
Pagi-pagi sekali, Gavano sudah tidak ada di samping Alleta, gadis itu perlahan membuka matanya melihat sekitar, dan tak menemukan lelaki yang telah m*nggaulinya sepanjang malam.
"Dasar lelaki tua mesum, meninggalkanku begitu saja setelah puas bermain."
"Apa maksudmu.?" Seru Gavano yang tiba-tiba menjawab makian Alleta.
Rupanya lelaki itu hanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan hendak segera ke kantor.
Alleta yang malu lantaran ketahuan memaki Gavano, membenamkan wajahnya pada bantal.
Sedang Gavano yang belum berpakaian duduk di tepi pembaringan sambil memainkan posnselnya. Hingga ponsel tersebut berdering.
"Hallo..." Sapa Gavano pada si penelfon.
"Vano.! Apa kamu akan menjemputku di bandara minggu depan.?"
"Ya.!"
"Baik, aku merindukanmu Vano.!"
"Siapa.?" Tanya Alleta yang tidak sengaja mendengar percakapan singkat itu, meskipun ponsel tidak di louspeker, tapi Alleta tetap saja samar-sama bisa mengetahui bahwa si penelfon adalah seorang wanita.
"Bukan urusanmu.!"
"Tapi... itu adalah seorang wanita."
Mendengar ucapan Alleta, membuat raut wajah Gavano berubah menjadi sinis dan menatap gadis muda itu dengan tatapan seperti biasanya. Tajam dan mendominasi.
Lelaki itu kemudian perlahan mendekati Alleta yang sedang memeluk lututnya di bawah selimut. Baru kemudian mengangkat dagu gadis itu seraya berkata dengan tegas.
"Apa kau lupa.? aku sudah berulang kali mengatakan padamu, bahwa kau tidak diperbolehkan mencampuri urusanku, apapun itu termaksud dalam hal asmara. Apa kau paham.?" Tegas Gavano lalu melemparkan wajah Alleta.
'Kemana lelaki yang lembut semalam.? apakah aku benar-benar hanya pelampiasan saja.? ufff... Sadar Alleta dari awal hubunganmu dan lelaki itu hanya sebatas kontrak saja.' Ucap Alleta dalam hati, perlahan butiran-butiran kecil menetes di pipinya.
Tak mau ketahuan oleh Gavano, Alleta menyeka air matanya, namun tetap saja Gavano dapat merasakan bahwa gadis itu sedang menangis.
"Menagis lagi.?" Tanya Gavano dingin
Namun Alleta tidak menjawab, gadis itu memilih untuk merebahkan tubuhnya dan membelakangi Gavano.
"Berhentilah menagis Alleta, sebaiknya kamu mempersiapkan diri, tiga hari lagi kamu sudah harus mengikuti pelajaran di Universitas xxx. Apa kau menegerti.?"
"Baik tuan.!" Masih berderai air mata
__ADS_1
"Dan aku harap, ini kali terakhir aku melihatmu menagis. Apa kau mengerti.?"
Alleta hanya mengangguk, gadis muda itu tak habis fiikir dengan sikap Gavano terhadapnya. Lelaki itu sangat lembut di tempat tidur, tapi berubah menjadi dingin dan menyebalkan setelah bangun.
Gavano yang sudah lengkap dengan setelannya untuk bekerja, dan hendak meninggalkan kamar, kembali menoleh pada gadis yang masih menagis itu.
"Berhentilah menangis Alleta, saat ini pikiranku sedang kacau, ditambah lagi kau terus-terusan menangis seperti ini." Bentak Gavano.
"Maaf tuan.! tapi ini tidak bisa berhenti.!"
"Sudahlah, lebih baik aku berangkat ke perusahaan, jika berlama-lama di sini, mungki saja kepalaku bisa pecah mendengar tangisanmu yang tidak jelas itu." Ujar Gavano emosi.
Memang benar lelaki itu tidak mengetahui apa penyebab Alleta tiba-tiba menangis. Gavano tidak tahu dan sadar bahwa penyebabnya adalaha dirinya sendiri.
"Ah, Jika kau lapar, kau bisa meminta pelayan membawakan makanan untukmu." Berlalu meninggalkan Alleta yang masih dengan tangisnya.
"Benar apa yang dikatakan pria mesum itu, kenapa aku harus menagis tidak jelas seperti ini.? hanya karna mendengar dia menerima panggilan telfon dari seorang wanita.! Apa aku jatuh cinta padanya.? Aggrrhh... tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi, mungkin aku terlalu lelah hingga memikirkan hal yang seperti itu." Sambil menepuk kedua pipinya.
***
Tiga hari berlalu semenjak Gavano menggauli Alleta, lelaki itu sudah tiga hari tidak bertemu dengan Alleta, ia hanya pulang untuk mengecek keadaan si kembar yang dititipkan oleh pamannya pada padanya.
Sedangkan Alleta jika tau Gavano ada di rumah, dirinya lebih memilih menghindar dan menyibukkan diri di perpustakaan kediaman Gavano, mengisi berkas-berkas untuk di serahkan ke universitas.
Alleta dan Arkana seolah-olah tidak saling mengenal, dan itu sudah mereka bicarakan bersama.
"Alleta...!" Teriak seorang gadis memanggilnya."
Gadis ysng di teriaki menoleh ke sumber suara.
"Mira...!" Jawab Alleta sambil memeluk teman baiknya itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini gadis cantik.? bukankah seharusnya kamu berada di rumah dan menjadi istri yang baik dan patuh pada suamimu.?"
"Mau jual ikan.! tentu saja aku ingin melanjutkan pendidikanku." jawab Alleta sedikit kesal pada Mira.
"Bukankah kamu berkata, tidak akan melanjutkan pendidikanmu.?"
"Ya.! memang seperti itu awalnya, tapi pria tua mesum itu memaksaku."
"Kamu menyebut suamimu pria tua mesum, apa dia benar-benar sangat tua."
"Sudahlah, aku ingi ke kelas, oh ya.! di mana kelasmu.?"
__ADS_1
"Di Departemen perancang desain tingkat awal.!" Jawab Mira.
"Wah, berarti kita sekelas dong, aku juga mengambil jurusan itu. Kalau begitu mari kita sama-sama ke kelas."
"Ok.!"
Kedua teman baik yang seusia itu berjalan menuju kelasnya. Sedangkan Arkana mengambil jurusan bisnis atas paksaan dari Gavano, sebenarnya ingin sekali Arkana mengambil jurusan peran seperti profesinya, namun Gavano tidak mengindahkan keinginannya. Menangis, membujuk, bahkan mengemis selama tiga hari, tapi tetap saja Gavano memaksanya pada jurusan bisnis.
Selama empat hari Alleta dan Arkana menjalani aktivitas kampusnya seperti mahasiswa biasa, Berbeda dengan Alleta yang cenderung menghabiskan waktu di perpustakaan, Arkana justru sering kali dikelilingi gadis-gadis yang menjadi fansnya. Toh Arkana adalah seorang aktor muda yang sangat terkenal.
***
Di sebuah taman dekat dengang universitas xxx tempat Alleta melanjutkan pendidikan, dua gadis sedang duduk santai sambil menikmati udara segar yang berhembus.
Alleta yang hanya sibuk mendengarkan lagu kesukaannya, tiba-tiba dikagetkan oleh teriakan Mira yanga edang menonton berita melalu laptopnya.
"Aaaaa....!"
"Mira kamu kenapa.?"
"Al, coba kamu lihat."
Gadis yang masih terkejut itu segera melihat ke layar laptop milik Mira, ia semakin terkejut melihat seorang lelaki yang sangat femeliar sedang berjalan di bandara, di temani oleh seorang wanita cantik dan anggun, pakaian yang begitu mewah, menandakan wanita itu adalah seorang selebritis.
Alleta yang terkejut berusaha setenang mungkin. Gadis itu hanya menggit bibir bagian bawahnya sedang matanya mulai terasa hangat.
"Al, bukankah lelaki itu adalah tuan muda pertama kelurga Gramentha dari Gramentha grup.? Lalu siapa wanita cantik yang sedang bersamanya.?" Tanya Mira yang tak tau bahwa Alleta sedang berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Ra, aku ke toilet sebentar." Berlari meninggalkan Mira yang kembali fokus pada siaran gosip yang da di layar laplopnya.
Alleta berlari masuk ke universitas, dan naik ke lantai paling atas. Mengeluarkan suara tangisannya sekencang mungkin sambil memaki.
"Kau... pria tua mesum. Tega sekali melakukan ini padaku, meskipun hubungan kita hanya sebatas di kertas putih saja, tapi setidaknya, kamu harus menghargaiku...hiks...hiks...! Aku mengutukmu demi langit dan bumi, hiks... hiks... kau akan jatuh cinta padaku bahkan kau akan tunduk di kakiku. Akan ku ajak kau melayang tinggi, ku mainkan sesuka hati, dan ku hempaskan ke bumi, lalu kau ku tinggal pergi, dan aku tertawa melihat kau luka, kau terpuruk di kakiku..! Eh, tunggu bukankah itu lirik lagunya Utophia.? ahh... pokoknya aku mengutukmu Gavano Azka Gramentha.!
Tiba-tiba cuaca jadi mendung, suara petir menggelegar di langit, membuat Alleta merinding. Sedang di suatu tempat seorang pria yang tengah makan siang, bulu kuduknya berdiri. Terasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya.
"Eh,,, apakah Tuhan mndengarkan kutukanku.?, Ahggr... Alleta sadar mungkin hanya kebetulan.!"
Puas memaki dan mengutuk Gavano, gadis itu berbalik hendak meninggalkan atap
"Apa kau puas berteriak.? menganggu orang saja." Ucap seorang lelaki muda yang sejak tadi juga berada di atap kampus. Membuat Alleta terkejut setengah mati. Matanya melebar, dan tubuhnya terpaku saat berbalik ke sumber suara yang menegurnya.
Bersambung...
__ADS_1
******