
"kakak...!"
"Vano...!"
Alexa dan Riko terkejut sambil menyebut nama Gavano. Tapi keterkejutan yang ada pada Riko hilang entah ke mana, yang kini tertimpa emosinya yang meluap.
Riko maju menghampiri Gavano.
Buk... Riko melayangkan satu pukulan pada wajah sahabatnya itu.
Buk... Tak tinggal diam Riko meninju wajahnya, Gavano membalas, namun sekali lagi Riko meninju wajah Gavano.
"Berhenti....!" Teriak Alexa.
Teriakan gadis kecil itu akhirnya menghentikan pertikaian antara Gavano dan Riko.
"Jadi semua ini kamu yang merencanakan.?" Tanya Riko masih emosi.
"Kalau iya kenapa.?"
Buk... Kembali Riko meninju wajah Gavano, tapi kali ini Gavano tidak membalasnya.
"Apa kamu tidak berfikir, kejadian yang kamu rencanakan ini, bisa saja mengakibatkan mental gadis kecil itu goyah."
"Lalu apa urusanmu.?"
"Aku... aku..."
"Kami saling mencintai...!" Ujar Alexa tiba-tiba menyela.
"Sejak kapan.?"
"Sejaka Lexa berumur empat belas tahun, tidak, bahkan saat umur delapan tahun, Lexa sudah ingin menjadikan kakak Riko suami Lexa."
"Cih...!"
"Lalu mengapa tidak memberi tahu kami.?"
"Itu karna Lexa takut kakak tidak mengizinkannya.!"
"Apa kamu fikir, saat ini juga aku mengizinkannya.?"
"Apa maksud kakak.?"
"Setelah kita kembali ke kota S, Mulai lusa dan seterus kamu tidak di perbolehkan keluar rumah kecuali saat ke universitas, dan kamu akan di antar supir dan beberapa orang akan mengikutimu."
"Tidak, Lexa tidak terima."
"Bawa gadis kecil itu." Perintah Gavano pada salah seorang yang ia suruh untuk melakukan seauatu pada Riko dan Alexa tadi.
Meskipun Alexa meronta, Gavano tidak mengindahkannya, dan tetap pada apa yang telah ia katakan. Sementra Riko yang hanya diam sejak tadi, hanya bisa melihat Alexa di bawah pergi, mau menghentikan pun tidak bisa, ia tidak punya hak atas itu, terlebih lagi, orang yang melakuakan itu adalah kakak Alexa sendiri.
"Aku harap masalah sampai di sini, begitu kembali, anggap hal ini tidak pernah terjadi, dan untuk pukulan yang kamu berikan padaku, aku sudah menganggap kita impas karna telah mempermainkan kalian."
Ingin sekali rasanya Riko untuk kembali memberikan sebuah tinju di wajah dingin nan kaku milik Gavano, namun kembali lagi, mengingat keluarga Gramentha adalah penyelamat kelurganya, Riko mengurungkan niatnya, lelaki itu hanya bisa menggepalkan tangannya sekencang-kencangnya.
'Kalian pikir akan mudah untuk bersama.? kalian telah bermain cukup lama, maka aku akan menemani kalian bermain lagi, dan lagi.' Gumam Gavano saat meninggalkan Riko.
__ADS_1
Gavano tahu, bahwa saat ini Riko sungguh geram, dan Gavano tidak perduli, bahkan wajahnya yang dingin itu tetap kaku dengan seukir senyum iblis di bibirnya.
Esok hari, Setelah semua pekerjaan di New York terselesaikan tampa adanya kendala apapun. Riko juga berlaku seperti biasanya, hanya saja kali ini lebih banyak diam, biasanya dia memberi masukan pada Gavano tentang proyek-proyek yang akan Gavano tanda tangani.
Meskipun begitu, kali ini Gavano juga tidak menuntut Riko untuk memberi masukan apa-apa, ia tahu bahwa sahabatnya itu masih begitu marah dengan apa yang Gavano lakukan terhadapnya.
Sementara Alexa sudah dikirim terlebih dahulu kembali ke kotas S sejak kemarin setelah kejadian itu.
Hingga hari kepulangan Gavano dan Riko, kedua sahabat itu tidak banyak berinteraksi satu sama lain, kecuali itu benar-benar penting.
"Aku kembali dulu, dan aku tidak bisa mengantarmu." Ucap Riko datar.
"Ok, jangan lupa setelah cuti dua hari kamu harus kembali ke perushaan."
"Baik..."
Gavano dan Riko berpisah di bandra, Setelah Riko berlalu, Gavano menghubungi Alleta untuk bertemu di villa yang mereka huni dulu saat Alleta di racuni.
***
Di kediaman Revandra, Mendengar bahwa Gavano akan kembali malam itu, Grace berdandan secantik mungkin.
Saat ini di kediaman Revandra hanya ada Grace, Devan dan Alexa yang mengurung diri di kamar sejak kepulangannya dari New York, Devan juga sudah tertidur pulas di kamarnya, Sementara Revandra dan Aliya beserta Arkana menghadiri sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu rekan bisnis Gramentha Grup.
Hal itu membuat Grace menggunakan kesempatan untuk menggoda Gavano, terlebih Alleta sedang tidak berada di rumah. Dan Grace tidak mau ambil pusing ke mana gadis itu pergi.
Dengan menggunakan kecantikannya serta mengenakan setelan lingrie merah maron yang sedikit transpran, tak lupa sudah menyiapkan makan malam sambutan untuk Gavano, Grace berharap kali ini bisa dengan mudah mendapatkan lelaki pujaannya itu.
Hingga waktu sudah begitu larut, tapi Gavano tidak muncul, Grace memutuskan untuk menunggu sedikit lagi, hingga sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah itu, membuat Grace cepat-cepat bangkit dan berlari membuka pintu, Berharap Gavano muncul dan memeluknya.
Seketika Grace kecewa melihat siapa yang ada di balik pintu, Allih-alih Gavano yang ia tunggu tak muncul, yang muncul justru, Revandra yang sedang menggendong istrinya, lantaran Aliya tertidur.
"Kau pikir siapa.?." Tanya Revandra tegas
"Aku pikir anda Gavano.!"
"Cih... minggir..."
Revandra tidak menghiraukan Grace lagi, ia hanya membawa istrinya menuju ke kamar utama. Kamar di mana dulunya ia mencemari kepolosan Aliya dengan hal-hal me..sumnya.
"Sial, ke mana Gavano, selarut ini masih belum kembali." Gerutu Grace kesal.
Di pesta perjamuan, terlihat Arkana sedang menikmati segelas wine di tangannya sambil berbincang dengan para pebisnis. Di antara pebisnis itu, hanya Arkana yang paling muda, namun itu tidak membuat para pebisnis itu merasakan hal yang berbeda, lantaran Arkana tidak seperti Gavano yang selalu berwajah dingin dan kaku, meski begitu ia justru sangat tampan.
Lain dengan Arkana, pemuda itu lebih banyak tersenyum dan menghormati yang lebih tua, dan tidak bersikap mendominasi, tapi tetap saja para pebisnis masih seperti berhamba pada Arkana.
Pembicaraan antara Arkana dan para pebisnis itu terhenti saat Arkana melihat Mira yang berpakaian layaknya maid dan membawa baki di tangannya. Pakaian yang di kenakan Mira itu membuat amarah Arkana, terlebih Mira saat ini di kelilingi para pebisnis yang memandangnya me..sum.
"Mira..."
"Arkana.!" Sahut Mira terkejut.
"Ikut aku."
Tampa mendapat persetujuan Mira, Arkana menariknya ke suatu tempat. Hal itu membuat sekitar heran dengan apa yang di lakukan tuan muda kedua Gramentha.
Untung saja, saat itu ada Reygan yang bisa membantu Arkana menjelaskan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Lepaskan...!" Pinta Mira meronta setelah sampai di toilet
"Apa yang kamu lakukan di sini.?"
"Apa urusanmu.!"
"Mira, aku mencintaimu.!"
"Berhenti itu tidak ada gunanya.!"
"Mira dengarkan aku."
"Minggir tuan Arka, aku harus bekerja."
"Seberapa terpuruknya keluargamu, hingga kamu rela bekerja dengan pakaian seperti ini."
"Apa urusan anda."
"Tentu saja ada, aku mencintaimu, dan tak ingin bagian tubuhmu di lihat oleh lelaki bajingan manapun."
"Bukankah anda juga sama dengan mereka.?"
"Apa maksudmu.?"
"Bukankah anda juga menginginkan tubuhku?."
Plak... Karna begitu emosi, Arkana tampa sadar menampar Mira, dan Mira tercengang. Lama ke lamaan air mata Mira menetes di pipinya.
"Baik jika kamu mengatakan aku menginginkan tubuhmu, maka akan kulakukan."
Arkana mulai menjatuhkan ci..uman di bibir Mira, me..lu..matnya dengan paksa dan liar, meskipun Mira meronta, tapi Arkana tidak mengindahkanya.
Pemuda itu terus saja men..ce..bui Mira di bagian lehernya dan me..re..mas buah da..da Mira.
"Lepaskan... ku mohon lepaskan..."
"Diam, jika kamu terus berteriak, maka jangan salahkan aku jika orang di luar mendengarmu.
Ya, Saat ini Arkana memaksa Mira di salah satu ruangan yang ada di toilet, Mira terpaksa menutup mulutnya dengan linagan air matanya.
"Ug...h...!" Le..gu..han keluar dari bibir Mira saat Arkana, mulai me..ng..hisap, me..ngu..lum bahkan men..ji..lati ujung benda kenyalnya, me..lu..matnya, sambil salah satu tangannya bermain di bawah sana,
"A..h..h,,, Hentikan... U..g..h..!" Pinta Mira. Walau apa yang di lakukan Arkana begitu nikmat, namun ia tidak berharap melakukannya dalam keadaan yang seperti itu.
Tapi Arkana tidak berhenti, pemuda itu semaki liar men..cem..bui Mira, dan tangannya semaki lihai bermain pada in..ti Mira,
"U..g..h.!" Kembali Mira mengeluarkan le..gu..hannya saat Arkana menekan sesuatu yang menonjol pada in..tinya.
Tak sampai di situ, Arkana mulai membuka gaspernya dan mengeluarkan ke..jan..tannya yang sejak tadi me..nega..ng mencari tempat untuk menumpahkan sesuatu.
Baru saja Akana mengarahkan ke..jan..tanannya pada in..ti Mira, dan ujung ke..jan..ta..nannya sudah masuk sampai garis itu, Ia terhenti saat melihat wajah Mira.
Pemuda itu jadi tidak tega melakukannya dan segera mencabut sesuatu yang sudah menancap di bawah sana yang dengan satu kali dorongan akan tenggelam dengan sempurna.
"Sial..."
Arkana kemudin meninggalkan Mira tampa sepata katapun yang masih dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Bersambung...
******