KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)

KISS ME LIAR (Cium Aku Pembohong.!)
Rsepsi Helen dan Gio


__ADS_3

Sebulan berlalu, setelah Axcel sepakat untuk bertanggung jawab, Tapi satu hal yang Axcel tidak habis fikir tentang Julia yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba mengilang pula.


Axcel bahkan beranggapan bahwa Julia adalah gadis yang aneh, tentu saja aneh, setelah Axcel mau bertanggung jawab, Julia tidak pernah mengubungi Axcel lagi.


Helen dan Gio juga sudah melangsungkan pernikahan, dan hari ini adalah hari resepsi mereka.


"Apa yang kamu pikirkan Axcel.?" Tanya ayahnya.


"Tidak ada, sebentar lagi resepsi pernikahan putri dari Ganendra Grup, aku harus segera ke sana.!"


"Pergilah nak, dan jangan lupa untuk membawa seorang gadis pulang ke rumah."


Axcel tidak memperdulikan perkataan ayahnya, dia mengabaikannya dan segera berlalu menuju kediman Ganendra.


Di waktu yang bersamaan, Julia termenung menatap bayangan dirinya di dalam cermin. 'Semoga semuanya berjalan lancar.' Ucapnya dalam hati.


Lamunannya buyar ketika ibunya masuk ke kamarnya.


"Ada apa Julia.?"


"Tidak ibu,"


"Apa kamu menyesal melepaskan Gio.?"


"Apa yang ibu katakan.? aku dan Gio tidak ada hubungan apa-apa."


"Julia, ingat, aku ibumu, aku tahu segalanya, Mulutmu memang berkata demikian, tapi hatimu pasti sakit."


Julia bersimpuh di pelukan ibunya, menagis bahkan Julia tidak sadar memaki dirinya sendiri tentang dia yang tidak pantas untuk Gio.


Hal itu membuat ibunya bertanya-tanya, lalu menegakkan tubuh putrinya dan bertanya maksud perkataan Julia. Ibunya meminta Julia untuk menjelaskannya.


"Ibu... maafkan Julia, Julia sudah menjadi gadis murahan.!" Katanya.


"Apa maksudmu nak.?"


"Ibu... Julia...!"


Julia menceritakan semua pada ibunya, tak tetkecuali bahwa dirinya sudah tidak bersih lagi, bahkan dia telah menjebak Axcel untuk bertanggung jawab.


Ibunya memang kecewa dengan putrinya itu, tapi itu juga bukan sepenuhnya salah Julia, peristiwa itu bisa di bilang pe..merkosaan, tapi bagaimana dengan yang kedua. Itu Julia sendiri yang menginginkannya.


Mau tak mau ibunya hanya bisa menerima semuanya dan mendukung setiap apa yang Julia lakukan kedepannya.


"Ibu maafkan aku.!"


"Tak apa, toh dia juga mau bertanggung jawab."


"Apa ibu marah padaku.?"


"Nak, sebenarnya ibu sangat kecewa padamu, tapi ibu sangat mencintaimu nak, kamu putri ibu satu-satunya. Jadi apapun itu, ibu akan mendukungmu.!"


"Sungguh ibu.?"


"Tidak perlu bertanya lagi, berbenahlah, sebentar lagi acara akan di mulai.

__ADS_1


Ibu Julia kemudian keluar dari kamar putrinya, sedang Julia mulai merias diri.


Dia memakai gaun berwarna biru malam dengang bagian belakang yang terbuka lebar, sedang bagian depan sedikit memperlihatkan belahan dada yang kenyal, di bagian pinggang hanya ada bunga mawar merah yang berkumpul di satu bagian. Serta gaunnya yang panjang menyapu lantai.


Tak lupa sepatu hak tinggi berwarna merah, kalung sepasang denga anting dan gelang yang sederhana namun tampak elegan.


Julia menyanggul rambut pendeknya dan membiarkan beberapa helai menggelantung di bagian depan. Membuatnya semakin cantik.


Julia sekali lagi menatap bayangan dirinya di dalam cermin.


"Oh Julia... betapa cantiknya kamu.!" Katanya memuji dirinya sendiri.


Puas dengan itu, Julia akhirnya keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah untuk mengikuti resepsi Helen.


***


Seperti biasa, jika ada acara-acara besar, tentunya di situlah para pebisnis berkumpul, bukan hanya menghadiri pesta saja, tetapi juga membahas bisnis yang tengah mereka geluti.


Resepsi itu juga tentunya dihadiri oleh Revandra dan Aliya. Saat Revabdra dan Aliya memasuki ruangan, semua mata tertuju padanya.


Meskipun muda, istri penguasa kota S sangat cantik, di juga bisa mengimbangi umur Revandra yang jauh di atasnya. Sungguh wanita yang cantik. Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut para tamu yang menghadiri resepsi Helen dan Gio.


"Mau berdansa.?" Tanya Revandra.


"Boleh.! tapi Ay, aku tidak bisa berdansa."


"Tak apa, ikuti saja gerakanku."


Revandra membawa Aliya ke tengah-tengah para tamu, mengerti dengan tatapan Revandra yang di lemparkan pada para tamu, mereka memberi ruang pada Revandra untuk berdansa bersama Aliya.


Aliya menurut saja, toh memang dia tidak bisa berdansa.


Aliya dan Revandra berdansa mengikuti alunan musik hingga selesai, Diakhiri dengan Aliya memeluk Revandra dan Revandra menjatuhkan ciumannya di bibir istri kecilnya itu.


Plok...Plok... Sambutan tepuk tangan di brikan oleh para tamu. Terlihat Helen sangat kesal, lantaran merasa seharusnya hari itu dialah yang menjadi pusat perhatian bukan orang lain. Tapi apa boleh buat, siapa yang tidak mengenal Revandra san penguasa kota S.


"Ay...!" Panggil Aliya setelah melepaskan ciuman romantis Revandra.


"Em...!"


"Aku pusing, boleh pulang sekarang.?"


"Baiklah."


Setelah berdansa, Revandra menghampiri ayah Julia, seraya memberi selamat pada Helen dan Gio serta hadia pernikahan.


"Kenapa begitu cepat kembali.?"


"Maafkan saya tuan Ganendra, istriku sedang hamil, jadi aku tidak bisa berlama-lama."


"Tak apa-apa, semoga bayinya sehat.!"


"Terimah kasih tuan Ganendra." Kata Aliya melempar senyum hangatnya.


Setelah kepergian Revandra, kali ini Julia yang menjadi pusat perhatian, dia berjalan dengan angun masuk di tengah-tengah para tamu, Terlibih dandanannya yang begitu anggun.

__ADS_1


Tentunya pujian-pujian dan kekaguman dilontarkan para tamu untuk Julia, Helen yang melihat itu tentu saja sangat kesal. Sedang Gio ada perasaan menyesal dalam dirinya.


Acara sudah di mulai, Axcel dan dan Daniel baru saja tiba dan segera menghampiri ayah Julia, dan memberi selamat pada Helen dan Gio atas pernikahannya.


'Siapa dia.? begitu tampan, bahkan jauh lebih tampan dari pada kakak Gio.!' Tanya Helen dalam hati.


Meskipun Helen tahu bahwa Julia menginap dengan seorang lelaki, namun dia tidak pernah tahu, bahwa lelaki itu adalah Axcel, karna di CCTV, wajah Axcel tidak kelihatan. Saat keluar dari hotel pun, Axcel menutup kepalanya dengan topi.


"Terimah kasih Direktur Axcel, Presedir Revandra baru saja pulang, sepertinya istri kecilnya kelelahan."


"Tak apa, saya bisa menghubunginya."


Setetah Axcel memberi selamat, di susul Daniel yang juga membuat Helen tercengang, bagaimana bisa dua orang yang begitu taman mengucapkan selamat padanya secara bersamaan. 'Andai saja aku tidak terburu-buru, mungkin salah satu dari mereka bisa aku dapatkan.' Ucap Helen dalam hati.


"Sayang....!" Teriak Julia


Saat Julia melihat kedatangan Axcel, Julia berlari dan memeluknya, tentu saja Axcel terkejut,


"Sayang, kenapa baru datang.?" Tanya Julia lalu mendekatkan bibirnya di telinga Axcel seraya membisikkan sesuatu.


"Maafkan aku," Jawab Axcel membelai lembut ubun-ubun Julia.


Lagi-lagi para tamu di kagetkan setelah kedatangan Revandra tadi, mereka tidak menyangka bahwa putri pertama Ganendra sedang menjalin hubungan dengan putra satu-satunya Atmaja Grup.


"Sepertinya akan ada resepsi yang kedua presedir Ganendra.! Tanya salah satu rekan bisnisnya."


Ganendra hanya bisa tertawa menyikapi peryataan rekan bisnianya itu. Dirinya juga tidak menyangka jika saat ini putrinya sedang menjalani hubungan asmara dengan putra Atmaja Grup.


"Maaf direktur Axcel bisa kita bicara di tempat lain.?"


"Tak perlu, di sini saja."


Axcel kemudian meminta perhatian pada para tam, Hal itu dikarnakan Axcel ingin mengumumkan sesuatu.


"Semuanya, aku nyatakan bahwa mulai saat ini nona Julia resmi menjadi wanitaku, dan akan menikah minggu depan." Kata Axcel memberi pengumuman.


"Apakah akan ada resepsi setelahnya.?" Tanya salah satu rekan bisnisnya.


"Tentang itu, aku belum tahu."


Tepuk tangan kembali menggema di ruangan itu, meskipun terkejut dengan pernyataan Axcel, Ganendra tetap senang, lantaran perusahan Atmaja berada jauh di atasnya


Meskipun Atmaja Grup tidak sebesar Gtamentha Grup, tapi tetap saja tidak bisa di bandingkan dengan perusahaan milik Ayah Julia. Terlebih Axcel terkenal dengan sikap telatennya mengurus pekerjaan di perusahaan.


Berbeda dengan meraka yang bahagia, Helen justru sangat kesal melihat Julia bersama Axcel.


"Ada apa Helen.?" Tanya Gio yang heran dengan mimik wajah Helen yang tanpak tidak senang.


"Kenapa dengan ekspresi itu, apa kamu tidak senang dengan pernikahan kita ?"


Gio bertanya lagi, karna tidak mendapat jawaban.


"Ah.. maafkan aku kakak Gio, aku hanya lelah saja."


Bersambung...

__ADS_1


******


__ADS_2