KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Keliaran Axcel


__ADS_3

Beberapa saat perjalanan, Axcel akhirnya tiba di rumah, dia segera turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah menemui Julia di susul Anya.


"Sayang...!" panggil Julia.


"Julia, aku sangat membutuhkanmu."


Melihat ayahnya menarik tangan ibunya, Reygan bingun, ada apa dengan mereka, terlebih wajah Julia merona.


"Reygan, ibu dan ayah ingin bermain sebentar, kamu ikut bibi Anya ya.!"


Axcel membopong Julia di bahunya, sementara Reygan masih bingun tentang permainan apa yang akan dimainkan ayah dan ibunya. Anya meraih tangan Reygan, tapi Reygan berhenti berjalan.


"Bibi Anya, Reygan ingin ikut bermain game bersama ayah dan ibu."


Anya menepuk jidatnya, dia hanya bisa membujuk Reygan untuk ikut bersamnya malam itu. Awalnya Reygan bersih keras tetap ingin ikut bermain dengan ayah dan ibunya. Namun, karna iming-iming es krim dari Anya, akhirnya Reygan mau mengikuti Anya.


Sementara itu di kamar Axcel seperti kesetanan, dia mulai menarik bajunya tampa melepas kancing terlebih dahulu, alhasil kemejanya robek dan menampakan dada bidangnya dan beberapa otot yang terpahat rapi.


Julia berusaha menelan ludahnya yang terasa hambar. Dia terkejut, baru kali ini Axcel begitu.


"Aku sudah tidak bisa menahanya." Kata Axcel mulai merangkak dan menindih Julia.


"Sayang... kamu kenapa.?"


"Julia, tolong...!"


Tidak menunggu waktu lama lagi, Axcel juga merobek pakaian-pakaian yang di pakai Julia, mulai mencembu Julia,


"Sayang pelan-pelan."


Namun, peringatan Julia tidak berlaku bagi Axcel, dia bahkan menekuk kedua lutut Julia dan masuk di antara kedua se..langkangan Julia.


Tampa kata-kata, Axcel membenamkan miliknya ke dalam diri Julia.


"Aaaa.... Sakit."


"Maafkan aku."


Axcel kemudin memberikan he..ntakan-hentakan ni..kmat di bawah sana, tampa perduli dengan apa yang di rasakan Julia. Sambil memopa Axcel juga bermain di bagian Julia yang lain. Semua area sensitif Julia telah Axcel Jelajahi.


"Sanyang... kumuhon pelan-pelan." Pinta Julia.


Puas dengan posisi yang biasa, Axcel memutar tubuh Julia dan kembali membenamkan miliknya,


"Aghrr..." Era..ngan keluar dari kerongkongan Axcel. Sementara Julia hanya bisa mengigit bibirnya. Dia sudah tidak dapat membedakan rasa sakit dan rasa nikmat lantaran Axcel melakukannya sangat berbeda.


Berurai keringat, Axcel memberikan hentakan dan dorongan di bawah sana. Liar, Brutal, kasar. Itulah kata yang cocok untuk Axcel malam itu. Entah obat apa yang di berikan wanita di Club tadi hingga Axcel menggila seperti itu.


Julia hanya bisa pasrah, meski sangat sulit. Axcel melakukannya hanya sekali namun dalam waktu yang cukup lama, dia memutar tubuh Julia ke sana ke mari, merubah posisi ala dogy style, membiarkan Julia di atas.


Hampir semua posisi dan style Axcel lakukan, hingga dia mencapai pelepasannya. Kemudin tertidur setelahnya.


Esok hari, pagi-pagi sekali, Anya membawa Reygan kembali di temani Alvaro. Betapa terkejutnya Anya melihat beberapa rungan telah berantakan. Dia mencari-cari di mana Axcel dan Julia.


Anya segera ke kamar sesaat setelah mendengar suara Axcel seperti sedang memohon. Dia tercengang melihat Julia tidak dapat turun dari pembaringan dan membelakangi Axcel yang berlutut di lantai memohon pengampunan.


Rupanya pagi-pagi sekali, afek obatnya belum hilang, Axcel lagi-lagi menerkam Julia, membuat Julia marah dan hilang kesabaran, pada akhirnya Julia mengamuk dan berhenti setelah rasa sakit di selangkangannya terasa.

__ADS_1


"Julia... Maafkan aku, aku janji tidak akan mengulanginya." Kata Axcel yang masih berlutut dan memohon pengampunan atas tindakannya semalam dan pagi tadi.


Julia tidak berbalik sedikitpun, dia tetap berbaring membelakangi Axcel, bukannya tidak mau, hanya saja jika di bergerak, akan terasa sakit dan perih di bagian intinya.


Julia hanya meminta Anya memanggilkannya seorang dokter wanita untuk memeriksanya.


Beberapa waktu kemudian, dokter wanita sudah datang dan memeriksa Julia. Dokter itu hanya tertawa setelah memeriksa Julia.


"Luka robeknya sedikit berlebihan." Kata Dokter itu


Julia tersipu, begitu pula Axcel.


"Lain kali harus melakukannya jangan seperti ini, dan saya harap ini tidak terjadi lagi." Kata dokter itu lagi seraya memberikan salep pada Julia.


"Lalu dokter, kapan kami baru bisa melakukannya lagi.?" Tanya Axcel.


"Anda harus menunggu sampai satu bulan."


"Apa...?"


"Jika anda tetap melakukannya, saya akan melapoorkan ke pengadilan atas kasus KDRT." Bentak dokter wanita itu


Axcel begitu frustasi, satu bulan terlalu lama untuknya, Anya dan Julia juga Dokter wanita itu menertawakan Axcel.


***


Revandra menemui Axcel di ruangannya dan memberikan sesuatu pada Axcel.


Sebuah berkas tentang penyuntikan dana dari Gramentha Grup serta berkas-berkas hasil penyelidikan tentang paman Axcel.


"Kapan kamu akan bertindak.?" Tanya Revandra.


"Terserah kamu saja."


Revandra sudah ingin beranjak, tapi niatnya terhenti saat melihat wajah Axcel yang tidak seperti biasanya, dia lalu bertanya ada apa.


"Hei mengapa kamu murung seperti itu."


Axcel menghela nafas, lalu menyelut rokoknya, di susul Revandra.


"Ibunya Reygan marah padaku.!"


"Hal apa.?"


Axcel berbisik ke telinga Revandra, Revandra tertawa mendengar apa yang dibisikkan Axcel padanya.


"Berhenti tertawa, lalu bagaimana dengan Aliya."


Revandra hanya diam saja.


"Jangan bilang, dia belum memaafkanmu."


"Siapa bilang.?"


"Dari wajahmu."


"Itu bukan urusanmu, Aku pergi."

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Anya sedang berada di rumah Axcel menemani Julia, Dia terlihat sangat risau.


"Apa yang kamu risaukan Anya.?"


"Nona Julia, hari ini kekasihku ulang tahun, aku tidak tahu hadiah apa yang harus ku berikan padanya."


Julia sejenak berfikir dan mengingat saat hari ulang tahunya. Saat itu Axcel mengambil inisiatif untuk melakukannya.


"Bagaimana jika beri saja dirimu. Itu adalah hal yang paling seorang laki-laki inginkan dari kekasihnya."


Purfff... Anya menyemburkan kopinya.


"Bibi pelan-pelan."


"Maaf Reygan."


Anya kemudian bangkit dari duduknya lalu pamit pada Julia.


Seperti usulan Julia, Anya membulatkan tekadnya untuk menjadikan dirinya sebagai hadiah ulang tahun untuk Alvaro. Setelah memeilih gaun yang sedikit terbuka di bagian dada, Anya segera menuju ke bar tempat dia dan Alvaro berjanji untuk bertemu.


Dua jam Anya menunggu, tapi Alvaro belum juga tiba, akhirnya Anya memutuskan untuk minum, yang awalnya hanya segelas wine, berubah menjadi sebotol, dari sebotol menjadi lima botol.


Alhasil, Anya sudah hilang kesadarannya, dia sudah mabuk.


Lihat itu siapa yang datang. Tampan sekali.


Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut gadis-gadis yang melihat Daniel baru masuk di bar itu,


Anya yang sudah setengah sadar, melihatnya dan berlari kepelukan Daniel.


"Kenapa lama sekali baru datang.?" Tanya Anya.


Daniel yang memang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Alvaro terkejut. 'Bukankah dia adalah sekertaris Axcel.' Pikir Daniel lalu tersenyum iblis.


Daniel kemudian meminta sekertarisnya untuk membatalkan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Terlebih saat itu Anya sudah berada di pelukannya, bahkan berani membuka dua kancing kemeja Daniel.


"Di sini tidak baik, mari kita ke kamar."


Daniel kemudian membawa Anya ke sebuah kamar yang ada di bar itu, yang memang disediakan untuk para tamu yang ingin menginap di bar itu.


Daniel kemudian melemparkan Anya ke pembaringan lalu merangkak ke atas tubuh Anya.


"Kamu sangat cantik saat tidak menggunakan pakaian kantor."


Danile kemudian melepaskan pakaian Anya dan kemudian melepaskan pakaiannya sendiri.


"Aku mencintaimu, sunggu sangat mencintaimu." Kata Anya.


Daniel mendekatkan wajahnya di telinga Anya dan berbisik menggoda


"Apa kamu menginginkannya."


Anya mengangguk, Daniel tampa pikir panjang mulai menjelajah di setiap inci tubuh Anya dan meninggalkan beberapa bekas di sana.


"Ugh..." Le..guh Anya saat Daniel mengigit kecil ujung benda lunak miliknya.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2