KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Cerita Leo


__ADS_3

Di kediaman Axcel, lagi-lagi Julia meratapi kepergian putrinya. Axcel hanya bisa memeluk dan menenangkannya.


"Aku yakin putriku belum meninggal.!" Kata Julia tegas.


Axcel hanya diam, kemudian Julia melanjutkan perkataannya.


"Aku tidak percaya, empat belas tahun yang lalu putri kita jg dinyatakan meninggal, tapi kita tidak menyangka bahwa ternyata dia masih hidup, bahkan menjadi nyonya muda di keluarga Gramentha meskipun saat itu kita menguburkan mayatnya. Lalu sekarang bagaimana.? aku semakin percaya bahwa dia masih hidup, karna tak ada mayat."


Axcel mangut-mangut, benar apa yang dikatakan istrinya.


"Nanti kita meminta bantuan Reygan saja."


"Apa kamu juga tidak yakin.?"


"Tidak.!"


Reygan menghampiri Axcel dan Julia setelah melihat keduanya bersedih di kamar Alleta.


"Ayah, ibu, apa yang membuat kalian begitu risau.?"


"Reygan, aku dan ibumu tidak yakin tentang kematian adik perempuanmu.!"


"Ayah... tenanglah, Alleta sudah pergi. Apa pernyataan Gvano dan petugas polisi tidak cukup meyakinkan kalian.?"


"Tidak nak, tidak, kami akan yakin jika melihat sendiri mayatnya."


Reygan tak tahu harus berbuat apa lagi, susah payah lelaki itu untuk membuat ayah dan ibunya percaya atas kepergian Alleta, tapi mereka tidak mau menerimanya. Reygan hanya bisa diam dan meninggalkan Axcel dan Julia di kamar Alleta.


Sementra itu, di mana Alleta saat ini berada, jika Leo telah kembali dan masuk ke kamar Alleta dan mendapati Alleta sudah tertidur. Seperti biasa Leo sering kali bercerita pada Alleta yang tertidur tentang masa kecilnya dan betapa bahagianya saat mendiang ibunya Laila masih bersamanya.


"Alleta, kamu mau dengar satu kisah.?"


Leo kemudian duduk di tepi pembaringan, memperbaiki selimut Alleta dan mengelus ubun-ubun Alleta. Lalu lanjut bercerita.


"Kisah itu dimulai dari seorang wanita yang mencintai seorang putra penguasa dari salah satu wilayah. Wanita itu rela melakukan apa saja demi mendapatkan hati pria tersebut. Tapi ada suatu masa, wanita itu dimanfaatkn untuk alat balas dendam dari seorang putra yang membawa dendam mendiang ibunya."


Leo sebentar terdiam dan melanjutkan kembali kata-katanya.


"Hingga Suatu masa, di mana wanita itu tidur dengan putra sang penguasa itu, bahkan wanita tersebut mengandung benih dari putra penguasa itu. Kehamilan itu di manfaatkan oleh pria yang mempunyai dendam pada keluarga penguasa itu."


"Ugh...!" Leguh Alleta dalam tidurnya dan merubah posisinya.


Leo menghentikkan ceritanya dan kembali mengelus ubun-ubun Alleta.


"Cerita malam ini, sampai di sini saja dulu, aku lelah, aku harus istirahat juga," Ucap Leo lalu meninggalkan Alleta sendiri di kamar.


Sebenarnya ingin sekali rasanya Leo untuk ikut tertidur di samping Alleta, memeluknya hangat. Namun ia mengurungkan niatnya, lekai itu takut jika dia tetap berada di dekat Alleta, iblis durjana akan menguasainya dan melakukan sesuatu pada Alleta yang akan membahayakan nyawa Alleta dan bayinya seperti apa yang di katakan dokter wanita beberap waktu lalu.


Leo kembali ke kamarnya, dan melemparkan dirinya ke pembaringan, menatap langit-langit ruangan itu, dan bangkit berjalan menuju sebuah sofa di sudut kamar itu.


Leo duduk, meraih wine, menuangkannya di gelas dan meneguknya. Baru kemudian menatap berkas-berkas yang ada di meja.


Leo merasa berkas-berkas tersebut sedikit berbeda posisinya, tidak seperti waktu ia meninggalkan kamar pagi tadi. 'Siapa yang berani masuk ke kamar ini.? apa Alleta.?' Kata Leo dalam hati. Tapi ia kembali menepis pikirannya, dan merasa tidak mungkin jika itu Alleta.


"Mungkin aku sangat lelah."

__ADS_1


***


Di perusahaan Riko meminta Gavano untuk bertemu di ruangannya.


"Ada apa tiba-tiba.?"


"Bukankah kamu memintaku mencari tahu apa yang terjadi padamu dan Felisa beberpa tahun lalu.!"


"Lalu apa yang kamu dapatkan.?"


"Lihatlah sendiri." Ucap Riko sambil menyodorkan sebuah flashdiks pada Gavano.


Tak butuh waktu lama bagi Gavano untuk segera menyambungkan flashdisk tersebut ke laptop miliknya.


Sementra Riko merogoh saku celananya, mengelurkan rokok, membakar lalu menyelutnya.


"Mau.?" Kata Riko menawari.


"Tidak, aku sedah berhenti semenjak Alleta mengandung.!" Jawab Gavano.


"Ok...!"


Beberapa menit Gavano meneliti isi flashdisk teraebut yang berisi malam di mana Gavano sedang mabuk berat.


Rekaman cctv memperlihatkan Felisa masuk di kamar yang sama dengannya. Dan keluar dari kamar itu di pagi hari sebelum Gavano sadarkan diri.


Gavano terkejut saat rekaman memperlihatkan Leo berjalan melewati kamar di mana dirinya dan Felisa melalui malam yang panas bersama.


"Memang benar Leo." Kata Gavano yakin.


"Apa yang sedang kalian bicrakan.?" Kata Reygan sambil masuk ke ruangan Gavano.


"Tidak hanya rekaman cctv."


"Oh..."


Reygan hanya menanggapinya dengan oh.! seperti sudah tahu apa isi rekaman itu.


"Apa yang mebawamu ke mari.?" Tanya Gavano.


"Pertama ayah dan ibu tidak bisa menerima kepergian Alleta. Tapi itu tidak penting, yang penting adalah yang kedua."


"Sepenting apa itu, hingga kamu membuat wajah seserius itu.?"


Reygan menarik nafas pelan dan menghembuskannya pelan juga. Baru kemudian meraih bungkus rokok di meja milik Riko, mengeluarkan sebatang, membakar lalu menyelutnya.


"Entah ada masalah apa antra kamu dan Leo, lihat ini. Dia mulai menyerang anak perusahaan Gramentha di luar negri." Kata Reyagan meyerahkan berkas-berkas yang menyangkut anak perusahaan di luar negri.


"Bukan cuma di New York, di Itali, Spanyol bahkan yang ada di Afrika, Leo menyerang semuanya." Ucap Gavao setelah melihat berkas yang di bawa Reygan.


"Apa motif sebenarnya.?" Sambung Riko.


"Saranku, kamu harus bertanya pada paman Revandra, mungkin saja Leo ada sanhkut pautnya dengan masa lalu paman Revan seperti yang dikatakan Riko barusan." Usul Reygan.


Setelah Reygan mengusulkan, Gavano bangkit dari duduknya, meraih jasnya lalu meninggalkan Riko dan Reygan yang masih berada di ruangannya.

__ADS_1


"Kamu lihat itu Reygan, Gavano adalah lelaki dingin dan tak berperasaan serta mendominasi.! Itulah Gavano adik iparmu yang meninggalkan kita tampa ucapan terimah kasih sedikitpun." Keluh Riko


"Jangan mengejekku, lelaki dingin dan kaku itu sebentar lagi akan menjadi kakak iparmu juga." Jawab Reygan sembari tertawa, begitu pula Riko.


Setelah meninggalkan perusahaan, Gavano segera kembali ke rumah dan mencari Revandra setelah sampai.


"Ada apa Vano.?" Tanya Grace menghampirinya.


"Minggir." Ucap Gavano mendorong Grace sampai hampir terjatuh.


"Vano.! kenapa kamu selalu saja memperlakukanku begitu dingin.?."


"Bukan urusanmu, menyingkir dari jalanku.!"


"Tidak Vano, apa semua karna Alleta, ingat Vano dia sudah pergi.!"


Amarah Gavano meluap saat Grace menyebutkan tentang Alleta, Gavano lalu mencengkram rambut Grace begitu kuat.


"Sa..sakit Vano, maafkan aku.! tolong lepaskan."


Di tengah emosi Gavano yang meluap, tiba-tiba Aliya yang melihat hal itu menghampirinya bersama Devan.


"Ayah.!"


Gavano menoleh, lalu cepat-cepat melepaskan cengkramannya, mengatur nafas baru kemudian berjongkok di depan Devan.


"Tidak, kami hanya bercanda nak."


"Begitu yah.? Devan juga ingin bermain seperti itu dengan ibu."


"Berani sekali kamu.!" Bentak Grace.


"Diam kau...!" Kata Gavano


"Ada apa Vano.! Bukankah ini masih jam kantor, mengapa kembali lebih cepat.?" Tanya Aliya.


"Ibu, di mana Ayah.?"


"Di rumah pamanmu. Daniel.!"


"Baiklah aku akan menemuinya di rumah paman.!"


"Kenapa tidak sebaiknya menunggu di rumah.?"


"Tidak apa-apa ibu, aku akan ke sana. Aku akan membawa Devan sekalian memperkenalkannya pada Fia dan Faiq."


Gavano pergi ke kediaman Daniel membawa Devan. Sedang Aliya kembali ke kamarnyaeninggalkan Grace yang begitu kesal lantaranbtak ada yang perduli padanya.


Di waktu yang bersamaan, Leo masuk ke kamar Alleta, namun Alleta tidak ada di kamar.


"Di mana Alleta.?" Tanya Leo pada dokter wanita menyiapkan vitamin untuk Alleta.


"Tidak tahu, tadi aku meliahatnya keluar." Jawab dokter itu.


Bersambung

__ADS_1


******


__ADS_2