
"Ahk..."
Desah seorang wanita cantik di bawah tindihan Reygan.
"Bagaimana cantik.? apa kamu menikmatinya.?"
"Tentu saja, kamu adalah pria pertama yang membuatku menikmati permainan, kau sungguh perkasa tuan" Ucap wanita itu merangkul tengkuk leher Reygan,
Sementra Reygan masih tetap bergoyang dan memberikan hentakan nikmat di bawah sana.
"Jadi, apa kamu tidak keberatan memberithu namamu."
"Aku Delia."
"Oh... Delia, nama yang sungguh indah.!"
Sejam sebelumnya, Delia dan Reygan tidak sengaja bertemu di sebuah club malam, Reygan yang sudah terpesona kepada Delia semenjak melihat Delia di rumah Gavano tempo hari.
Tak mau mengulur waktu Reygan mendekati Delia, dan tampa basa basi mereka yang hanya ingin saling menyalurkan hasrat saja, memesan sebuah kamar di sebuh hotel, tidak jauh dari club tersebut.
Kedua insan yang di landa gejolak nafsu birahi, saling berpagut, mencembu, melepaskan pakaian tampa saling mengenal terlebih dahulu.
"Aggrhh..." Teriak Reygan serentak dengan Delia bersamaan dengan keluarnya puncak pelepasan masing-masing.
Tak bisa di pungkiri bahwa Delia bukanlah seorang gadis polos yang tak tau apa-apa mengenai s.e.x, Perempuan itu telah melakukannya dengan berbagai pria, tentu saja tidak dengan sembarang pria, bahkan Delia pernah melakukannya bersama rekan bisnis ayahnya.
Setelah mencapai pelepasannya, Delia bangkit, seraya mengikat rambut pirangnya seperti kuncir kuda, meraih pakaian-pakaian yang ia lemparkan ke sembarang arah.
"Kapan kita akan bertemu lagi.?" Tanya Reygan belum berbenah.
"Tak akan pernah.!"
"Why.?"
"Karna aku adalah wanita yang hanya akan sekali melakukannya dengan satu pria. tak perna sekalipun melakukannya sampai dua kali bersama pria yang sama."
"kamu tidak akan pernah melakukannya lagi dengan siapa pun, kecuali aku."
"Kenapa.?" Kembali Delia bertanya
"Kamu sendiri yang megatakannya."
Lantaran Delia merasa sangat nikmat di bawah hentakan Reygan, perempuan cantik itu tampa sengaja mengatakan bahwa hanya Reyagan yang benar-benar bisa memberinya kepuasan.
"Aku hanya asal bicara saja."
"Aku yakin kamu akan mencariku nona Delia."
***
Di kediaman Atmaja, Julia terlihat sedang sangat bahagia, melihat kehagaian itu, Axcel menghampiri istrinya.
"Kamu bahagia sekali hari ini.?"
"Ah, sayang.! kau benar, hari ini aku sungguh sangat bahagia,"
"Sebab.?"
"Aku bertemu dengn seorang gadis, meskipun aku tak dapat melihat wajah gadis itu, namun tetap saja, gadis itu mengingatkanku pada putri kita, dan tiba-tiba saja kehangatan itu aku dapatkan dari gadis itu, tapi..."
"Tapi...?"
"Sayangnya hidupnya tidak sebaik kita, dia adalah seorang gadis yang lahir dari orang tua pengemis." Ucap Julia seketika sedih dikalimat terakhirnya.
"Sudahlah, tak perlu kamu menghawatirkan hidup orang lain."
__ADS_1
"Sayang, apa boleh kita tinggal lebih lama di sini.?"
"Boleh, tapi kenapa tiba-tiba.?"
"Tidak, hanya saja aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama Reygan. Boleh kan.?" Pinta Julia
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, maka kita akan tinggal lebih lama." Jawab Axcel lalu memeluk istrinya dengan hangat.
"Ayah... Ibu...!" Teriak Reygan mengagetkan Axcel dan Julia.
Lelaki itu terlihat sangat bahagia,
"Kau mengagetkan kami nak.!"
"Ayah, ibu, aku ingin menikah.?"
Pernyataan Reygan membuat kedua orang tuanya, tersentak kaget, jelas saja, selama ini mereka memang menginginkan putra mereka segera menikah, namun Reygn selalu menolak. Tetapi berbeda dengan hari ini,
"Kenapa begitu tiba-tiba.?"
"Aku sudah menemukannya ayah.!"
"Siapa gadis itu.?"
"Reygan belum tahu, hanya saja dia adalah seorang pelayan dari rumah Gavano."
"Apa.?" Kembali Axcel dan Julia terkejut.
"Ada apa.? apa ayah dan ibu tidak menyukai jika pilihanku adalah seorang pelayan.?"
Julia terdiam sejenak, perlahan menarik nafas lalu menghembuskannya kembali, berjalan melangkah semakin mendekat ke arah putranya, seraya membelai lembut rambut putranya.
"Nak, apapun itu, kami akan menghargai pilihanmu.?"
"Benarkah.?"
"Nanti setelah aku sudah benar-benar mendapatkan hatinya."
***
"Vano...!" Bentak Felisa saat dirinya berbicara namun Gavano tetap tidak menghiraukannya dan tetap fokus pada pekerjaannya.
Hingga beberapa saat, Gavano telah selesai, lelaki itu bangkit dari duduknya hendak pulang ke rumah, Belakangan ini Gavano memang lebih sering pulang awal, dan apa bila pekerjaannya belum selesai, maka Gavano akan menyerahkannya pada Riko untuk di handle.
"Vano...!, kenapa kamu mengabaikanku.?"
"Felisa, tolong berhenti berteriak, dan ingat, meskipun kamu dalah aset paling berharga di Gramentha Internaimen, jangan beranggapan bahwa saya tidak akan melakukan apa-apa padamu." Ucap Gavano
"Aku tidak perduli, intinya aku mencintaimu Vano.!"
"Tapi aku mencintai istriku." Tegas Gavano
"Tapi...!"
"Satu hal lagi, kau jangan menginjakan kakimu di ruangan ini jika bukan untuk pekerjaan." Berlalu meninggalkan Felisa
Sedang Felisa yang masih tetap betah di ruangan Gavano menggepalkan tangannya, sambil memaki.
"Lagi-lagi istrinya, apa yang membuat Gavano selalu menolakku demi istrinya itu." Wajah memerah karna amarah.
***
Di rumah Gavano bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamar, sejak di perjalanan lelaki itu tidak pernah tenang, hatinya tetasa tidak karuan, dan cepat-cepat ingin sampai ke rumah, lantaran begitu merindukan istrinya.
"Alleta...!" Panggil Gavano saat sudah berada di kamar dan mendapati Alleta sibuk membaca majalah,
__ADS_1
"Kamu sudah pulang Vano.?"
"Ya.! dan kenapa kamu tidak menghubungiku seharian.?" Tanya Vano khawatir.
Dengan gaya yang centil dan hanya mengenakan kemeja milik Gavano, Alleta beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Gavano, gadis itu bahkan merangkul tengkuk leher Gavano, bersikap manja,
"Tuan Vano yang terhormat, bukankah kamu menyita ponselku, beberapa hari yang lalu karna bertengkar dengan Arkana."
Kelakuan Alleta membuat Gavano kikuk, debaran jantungnya semakin kencang, wajah dinginnya memerah,
"Ma..maaf, aku lupa mengembalikannya." Ucap Gavano berbohong, padahal ponsel Alleta sudah di hancurkannya.
"Jadi, suamiku, mana ponsel ku.?" Pinta Alleta semakin manja, padahal di dalam hatinya, gadis itu sangat tidak selesa dengan kelakuannya sendiri,
Ia melakukan itu untuk merayu Gavano, agar lelaki itu mengembalikan ponselnya.
Saat ini Gavano semakin kikuk, tak tau harus berbuat apa, baru kali ini Alleta berlaku demikian manja padanya.
"Itu,,, maaf. Aku menghilangknnya. Aku janji besok aku akan membawamu membeli ponsel baru."
"Baik... jangan berbohong."
"Pasti."
Setelah membicarakannya. Alleta sekali lagi merayu Gavano, gadis itu bahkan mulai membuka satu persatu pakaian Gavano, kemudian mendorong Gavano ke tempat tidur.
"Hari ini mari kita lakukan hal yang berbeda." Ucap Alleta menggoda Berbalik naik ke atas tubuh Gavano dan menindih lelaki yang terlentang itu.
Hehehe, memang berbeda," Jawab Gavano yang sudah berbaring dengan bertelanjang dada.
"Malam ini aku akan membuatmu senang. jadi, di antara Luna dan aku, siapa yang lebih cantik.?"
Gavano bangkit dan duduk hendak menindih Allete.
"Tentang itu, aku akan harus coba dulu baru tahu.!"
"Jadi kamu, sudah tidur dengan Luna.?"
"Tidak, dan bukan sembarang wanita yang bisa tidur bersamaku."
"Bohong.!" Delik Alleta mengalihkan pandangannya."
"Aku tidak berbohong.!"
Gavano kemudian menciumi leher Alleta.
"Tapi,,, maafkan aku. sepertinya malam ini kamu tidak bisa mencobanya.?" Ujar Alleta
"Kenapa.?"
"Kebetulan tamu bulananku telah tiba.!"
"Mana ada kebetulan yang seperti itu, kamu menipuku. Kamu membohongiku ya.?"
"jika tidak percaya, silahkan periksa.!"
"Baik, malam ini aku biarkan, tapi liat saja nanti, kamu tidak akan lolos siluman kecil."
Sebentar kemudian, untuk meredam Gairahnya, Gavano mandi air dingin.
Bersambung...
******
...DELIA MARSELINA...
__ADS_1