
Hari itu tepat ulang tahun Alleta yang ke sembilan belas bersmaan dengan empat bulan kelahiran bayi kecil yang sangat cantik. Di mana semua keluarga berkumpul.
Mereka tidak mengadakan pesta yang besar, hanya mereka yang menghadiri perayaan itu, Tentunya itu juga atas permintaan Alleta.
Namun meskipun tidak memberi tahu kepada media, tetap saja banyak kado-kado yang di kirim dari rekan bisnis Gavano.
Sementara itu di suatu sudut rumah, Arkana termenung sendiri, Tiba-tiba, perasaan hawa dingin menyerangnya. Bulu kuduknya mulai merinding.
"Arkana.!"
"Sialan siapa yang memanggilku malam-malam begini.! dasar breng...!"
Ucapannya terpotong saat ia berbalik dan mendapti Gavano berdiri tegak dengan tatapan dinginya.
Membuat Arkana melangkah mundur dan hampir terjatuh.
"Ka...kakak... hehehe... udaranya dingin.!"
"Siapa yang kamu sebut brengsek.!"
"Tidak... tidak ada.!" Kata Arkana seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Seperti biasa Gavano hanya menatapnya dingin, membuat Arkan semakin grogi.
"Ad..ada apa kakak.?"
"Aku ingin berbicara padamu.!"
"Katakan saja,.! Kata Arkana dan tidak sengaja memukul pundak Gavano.
'Sial... aku tidak sengaja, apa kakak akan membunuhku, oh tidak melihat ekspresinya saat ini, sepertinya aku benar-benar akan berakhir di kursi roda... Oh Tuhan, memikirkannya saja aku sudah hampir mati.' Kata Arkana dalam hati.
"Arkana Dylan Gramentah.!"
"Ah... iya, iya...!"
"Apa kamu mendengarku.?"
"Ten..Tentu saja kakak.!"
"Baik dengarkan ini baik-baik, Aku berencana untuk membawa Alleta dan anak-anakku untuk tinggal di sutu pulau."
"Berapa lama itu kakak.?"
"Aku akan kembali saat Devan sudah mau memasuki sekolah dasar."
"Berarti dua tahun."
"Begitulah..."
"Lalu pergi saja kalau begitu"
"Rupanya kamu sudah tahu."
Arkana tiba-tiba merasa ada sesutu yang janggal, dari pemberitahuan Gavano padanya.
"Tunggu sebentar kakak, jangan bilang bahwa kamu akan menyuruhku untuk..."
"Ya... seperti dugaanmu, Perusahaan ku serahkan padamu untuk beberapa waktu."
'Oh... tidak, selama dua tahun aku akan berada di neraka, kakak kamu sungguh tega.' Kata Arkana dalam hati, yang memang pemuda itu dari awal tidak tertarik dengan bisnis. Dia bergabung selama ini hanya untuk Mira.
"Bagaimana.?" Tanya Gavano membuyarkan lamunan Arkana.
"Tapi kakak...!"
__ADS_1
"Jika selama dua tahun kamu bisa memimpin perusahaan dengan benardan menaikkan laba setiap bulannya, maka semua yang kamu inginkan, kamu bisa mendapatkannya.!"
"Sungguh.?"
"Terutama tentang gadis itu.!"
"Maksud kakak Mira.?"
"Siapa lagi.!"
"Dari mana kakak tahu.?"
"Dasar bocah sialan, kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan selama ini.? kamu bahkan membawa istriku untuk mengikutinya, dan membuatnya menjadi seperti pengemis."
"An.. Anu.. hehehe maafkan aku kakak.!"
"Jadi bagaiman.?"
"Baiklah, aku akan berusaha.!"
"Dan ingat jangan menyebabkan banyak masalah, jika itu terjadi, aku akan mematahkan kakimu dan mengirimu ke luar negri, bahkan tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya.! Kamu paham.?"
"Paham kakak.!"
"Bagus."
Setelah membicarakannya pada Arkana, Gavano kembali bergabung dengan kelurganya.
"Selamat ulang tahun Alleta," Ucap Mira yang baru saja datang.
Mendengar suara Mira, Arkana langsung semangat dan melangah cepat lalu ikut bergabung.
"Kamu datang Mira.?" Ucapnya langsung memeluk Mira tak perduli dengan kelurganya yang menyaksikan tidakan konyolnya itu.
"Arkana, ingat dengan apa yang aku katakan tadi." Sela Gavano membust Arkana segera melepas pelukannya pada Mira.
Sementra Mira tersipu malu, hal itu membuat semua menertawakan Arkana.
"Inikah menantu perempuanku yang kedua.?" Tanya Aliya.
"Tidak.!" Jawab Gavano.
Jawaban Gavano seketika membuat suasa yang tadinya gembira menjadi hening, hingga keheningan itu kembali bersuara saat Gavano melanjutkan kata-katanya.
"Tidak, setelah aku kembali dari liburanku."
"Hah... kamu membuatku kaget Vano.!" Kata Aliya, diikuti dengan suara tawa mereka.
******
Setelah Alleta menidurkan Devani, dan Devan, dia kembali di mana para kelurga bercengkrama. Hingga Reygan dan Delia menghampirinya. Dan memberikan kado padanya.
"Mengapa terlambat kakak.?" Tanya Alleta.
"Gadisku, maafkan kami, kamu terjebak macet." Jawab Delia.
Disusul juga Riko dan Alexa yang baru saja tiba. Entah dari mana mereka pergi sehingga bisa terlambat.
Reygan kemudian mengambil tempat duduk di samping adik perempuannya. Sementara para orang tua sibuk dengan pembicaraan mereka. Dan para anak muda mengambil tempat mereka.
Alleta melihat ke arah ayah dan ibunya yang tampak sangat bahagia,
"Apa kamu melihat itu Alleta" Kata Reygan seolah memberitahu kebahagian ayah dan ibunya.
"Ya kakak. Ayah dan ibu sungguh sangat bahagia."
"Dulu tidak seperti itu."
__ADS_1
"Maksud kakak Reygan apa.?"
"Kamu mau dengar sebuh kisah Alleta.?"
"Kisah.? kisah apa itu.?"
"Kisah tentang dua insan yang berakhir bahagia bersama."
"Boleh."
Reygan mulai bercerita tentang awal dari segalanya. Awal di mana Axcel bertemu julia dan Daniel bertemu istrinya.
***
Semua itu di mulai, saat Aliya dan Revandra menikah, hari itu Axcel harus benar-benar merelakan cintanya pada seorang gadis cantik.
Setelah menghadiri persta pernikahan Aliya dan Revandra, Axcel begitu frustasi, dan memutuskan untuk melanjutkannya di sebuah club malam.
Axcel minum hingga separuh kesdarannya hilang, dan keluar dari club setelah puas. Di luar kebetulan dia menabrak seorang gadis cantik, berambut pendek.
"Maafkan saya tuan.!" Kata gadis itu
"Tak, apa.! sehrusnya saya yang meminta maaf.!"
"Bisa menolongku.?"
"Tentang apa itu tuan.?"
"Panggilkan taxi, sepertinya aku tidak bisa mengemudi."
Seperti yang di minta Axcel, gadis itu memanggil taxi, setelah membatu Axcel masuk ke taxi, gadis cantik berambit pendek itu hendak keluar namun Axcel menariknya ikut masuk ke dalam taxi, lalu menutup taxi itu. Dan meminta sopir segera menjalankan mobil.
"Anda mau diantar ke mana nona.?" Tanya sopir taxi itu.
Sementara itu gadis cantik itu bingung harus membawa Axcel ke mana, dia tidak tahu siapa dan di mana Axcel tinggal.
Dengan hati berat dan terpaksa, gadis itu, membawa Axcel ke sebuah hotel dan memesan kamar di sana.
"Tidurlah tuan, aku akan meninggalkan anda di sini.!" Kata gadis itu, kemudian bangkit dan hendak meninggalkan kamar.
Namun tiba-tiba, pergelangan tangannya di genggam oleh Axcel, berdegup kencang jantung gadis itu. Berdegub bukan karna tanganya tidak pernah di sentuh oleh laki-laki, tapi berdegup lantaran ia takut, kalau-kalau peria mabuk di hadapannya akan menerkamnya.
Benar saja, dalam setengah sadar Axcel menarik tangan gadis itu, hingga gadis itu terjatuh tepat di atas tubuh Axcel, di atas otot-otot yang terpahat indah,
Ketakutan semakin menjelajar di sekujur tubuhnya. Dia mencoba untuk melepaskan diri, namun itu sia-sia, Karna kekarnya tubuh Axcel membuat gadis itu tidak bisa bergerak sedikitpun.
Semakin dia bergerak semakin Axcel memperkuat pelukannya. Bahkan gadis itu sudah merasa ada seauatu yang menganjal terasa keras mengenai pahanya yang kebetulan saat itu dia mengenakan rok mini.
"Sebentar saja seperti ini." Kata Axcel tampa tahu siapa gadis yang ia peluk di atas tubuhnya.
"Lepaskan aku tuan."
Gadis itu mencoba lagi, tapi semakin dia mencoba, semakin sesuatu di bawah sana semakin mengeras. ' Oh Tuhan... kenapa kau mempermainkan ku seperti ini.' Kata gadis itu mulai meneteskan air mata dan mengenai dada bidang Axcel yang kancing bajunya sudah terbuka di tiga bagian.
"Aliya aku mencintaimu." Kata Axcel kemudian.
Bersambung...
******
Author note : Kisah Alleta dan Gavano sudah selesai yah, kini kita di bawa ke masa lalu, di mana awal mula pertemuan ayah dan ibunya Alleta. Di kisah ini juga ada kisah Daniel yang tak kalah seru, dan juga masih ada Aliya dan Revandra.
Dan jika berkenan. jangan lupa
-LIKE
-KOMEN
__ADS_1
Karna like dan komen dari para readers membuat sy jdi semangat, ya... walaupun sy di sini tidak dapat apa-apa dari NT. tapi demi kalian semua, dan demi menyalurkan hoby menulis, aku akan tetap berusaha.
Love yo para readers setiku.😘😘😘