
Di dedapan perusahaan, Gavano hendak masuk, namun langkahnya terhenti lantaran wanita yang beberapa waktu lalu di siksa oleh lelaki itu menghadangnya.
"Vano,! dengarkan aku, aku sangat mencintaimu.!"
"Felisa, berhenti mengangguku bukankah aku sudah memperingatkanmu.?"
"Tidak Vano, kamu harus mendengarkanku."
"Berhenti, jangan menganggunya." Teriak Luna tegas yang baru saja datang.
Sesaat Felisa meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki Luna, 'Sempurna sekali wanita ini, sangat cantik'
"Si..siapa kamu.?"
"Aku tunangannya.!"
"Bukankah Vano sudah beristri.?"
"Lalu memangnya kenapa.? toh aku adalah wanita yang ia cintai." Sambil menggandeng tangan Gavano masuk ke perusahaan tampa perduli lagi pada Felisa.
"Lepaskan.!" Titah Gavano setelah sampai di rungannya.
"Seharusnya kamu berterima kasih,"
"Aku tidak meminta bantuanmu."
"Vano, kenpa kamu bersikap seperti itu padaku.? apa kamu sudah mulai mencintai istrimu.?"
Mata Gavano melebar,
"Apa maksudmu.?"
"Ya sejak ke pulanganku, tak pernah sekalipun kamu menghubungiku."
"Aku tidak menghubungimu karna aku merasa tidak ada yang perlu di bicarakan antra kita.! dan jangan membawa-bawa istriku." Jawab Gavano menekankan pada kalimat terakhirnya.
"Tapi Vano..."
"Berhenti, bukankah semua ini kamu sendiri yang memulainya.? demi karir kamu meninggalkanku. dan sekarang kembali saat aku sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa padamu."
Gavano mulai terlihat kesal,
"Luna, keluarlah, tinggalkan aku sendiri, aku sangat pusing dengan semuanya."
"Baiklah Vano,! tapi aku tidak akan berhenti sampai kamu mau kembali padaku." Jawab Luna berbalik meninggalkan ruangan Gavano. Air matanya mengalir. Berlari melewati karyawan-karyawan yang menatapnya sedemikian rupa.
***
Tiga tahun yang lalu, Gavano yang begitu mencintai Luna, membeli sebuah cincin untuk melamar wanita yang ia cintai. Lantaran sangat bahagia dengan tekadnya, Gavano tidak sengaja menabrak seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah menengah pertama.
"Maaf... aku tidak sengaja."
"Tak apa-apa paman.!"
Tidak sabar untuk menemui Luna, Gavano hanya memberikan sejumlah uang pada gadis belia itu, lalu meninggalkannya tampa melihat siapa gadis itu.
karna gadis itu sangat mbutuhkan uang, ia mengambil uang itu.
"Terimah kasih paman.! aku memang sangat membutuhkannya." Ucap gadis belia itu seraya menatap kepergian mobil yang di kendarai Gavano.
Di hotel xxx di mana lokasi luna berada Gavano cepat-cepat memarkirkan mobilnya, tentu saja Gavano bisa mengetahui keberadaan Luna dari Riko yang membantunya untuk melacak.
__ADS_1
Ingin memberi suprise pada Luna, Gavano melarang pegawai hotel untuk memberitahu kedatangannya pada Luna, bahkan dirinya membyar mahal, agar pegawai hotel memberinya kunci cadangan kamar di mana Luna berada.
Langkah Gavano berhenti di depan sebuah kamar, dan buru-buru membuka pintu. Alih-alih, memberikan Luna sprise, justru dirinya yang mendapa sprise dari Luna.
Kemarahan Gavano bergejolak, hingga melemparkan cincin yang di belinya untuk melamar wanita yang dicintainya itu.
Bagaimana tidak, Gavano memergoki Luna sedang mendesah nikmat di bawah tindihan tubuh seorang pria asing yang tidak lain adalah seorang pengusaha yang bisnisnya bergerak dalam bidang industri perfiliman layar lebar yang sangat terkenal di Amerika.
Meskipun luna mengetahu bahwa Gavano telah melihat semuanya, wanita itu tidak mengentikan aktivitas panasnya, dirinya justru semakin mendesah karna gerakan dan hentakan yang di berikan pria asing itu padanya.
Luna maelakukan semua itu karna, ingin lebih memilih karirnya dari pada menikah dengan Gavano. Saat itu Luna berfikir bahwa tidak sulit baginya untuk mendapatkan Gavano kembali, karna Gavano sangat mencintainya.
Hingga akhirnya Luna mengikuti pria asing yang telah mengambil kali pertamanya itu ke negri asing, dan memulai karirnya sebagi artis go internasional.
Semua film layar lebar yang dibintangi oleh Luna, sukses besar. Sudah ada puluhan filim yang melejit di pasaran negara asing.
"Vano, apa yang kamu fikirkan.?" Tanya Riko membuyarkan lamunan Gavano.
"Ah.! tidak ada, Riko aku butuh bantuanmu.!"
***
Siang hari seperti biasa, Alleta berangkat ke kampus, begitu juga Arkana yang kebetulan sedang libur untuk syuting, juga datang ke kampus namun dengan cara yang berbeda,
Alleta ke kampus mengenakan motor, sedangkan Arkana mengenakan mobil mewah.
Di kampus Gavano berjalan sambil membicarakan sesuatu dengan kepala univeraitas. Alleta yang melihatnya, segera bersembunyi di balik tong sampah, takut jika Gavano akan memperhitungkan tentang dirinya yang sesuka hati memberi perintah pada lelaki itu.
Gavano hanya melirik saat mengetahui bahwa Alleta sedang bersembunyi, dan memilih melanjutkan langkahnya bersama kepala universitas menuju keruangannya.
'Kenapa terasa ada sesuatu yang mengenai punggungku' Tanya Alleta dalam hati lalu berbalik
"Aku juga tidak tahu, begitu aku melihat kakak, aku merasa tertekan dan bersembunyi di sini."
Beberapa saat, setelah memastikan Gavano sudah tidak ada di sekitar, Allet dan Arkana beranjak, tapi Arkana terlebih dulu berdiri dan tidak sengaja menginjak kaki Alleta.
"Awuu... sakit, Kau."
"Sorry, aku tidak sengaja." Jawab Arkana seraya berbalik dan hendak meninggalkan Alleta.
Merasa tidak terima Arkana telah menginjak kakinya, dan ingin pergi begitu saja, Alleta menarik kera baju bagian belakang Arkana, membuat Arkana tersungkur ke tanah dan merasa sakit pada bagian bokongnya.
"Kodok betina, kau menganiayaku."
"Itu karna kamu duluan."
"Aku sudah minta maaf."
"Tapi aku tidak menerimanya, sebelum kamu bersujud. hahaha" Ucap Alleta bertolak pinggang sambil berdiri di depan Arkana.
"Awas kamu akan aku balas."
"Silahkan saja."
Arkna lalu mendorong, Alleta hingga terjatuh dan mengenai tong sampah, Alleta semakin kessal dengan Arkana yang menertawainya, gadis itu mengabil sebuah kantong pelastik yang berisi kulit pisang dan tissu sisa yang sudah di gunakan, baru melempar ke arah Arkana, alhasil mengenai kepala Arkana.
"Agrhh...! apa ini.?"
"Tentu saja itu sampah."
"Kamu, kodok betina, awas aku akan membalasmu."
__ADS_1
Tak mau kalah, Arkana juga mengambil sampah dan melemparnya pada Alleta, hingga keduanya saling melempar, untung saja di sekitar sangat sepi karna pelajaran tengah berlangsung.
"Alleta, Arkana.!" Teriak Gavano tegas.
Tapi kedua orang yang di teriaki masih sibuk saling melempar sampah kering dengan masing-masing dari mereka memegang tong sampah. Hingga sampa-sampah berserakan di sekitaran.
"Alleta Anastasia, Arkana Dylan Gramentha.!" kembali Gavano meneriaki mereka yang keadaannya sudah acak-acakan, berantakan dan sangat kotor akibat saling melempar sampah, bahkan tubuh mereka sudah di penuhi dengan bau sampah yang tidak jelas. Untung saja tong sampah itu hanya berisi sampah-sampah kering.
"Gawat, kodok betina, kakak lagi-lagi menemukan kita."
"Lalu bagaimna.? apa yang harus kita lakukan." tanya Alleta
"Bagaimana kalau kita kabur saja."
"Mungkinkah kamu jadi geger otak karna kulit pisang yang aku lemparkan padamu.?"
"Alleta aku serius, sepertinya kali ini kita benar-benar dalam masa tersulit."
Seperti biasanya, jika Gavano sudah mamanggil nama lengkap istri dan adiknya, maka lelaki itu benar-benar dalam akhir batasannya yaitu sedang marah besar, dan berakhir pada hukuman.
"Ada apa presedir Vano.?" Tanya kepala univeraitas yang baru saja datang, baru kemudian beralih pandang menatap kedua orang yang sedang berdiri tegak seperti tertekan.
"Kau bisa lihat sendiri pak kepala.?"
"Bukankah itu adalah tuan muda kedua Gramentha.? Lalu siapa gadis di sampingnya.? bukankah dia adalah mahasiswa baru di univeraitas ini."
"Ya.! dia memang adikku, Arkana. dan gadis di sebelahnya adalah istriku."
"Apa.?"
"Jadi bagaimana cara menghukum keduanya.?" Tanya Gavano
"Tidak presedir Vano.! saya tidak berani, terlebih lagi mereka adalah adik dan istri anda."
"Pak kepala, di rumah mereka memang adik dan istriku, tapi tetap saja mereka adalah siswa dari universitas ini, tentunya jika seorang siswa membuat keributan, maka harus mendapat hukuman yang setimpal." Tegas Gavano.
Mau tidak mau, kepala universitas itu menghukum Alleta dan Arkana.
"Baiklah sesuai perintah presedir Vano, kalian dihukum membersihkan tempat ini,"
Karna takut. Alleta dan Arkana menuruti perintah kepala universitas, terlebih lagi, pria yang sebagian kepalanya botak itu, mendapat persetujuan langsung dari Gavano.
"Jangan berfikir setelah ini, kalian bisa besenang-senang, aku akan memperhitungkannya saat tiba di rumah nanti." Ucap Gavano membuat Alleta dan Arkana semakin gemetaran, sebab setiap hukuman yang di berikan oleh Gavano tidak ada yang tidak sulit.
Setelah berbalik, ponsel Gavano berdering, lelaki itu dengan cepat meraih ponselnya dan menerima panggilan yang mendesak itu. Tapi sebelum itu, Gavano berbalik dan meminta kepala universitas untuk tidak memberitahu pada siapapun tentang Alleta adalah istrinya.
"Hallo.?" Sahut Gavano. "Baik aku akan segera kesana." Lalu mengakhiri panggilan seraya meninggalakan tempat itu.
Bersambung...
******
...FELISA HASIO...
Kalau ada yang bilang Felisa cantik, itu karna dia adalah seorang model ya gaeyss...
π π π
Sedikit bocoran : Yang bca novel ALIYA DAN AYAHTIRINYA pasti tau siapa Felisaπππ
__ADS_1