
Siang hari, seperti yang dikatakan Alleta, gadis itu mampir ke perusahaan, senyum hangat Alleta pada beberapa karyawan yang menyapanya. Dan beberapa diantaranya sudah tahu bahwa Alleta adalah wanita dari bos mereka.
Beberapa saat berjalan, akhirnya Alleta sudah sampai di depan pintu ruangan Gavano, namun ia tidak langsung masuk lantaran mendengar ada suara wanita yang sedang berbicara dengan Gavano di dalam.
Mendengar wanita itu memohon pada Gavano, segera saja Alleta masuk tampa mengetuk pintu, membuat Gavano dan Felisa berbalik secara bersamaan.
'He, berani sekali ingin merebut priaku, lihat apa yang akan kulakukan.' kesal Alleta dalam hati. Gadis itu melangkah ke arah Gavano, dan segera duduk di pangkuan suaminya, lalu merangkul tengkuk leher lelaki itu.
Kelakuan Alleta benar-benar membuat Felisa terbakar rasa cemburu. 'Gadis ja..lang itu pasti sengaja melakukannya di depanku' Ucap Felisa tidak tahan melihat kemesraan itu.
"Nona Alleta, tolong, kami sedang membicarakan masalah pekerjaan.!"
"Mana ada orang membicarakan masalah pekerjaan sambil memohon pada pria orang lain, kecuali dia seorang wanita murahan."
"Kamu...!"
"Nona Felisa, aku ingin berbicara dengan priaku, bolehkan kamu keluar dari ruangan ini.?" Pinta Alleta yang dengan seganja berlaku manja pada Gavano.
Sementra Gavano hanya diam saja, dan tersenyum puas melihat apa yang dilakukan istrinya.
Tampa berkata apapun, Felisa meraih tasnya dan meninggalkan ruangan Gavano, tak lupa dengan wajahnya yang memerah terbakar api cemburu.
Sebentar setelah Felisa berlalu, Alleta bangkit dari pangkuan Gavano, dan ekspresinya berubah kini tak lagi bermanja.
"Jangan tersenyum seperti itu."
"Kenapa, aku hanya merasa puas melihat istriku mengambil inisiatif sendiri untuk memberi peringatan pada wanita yang mau merebut suaminya."
"Kamu jangan senang dulu, semua kulakukan ya... karna aku memang tidak menyukai wanita itu, hum, seenaknya saja memohon pada suami orang." Ketus Alleta bertolak pinggang membelakangi Gavano
Gavano yang tadi masih setia duduk di kursi kebesarannya, bangkit dan memeluk pinggang ramping Alleta, menyingkirkan rambut panjang yang terurai ke sisi kiri agar Gavano bebas menempelkan dagunya pada pundak Alleta.
"Cemburu.?"
"Tidak.!"
"Benarkah.?" Mulai mengesek cambang halusnya hingga cambang-cambang itu menusuk di setiap pori-pori kulit Alleta
"Auw...! Geli."
"Masih mau berbohong.?"
"Baik...baik, aku tidak kan berbohong lagi."
Gavano kemudian memutar tubuh Alleta hingga mereka berhadapan.
"Bagai mana persiapanmu dengan ulang tahunku.?"
"Emm... itu, aku belum mendapakan gaun yang cocok.!"
"Tak perlu khawatirkan tentang gaun, aku sudah mempersiapkannya. Kamu hanya perlu membuat dirimu secantik mungkin."
"Kenapa.?"
__ADS_1
"Nanti kamu akan tau sendiri.!" Jawab Gavano seraya melayangkan satu kecupan pada kening istrinya.
Krek... Pintu ruangan terbuka
"Ah... maaf menganggu presedir."
"Masuklah,"
"Ini, saya membawakan laporan keuangan bulan kemarin.!" Ucap karyawan itu menyerahkan dokumen keuangan perusahaan.
Keringat dingin mulai menetes di dahi karyawan itu, mengingat betapa tegasnya presedir Gavano yang akan marah jika terdapa suatu kesalahan pada laporan itu.
Benar saja, laporan keungan benar-benar salah. Namun hal yang tak terduga terjadi.
"Angka nolnya ada yang salah, perbaiki lagi.!" Ujar Gavano kembali menyerahkan dokumen itu.
'Apa.? hanya itu.? bisanya dia akan memakiku jika terdapat kesalahan, tapi kali ini tidak terjadi apa-apa.! Apa karna wanitanya ada di sini.? aku harus berterimah kasih pada nona cantik ini.' Ucap karyawan itu dalam hati sambil menatap lekat wajah Alleta.
Sementra Alleta hanya membalas dengan senyum hangatnya.
"Sudah puas menatapnya.?" Tanya Gavano tegas.
"Su..sudah... ah. makasud saya, nona sangat cantik."
"Keluarlah."
Setelah karyawan itu berlalu, Gavano kembali pada Alleta yang sudah duduk di kursi kebesaran Gavano.
"Kamu tidak boleh terlalu kejam seperti itu pada mereka."
"Oh... ternyata begitu.!"
"Apa kamu ingin makan siang bersama.?"
"Boleh, kebetulan aku sedang kelaparan.!"
"Kemarilah, beri aku satu pelukan, dan kita akan makan."
***
Sesuai kesepakatan, Gavano membawa Alleta untuk makan siang di Restauran tidak jauh dari perusahaan. Mereka segera memesan makanan setelah duduk. Hingga pesanan mereka datang dan mereka mulai menyantap makanan itu.
"wah... tak disangka kita bertemu lagi nona cantik." Sapa Leo yang kebetulan juga sedang makan di tempat itu.
Tapi Alleta tidak menghiraukannya sama sekali,
"Apa peringatanku tidak cukup untukmu?" Tanya Gavao memicingkan matanya.
Begitu pula Alleta, ia berhenti dengan aktivitas makannya, lalu beralih menatap Leo, seketika saja Alleta tertawa.
"Hahaha... kamu seperti mumi.!" Ucap Alleta tak kuasa menahan tawanya.
Jelas saja, karna pukulan-pukulan yang Gavano berikan pada Leo kemarin, membuatnya harus membungkus sebagian area wajahnya.
__ADS_1
"Tak apa-apa aku seperti ini, aku dengan senang hati di tertawakan oleh gadis cantik sepertimu."
Leo ternyata tak mengindahkan peringatan Gavano kemarin, ia bahkan berani merayu Alleta di depan Gavano. Hingga amarah Gavano seketika mulai memuncak. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa setelah menatap wajah Alleta yang memberinya isyarat untuk menahan amarah.
Alleta tak mau jika Gavano membuat keributan di tempat itu.
"Sebaiknya kita pergi saja Vano.!" Ajak Alleta.
"Sesuai keinginanmu.!"
"Hei... kenapa mengabaikanku.?" Tanya Leo
"Diam.!" Bentak Gavano menghantam meja.
"Sudah yah.!, mari kita pergi saja. Tak usah memperdulikannya, dia hanya sengaja ingin bermain dengan emosimu.!"
Alleta dan Gavano meninggalkan tempat itu setelah membayar makanannya.
Mereka kembali keperusahaan, berjalan sambil bergandengan tangan dan sesekali saling menatap hangat. Membuat karyawan yang melihat ikut bahagia, lantaran sejak bos mereka mengenal Alleta dan membawa Alleta ke perusahaan, Gavano selalu tersenyum.
Tidak seperti dulu, mereka bisa menghitung hanya beberapa kali bos mereka tersenyum semenjak mengambil alih perusahaan,
Alleta dan Gavano sudah masuk ke ruangan kerjanya. Apa yang tidak mereka ketahui bahwa ada seseorang yang tidak senang melihat kebahagain sepasang suami istri itu.
Hingga beberapa waktu berlalu, Alleta merasa bosan lntaran Gavano sangaat sibuk dengan dokumen-dokumen ditangannya. Sampai gadis itu meminta untuk pulang saja.
"Aku ingin pulang saja boleh.?"
"Tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarmu, nanti aku minta sopir perusahaan mengantarmu."
"Tidak perlu, kamu hanya harus menyelesaikan pekerjaan itu dan segera pulang menemuiku."
"Baiklah nyonya muda Gramentha. Tapi ingat kamu harus hati-hati." Ucap Gavano bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat pada Alleta sembari memberikan kecupan pada kedua pipi istrinya.
Alleta yang sudah keluar dari perusahaan, sedang menunggu taxi, dan ternyata tak butuh waktu lama baginya untuk mendaptkan sebuah taxi.
Segera saja Alleta masuk ke dalam taxi dan meminta sopir taxi mengantarkannya pulang.
Namun di tengah perjalanan, taxi itu berbelok arah yang berbeda. Alleta jadi panik
"Apa anda tidak salah jalan pak, ini bukan arah menuju rumahku.!"
"Tidak sama sekali nona cantik." Jawab sopir taxi itu dengan seutas senyum menjijikan pada bibirnya.
"Hentikan mobilnya."
"Baik."
Mobil segera berhenti, belum sempat Alleta keluar, sudah ada dua orang pria lagi yang masuk ke dalam mobil, hingga Alleta mulai meronta saat kedua tangannya di genggam erat oleh kedua pria tersebut, sedang sopir taxi kembali menjalankan mobilnya.
Alleta tak henti-hentinya meronta, hingga salah satu pria itu mendekap bibir Alleta dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius. Membuat Alleta seketika tidak sadarkan diri.
"Kamu terlalu memberontak nona cantik. maka jangan salahkan aku jika aku membiusmu."
__ADS_1
Bersambung...
******