
Saat Grace duduk bersamaan dengan selesainya Gavano dalam panggilan telfonnya, mereka kembali meneruskan aktivitas makannya.
Hingga beberapa saat kemudian, tiba-tiba wajah Geace berubah seperti ia merasakan sesuatu, sesuatu yang akan keluar dari bawah sana, Arkana dan Alleta yang melihat gelagat Grace tersenyum kecil, membuat Gavano melirik mereka.
Grace akhirnya tidak kuasa untuk menahannya, dan akhirnya mengeluarkan sesuatu aroma yang tidak sedap dari bawah sana.
"Alleta, kakak, apa kalian tidak merasa sedang mencium bau busuk.?"
"Aku juga menciumnya Arkana.!" Ucap Alleta sambil menutup hidung, Gavano juga sebenarnya mencium aroma itu, namun dia tetap tenang.!"
Grace malu, namun dia berusaha seolah tidak terjadi apa-apa, padahal saat ini ia berusaha untuk menahannaya. Namun lagi-lagi ia tak mampu dan akhirnya mengeluarkan aroma itu sambil memegangi perutnya yang seperti di aduk dari dalam dan memaksa sesuatu untuk keluar.
"Bibi kamu kenapa.?" Tanya Alleta
"Sepertinya aku membutuhkan toilet" Jawab Grace malu-malu."
"Ya pergilah, karna jika kamu terus di sini, akan menghilangkan selera makan kami.!" Sambung Arkan.
Begitu Grace beranjak dengan memegang perutnya, Arkana segera mengirim beberapa pesan pada pelayan untuk memgunci semua toilet yang ada di rumah itu, kecuali toilet yang ada di belakang dan itu jaraknya sungguh sangat jauh,bisa membutuhkan waktu sekitar 20 baru bisa sampai ke belakang.
Ada juga toilet yang lain tapi itu berada di kamar masing-masing penghuni rumah, dan tidak memungkinkan untuk Grace masuk ke sana. Sementara kamar uang di huni Grace tidak ada toiletnya.
Ya.! beberapa menit sebelumnya, Alleta menaruh obat pencahar pada piring Grace, dan mencampurnya dengan makanan yang ada di piring itu.
"Apa yang kalian tertawakan.?"
Gavano bertanya pada adik dan istrinya yang sedang tertawa kecil, menandakan apa yang mereka lakukan berhasil.
"Ah... anu, tidak ada kakak.!"
"Lanjutkan makan kalian."
"Baik.!" Jawab Arkana bersamaan dengan Alleta.
Semenatra itu Grace yang berlari ke toilet buru-buru ingin masuk namun toilet terkinci, rupanya para pelyan sudah melaksanakn perintah Arkana dan menjauh dari toilet setelah menguncinya.
"Sial, terkunci."
Grace kemudian berlari dari toilet yang satu ke toilet yang lainnya sambil memegangi perut dan bokongnya, tapi lagi-lagi toiletnya terkunci, sampai pada saat ia bertemu dengan salah satu pelayan.
"Kenpa semua toilet ini di kunci.?"
"Maaf nona Grace, sepertinya toiletnya sedang rusak.!"
"Sial, lalu di mana aku bisa menemukan toilet yang tidak rusak.?"
"Ada di belakang, dekat kebun, anda bisa ke sana.! Dan maaf saya masih banyak yang harus saya lakukan.!" Ucap pelayan itu berlalu meninggalkan Grace.
Mau tak mau akhirnya Grace berlri ke belakang, baru saja ia hendak masuk, sesutu yang ia tahan sejak tadi keburu keluar, Sengguh menjijikan.
Dalam keadaan seperti itu Grace masuk ke toilet itu untuk membersihkan diri. namun itu terjadi tidak hanya sekali melainkan berulang kali membut Grace lelah dan memilih berdiam diri di toilet itu hingga perutnya benar-benar sudah dalam keadaan baik.
"Kurang ajar, mereka pasti mengerjaiku. Sial.!." Ucapnya sambil meremas tissu toilet.
***
Sebulan berlalu, Arkana dan Alleta sudah selesai mempelajari tentang proyek yang di berikan Gavano, hanya tinggal melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Sementara Grace, selama tinggal di rumah itu, Arkana dan Alleta sering kali mengerjainya, terkadang menaruh kecoa di minumannya, mematikan saklar lampu yang mengalir di kamarnya, bahkan mengunci Grace di toilet. Membuat Grace benar-benar tidak tahan.
Namun demi mencapai tujuannya, ia memilih bertahan dan berjanji akan membalas perbuatan Alleta dan Arkana.
Malam hari setelah makan malam, Alleta berdiri di depancermin sambil memegangi perutnya yang masih rata. dan tampa sadar sebuah tangan hangat sudah melingakar di perut itu.
"Apa yang kamu fikirkan.?" Tanya Gavano menjatuhkan wajahnya di bahu Alleta sambil memeluknya dari belakang.
"My...!"
__ADS_1
"Emm...!"
"Kenapa ini masih rata.?"
"Hahahaha... tentu saja, itu baru tiga bulan lebih.!"
"Jadi kapan akan kelihatan.?"
"Mungkin sekitar lima atau enam bulan.!"
"Masih begitu lama.!"
"Nanti kamu juga akan mengeluh.!"
"My...! Aku tidak ingin wanita itu tinggal di rumah kita, apa lagi Devan sekarang sedang di asrama kanak-kanak.!"
"Sabar ya.! saat umur Devan sudah tujuh tahun, kita akan memiliki hak asuhnya !"
"Masih begitu lama.!"
"Bersabarlah, kamu tidak perlu mencemaskan hal itu, sebaiknya pikirkan bagaimana cara menyelesaikan proyek yang kamu kerjakan bersama Arka.!"
"Oh... tentang itu, aku hanya membantunya mendesainnya. Dan tidak ikut campur dengan pertemuan dengan rekan bisnisnya."
"Jadi sudah sampai mana kalian mengerjakannya.? dan aku harap kamu tidak terlalu capek karna hal itu."
"Sedikit lagi, setelah selesai, aku janji akan fokus merawat kandunganku."
"Ok, jadi apa kita bisa tidur sekarang nyonya muda Gramentha.!"
"Seperti keinginanmu tuan muda Gramentha.!"
***
Esok hari di sebuah cafe, Arkana dan rekan bisnisnya bertemu untuk membahas masalah pembangunan elite di wilayah xx. Dan seperti biasa putra rekan bisnis itu juga ikut dan membawa gadia cantik di sampingnya.
Berbeda dengan sekarang, Arkana mengenakan setelan jas yang modis tidak seperti setelan jas pada umumnya, maklum saja, ia adalah seorang aktor, jadi pakaiannya berbeda dengan para pengusaha lainnya. Tentu saja itu membuatnya semakin tampan dan berkharisma.
"Mira.!"
"Tuan muda kedua Gramentha.!" Jawabnya sedikit terkejut.
"Oh rupanya kalian saling mengenal." Tanya Fandi putra rekan bisnisnya.
"Bukan hanya kenal, tapi gadis di sampingmu adalah wanitaku.!"
Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan Arkana, bagaimana mingkin Mira adalah wanita dari Arkana, jika saja itu benar saat ini pasti Mira tidak akan kekurangan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
"Ah... maaf tuan muda kedua Gramentha, sepertinya anda salah dengan apa yang ada katakan.!" Sergah Mira tegas.
"Apa maksudnya ini.?" Tanya Fandi.
"Tuan Fandi, kami hanya satu universitas saja dan tak ada hubungan apa-apa."
"Sungguh.?"
"Ya.! tapi sepertinya saya tidak enak badan apa saya boleh pulang lebih awal.?"
"Baik, aku akan mengantarmu.!"
Sebentar setelah Fandi dan Mira berlalu, Arkana yang sejak tadi menahan emosinya, menatap rekan bisnisnya
"Apa maksud dari tatapn itu direktur Arkana.?"
"Apa kamu sangat menginginkan kerja sama ini.?"
"Ya.! seperti dugaanmu, aku menghabiskan banyak usaha untuk kerja sama ini.!"
__ADS_1
"Jika begitu, apa kamu akan menerima syarat dariku untuk melanjutkan kerja sama ini.?"
"Tentu saja."
"Apapun itu.?"
"Ya.! apapun itu."
"Aku menginginian gadis itu."
"Apa.! tapi itu tidak mungkin, putraku sunggunh menyukainya.!"
"Baiklah direktur Farhan, jika kamu menolak, maka kerja sama ini kita batalkan."
"Direktur Arkana, itu tidak bisa,.!"
"Oh, satu lagi, Jangan sekali-kali memberitahu kakakku soal ini, karna bagaimanapun proyek ini sudah di berikan padaku sepunuhnya, kalaupun direktur farhan memberitahunya, itu akan sia-sia, sebab kakakku tidak ingin ikut campur tentang proyek kecil seperti ini.!"
Setelah mengatakan itu, Arkana bangkit dari duduknya dan meninggalkan Direktur farhan. Lelaki tua itu sejenak berfikir lalu melakukan panggilan telfon.
"Nak, tinggalkan gadis itu, ayah akan mencarikan yang lebih dari dia." Lalu mematikan panggilan.
Di waktu yang bersamaan, saat di luar cafe, Arkana menghela nafas panjang,
"Hufff... Rupanya begini rasanya menekan seseorang," Ucapnya dan kembali merubah ekspresi wajahnya. Maklum saja Arkana adalah seorang aktor, jadi sudah sewajarnya ia dapat mengubah ekspresi wajahnya scepat itu.
Seminggu kemudian, Mira sengaja mendatangi Arkana di perusahaan, lagi-lagi semua karyawan heran, betapa tidak, dulu mereka melihat seorang gadis muda datang untuk mencari presedir mereka, dan saat ini ada lagi gadis muda yang datang,
Tapi kali ini, gadis muda itu tidak mencari presedir melainkan mencari direktur Arkana.
"Di mana ruangan tuan muda kedua.?"
"Mari saya antar nona.!"
"Silahkan, di sana ruangan direkrur Arkana." Ucap resepsionis yang mengantar Mira sampai di depan pintu ruangan Arkana.
"Tuan muda kedua Gramentah." Bentak Mira setelah masuk ke ruangan itu.
"Mira.!"
"Ya.! ini aku, apa maksudmu membuat Fandi membatalkan pernikahan kami.?"
"Mira tenangkan dirimu.!"
"Kamu tidak berperasaan." Ucap Mura mulai meneteskan air mata.
"Mira maafkan aku, aku tidak bermaksud, tapi Fandi itu bukan orang yang tepat buat kamu."
"Kami tahu, aku sungguh membutuhkan uang.!"
"Berapa yang kamu butuhkan, aku akan memberimu."
"Sudahlah, biarkan aku berusaha sendiri, dan tuan muda kedua, aku harap kamu jangan mencampuri kehidupanku lagi."
"Maafkan aku Mira.!, jika kamu membutuhkan bantuanku, maka datanglah kembali padaku."
Namun Mira tidak menghiraukan Arkana, gadis itu keluar berlinang air mata. dan tidak memperdulikan para kaeryawan yang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
Bersambung...
******
Malam jum'at nih... siap-siap ya.!
✌✌✌ di chapter selanjutnya.
eitss... jangan lupa like, komen ya.!
__ADS_1