KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Penjelasan Alleta


__ADS_3

"Mengapa kamu membawa kami ke rumah sakit Vano.?" Tanya Axcel setelah Gavano memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit.


"Ibu, ayah, Alleta ada di dalam." Jawabnya.


Gavano masuk ke rumah sakit di susul Axcel dan julia yang di penuhi dengan kekhawatiran.


Sesampainya di bagian resepsionis, Gavano bertanya pada pegawai di sana.


"Apa ada seseorang yang datang ke sini, seperti yang ada di foto ini.?" Tanya Gavano sambil memperlihatkan foto Alleta pada pegawai resepsionis.


"Maaf, anda siapanya nona ini.?"


"Jawab saja." Bentak Gavano geram.


"Tapi bisakah anda memberitahu siapa anda terlebih dahulu.?"


"Gavano Azka Gramentha."


Mendengar nama Gavano, pegawai itu seketika hormat seperti berhamba pada Gavano.


"Maaf presedir, saya tidak tahu.!"


"Lalu bisa kau katakan sekarang.?"


"Itu,,, nona yang ada di foto ada di ruangan VIV 102."


Tampa kata-kata lagi, Gavano segera menuju ke tempat yang di katakan oleh pegawai rumah sakit. Pegawai yang tidak pernah bertemu dengan Gavano, dan hanya mendengar tentangnya saja.


Gavano membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan di mana Alleta berada, dokter yang memeriksa Allet terkejut, betapa khawatirnya Gavano melihat Alleta sedang terbaring di ranjang pasien dengan wajah yang begitu lelah, begitu pula Axcel dan Julia.


"Apa yang terjadi pada putriku.?"


"Saya tidak tau Pak.! tadi Nyonya Gramentha di bawa oleh seorang lelaki sudah dalam keadaan yang seperti ini." Jawab dokter itu, yang memang sudah tahu sipa Gavano dan Alleta


"Apa kau tahu siapa dia.?" Tanya Gavano.


"Saya tidak tahu Presedir, setelah menyerahkan nyonya Gramentha, dia langsung pergi tampa menunggu hasil pemeriksaannya."


"Lalu bagaimana keadaannya.?"


"Nyonya Gramentha tidak apa-apa, dia hanya sedikit lelah.!"


"Dan kenapa rumah sakit tidak menghunungi kami.?"


"Tadinya kami ingin menghubungi anda ataupun keluarga anda terlebih dahulu sebelum menanganinya, tapi kepala rumah sakit memberi kami perintah untuk nanti saja menghubungi anda, dan segera menagani Nyonya Gramentha, takutnya jika terlambat nanti ada apa-apanya.!"


Setelah menjelaskannya semuanya. Dokter yang menagani Alleta pamit undur diri.


"Ibu, ayah, sebaiknya kalian pulang saja dulu."


"Tapi Vano, kami khawatir dengan Alleta."


"Ibu, Alleta tidak apa-apa, dia hanya kelelahan, kalian juga sepertinya sudah sangat lelah.!"


"Benar apa yang dikatakan Vano, sebaiknya kita pulang saja.!" Kata Axcel membujuk istrinya.


Dengan bujukan Axcel, akhirnya Julia menutut, dan meninggalkan ruangan itu.


Dua jam yang lalu, setelah keluar dari toilet, Alleta terkejut tangannya ada yang menggenggam, lebih terkejut lagi saat gadis muda itu melihat siapa yang menghalanginya.


"Leo."


"Ya... ini aku nona Alleta."


"Lepaskan." Pinta Alleta berteriak

__ADS_1


"Baik... baik... jangan berteriak"


"Apa yang kau inginkan dariku tuan Leo.?"


"Cintamu.!"


"Apa kau gila.?"


"Ya aku memang gila Alleta, gila karnamu." Kata Leo kembali mengenggam tangan Alleta.


Alleta meronta meminta di lepaskan, tapi Leo semakin mempererat genggamannya, lelaki itu bahkan mencengkram bahu Alleta sambil memohon.


"Lepaskan aku, aku sudah menikah tuan Leo."


"Aku tahu, dan aku ingin kamu meninggalkannya, aku janji Alleta, aku akan membuatmu lebih bahagia dari pada dia.!"


Alleta mulai meneteskan air matanya, orang-orang yang ada di situ hendak membantunya tapi Leo menghentikan mereka.


"Ini masalah rumah tangga kami, tolong jangan ikut campur, sebaiknya kalian semua pergi tinggalkan kami." Ucap Leo beralasan.


Seperti perintah Leo semua pergi dari tempat itu, menurut mereka, itu adalah urusan rumah tangga yang tidak bisa mereka untuk ikut campur.


"Berani sekali kau, aku bukan istrimu.!"


"Alleta dengarkan aku, aku sungguh-sunghuh mencintaimu, apa yang pria bre..ngsek itu berikan, aku akan berikan juga padamu.!"


Plak... Alleta menampar Leo, namun Leo tidak marah, ia bahkan menarik Allet untuk masuk ke dalam toilet yang kebetulan sedang sepi.


"Lepaskan aku, apa yang ingin kau lakukan." Ucap Alleta dalam tangisnya yang saat ini sudah terpojok di dinding dan Leo menahannya.


"Aku mencintaimu Alleta, mencintaimu."


Leo berusaha untuk mencium Alleta, akan tetapi, ciuman itu terus meleset lantara Alleta meronta dan memalingkan wajahnya kiri dan kanan secara bergantian.


Hingga Alleta tak punya tenaga lagi, dan tidak sadarkan diri. Leo yang memaksanya jadi khawatir.


***


Pagi-pagi sekali Alleta terbangun dan mendapati Gavano, tertidur di sampingnya, menatapnya dan menyapu pipi Gavano dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku membuatmu khawatir my.!"


Gavano terbangun mendengar suara Alleta dan cepat-cepat memperbaiki dudunya.


"Bagaimana perasaanmu sayang.?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin minum.!"


"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi kemarin Alleta.?" Pinta Gavano setelah memberikan minum pada Alleta.


"Emm...!"


Alleta mulai menceritakan semua yang terjadi kemarin saat di pusat perbelanjaan.


"Bre..ngsek kau Leo." Geram Gavano menggerutukkan giginya.


"My...!


"Ada apa Alleta, di mana yang sakit, apa yang kamu inginkan.?".


"Tidak ada, aku hanya ingin memberitahumu satu hal yang belum sempat kuberi tahu padamu."


Ekspresi wajah Gavano berubah serius dan menatap Alleta.


"Apa yang ingin kamu katakan.?"

__ADS_1


"Tentang ibu kandung Devan."


"Ada apa.? apa kamu tahu sesuatu.?"


"Ya.! aku tahu siap ibu dari putramu.!"


"Siapa Alleta.?" Tanya Gavano semakin serius.


"Felisa.!"


Perasaan Gavano bagai di sambar petir di siang bolong, matanya melebar dan menggepalkan tangannya. Lelaki berwajah dingin namun tampan itu seakan tidak percaya.


"Kamu jangan mempermainkanku Alleta."


"My, aku tidak berbohong. Grace sendiri yang mengatakannya.!"


"apa dia mengatakannya langsung padamu.?"


"Tidak, saat kita menghabiskan malam di Villa, Devan menelfon."


Alleta menjelaskan semuanya pada Gavno, tak terkecuali penyelidikannya bersama Arkana.


"Tapi bagaimana mungkin itu Felisa, dan Jika itu memang Felisa, sehrusnya dia menggunakan Devan untuk membuatku jatuh padanya."


"My...! coba kamu ingat-ingat dulu, apa mungkin kamu pernah melakukannya dengan Felisa."


"Apa kamu menuduhku.?"


"My, aku tidak menuduhmu, jika pun kamu pernah melakukannya dengan Felisa, itu adalah masa lalu mu. Dan aku tidak keberatan, itu hanya masa lalu."


"Sungguh kamu tidak keberatan.?"


"Tidak sedikitpun, aku mencintaimu My, dan siap menerima semua masa lalumu, jika aku tidak menerima, seharunya sejak Devan dan Grace masuk ke keluarga kita, aku sudah meninggalkanmu.!"


"Terimah kasih Alleta, kamu sungguh anugrah terindah yang Tuhan kirimkan padaku."


Gavano memeluk erat Alleta seraya membelai rambut panjang Alleta.


"My...!"


"Em...!"


"Jika Felisa adalah ibu Devan, lalu bagaimana Grace bisa mendapatkan Devan."


"Itu Leo."


"Apa maksudmu My.?"


"Leo yang membawa Devan pada Grace, namun aku tidak tahu detailnya tentang apa yang terjadi."


Sejenak Gavano dan Alleta berfikir,


"My...!"


"Emm... ada apa.?"


"Apa kamu ingin tahu semuanya.?"


"Tentu saja."


"Maka kamu harus mendengarkan ideku."


Hari itu juga Alleta keluar dari rumah sakit dan kembali ke kelurganya, Alleta ingin berada di dekat ayah dan ibunya. Terpaksa Gavano menurutinya dan ikut tinggal bersama untuk beberapa waktu.


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2