadari hal itu, Julia bangkit dari duduknya dan hendak ke kamarnya untuk memberasihkan diri.
Namun cepat-cepat Helen menghentikannya. Terpaksa Julia tidak jadi ke kamar.
"Selamat sore Julia.!" Sapa Gio baru saja datang.
Ternyata Helen sengaja menghentikan Julia untuk ke kamar, berharap Gio melihat tampilan Julia yang kotor itu. Senyum yang mengandung arti kebusukan terlintas di bibir Helen. Puas sekali rasanya dia dapat membuat Julia malu.
Alih-alih malu, Julia justru tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan menyapa Gio dengan senang hati.
"Sore Gio.!"
Gio yang memang sudah tahu krakter Julia tidak mempermasalahkan jika saat ini Julia dalam keadaan kotor. Karna bukan cuma kali ini Julia berpakaian seperti itu di hdapan Gio.
Julia selalu begitu jika ada yang menganggunya dan melakukan perkelahian hingga pakaiannya kotor, bahkan sampai robek.
Hal itu membuat Helen jengkel, nitnya untuk membuat Gio ilfil pada Julia tidak berhasil. Helen meninggalkan Julia dan Gio tampa sepata kata, Di bahkan memasang wajah masam dan cemberut.
Gio yang melihat itu merasa ada yang berbeda pada Helen dan bertanya pada Julia.
"Kenapa dia.?"
"Entahlah, akhir-akhir ini dia sering begitu." Jawab Julia.
"Tapi Juli, ada sesuatu yang membuatku sangat penasaran."
"Apa itu.?
"Kenapa pakaainmu seperti ini.?"
Julia menceritakan apa yang terjadi pada Gio tentang Axcel yang hampir menabraknya, dan dia yang merusak mobil Axcel.
Julia tidak membahas tentang pertanggung jawaban yang di mintanya pada Axcel.
Tak mau memikirkan itu, Gio mengalihkan pembicaraan, dan bertanya tentang audisi girl band yang tidak jadi Julia ikuti.
Julia menjelaskannya, tentunya dengan kebohongannya bahwa dia sudah tidak ingin mengikuti audisi itu dan lebih memilih untuk fokus belajar di universitas
Kebetulan saat ini nilainya memang menurun, karna terlalu sibuk dengan mimpinya, Ayahnya bahkan sudah
__ADS_1
menegurnya, tapi Julia tetap pada keputusannya
'Gio, seandainya kamu tahu, apa yang terjadi sebenarnya. Masihkah kamu mau menemuiku.?'
"Apa yang kamu pikirkan Julia.?"
"Ah... tidak, tidak ada.!"
"Jika begitu gantilah pakaianmu, aku mu mengajakmu dinner di luar."
Julia segera merapikan diri, berdandan cantik, membuat Gio terpesona.
Baru saja Julia dan Gio mau keluat dari rumah, lagi-lagi Helen berteriak memanggil mereka.
"Aku ingin ikut." Pintannya.
Hellen tadi mendengar Gio mengajak Julia dinner di luar, dan segera memgganti pakaiannya.
"Kakak Juli, boleh Helen ikut.?"
"Boleh...!" Jawab Julia.
"Tapi Juli... aku...!"
"Tidak apa-apa, sudah lama kita tidak dinner di luar bersama."
Mau tak mau Gio akhirnya setuju dengan Helen ikut bersama mereka. Berbeda dengan Julia yang tampak senang dengan ikutnya Helen, Gio justru sedikit kesal.
Namun apa boleh buat, Helen mengacaukan semuanya. semua persiapan yang telah dia lakukan.
***
Sea food Restauran.
Julia Helen dan Gio langsung duduk di tempat yang sebelumya Gio pesan. hanya ada dua kursi. Dan Julia meminta pelayan untuk mengambilkan satu kursi lagi.
Makan malam berjalan lancar, hingga seorang pelayan tiba-tiba memberi bunga pada Helen, dan sebuah kue tart dengan berbagai macam buah di atsanya.
Tentu saja Helen terkejut, siapa yang memberikannya. Matanya tertuju pada Gio yang menatapnya.
Tampa menunggu waktu lama, Helen mengambil kue di piring lalu menyantapnya.
"Apa ini.?" Kata Helen seraya mengelurkan seautu dari mulutnya.
Rupanya itu adalah sebuah cincin berlian dari seorang pria untuk gadisnya. Cara itu banyak di gunakan dalam melamar sang wanita.
Helen begitu senang dan menatap Gio. Lelaki itu hendak menjelaskan bahwa sebenarnya, semua itu untuk Julia, dan pelayan reatauran salah mengenali orang,
Toh Gio memang tidak menyebutkan ciri-ciri wanina yang akan dinner bersamanya kepada pelayan saat dia memesan tempat dan meminta pelayan untuk mmasukkan cincin itu ke dalam kue.
"Apa artinya kakak Gio melamarku.?" Tanya Helen."
"Itu,,, Helen maaf sebebarnya.!"
__ADS_1
Perktaan Gio dipotong oleh Helen, dia tidak memberi kesempatan bagi Gio menjelaskannya.
"Aku mau kakak Gio, dan aku akan memberitahu ayah dan ibu sekarang." Ucapnya seraya mengeluarkan ponsel dan menghubungi ayah dan ibunya.
Saat itu Gio berusaha untuk menjelasknnya, namun Helen juga selalu memotongnya. Sementra Julia saat itu merasa sangat sakit di hatinya.
Dia sudah lama menyukai Gio, namun dengan apa yang telah terjadi padanya, membuatnya untuk tidak mengatakn perasaannya itu, dia merasa bahwa dirinya yang sudah tidak bersih lagi, tidak pantas untuk Gio.
Sampai tiba-tiba, ponsel Gio menerima sebuah pesan. Alangkah terkejutnya Gio setelah membuka pesn itu. Persaannya tidak karuan, emosi meliputi dirinya.
"Julia, kamu murahan.!"
Gio dengn amarah yang membara meninggalkan Julia yang tampak kebingungan, Helen menyusul Gio. Tapi sebelum itu Helen menyampaikan sesuatu pada Julia.
Seautu yang membuat Gio marah, itu adalah rekaman CCTV saat Julia masuk ke kamar hotel bersama Axcel, dan keluar saat pagi hari.
Sungguh mati Julia terkejut dengan apa yang dikatakan Helen, Dia takut kalau-kalau, Gio ataupun Helen akan memberi tahu hal itu pada ayah dan ibunya sebelum Axcel setuju untuk menikahinya.
Sementara itu di perjalanan, Gio mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata. Dan berhenti saat Helen berteriak ketakutan. Dia menepikan mobilnya.
"Maafkan aku Helen."
"Tak apa-apa."
"Aku sungguh tidak menyangka bahwa Julia seperti itu."
"Aku juga kakak.!"
Gio merebahkan kepalanya di stir mobil, Helen meletakkan tangannua di bahu Gio,
"Lalu kakak Gio, bagaimana, apa kakak mau menikah denganku.?"
Gio yang frustasi itu memperbaiki duduknya dan menghadap ke arah Helen.
Menatap Helen sesaat dan meletakan kedua tangannya di pipi Helen.
"Aku akan menikahimu, mari kita pulang dan berbica pada ayah dan ibumu."
"Sungguh ?"
"Sungguh.!"
Gio kemudin menjatuhkan ciumannya di bibir Helen, kefrustaiannya membuatnya hilang akal sampai mencium Helen.
Kebetulan saat itu, di tempat di man Gio menepikan mobilnya sangat sepi. Di liputi nafsu, keduanya akhirnya melakukannya. Dan pulang setelah selesai.
'Akhirnya aku mendapatkanmu kakak Gio.' Kata gadis yang masih enam belas tahun itu.
Sebenarnya semua itu sudah Helen rencanakan, termaksud tentang vidio yang masuk ke ponsel Gio.
Bersambung...
******
__ADS_1